Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA
Mungkinkah Ada Ayat Al-Quran Yang Tidak Qath'i? | rumahfiqih.com

Mungkinkah Ada Ayat Al-Quran Yang Tidak Qath'i?

Sun 19 January 2014 06:50 | ushul fiqh | 8.071 views

Pertanyaan :

Assalamu'alaikum ustadz,

Dalam lapangan ijtihad dikatakan bahwa obyek ijtihad itu adalah ayat-ayat Qur'an dan Hadits yang bersifat zhanni (samar). Apakah ayat-ayat Al-Qur'an ada yang tidak qath'i atau masih tergolong zhanni? Mohon penjelasannya, jazakumullah.

Wassalamu'alaikum,
M. Dimyati

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Bismillah wal hamdulillah, washshalatu wassalamu 'alaa rasulillah, wa ba'd

Istilah qath'i bermakna pasti, tetap dan mutlak. Seluruh ulama sepakat bahwa Al-Quran adalah kitab yang qaht'i, dalam arti kebenaran Al-Quran sudah pasti, tetap dan mutlak. Kebenaran yang dimaksud disini adalah kebenaran dari sisi periwayatannya, karena Al-Quran diriwayatkan secara mutawatir.

Namun selain kita mengenal istilah qath'i secara periwayatan, kita juga mengenal istilah qath'i secara penarikan kesimpulan hukum. Terkadang walaupun ayat Quran sudah pasti shahihnya, tetapi ketika para ulama menarik kesimpulan hukumnya, terjadi perbedaan pendapat. Dan hal ini dimungkinkan, bahkan seringkali terjadi.

Sebuah dalil baik yang berupa ayat Al-Quran atau pun berupa hadits nabawi mungkin saja mengandung hal-hal yang bersifat qath'i (mutlak) tapi mungkin juga mengandung hal-hal yang bersifat zhanni (relatif)

1. Tsubut (Validitas)

Masalah dalil qath'i dan dalil zhanni itu masih terbagi lagi menjadi dua dua sisi yang berlainan, yaitu masalah kesahihan (tsubut) dan masalah ketepatan penggunaannya (dilalah).

a. Qathi' secara tsubut

Dalil qath'i secara tsubut maksudnya adalah secara nilai keshahihan dalil tersebut yang bisa dipertanggung-jawabkan. Kalau dalil itu berupa hadits nabawi, maka yang termasuk ke dalam kategori ini adalah hadits-hadits shahih, shahih li gahrihi, hasan, hasan li ghairi.

Sedangkan Al-Quran Al-Kariem secara tsubut tentu saja nilainya qath'i. Keshahihannya bersifat mutlak, karena diriwayatkan secara mutawatir dari Rasulullah SAW hingga zaman sekarang ini.

b. Zhanni secara tsubut

Dalil yang zhanni secara tsubut adalah lawan dari di atas, yaitu dalil yang keshahihannya kurang bisa dipertanggung-jawabkan secara ilmiyah. Contohnya adalah hadits dha'if. Yaitu yang perawinya banyak cacatnya, tidak 'adil dan tidak dhabith. Hadits seperti itu disebut zhanniyuts-tsubut. Maksudnya adalah dalil yang zhanni secara tsubut.

2. Dilalah (Implementasi)

Setelah bicara tentang masalah validitas suatu dalil, kita masih harus bicara lagi tentang ketepatan penggunaan sebuah dalil. Sejauh mana sebuah dalil yang sudah valid (shahih) itu bisa diimplementasikan di dalam sebuah masalah.

Bisa jadi seseorang menggunakan dalil yang shahih, katakanlah misalnya ayat Al-Quran, namun ketika penggunaannya tidak tepat untuk sebuah kasus masalah, bukan salah ayat Quran-nya, melainkan salah dalam mengimplementasikan ayat tersebut.Para ulama menyebutnya dengan istilah dilalah.

Ada dalil Al-Quran yang secara dilalah sudah qath'i, misalnya haramnya bangkai, darah, daging babi dan lainnya. Tetapi ada juga yang secara dilalah masih zhanni. Misalnya diharamkannya musik dengan menggunakan ayat:

Dan di antara manusia orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. (QS. Luqman: 6)

Sebagian ulama memaknai perkataan yang tidak berguna adalah lagu, nyanyian atau musik. Ini adalah dilalah yang bersifat zhanni, bukan qath'i. Artinya, bisa jadi ulama lain tidak menjadikan ayat ini sebagai dasar pengharaman musik, lagu dan nyanyian.

Secara nilai validitas, semua ayat Al-Quran pasti tsubut secara qath'i, namun secara dilalah, belum tentu tepat untuk digunakan. Paling tidak ayat itu tidak secara qath'i mengharamkan musik. Masih ada perbedaan pandangan tentang haramnya musik kalau dilandaskan pada ayat tersebut.

Wallahu a'lam bish-shawab, Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Ahmad Sarwat, Lc.


Baca Lainnya :

Caleg Minta Dipilih Dengan Memberi Uang Berdalih Sedekah
18 January 2014, 06:23 | negara | 5.243 views
Mandi Junub Apakah Mesti Keramas?
17 January 2014, 05:23 | thaharah | 7.550 views
Berzina dengan Adik Ipar, Haruskah Dinikahi?
16 January 2014, 05:02 | nikah | 10.679 views
Alkohol untuk Sterilisasi Alat-Alat Kimia dan Kesehatan
15 January 2014, 04:59 | kontemporer | 5.238 views
Suami Minum Susu Istri Jadi Mahram?
14 January 2014, 05:25 | nikah | 8.175 views
Makmum Diam Saja di Belakang Imam atau Ikut Membaca?
13 January 2014, 04:23 | shalat | 7.020 views
Apakah Sama Orang Musyrik dengan Orang Kafir?
12 January 2014, 07:51 | aqidah | 6.289 views
Pernah Zina Ingin Taubat, Bagaimana Caranya?
11 January 2014, 04:46 | wanita | 8.174 views
Menikahi Wanita Hamil, Haruskah Nikah Ulang Pasca Kelahiran?
10 January 2014, 02:47 | nikah | 36.265 views
Haramkah Wanita Berkarir dan Bekerja di Luar Rumah?
9 January 2014, 04:21 | wanita | 16.619 views
Istri Atau Pembantu Rumah Tangga?
8 January 2014, 07:07 | wanita | 162.771 views
Lupa Rukun, Apakah Mengulang Shalat atau Sujud Sahwi?
7 January 2014, 06:00 | shalat | 15.326 views
Membayar Lebih untuk Mendapatkan SIM Atau Paspor, Apakah termasuk Suap?
6 January 2014, 07:15 | muamalat | 7.150 views
Batalkah Shalat Makmum Bila Imamnya Batal?
4 January 2014, 19:54 | shalat | 7.943 views
Teknik Menyembelih Hewan Yang Sah
3 January 2014, 06:59 | qurban | 4.514 views

TOTAL : 2255 artikel 14483713 views