Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Berapa Nilai Nominal Nafkah Yang Wajib Diberikan Suami Kepada Istri? | rumahfiqih.com

Berapa Nilai Nominal Nafkah Yang Wajib Diberikan Suami Kepada Istri?

Wed 5 December 2012 03:23 | Nikah | 105.835 views

Pertanyaan :

Assalamu' alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Ust. ana mau bertanya tentang hak istri terhadap seluruh penghasilan suami. Berapa besar hak istri terhadap penghasilan suami?

Lebih perioritas mana antara kebutuhan istri dengan kebutuhan orang tua suami atas penghasilan suami? Syukran Jazila ya ustadz,

Wassalamu alaikum wr wb

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Hak istri atas nafkah dari suaminya dijamin 100% dalam syariat Islam. Ada begitu banyak dalil tentang kewajiban suami memberi nafkah harta kepada istrinya. Namun besarannya memang tidak diatur secara pasti di dalam Al-Quran atau pun As-Sunnah, sehingga para ulama juga berbeda pendapt dalam menetapkan besarannya.

Namun umumnya para ulama berpendapat agar nilai nafkah itu disepakati bersama, antara kedua belah pihak dari suami dan istri. Sehingga ketentuannya seperti dalam hukum jual-beli, yaitu pembeli wajib membayar harga barang yang dibelinya. Kewajiban itu memang perintah syariah. Tetapi berapa nilainya, tentu harus sesuai dengan kesepakatan di antara penjual dan pembeli.

Maka idealnya berapa nilai nafkah yang menjadi kewajiban suami itu ditentukan sejak sebelum pernikahan dilakukan, serta menjadi salah satu faktor penentu apakah sebuah lamaran itu diterima atau tidak. Kurang lebih menjadi satu paket dengan nilai mahar yang juga perlu disepakati sebelum pernikahan.

Namun sayangnya, dalam prakteknya, setiap ada persiapan pernikahan, urusan nilai mahar dan nafkah malah sama sekali tidak diotak-atik. Yang diributkan hanya kostum, katering, gedung, kartu undangan, acara, hiburan dan hal-hal yang sifatnya insidentil. Tetapi berapa nafkah dan mahar yang menjadi kewajiban suami dan menjadi hak istri, sepertinya dianggap main-main semata.

Maka kalau di tengah perjalanan rumah tangga, tiba-tiba ada keributan tentang jatah nafkah buat istri, bisa saja suami mengelak dengan mudah.

Kenapa?

Karena memang tidak ada kesepakatan apa pun atas nilai yang wajib dibayar oleh suami. Berapa angka nilai mahar saja tidak disepakati, apalagi nilai nafkah. Walhasil, secara hukum yang hitam putih, maka pihak istri tentu tidak bisa menuntut apa-apa, kalau sudah bicara angka.

Memang sih di dalam Al-Quran disebutkan bahwa suami wajib memberi nafkah secara makruf. Ayatnya memang jelas seperti tertera berikut ini :

وعلى المولود له رزقعهن وكسوتهن بالمعروف

Dan kewajiban ayah (suami) untuk memberi rizqi (nafkah) dan pakaian kepada ibu (istri) secara makruf. (QS. An-Nisa' :  233)

Tetapi berapa sih angka pastinya nilai nafkah yang disebut dengan makruf itu? Maka jawabannya hanya yang sewajarnya saja. Tetapi sewajarnya itu berapa? Tidak ada ketentuannya.

Mengapa?

Balik lagi, karena nilainya itu diserahkan kepada kesepakatan awal dari masing-masing pihak. Repotnya, kalau kesepakatan awalnya tidak ada, maka bisa saja muncul potensi konflik.

Nilai Nafkah Dalam Fiqih

Kalau kita buka berbagai kitab fiqih, khususnya bab-bab yang berbicara tentang angka nilai nafkah, maka kita akan menemukan setidaknya empat pendapat para ulama yang berbeda.

1. Pendapat Pertama : Secukupnya

Pendapat pertama adalah pendapat mazhab Al-Hanafiyah(1), Al-Malikiyah (2), sebagian penganut mazhab As-Syafi'iyah (3) dan kebanyakan pemeluk mazhab Al-Hanabilah (4). 

Mereka menyebutkan bahwa tidak ada standarisasi nilai nafkah yang ditetapkan secara baku, semua dikembalikan unsur kecukupan dan kepantasan saja. Dan istilah ini diwakili dengan lafadz bil-ma'ruf (بالمعروف) yang tersebar di dalam berbagai dalil, baik dari Al-Quran atau pun dari As-sunnah.

Dalilnya adalah ayat 233 dari Surat An-Nisa' diatas, yaitu suami wajib memberi nafkah kepada istri dengan nilai yang makruf. Istilah makruf ini ditafsirkan oleh pendapat pertama sebagai 'secukupnya' atau kurang lebih 'sewajarnya'.

