. .
 



baca versi HP | view by date | top hits | bidang | total 5.926.309 views

Berdosakah Poligami Tanpa Izin Istri Pertama? | Ahmad Sarwat,Lc., MA | www.rumahfiqih.com

Berdosakah Poligami Tanpa Izin Istri Pertama?

Tue, 4 December 2012 20:36 - | Dibaca 10.021 kali | Bidang nikah

Assalamualaikum pa ust yg smoga dirahmati Allah SWT, Apa benar jika kita berpoligami tanpa izin istri pertama kita berdosa, karna dianggap telah menyakiti hatinya dan keluarganya, Syukron Jazakumullah

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Barangkali ungkapan yang lebih tepat adalah menyakiti hati istri itu berdosa. Adapun poligami tanpa izin istri, bisa berdosa dan bisa saja tidak. Semua tergantung dari apakah istri merasa disakiti atau tidak. Bisa saja di suatu bangsa yang menganut paham poligami, seperti di negeri Yaman misalnya, urusan suami menikah lagi dianggap bukan masalah besar, tetapi sesuatu yang amat lazim dan biasa-biasa saja.

Malah kadang ada pandangan yang mungkin buat kita rada aneh, karena semakin sering sang suami menikah lagi dan semakin banyak jumlah istrinya, maka semakin bangga istri pertamanya. Lucunya, justru istri pertama itu malah menawar-nawarkan suaminya untuk menikah lagi. Kalau ini yang terjadi, maka menikah lagi itu malah bukan berdosa tetapi berpahala. Karena unsur menyakiti hati istri tidak terjadi, sebaliknya istri pertama malah berbahagia. Maka demi membahagiakan hati istri pertama, suami 'terpaksa' menikah lagi.

Itulah keberagaman budaya, adat dan 'urf di tengah bangsa-bangsa di dunia ini. Buat kita memang aneh, asing bahkan mungkin ajaib. Tetapi semua itu fakta yang tidak bisa dipungkiri.

Oleh karena itulah kalau kita bicara lewat koridor hukum syariah Islam dengan membuang unsur budaya lokalnya, buat seorang laki-laki yang sudah beristri, untuk bisa menikah lagi tidak ada keharusan mendapatkan izin istri sebelumnya. Hak untuk menikah lagi itu diserahkan sepenuhnya kepada suami. Bahkan suami tidak membutuhkan wali untuk menikah lagi.

Syarat Izin Dari Istri Pertama : Pengaruh Hukum Belanda

Di masa lalu, orang-orangtua kita hidup pada dua sistem budaya yang berbeda. Pertama, sistem budaya lokal yang bercorak keislaman, atau setidaknya banyak diwarnai dengan unsur Islam. Kedua, sistem hukum barat yang notabene dibawa oleh  penjajah Belanda. Rupanya Belanda amat gencar mengajarkan hukum mereka di tanah air dan mati-matian memperkenalkan hukum sekuler barat itu kepada rakyat.

Ketika masyarakat muslim saat itu menerapkan sistem yang datang dari syariatnya, maka kita masih belum menemukan ketentuan bahwa suami yang menikah lagi itu harus mendapat izin dari istri pertama. Tetapi ketika penjajah Belanda sudah berhasil menancapkan kukunya di tanah air, lalu tidak lupa mereka juga menyuntikkan racun-racun budaya sekuler baratnya, maka mulai lah sebagian rakyat menjadi korban.

Salah satu bentuk korbannya yang utama adalah hukum produk Belanda, yang cenderung anti poligami dan memberikan syarat seberat-beratnya kepada suami yang ingin menikah lagi. Dibantu dengan media yang amat gencar dalam mengkampanyekan pola hidup barat sekuler, maka lahirlah berlapis-lapis generasi yang semakin tercerabut dari akar-akar budaya lokalnya, bergerak sistematis menuju pola hidup sekuler yang anti poligami.

Sehingga poligami dianggap sesuatu yang tabu, dan siapa pun yang melakukannya, selalu dituduh sebagai budak nafsu syahwat. Tidak peduli apa latar belakang adanya poligami itu, yang pasti, siapa pun yang berpoligami, maka otomatis boleh dipersalahkan.

