Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Berdosakah Poligami Tanpa Izin Istri Pertama? | rumahfiqih.com

Berdosakah Poligami Tanpa Izin Istri Pertama?

Tue 4 December 2012 20:36 | Nikah | 21.671 views

Pertanyaan :

Assalamualaikum pa ust yg smoga dirahmati Allah SWT, Apa benar jika kita berpoligami tanpa izin istri pertama kita berdosa, karna dianggap telah menyakiti hatinya dan keluarganya, Syukron Jazakumullah

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Barangkali ungkapan yang lebih tepat adalah menyakiti hati istri itu berdosa. Adapun poligami tanpa izin istri, bisa berdosa dan bisa saja tidak. Semua tergantung dari apakah istri merasa disakiti atau tidak. Bisa saja di suatu bangsa yang menganut paham poligami, seperti di negeri Yaman misalnya, urusan suami menikah lagi dianggap bukan masalah besar, tetapi sesuatu yang amat lazim dan biasa-biasa saja.

Malah kadang ada pandangan yang mungkin buat kita rada aneh, karena semakin sering sang suami menikah lagi dan semakin banyak jumlah istrinya, maka semakin bangga istri pertamanya. Lucunya, justru istri pertama itu malah menawar-nawarkan suaminya untuk menikah lagi. Kalau ini yang terjadi, maka menikah lagi itu malah bukan berdosa tetapi berpahala. Karena unsur menyakiti hati istri tidak terjadi, sebaliknya istri pertama malah berbahagia. Maka demi membahagiakan hati istri pertama, suami 'terpaksa' menikah lagi.

Itulah keberagaman budaya, adat dan 'urf di tengah bangsa-bangsa di dunia ini. Buat kita memang aneh, asing bahkan mungkin ajaib. Tetapi semua itu fakta yang tidak bisa dipungkiri.

Oleh karena itulah kalau kita bicara lewat koridor hukum syariah Islam dengan membuang unsur budaya lokalnya, buat seorang laki-laki yang sudah beristri, untuk bisa menikah lagi tidak ada keharusan mendapatkan izin istri sebelumnya. Hak untuk menikah lagi itu diserahkan sepenuhnya kepada suami. Bahkan suami tidak membutuhkan wali untuk menikah lagi.

Syarat Izin Dari Istri Pertama : Pengaruh Hukum Belanda

Di masa lalu, orang-orangtua kita hidup pada dua sistem budaya yang berbeda. Pertama, sistem budaya lokal yang bercorak keislaman, atau setidaknya banyak diwarnai dengan unsur Islam. Kedua, sistem hukum barat yang notabene dibawa oleh  penjajah Belanda. Rupanya Belanda amat gencar mengajarkan hukum mereka di tanah air dan mati-matian memperkenalkan hukum sekuler barat itu kepada rakyat.

Ketika masyarakat muslim saat itu menerapkan sistem yang datang dari syariatnya, maka kita masih belum menemukan ketentuan bahwa suami yang menikah lagi itu harus mendapat izin dari istri pertama. Tetapi ketika penjajah Belanda sudah berhasil menancapkan kukunya di tanah air, lalu tidak lupa mereka juga menyuntikkan racun-racun budaya sekuler baratnya, maka mulai lah sebagian rakyat menjadi korban.

Salah satu bentuk korbannya yang utama adalah hukum produk Belanda, yang cenderung anti poligami dan memberikan syarat seberat-beratnya kepada suami yang ingin menikah lagi. Dibantu dengan media yang amat gencar dalam mengkampanyekan pola hidup barat sekuler, maka lahirlah berlapis-lapis generasi yang semakin tercerabut dari akar-akar budaya lokalnya, bergerak sistematis menuju pola hidup sekuler yang anti poligami.

Sehingga poligami dianggap sesuatu yang tabu, dan siapa pun yang melakukannya, selalu dituduh sebagai budak nafsu syahwat. Tidak peduli apa latar belakang adanya poligami itu, yang pasti, siapa pun yang berpoligami, maka otomatis boleh dipersalahkan.

Dan dari segi legalitas, hukum negeri kita yang sudah amat didominasi oleh hukum buatan Belanda, juga menekan habis tindakan poligami. Dan salah cara untuk menekannya adalah adanya syarat berupa izin tertulis dari istri pertama, dimana isinya menerangkan bahwa istri pertama dengan sepenuh hati menyatakan rela dan ikhlas kalau suaminya menikah lagi.

Tentu saja syarat adanya surat itu menjadi mustahil bisa didapat, karena pola pikir wanita kita sekarang ini sudah mengalami perubahan yang amat signifikan. Mereka sudah tidak lagi hidup di zaman nenek moyang yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai poligami.

Sebaliknya, para wanita di masa sekarang sudah lebih barat dari orang barat sendiri. Buat mereka, poligami itu anti kemajuan, poligami itu penyakit, dan poligami itu adalah sebuah kedunguan yang harus dilawan sekuat tenaga.

Para wanita kita saat ini sudah sampai pada titik lebih baik diceraikan dari pada dimadu oleh suaminya. Dan meski hal itu merupakan fitrah atau naluri tiap wanita, namun tetap saja berbeda keadaannya di berbagai corak dan ragam budaya.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA


Baca Lainnya :

Tentang Maulid Nabi Muhammad SAW
4 December 2012, 06:12 | umum | 13.492 views
Memakai Kalung Sebagai Obat
2 December 2012, 16:45 | aqidah | 5.415 views
Sejarah Islam Penuh Darah?
1 December 2012, 18:59 | umum | 4.684 views
Batasan Bermuamalah Dengan Non Muslim
30 November 2012, 08:24 | muamalat | 8.629 views
Apa Alasannya Semua Sahabat Dihukumi Adil dalam Hadits?
29 November 2012, 07:23 | hadits | 5.684 views
Dzikir Dengan Suara Keras
28 November 2012, 07:30 | shalat | 12.852 views
Mengapa Islam Turun di Arab?
27 November 2012, 08:45 | ushul fiqih | 7.126 views
Cara Berwudhu Wanita Berjilbab
27 November 2012, 06:02 | thaharah | 6.507 views
Batas Kebolehan Perbedaan Pendapat
26 November 2012, 05:14 | ushul fiqih | 5.044 views
Shalat Khusyu' Sesuai Rasulullah SAW
25 November 2012, 02:18 | shalat | 30.361 views
Berdoa Agar PSSI Menang, Kok Nggak Menang-menang Juga?
24 November 2012, 09:46 | aqidah | 4.718 views
Bersalaman Seusai Shalat
22 November 2012, 17:01 | shalat | 6.257 views
Bolehkah Merevisi Mahar Setelah Akad?
20 November 2012, 17:00 | nikah | 8.224 views
Bolehkah Orang Kafir Masuk Masjid?
18 November 2012, 17:00 | shalat | 6.389 views
Demokrasi: Soal Aqidah atau Muamalah?
17 November 2012, 17:00 | kontemporer | 5.458 views

TOTAL : 2266 artikel 17476319 views