Selain itu juga ada hadits tentang istri Abu Sufyan yang komplain kepada Rasulullah SAW atas kecilnya nafkah yang diterimanya. Lantas Rasulullah SAW membolehkannya untuk mengambil sendiri harta suaminya, tetapi dengan ukuran sewajarnya.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( دَخَلَتْ هِنْدُ بِنْتُ عُتْبَةَ -اِمْرَأَةُ أَبِي سُفْيَانَ- عَلَى رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم . فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ لَا يُعْطِينِي مِنْ اَلنَّفَقَةِ مَا يَكْفِينِي وَيَكْفِي بَنِيَّ, إِلَّا مَا أَخَذْتُ مِنْ مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمِهِ, فَهَلْ عَلَِيَّ فِي ذَلِكَ مِنْ جُنَاحٍ? فَقَالَ: خُذِي مِنْ مَالِهِ بِالْمَعْرُوفِ مَا يَكْفِيكِ, وَيَكْفِي بَنِيكِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

'Aisyah Radliyallaahu 'anhu berkata: Hindun binti Utbah istri Abu Sufyan masuk menemui Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan berkata: Wahai Rasulullah, sungguh Abu Sufyan adalah orang yang pelit. Ia tidak memberiku nafkah yang cukup untukku dan anak-anakku kecuali aku mengambil dari hartanya tanpa sepengetahuannya. Apakah yang demikian itu aku berdosa? Beliau bersabda: "Ambillah dari hartanya yang cukup untukmu dan anak-anakmu dengan baik." (HR. Bukhari Muslim)

Kebanyakan pasangan suami istri memang menggunakan pendekatan pendapat pertama ini. Namun sebenarnya istilah 'secukupnya' kalau mau ditelusuri, masih meninggalkan tanda tanya juga, karena nilainya tidak pasti. Sebab boleh jadi urusan cukup atau tidak cukup ini buat tiap istri berbeda-beda nilainya.

Apalagi kalau kasusnya seorang punya istri lebih dari satu, dan masing-masing pasang tafir atas nafkah yang menjadi hak mereka. Maka istilah 'secukupnya' boleh jadi tidak menyelesaikan masalah, karena sifatnya sangat relatif.

2. Pendapat Kedua

Belum tuntasnya ukuran nilai nafkah di atas, akan terjawab kalau kita pindah pada pendapat kedua, yang merupakan pendapat mazhab Asy-Syafi'iyah secara muktamad, dan juga pendapat Al-Qadhi dari kalangan mazhab Al-Hanabilah.

Mereka menyebutkan bahwa harus ada ukuran minimal standar nilai nafkah yang wajib diberikan suami kepada istrinya. Dan ukurannya ditetapkan dalam bentuk bahan makanan pokok yang wajib diberikan per hari, oleh suami kepada istri.

Ukuran minimal nafkah itu menurut pendapat As-Syafi'iyah, bahwa setiap harinya seorang suami wajib memberi bahan makanan pokok kepada istrinya satu mud gandum atau kurma. Dan buat suami yang agak luas rejekinya, minimal dua mud. Dan bila berada di tengah-tengah, maka jumlahnya satu mud setengah.

Istilah mud merupakan ukuran volume, yang biasanya di masa Rasulullah SAW digunakan untuk menyebutkan banyaknya suatu makanan. Kata mud sendiri bemakna dua genggaman tangan. Maka kalau disebutkan gandum sejumlah satu mud, berarti gandum sebanyak yang bisa ditampung dengan kedua talapak tangan mannusia.

Di dalam Kitab Al-Fiqhul Islami Wa Adillatuhu susunan Dr. Wahbah Az-Zuhaili bahwa bila diukur dengan ukuran zaman sekarang ini, satu mud itu setara dengan 0,688 liter atau 688 ml.

Sedangkan Al-Qadhi dari mazhab Al-Hanabilah menyebutkan minimal seorang suami wajib memberi nafkah kepada istrinya berupa bahan makanan pokok seberat dua rithl. Ukuran rithl (bukan liter) adalah ukuran yang biasa digunakan pada masa lalu untuk mengukur berat makanan. 

Pertanyaannya, dari manakah Al-Qadhi mendatangkan angka 2 rithl ini?

Ternyata angka itu adalah qiyas dari kewajiban untuk membayar kaffarah. Karena keduanya sama-sama merupakan kewajiban yang identik, yaitu memberi makan. Kalau kaffrah adalah memberi makan fakir miskin sebanyak dua rithl, maka kewajiban memberi makan istri setidak-tidaknya seperti halnya memberi makan kepada fakir miskin, yaitu besarnya juga dua rithl. (5)

Kalau dibandingkan dengan ukuran berat di zaman sekarang, banyak ulama kontemporer yang menyebutkan bahwa satu rithl setara dengan 454 gram. Jadi dua rithl itu sama dengan 908 gram atau mendekati satu kilo.

3. Pendapat Ketiga

Pendapat menyebutkan bahwa kadar ukuran nafkah yang wajib diberikan suami kepada istrinya ditetapkan oleh negara, yang dalam hal ini oleh pemerintah, qadhi atau sultan.