Dan dari segi legalitas, hukum negeri kita yang sudah amat didominasi oleh hukum buatan Belanda, juga menekan habis tindakan poligami. Dan salah cara untuk menekannya adalah adanya syarat berupa izin tertulis dari istri pertama, dimana isinya menerangkan bahwa istri pertama dengan sepenuh hati menyatakan rela dan ikhlas kalau suaminya menikah lagi.

Tentu saja syarat adanya surat itu menjadi mustahil bisa didapat, karena pola pikir wanita kita sekarang ini sudah mengalami perubahan yang amat signifikan. Mereka sudah tidak lagi hidup di zaman nenek moyang yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai poligami.

Sebaliknya, para wanita di masa sekarang sudah lebih barat dari orang barat sendiri. Buat mereka, poligami itu anti kemajuan, poligami itu penyakit, dan poligami itu adalah sebuah kedunguan yang harus dilawan sekuat tenaga.

Para wanita kita saat ini sudah sampai pada titik lebih baik diceraikan dari pada dimadu oleh suaminya. Dan meski hal itu merupakan fitrah atau naluri tiap wanita, namun tetap saja berbeda keadaannya di berbagai corak dan ragam budaya.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Rumah
Fiqih
Indonesia

 


baca versi HP | view by date | top hits | bidang | total 5,926,309 views

Lihat Sebelumnya


  • Benarkah Aisyah Bolehkan Laki-laki Dewasa Menyusu Pada Wanita Biar Jadi Mahram? | Tue, 4 December 2012 07:02 | 5.432
  • Tentang Maulid Nabi Muhammad SAW | Tue, 4 December 2012 06:12 | 3.056
  • Memakai Kalung Sebagai Obat | Sun, 2 December 2012 16:45 | 2.883
  • Sejarah Islam Penuh Darah? | Sat, 1 December 2012 18:59 | 2.108
  • Batasan Bermuamalah Dengan Non Muslim | Fri, 30 November 2012 08:24 | 4.085
  • Apa Alasannya Semua Sahabat Dihukumi Adil dalam Hadits? | Thu, 29 November 2012 07:23 | 2.754
  • Dzikir Dengan Suara Keras | Wed, 28 November 2012 07:30 | 5.233
  • Mengapa Islam Turun di Arab? | Tue, 27 November 2012 08:45 | 3.633
  • Cara Berwudhu Wanita Berjilbab | Tue, 27 November 2012 06:02 | 3.432
  • Batas Kebolehan Perbedaan Pendapat | Mon, 26 November 2012 05:14 | 2.552
    Konsultasi Syariah | total 5926310 views

  •  

    more ...
    pesan segera persedian terbatas


          1. Aqidah - 208
          2. Quran - 76
          3. Hadits - 89
          4. Fiqih - 78
          5. Thaharah - 104
          6. Shalat - 241
          7. Zakat - 75
          8. Puasa - 94
          9. Haji - 44
        10. Muamalat - 124
        11. Nikah - 204
        12. Mawaris - 109
        13. Kuliner - 64
        14. Qurban Aqiqah - 43
        15. Negara - 94
        16. Kontemporer - 133
        17. Wanita - 60
        18. Dakwah - 33
        19. Umum - 156

    Total : 2,043 artikel

    • Di rubrik ini tersimpan 2,043 artikel dari 4,339 pertanyaan yang sudah masuk.

    • Silahkan mengambil manfaat dari tulisan-tulisan ini, selain mengamalkannya juga mengajarkannya serta menyebarkannya. Mohon cantumkan sumber tulisan ini agar memudahkan siapa saja untuk merujuk kepada penulisnya.

    • Pastikan Anda mencari terlebih dahulu hal-hal yang ingin Anda ketahi sebelum mengirimkan pertanyaan.

    • Pertanyaan yang terkirim mungkin tidak semua terjawab, karena kami akan diseleksi lagi dari segi kelayakannya. Sebagiannya hanya akan dikirim jawabannya via email.