baca versi HP | view by date | top hits | bidang | total 3,796,423 views

Hukum Wanita Haid Masuk Masjid | Ahmad Sarwat,Lc., MA | www.rumahfiqih.com

Hukum Wanita Haid Masuk Masjid

Mon, 12 November 2012 03:25 - 3146 | thaharah

Assalamu 'alaikum wr. wb.

Ustadz, mohon pencerahan. Saya agak bimbang dengan penjelasan tentang hukum wanita haidh masuk ke dalam masjid. Dulu waktu saya kecil, saya sering mendapat keterangan bahwa wanita yang sedang haidh dilarang masuk ke dalam masjid.

Tetapi sekarang banyak penceramah atau ustadz yang bilang bahwa tidak mengapa wanita haidh masuk ke dalam masjid, asalkan tidak mengotori masjid dengan darah. Jadi kalau sudah pakai pembalut wanita, berarti boleh saja.

Maka saya rada bingung dan bimbang, kok tiap orang beda-beda fatwanya. Maka saya bertanya dan minta pencerahan dari ustadz, bagaimana sebenarnya kedudukan masalah ini? Dan apa pendapat para ulama besar tentang hal ini?

Terima kasih sebelumnya, ustadz.

Wassalam

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Larangan bagi wanita yang sedang haidh untuk masuk ke dalam masjid merupakan pendapat jumhur ulama.

Jumhur ulama empat mazhab, Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah, sepakat bahwa wanita yang sedang mendapatkan darah haidh diharamkan masuk ke dalam masjid.

Dan alasan atas larangan ini sebenarnya bukan lantaran takut darah itu mengotori masjid. Juga bukan karena wanita yang sedang haidh itu tidak suci. Namun larangan itu semata-mata karena status wanita yang sedang haidh itu dalam keadaan janabah atau berhadats besar. Ketidak-suciannya dalam hal ini bukan karena najisnya, tetapi karena hadatsnya.

Kita perlu membedakan antara orang terkena najis dengan orang yang berhadats. Orang terkena najis, asalkan najisnya terbungkus dan tidak mengalir keluar, maka pada dasarnya dibolehkan masjid masjid. Misalnya orang luka dan wanita yang dalam keadaan istihadhah. Sementara orang yang berhadats itu sebenarnya tidak selalu mengandung najis. Misalnya orang yang melakukan hubungan suami istri, tentu tidak ada najis pada tubuh mereka. Namun demikian, status orang itu berhadats. Dan oleh karena itu dilarang masuk ke dalam masjid.

Sedangkan pendapat yang mengatakan bahwa sebab larangan wanita haidh masuk masjid karena takut darahnya akan mengotori masjid, dipatahkan dengan dibolehkannya wanita yang sedang istihadhah masuk ke dalam masjid. Begitu juga orang yang luka berdarah tetapi diperban, tetap diperbolehkan shalat dan masuk masjid.

Dalil Jumhur Ulama

Setelah kita tahu bahwa haramnya wanita haidh masuk masjid ternyata adalah sesuatu yang telah disepakati oleh mayorias ulama, maka pertanyaan kita kemudian adalah apa dalil serta dasar hujjah para ulama itu?

Dalil atau hujjah yang digunakan para ulama sangat banyak, tidak bisa semua dituliskan disini. Kita cukupkan pada dalil dari ayat Al-Quran dan sunnah nabawiyah.

1. Dalil Ayat Al-Quran

Para ulama sepakat menjadikan ayat ke-43 dari surat An-Nisa' sebagai dalil diharamkannya orang yang berhadats besar masuk ke dalam masjid, dimana termasuk di dalamnya adalah wanita haidh.

Allah SWT berfirman :

Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu salat sedang kamu dalam keadaan mabuk sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub terkecuali sekedar berlalu saja hingga kamu mandi.(QS. An-Nisa' : 43)

Meski pun dzahir ayat ini berupa larangan mendekati shalat buat orang yang mabuk, namun maksud larangan bagi orang junub pada ayat ini adalah larangan untuk memasuki tempat shalat, yang dalam hal ini khusus berlaku hanya untuk masjid.

Hal itu diungkapkan oleh Al-Imam Asy-Syafi'i, dengan beberapa hujjah, antara lain :

a. Sambil Lewat

Pada ayat di atas ada lafadz illa 'abiriy sabilin (إلا غابري سبيل), yaitu kecuali sekedar berlalu saja.

