baca versi HP | view by date | top hits | bidang | total 6.528.304 views

Tidak Puasa Karena Hamil dan Nifas, Fidyah atau Qadha'? | Ahmad Sarwat,Lc., MA | www.rumahfiqih.com

Tidak Puasa Karena Hamil dan Nifas, Fidyah atau Qadha'?

Mon, 31 July 2006 04:19 - | Dibaca 2.293 kali | Bidang puasa

Assalamu'alaikum.

Ustadz yang semoga dirahmati Allah. Bulan Ramadhan yang lalu isteri saya tengah hamil tua (9 bulan). Dia sudah mencoba berpuasa pada hari pertama dan kedua. Tetapi ternyata fisiknya tidak kuat. Tidak hamil saja dia tidak kuat. Isteri saya pernah mengalami malnutrisi sebelum ia menikah dengan saya. Di hari kedua Ramadhan, akhirnya saya menyarankan ia untuk membatalkan puasanya untuk kesehatannya dan keselamatan bayi dalam kandungan. Tanggal 18 ramadhan, isteri saya melahirkan. Pasca nifas (sudah tidak bulan Ramadhan) ia masih menyusui bayi kami, dan tidak berpuasa karena bila berpuasa insya Allah ASI-nya kurang.

Saat ini sudah hampir bulan Ramadhan lagi. Bolehkah saya membayar fidyah atas isteri saya, ataukah isteri saya tetap harus meng-qadha puasanya? Karena bisa jadi, hutang puasa-nya numpuk dengan puasa Ramahdan berikutnya karena kondisi fisiknya yang kurang begitu kuat terlebih harus mengurus bayi seorang diri. Terima kasih atas jawabannya.

Assalamu'alaikum,

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Seorang wanita yang hamil atau menyusui dibolehkan untuk tidak berpuasa. Para ulama sepakat mengatakan bahwa keduanya adalah orang yang mendapat 'udzur syar'i. Hanya mereka berbeda pendapat ketika memasukkan kategori.

Sebagian mengatakan bahwa wanita hamil dan menyusui termasuk kategori orang yang sakit. Sehingga konsekuensinya harus mengganti dengan berpuasa di hari lain, sebagaimana umumnya orang sakit. Dalilnya adalah firman Allah SWT:

Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan, maka sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (QS. Al-Baqarah: 184)

Sebagian lagi mengatakan bahwa keduanya termasuk orang yang lemah atau sudah udzur. Sehingga konsekuensinya bukan dengan mengganti puasa di bulan lain, melainkan sebagaimana orang yang lemah, yaitu memberi makan orang miskin. Atau kita kenal juga dengan membayar fidyah. Dalilnya adalah ayat yang sama dengan di atas yang merupakan kelanjutan ayat tersebut.

Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya membayar fidyah,: memberi makan seorang miskin. (QS. Al-Baqarah: 184)

Dan ada juga kalangan yang menyerahkan langsung kepada yang bersangkutan, apakah termasuk kategori orang sakit atau orang lemah. Yaitu dengan cara melihat kepada motivasi ketika tidak puasa. Kalau dia mengkhawatirkan keadaan dirinya, maka termasuk kategori orang yang sakit. Dan konsekuensinya dengan mengganti puasa di hari lain. Tapi kalau dia mengkhawatirkan bayinya sehingga tidak berpuasa, maka termasuk kategori orang lemah, sehingga konsekuensinya hanya membayar fidyah.

Sedangkan khusus wanita yang nifas, bila meninggalkan puasa, maka caranya hanya dengan mengganti dengan puasa di hari yang lain. Bukan dengan bayar fidyah.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Rumah
Fiqih
Indonesia

 


baca versi HP | view by date | top hits | bidang | total 6,528,304 views

Lihat Sebelumnya


  • Wasiat Tidak Dilaksanakan | Mon, 31 July 2006 03:16 | 1.782
  • Pentingnya Jamaah, Sejauh Mana? | Fri, 28 July 2006 03:43 | 1.958
  • Bagaimana Cara Membayar Hutang Puasa Ramadhan? | Fri, 28 July 2006 03:43 | 2.354
  • Adakah Hak Waris bagi Anak Adopsi? | Thu, 27 July 2006 04:36 | 1.756
  • Kotoran dan Air Kencing Binatang yang Dihalalkan, Najiskah? | Thu, 27 July 2006 04:02 | 1.854
  • Keluarnya Mazi dan Wadi, Apakah Hadats Besar dan Harus Mandi Janabah? | Thu, 27 July 2006 01:24 | 1.969
  • Adakah Perbedaan Pengertian antara Nabi dan Rasul? | Thu, 27 July 2006 00:40 | 2.115
  • Ingin Berdakwah tapi Dituduh Wahabi | Wed, 26 July 2006 06:08 | 1.871
  • Membaca Ayat Pendek di Rakaat Ketiga dan Keempat | Wed, 26 July 2006 06:05 | 2.157
  • Kencing Berdiri, Menghadap Kiblat dan Cebok Pakai Tissue, Bolehkah? | Wed, 26 July 2006 03:55 | 2.070
    Konsultasi Syariah | total 6528305 views

  •  



          1. Aqidah - 211
          2. Quran - 77
          3. Hadits - 89
          4. Fiqih - 78
          5. Thaharah - 104
          6. Shalat - 246
          7. Zakat - 75
          8. Puasa - 94
          9. Haji - 45
        10. Muamalat - 126
        11. Nikah - 208
        12. Mawaris - 109
        13. Kuliner - 65
        14. Qurban Aqiqah - 43
        15. Negara - 94
        16. Kontemporer - 133
        17. Wanita - 61
        18. Dakwah - 34
        19. Umum - 157

    Total : 2,063 artikel

    • Di rubrik ini tersimpan 2,063 artikel dari 4,402 pertanyaan yang sudah masuk.

    • Silahkan mengambil manfaat dari tulisan-tulisan ini, selain mengamalkannya juga mengajarkannya serta menyebarkannya. Mohon cantumkan sumber tulisan ini agar memudahkan siapa saja untuk merujuk kepada penulisnya.

    • Pastikan Anda mencari terlebih dahulu hal-hal yang ingin Anda ketahi sebelum mengirimkan pertanyaan.

    • Pertanyaan yang terkirim mungkin tidak semua terjawab, karena kami akan diseleksi lagi dari segi kelayakannya. Sebagiannya hanya akan dikirim jawabannya via email.