. .
 



baca versi HP | view by date | top hits | bidang | total 5,647,606 views

Bolehkah Menikah Dengan Wali Hakim? | Ahmad Sarwat,Lc., MA | www.rumahfiqih.com

Bolehkah Menikah Dengan Wali Hakim?

Tue, 20 August 2013 21:52 - 3089 | nikah

Assalamu 'alaikum wr. wb.

Salah seorang teman saya ingin menikah dan sudah punya calon suami. Dari pada pacaran yang akan merusak agama, mereka sepakat untuk menikah.

Sayangnya orang tuanya tidak setuju dengan berbagai alasan. Sudah berbagai cara dilakukan, tetapi si ayah tetap keukeuh menolak sang calon mantu.

Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menikah dengan wali hakim. Kabarnya di sebuah pesantren tertentu, ada ustadz yang bersedia menikahkan mereka. Istilahnya menjadi wali hakim.

Pertanyaan saya :

1. Apakah dibenarkan dalam syariah tentang adanya wali hakim yang bisa menikahkan pasangan, apabila tidak disetujui oleh ayahnya?

2. Sebenarnya apa pengertian wali hakim itu sendiri

3. Siapakah pihak-pihak yang berhak menjadi wali hakim?

4. Bagaimana dengan posisi saudara laki-laki seperti kakak kandung atau paman, apakah mereka boleh menjadi wali dan mengambil alih kewalian dari ayah kandung?

5. Apabila ada ustadz atau kiyai mengangkat dirinya sebagai wali hakim, apakah dia berdosa?

Demikian pertanyaan saya, semoga Allah SWT membalas dengan ganjaran pahala atas jawaban dari ustadz. Amien.

Wassalam

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Istilah 'wali hakim' sering kali dipahami secara keliru dan salah kaprah oleh kebanyakan masyarakat awam. Kita sering saksikan dalam kasus-kasus keseharian, apabila ayah kandung yang asli tidak bersedia menikahkan anak gadisnya, masyarakat terbiasa mencari jalan keluar, yaitu menikah lewat jasa wali hakim.

1. Salah Kaprah

Sayangnya, istilah 'wali hakim' yang dimaksud ternyata tidak sesuai dengan ketentuan syariah Islam. Mereka beranggapan bahwa siapa saja dianggap bisa diangkat menjadi wali hakim.

Konyolnya lagi, tidak sedikit para tokoh agama semacam ustadz, kiyai, muballigh, penceramah, sesepuh, bahkan pimpinan pondok pesantren, ormas dan kelompok pengajian yasinan, majelis dzikir dan seterusnya, yang dengan lugunya mengangkat diri sebagai wali hakim.

Praktek seperti ini sudah terlanjur menjadi kebiasaan di tengah masyarakat, seolah-olah siapa saja boleh mengangkat dirinya menjadi 'wali hakim'. Setelah itu siapa pun boleh menikahkan wanita seenaknya.

Dan lebih parahnya, untuk jasa menjadi 'wali hakim' ini, tentu tidak gratis. Tidak ada makan siang yang gratis. Tiap tokoh memang punya tarif sendiri-sendiri. Dan sebagaimana budaya di negeri kita, tarif itu bisa ditawar sesuai dengan keadaan.

Yang lebih parah lagi, karena sudah menyangkut transaksi keuangan , selalu saja muncul tokoh perantara, alias  'calo'. Fungsinya tentu menjadi penghubung antara pihak-pihak yang berkepentingan. Dan sebagai makelar, tentu ada fee tersendiri.

2. Pengertian Hakim

Padahal yang dimaksud dengan 'wali hakim' dalam ilmu fiqih tidak lain adalah penguasa yang sah. Mereka tidak lain adalah kepala negara atau kepala pemerintahan suatu negara yang berdaulat, sah dan resmi. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لا وَلِيَّ لَهُ

Dari Aisyah radhiyallahuanha berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Sulthan adalah wali bagi mereka yang tidak punya wali. (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmizi dan Ibnu Majah)

Praktek di masa nabi, yang menjadi sultan tidak lain adalah Rasulullah SAW sendiri. Karena saat itu Rasulullah SAW adalah seorang kepala negara, yang berwenang menetapkan damai dan perang dalam suatu negara. Beliau juga kepala negara yang berwenang untuk menjalankan hukum hudud.

Di masa khulafaurrasyidin, yang menjadi sultan adalah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali ridhwanullahi'alaihim.Semuanya adalah kepala negara di zamannya masing-masing. Mereka yang menjalankan undang-undang, memungut zakat dan jizyah, menetapkan perang dan damai, serta semua wewenang kepala negara lainnya.

Dan begitulah yang berlaku pada masa-masa selanjutnya, yang secara sah diberikan kewenangan dan otoritas menjadi wali bagi wanita yang tidak punya wali adalah para khalifah dan sultan.

Untuk ukuran negara Indonesia saat ini, yang Allah SWT berikan wewenang dan hak menjadi wali tidak lain adalah Presiden Republik Indonesia. Kalau Soekarno yang jadi presiden, maka dia itulah yang berhak menjadi wali hakim. Karena jabatan seorang presiden adalah hakim itu sendiri.