Istilah berlalu tentu tidak tepat kalau dimaknai dengan melalukan shalat sambil lalu. Tetapi yang paling mendekati logika adalah berjalan menerobos melalui tempat shalat, yaitu masjid.

Dan makna ini sesuai dengan penjalasan dalam kitab-kitab tafsir bahwa ada sebagian shahabat Nabi SAW yang akses jalan keluar masuk rumahnya harus melalui masjid, seperti rumah Ali bin Abi Thalib.

Dengan adanya lafadz : kecuali bila sekedar melintas saja, maka para ulama memberikan pengucualian.

b. Mendekati Shalat

Dalam ayat ini Allah SWT menggunakan lafadz laa taqrabush-shalah (لا تقربوا الصلاة), yaitu jangan mendekati shalat. Istilah mendekati shalat ini berbeda dengan mendekati zina. Makna jangan mendekati zina itu mudah, yaitu jangan membuka aurat, berduaan, berhias yang mencolok dan hal-hal sejenisnya yang akan menyeret orang ke dalam perzinaan.

Tetapi apa yang dimaksud jangan mendekati shalat? Apakah tidak boleh melakukan gerakan yang mirip shalat? Ataukah larangan mendekati orang yang sedang shalat?

Jawabnya yang paling masuk akal adalah larangan untuk mendekati tempat shalat yaitu masjid, dan bukan larangan menirukan gerakan shalat atau mendekati orang yang sedang shalat.

c. Shalat Identik Dengan Masjid

Alasannya lainnya adalah bahwa di masa nabi, melakukan shalat itu identik dengan datang dan masuk ke dalam masjid. Maka ketika ada larangan untuk masuk ke dalam masjid, bunyi larangannya cukup dengan lafadz : janganlah kalian mendekati shalat.

2. Sunnah Nabawiyah

Haramnya orang yang berhadats besar masuk ke masjid juga dikuatkan dengan dalill dari Sunnah Nabawiyah. Di antarnya adalah hadits berikut ini :

Dari Aisyah radhiyallahuanha berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda ‘Tidak kuhalalkan masjid bagi orang yang junub dan haidh’. (HR. Abu Daud)

Sebagian kalangan ada yang mengatakan bahwa hadits ini dhaif, sehingga mereka menolak haramnya wanita haidh masuk masjid hanya semata-mata karena dianggap hadits ini dhaif.

Namun sebagian ulama yang lain tidak sependapat. Karena ternyata kedhaifan suatu hadits menurut sebagian ulama, tidak lantas menjadikan hadits itu pasti dhaif. Dan ternyata sebagian ulama lain berpendapat hadits ini bukan hadits dhaif.

Dalil Pendapat Yang Membolehkan

Adapun pendapat yang membolehkan wanita haidh masuk masjid, juga banyak. Di antara mereka berhujjah dengan anggapan bahwa hadits yang melarang wanita haidh masuk masjid dianggap hadits dha'if.

Selain itu juga mereka mendasarkan pendapatnya pada hadits Nabi SAW membolehkan Aisyah masuk ke masjid meski pun sedang dalam keadaan haidh. Beliau Saw mengatakan kepada Aisyah radhiallahuanha :

Dari Abu Hurairah Radhiyallahuanhu berkata bahwa ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam sedang berada didalam masjid beliau berkata: “Hai ‘Aisyah! Ambilkan pakaianku. Aisyah berkata: Sesungguhnya saya sedang haid. Beliau berkata: Sesungguhnya darah haidmu bukan di tanganmu. Kemudian Aisyah mengambilkannya.

Mereka berhujjah bahwa Aisyah radhiyallahuanha yang sedang mendapat haidh ternyata dibolehkan oleh Rasulullah SAW untuk masuk ke dalam masjid. Kalau seandainya dilarang, maka seharusnya beliau SAW tidak membiarkan Aisyah masuk ke dalam masjid. Justru malah beliau SAW memerintahkan Aisyah masuk masjid. Dan itu berarti hadits ini menjadi hujjah tentang bolehnya wanita haidh masuk ke dalam masjid.

Namun jumhur ulama menjawab, bahwa justru hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah. Karena meski dzahir hadits ini seolah-olah membolehkan wanita haidh masuk masjid, bukan berarti boleh untuk berdiam lama dan beri'tikaf. Kalau hanya lewat sekilas, sejak awal jumhur ulama sepakat membolehkannya. Dan yang dilakukan oleh Aisyah atas perintah Rasulullah SAW hanya sebatas mengambilkan sesuatu keperluan, tidak untuk masuk masjid dalam arti berdiam, i'tikaf atau mengikuti majelis taklim dan pengajian.

