Al-Baqarah [2] : 52

ثُمَّ عَفَوْنَا عَنْكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Kemudian sesudah itu Kami maafkan kesalahanmu, agar kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah : 52)


Bagikan ke WhatsApp
51 | 52 | 53

Lafadz dzalika (ذلك) bermakna ’itu’ untuk menunjuk tempat yang jauh. Sedangkan untuk menunjukkan tempat yang dekat menggunakan ‘ini’ hadza (هذا). Asalnya dza (ذا) menunjukkan sesuatu yang dekat, bila ditambah dengan huruf lam (اللام), maka menunjukkan pada yang agak jauh, namun bila ketambahan huruf kaf (كاف), maknanya menjadi jauh.

Namun sebagian mufassir seperti As-Suddi, Ikrimah, Mujahid bahkan Ibnu Abbas memaknainya dengan ‘ini’ yang berarti dekat.

 Karena orang Arab seringkali menggunakannya meski untuk sesuatu yang dekat. Di dalam Al-Quran keduanya digunakan untuk menunjuk Al-Quran, kadang menggunakan itu dan kadang ini. Ketika menggunakan kata itu, makna yang terkandung memang terasa jauh, naun maksudnya jauh di atas sana sehingga menunjukkan keagungan.

Abu Hayyan al-andalusi, Al-Bahrul Muhith fi At-Tafsir (Beirut, Darul Fikr, 1420 H) vol.1 h. 56

Ibnu Jarir Ath-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Al-Quran (Muassasah Ar-Risalah, 2000 M), Vol 1 h. 225

TAFSIR WAJIZ

TAFSIR TAHLILI

< >

1. Jami'ul Bayan : Ibnu Jarir Ath-Thabari (310 H)
2. An-Nukat wal 'Uyun : Al-Mawardi (450 H)
3. At-Tafsir Al-Basith : Al-Wahidi (468 H)
4. Ma'alim At-Tanzil : Al-Baghawi (516 H)
5. Al-Kasysyaf : Az-Zamakhsyari (538 H)
6. Al-Muharrar Al-Wajiz : Ibnu 'Athiyah (546 H)
7. Mafatihul Ghaib : Fakhrudin Ar-Razi (606 H)
8. Al-Jami' li-ahkamil Quran : Al-Qurtubi (681 H)
9. Al-Bahrul Muhith : Abu Hayyan (745 H)
10.Tafsir AlQuranil Azhim : Ibnu Katsir (774 H)
11. Jalalain Mahali (864 H) Suyuthi (911 H)
12. Ad-Durr Al-Mantsur : As-Suyuthi (911 H)
13. Irsyadul'Aqlissalim : Abu As-Su'ud (982 H)
14. Fathul Qadir : Asy-Syaukani (1250 H)
15. Ruhul Ma'ani : Al-Alusi (1270 H)
16. Tahrir wa Tanwir : Ibnu 'Asyur (1393 H)
17. Tafsir Al-Munir : Wahbah Az-Zuhaili