Demikian juga dengan presiden-presiden berikutnya, seperti Soeharto, Habibie, Gusdur, Megawati, SBY dan siapa pun yang nantinya akan menjabat, mereka itulah yang secara syar'i dan sah menjadi 'wali hakim'. Hanya mereka saja yang Allah SWT berikan wewenang menikahkan wanita yang tidak punya wali.

Para presiden ini kemudian berhak menunjuk atau mengangkat secara resmi para pembantu dalam melaksanakan tugasnya. Dan khusus untuk masalah menjadi wali nikah ini, yang biasanya diberikan wewenang adalah Menteri Agama Republik Indonesia.

Lalu Menteri mengangkat wakil-wakilnya di berbagai propinsi, kabupaten dan kecamatan, yaitu para pimpinan Kantor Wilayah (kanwil), Kantor Daerah, hingga Kantor Urusan Agama (KUA). Demikian hal itu disusun secara resmi hingga pada tingkat yang paling bawah, yaitu orang-orang yang diangkat secara resmi menjadi petugas di kantor KUA di tiap kecamatan.

Maka kesimpulannya, yang dimaksud dengan wali hakim tidak lain adalah para petugas resmi di Kantor Urusan Agama (KUA).

3. Selain Sultan Haram Menikahkan

Hak dan wewenang untuk menjadi wali hakim memang Allah SWT berikan kepada para penguasa negeri alias sultan. Dan hal itu sebagaimana hak yang Allah berikan untuk melaksanakan pengadilan dan menjatuhkan vonis pada hukum jinayat dan hudud.

Selain penguasa yang sah, tidak boleh ada pihak-pihak tertentu, walaupun termasuk tokoh yang terpandang, untuk bertindah sebagai wali bagi wanita tanpa wali. Dia tidak boleh menikahkan, karena dia tidak punya hak dan wewenang dari Allah SWT.

Apabila ketentuan ini dilanggar, tentu saja berdosa, bahkan termasuk dosa besar.

Pada dasarnya menikahkan seorang wanita dengan laki-laki berarti menghalalkan kemaluannya. Padahal urusan kemaluan wanita ini sangat esensial dan prinsipil, tidak boleh digampangkan.

Di dalam kaidah fiqih disebutkan bahwa hukum dasar dari kemaluan wanita adalah haram.

الأَصْلُ فيِ الأَبْضاَءِ التَّحْرِيم

Hukum asal dari kemaluan wanita adalah haram

Dan sesuatu yang telah Allah haramkan tidak akan berubah jadi halal, kecuali lewat ketentuan ketat yang telah Allah tetapkan. Dan ketentuan itu hanya lewat pernikahan sah, dimana ayah kandung sebagai satu-satunya orang yang berhak menikahkan anak gadisnya.

Dan hak itu tidak boleh diambil atau dirampas begitu saja oleh siapa pun, kecuali memang melewati prosedur yang dibenarkan dalam syariah. Salah satu prosedurnya adalah lewat penguasa atau sultan yang resmi dan sah secara hukum syariat Islam.

Bila ada pihak-pihak yang mengambil-alih wewenang ayah kandung sebagai wali, lalu menikahkan wanita tanpa wewenang yang sah, maka orang itu jelas telah berdosa besar, karena menghalalkan zina.

4. Wali Hakim dan Wali Yang Asli

Namun tidak mentang-mentang seseorang menjadi wali hakim yang sah, dia lantas berhak main mengawinkan anak gadis orang begitu saja. Pada dasarnya, wewenang wali hakim itu sendiri berada pada urutan terakhir, setelah semua wali yang sah dan asli sudah wafat, atau tidak memenuhi syarat.

Selama daftar urutan wali yang asli masih ada dan memenuhi syarat, maka wewenang wali hakim belum ada. Artinya, ketika seorang wanita masih memiliki ayah, kakek, saudara, paman atau sepupu yang memenuhi syarat sebagai wali, maka mereka itulah wali yang sah.

Itupun tidak boleh dilangkahi. Misalnya, saudara laki-laki atau paman, dia tidak boleh mengambil alih hak untuk menjadi wali dari ayah kandung, selama ayah kandung masih hidup dan tidak berkenan untuk menikahkan.

Walhasil, sebenarnya kedudukan ayah kandung itu mutlak tidak tergoyahkan. Jangankan wali hakim, wali yang sah namun urutannya di belakang ayah, tetap tidak bisa mengambil alih hak perwalian.

5. Dosa Besar Karena Menghalalkan zina

Tindakan para tokoh yang bukan representasi dari pemerintah untuk menikahkan orang begitu saja adalah dosa besar. Bahkan kalau kita telaah lebih dalam, bukan sekedar dosa besar biasa, tetapi dosa besar yang terus berulang-ulang, dosanya malah melebihi dari orang yang berzina di tempat pelacuran.

Kok bisa begitu?

Karena laki-laki hidung belang yang datang ke tempat pelacuran tetap mengetahui bahwa apa yang dilakukannya itu dosa. Makanya setiap pelaku zina itu pasti punya niat kecil dalam dirinya untuk suatu hari akan berhenti.