Sebagai tambahan, di antara para ulama kontemporer yang berpendapat bahwa wanita haidh diharamkan masuk masjid adalah namun mufti Kerajaan Saudi Arabia, Syeikh Abdul Aziz bin Baz dan juga Ibnu Utsaimin. Dua tokoh besar kerajaan Saudi Arabia ini sepakat berpendapat bahwa wanita haidh tetap haram untuk masuk ke dalam masjid, kecuali hanya untuk lewat atau kebutuhan yang sekilas saja, diantaranya masuk untuk membawakan kebutuhan tertentu.

Sedangkan kalangan yang membolehkan wanita haidh masuk masjid dan menetap di dalamnya dalam waktu yang lama antara lain pendapat Al-Albani.

Sedikit catatan, dua ulama Saudi yaitu Syeikh Bin Baz dan Al-Utsaimin mengharamkan wanita haidh masuk masjid. Pendapat mereka berdua nampaknya mengikuti pendapat para fuqaha besar, yaitu pendapat dari empat mazhab yang muktamad.

Sedangkan Al-Albani dalam masalah ini termasuk kalangan yang membolehkan wanita haidh masuk masjid. Dalam hal ini pendapatnya bertentangan dengan pendapat dua ulama besar Saudi Arabia, dan tentu saja bertentangan dengan pendapat yang muktamad dalam empat mazhab fiqih yang utama.

Wallahu a'lam bishshawab, Wassalamu 'alaikum wr. wb.

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Rumah
Fiqih
Indonesia

 


baca versi HP | view by date | top hits | bidang | total 3,796,423 views

Lihat Sebelumnya


  • Wanita Haram Menjadi Imam Buat Laki-laki | Wed, 7 March 2012 17:00 | 1314
  • Benarkah Wanita Boleh Jadi Imam Shalat Buat Laki-laki? | Tue, 6 March 2012 17:00 | 1590
  • Mengulang-ulang Tayammum | Sun, 4 March 2012 17:00 | 1361
  • Fiqih Al-Imam Asy-Syafi'i | Wed, 29 February 2012 17:00 | 2480
  • Benarkah Wanita Haid Boleh Tetap Puasa? | Sat, 6 September 2008 22:45 | 1399
  • Mimpi Basah Saat Ramadhan | Sat, 6 September 2008 22:44 | 1485
  • Perlukah Bersyahadat Lagi? | Sat, 6 September 2008 12:20 | 1932
  • Kafirkah Orang Tua Rasullulloh? | Sat, 6 September 2008 12:18 | 2629
  • Nabi Isa Disebutkan 25 Kali Dalam Al-Quran | Sat, 6 September 2008 11:53 | 1858
  • Taqdir, Bisakah Diubah? | Sat, 6 September 2008 11:51 | 2328
    Konsultasi Syariah | total 3796424 views

  •  
          1. Aqidah - 208
          2. Quran - 74
          3. Hadits - 86
          4. Fiqih - 72
          5. Thaharah - 102
          6. Shalat - 212
          7. Zakat - 65
          8. Puasa - 81
          9. Haji - 39
        10. Muamalat - 119
        11. Nikah - 199
        12. Mawaris - 101
        13. Kuliner - 62
        14. Qurban Aqiqah - 34
        15. Negara - 89
        16. Kontemporer - 126
        17. Wanita - 58
        18. Dakwah - 33
        19. Umum - 154

    • Di rubrik ini tersimpan 1,928 artikel dari 3,892 pertanyaan yang sudah masuk.

    • Silahkan mengambil manfaat dari tulisan-tulisan ini, selain mengamalkannya juga mengajarkannya serta menyebarkannya. Mohon cantumkan sumber tulisan ini agar memudahkan siapa saja untuk merujuk kepada penulisnya.

    • Pastikan Anda mencari terlebih dahulu hal-hal yang ingin Anda ketahi sebelum mengirimkan pertanyaan.

    • Pertanyaan yang terkirim mungkin tidak semua terjawab, karena kami akan diseleksi lagi dari segi kelayakannya. Sebagiannya hanya akan dikirim jawabannya via email.