Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA
Muamalah Gadai Dalam Islam | rumahfiqih.com

Muamalah Gadai Dalam Islam

Mon 26 February 2007 23:44 | muamalat | 3.596 views

Pertanyaan :

Assalamu'alaikum,

Ustadz yang dirahmati Alloh SWT.

Saya ingin bertanya tentang hukum gadai. Apakah praktek pegadaian itu dibenarkan secara hukum syariah? Kalau dibenarkan, bagaimana bentuknya?

Mohon juga dijelaskan tentang prinsip pegadaian yang dibenarkan dalam Islam.

Terima Kasih atas jawabannya

Wassalamu'alaikum

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Dalam istilah fiqih, gadai dikenal dengan sebutan ar-rahn. Para fuqaha sepakat membolehkan praktek gadai ini, asalkan tidak terdapat praktek yang dilarang, seperti riba atau penipuan. Di masa Rasulullah praktek rahn pernah dilakukan. Kita dapati banyak riwayat tentang hal itu dan salah satunya adalah hadits berikut ini.

Dari Aisyah ra berkata bahwa Rasulullah SAW membeli makanan dari seorang yahudi dengan cara menggadaikan baju besinya.(HR Bukhari dan Muslim)

Dahulu ada orang menggadaikan kambingnya. Rasul ditanya bolehkah kambingnya diperah. Nabi mengizinkan, sekadar untuk menutup biaya pemeliharaan.

Apabila ada ternak digadaikan, punggungnya boleh dinaiki (oleh orang yang menerima gadai) karena ia telah mengeluarkan biaya (menjaga)nya… Kepada orang yang naik ia harus mengeluarkan biaya perawatannya”, (HR Jamaah kecuali Muslim dan Nasa’i, Bukhari no. 2329, kitab ar-Rahn).

Dari kedua hadits di atas, bisa kita simpulkanbahwa Rasullulah mengizinkan kita melakukan praktek gadai, bahkan dibolehkan juga buat kita untuk mengambil keuntungan dari barang yang digadaikan. Sebagai menutup biaya pemeliharaan.

Nah, biaya pemeliharaan inilah yang kemudian dijadikan ladang ijtihad para pengkaji keuangan syariah, sehingga gadai atau rahn ini menjadi produk keuangan syariah yang cukup menjanjikan.

Secara teknis gadai syariah dapat dilakukan oleh suatu lembaga tersendiri seperi Perum Pegadaian, perusahaan swasta, perusahaanpemerintah, atau merupakan bagian dari produk-produk finansial yang ditawarkan bank.

Praktik gadai syariah ini sangat strategis mengingat citra pegadaian memang telah berubah sejak enam-tujuh tahun terakhir ini. Pegadaian kini bukan lagi dipandang tempatnya masyarakat kalangan bawah mencari dana di kala anaknya sakit atau butuh biaya sekolah. Pegadaian kini juga tempat para pengusaha mencari dana segar untuk kelancaran bisnisnya.

Misalnya seorang produser film dakwah membutuhkn biaya untuk memproduksi filmnya, maka bisa saja ia menggadaikan mobil untuk memperoleh dana segar beberapa puluh juta rupiah. Setelah hasil panennya terjual dan bayaran telah ditangan, selekas itu pula ia tebus mobil yang digadaikannya. Bisnis tetap jalan, likuiditas lancar, dan yang penting produksi bisa tetap berjalan.

Unsur dan Rukun Rahn

Dalam prakteknya, gadai secara syariah ini memilikibeberapa unsur:

1. Pertama: Ar-Rahin

Yaitu orang yang menggadaikan barang atau meminjam uang dengan jaminan barang

2. Kedua: Al-Murtahin

Yaitu orang yang menerima barang yang digadaikan atau yang meminjamkan uangnya.

3. Ketiga: Al-Marhun/ Ar-Rahn

Yaitu barang yang digadaikan atau dipinjamkan

4. Keempat: Al-Marhun bihi

Yaitu uang dipinjamkan lantaran ada barang yang digadaikan.

Rukun Gadai

Seangkan dalam praktek gadai, ada beberapa rukun yang menjadi kerangka penegaknya. Dintaranya adalah

1. Al-'Aqdu yaitu akad atau kesepaktan untuk melakukan transaksi rahn Sedangkan yang termasuk rukun rahn adalah hal-hal berikut:

2. Adanya Lafaz yaitu pernyataan adanya perjanjian gadai. Lafaz dapat saja dilakukan secara tertulis maupun lisan, yang penting di dalamnya terkandung maksud adanya perjanjian gadai di antara para pihak.

3. Adanya pemberi dan penerima gadai

Pemberi dan penerima gadai haruslah orang yang berakal dan balig sehingga dapat dianggap cakap untuk melakukan suatu perbuatan hukum sesuai dengan ketentuan syari’at Islam.

4. Adanya barang yang digadaikan

Barang yang digadaikan harus ada pada saat dilakukan perjanjian gadai dan barang itu adalah milik si pemberi gadai, barang gadaian itu kemudian berada di bawah pengasaan penerima gadai.

5. Adanya Hutang

Hutang yang terjadi haruslah bersifat tetap, tidak berubah dengan tambahan bunga atau mengandung unsur riba.

Demikian sekilah tentang hukum gadai, insya Allah dalam kesempatan mendatang akan kami rinci lebih detail.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc


Baca Lainnya :

Sikap yang Terbaik Masalah Perbedaan Qunut
26 February 2007, 00:19 | shalat | 3.412 views
Terlambat Shalat Jumat, Harus Bagaimana?
23 February 2007, 08:09 | shalat | 3.434 views
Mas Kawin Tidak Sama dengan yang Diucapkan Dalam Akad
23 February 2007, 03:46 | nikah | 3.021 views
Apakah Hukumnya Musik Menurut Islam?
22 February 2007, 07:39 | umum | 7.662 views
Bid'ah di Tengah Kita
22 February 2007, 03:58 | umum | 3.259 views
Berwudhu' Tanpa Melepas Sepatu
21 February 2007, 06:43 | thaharah | 3.398 views
Syarat Sebuah Hadits Shahih
20 February 2007, 02:39 | hadits | 3.057 views
Al-Quran Bukan Berbahasa Arab, Benarkah?
20 February 2007, 01:54 | quran | 3.367 views
Hukum Mengubur Ari-Ari Bayi
18 February 2007, 23:34 | aqidah | 6.887 views
Khutbah Jumat Pakai Slide Presentasi
18 February 2007, 23:09 | shalat | 3.266 views
Adakah Keharusan Mengikuti Salah Satu Mazhab?
16 February 2007, 00:53 | ushul fiqih | 3.430 views
Kriteria Miskin
16 February 2007, 00:40 | muamalat | 4.135 views
Bagaimana Membedakan Magis dan Ilmu Pengetahuan?
15 February 2007, 03:44 | aqidah | 3.341 views
Pakaian Celana Panjang untuk Laki-Laki
15 February 2007, 02:52 | umum | 3.448 views
Partai Politik dan Perdebatan
14 February 2007, 09:38 | negara | 2.754 views

TOTAL : 2255 artikel 13902293 views