Berbeda dengan 'kiyai gadungan' yang menikahkan anak gadis orang secara sembarangan. Pada dasarnya dia telah menghalalkan zina secara abadi tapi menghiasinya dengan pernikahan palsu yang tidak sah. Bayangkan, berapa kali pasangan yang dinikahkan secara haram itu akan melakukan zina setiap kali mereka berhubungan. Coba silahkan hitung sendiri dosanya.

Apalagi jumlah pasangan yang menikah secara haram itu bukan cuma satu dua, tetapi puluhan bahkan mungkin sudah ratusan jumlahnya. Masih ditambah lagi dengan penipuan besar-besaran, plus penyesatan hukum agama, atas zina abadi yang diberi kedok pernikahan.

Dan semua itu terjadi begitu saja, tanpa ada yang mengingatkan atau melarang. Sehingga masyarakat yang awam ini jadi korban. Sebab yang mereka ketahui bahwa perbuatan itu dianggap halam dan sah, padahal sebenarnya tidak lain adalah zina yang telah Allah haramkan. Namun mata mereka tertutup, karena mereka merasa sudah mendapat jaminan kehalalan lewat kiyai dan tokoh gadungan yang menghalalkan zina.

Kalau nanti di akhirat ada antrian masuk neraka, para tokoh kiayai gadungan inilah yang berada pada urutan pertama. Sebab mereka telah memutar-balik hukum Allah yang sudah jelas-jelas haram menjadi halal dengan seenaknya. Dan semua terjadi karena kebodohan serta kejahilan yang berlipat ganda.

Dan dosa-dosa besar seperti itu tidak akan diampuni, kecuali dengan cara bertaubat, dan memperbaiki kesalahan. Caranya, dengan mengingatkan pasangan-pasangan zina yang sudah dinikahkannya untuk menikah dengan wali yang sah. Selama mereka masih belum menikah ulang dengan cara yang sah, selama itu pula mereka berzina.

Dan orang nomor satu yang paling keras siksanya dan digebuki ramai-ramai oleh malaikat di neraka nanti tidak lain adalah kiyai gadungan itu. Sebab dialah yang menghalalkan zina karena kebodohannya.

Semoga Allah SWT melindungi kita dari kemiskinan dan kebodohan, dan dari kerasnya siksa api neraka. Amien.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA
Rumah
Fiqih
Indonesia

 


baca versi HP | view by date | top hits | bidang | total 5,647,606 views

Lihat Sebelumnya


  • Janda Berangkat Haji Dalam Masa Iddah, Haramkah? | Mon, 19 August 2013 18:59 | 2478
  • Shalat Belum Dikerjakan Terlanjur Haidh | Sun, 18 August 2013 14:39 | 4075
  • Bingung Ikut Jamaah Yang Mana? | Fri, 16 August 2013 22:48 | 5804
  • Kutbah Jum'at Kekurangan Satu Rukun | Fri, 16 August 2013 11:35 | 3639
  • Minum Khamar Harus Dicambuk? | Wed, 14 August 2013 23:26 | 2069
  • Mengganti Hutang Puasa Yang Sudah Terlalu Lama | Mon, 12 August 2013 23:40 | 6770
  • Nikah Lagi Tanpa Izin Isteri, Bolehkah? | Mon, 12 August 2013 04:01 | 5186
  • Benarkah Uang Tabungan Buat Beli Rumah Wajib Dizakatkan? | Fri, 9 August 2013 21:54 | 3345
  • Puasa Syawwal atau Bayar Qadha' Dulu? | Fri, 9 August 2013 20:43 | 6115
  • Puasa Syawal Haruskah Berturut-Turut? | Thu, 8 August 2013 23:15 | 5663
    Konsultasi Syariah | total 5647607 views

  •  


    Pesan Disini



          1. Aqidah - 208
          2. Quran - 76
          3. Hadits - 89
          4. Fiqih - 78
          5. Thaharah - 104
          6. Shalat - 239
          7. Zakat - 75
          8. Puasa - 94
          9. Haji - 44
        10. Muamalat - 123
        11. Nikah - 204
        12. Mawaris - 108
        13. Kuliner - 64
        14. Qurban Aqiqah - 43
        15. Negara - 94
        16. Kontemporer - 131
        17. Wanita - 60
        18. Dakwah - 33
        19. Umum - 155

    Total : 2,036 artikel

    • Di rubrik ini tersimpan 2,036 artikel dari 4,291 pertanyaan yang sudah masuk.

    • Silahkan mengambil manfaat dari tulisan-tulisan ini, selain mengamalkannya juga mengajarkannya serta menyebarkannya. Mohon cantumkan sumber tulisan ini agar memudahkan siapa saja untuk merujuk kepada penulisnya.

    • Pastikan Anda mencari terlebih dahulu hal-hal yang ingin Anda ketahi sebelum mengirimkan pertanyaan.

    • Pertanyaan yang terkirim mungkin tidak semua terjawab, karena kami akan diseleksi lagi dari segi kelayakannya. Sebagiannya hanya akan dikirim jawabannya via email.