Pemerintah adalah waliyyul-amr, atau orang yang diamanahi urusan umat Islam. Dalam pandangan ini, apa yang belum ditetapkan nilainya di dalam Al-Quran dan As-Sunnah, maka menjadi  tugas dari pemerintah yang sah. Sehingga berapa besaran nilai nafkah yang wajib dikeluarkan oleh suami kepada istrinya, maka harus menunggu ketetapan dari negara atau pemerintah.

Kalau kita menggunakan pendapat ini, maka kurang lebih mirip di zaman sekarang ini dengan upah minimum regional (UMR), yang ditetapkan oleh penguasa kepada para pengusaha. Jadi semua dikembalikan kepada negara, berapa kira-kira nilai nafkah yang wajib dikeluarkan oleh seorang suami.

Pendapat ini adalah pendapat sebagian dari para ulama yang bermazhab Asy-Syafi'iyah. (6)

4. Pendapat Keempat

Pendapat yang keempat atau yang terakhir menyebutkan bahwa nilai besaran nafkah yang wajib diberikan suami kepada istrinya ditetapkan berdasarkan urf atau tradisi yang berlaku di suatu tempat. Dan boleh jadi satu tempat dengan tempat lainnya berbeda-beda dalam menetapkan nilai nafkah.

Misalnya di suatu desa sudah mentradisi bahwa nakfah yang wajib diberikan adalah seluruh gaji, maka otomatis semua gaji suami menjadi nafkah buat istrinya. Namun bisa saja di tempat yang lain, kebiasaan yang berlaku berbeda lagi.

Pendapat yang terakhir ini juga merupakan pendapat sebagian lain dari para ulama di dalam keluarga besar mazhab Asy-Syafi'i.

Prioritas Antara Nafkah Istri Dan Kebutuhan Orang Tua

Idealnya tidak boleh terjadi dualisme kepentingan seperti ini. Sebab masing-masing punya hak yang sudah diatur. Tetapi kalau istri tidak mau mengalah, begitu juga orang tua tidak mau mengalah, maka ada yang salah dalam keharmonisan rumah tangga.

Istri yang tidak mau mengalah buat kebutuhan orang tua adalah istri yang kurang ajar. Sebaliknya, orang tua yang ingin menguasai anaknya dan menuntut si anak untuk memenangkan dirinya dan mengalahkan istrinya, juga bukan teladan yang baik.

Seharusnya, kalau mau dibilang shalih dan baik, justru istri inginnya mengalah saja, sementara orang tua juga tahu diri. Kalau dua-duanya mengalah, maka itulah kebaikan hidup. Tapi kalau dua-duanya sama-sama tidak mau mengalah, kiamat lah dunia ini. Berarti suami itu salah memilih istri, walau pun bukan salah memilih orang tua.

Namun kondisi ini tidak akan terjadi kalau sudah ada standar nafakh buat istri yang ditetapkan, entah lewat pemerintah, atau tradisi, atau pun lewat kesepakatan. Bahkan bisa juga berdasarkan makanan pokok sehari dua mud beras saja.

Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ahmad Sarwat, Lc., MA

-------------------------------------------------------------------------------

(1) Al-Kasani, Bada'iu Ash-Shanai', jilid 4 hal. 23

(2) Ibnu Rusydi, Bidayatul Mujtahid, jilid 2 hal. 59

(3) An-Nawawi, Raudhatu At-Thalibin, jilid 9 hal. 40

(4) Ibu Qudamah, Al-Mughni, jilid 9 hal. 21

(5) Al-Katib Asy-Syabini, Mughni Al-Muhtaj, jilid 3 hal. 426

(6) An-Nawawi, Raudhatu At-Thalibin, jilid 9 hal. 40

(7) Ad-Dasuqi, Hasyiyatu Ad-Dasuqi, jilid 2 hal. 509


Baca Lainnya :

Berdosakah Poligami Tanpa Izin Istri Pertama?
4 December 2012, 20:36 | | 23.207 views
Tentang Maulid Nabi Muhammad SAW
4 December 2012, 06:12 | | 15.792 views
Memakai Kalung Sebagai Obat
2 December 2012, 16:45 | | 6.149 views
Sejarah Islam Penuh Darah?
1 December 2012, 18:59 | | 5.219 views
Batasan Bermuamalah Dengan Non Muslim
30 November 2012, 08:24 | | 10.023 views
Apa Alasannya Semua Sahabat Dihukumi Adil dalam Hadits?
29 November 2012, 07:23 | | 6.256 views
Dzikir Dengan Suara Keras
28 November 2012, 07:30 | | 13.574 views
Mengapa Islam Turun di Arab?
27 November 2012, 08:45 | | 7.869 views
Cara Berwudhu Wanita Berjilbab
27 November 2012, 06:02 | | 7.328 views
Batas Kebolehan Perbedaan Pendapat
26 November 2012, 05:14 | | 5.543 views
Shalat Khusyu' Sesuai Rasulullah SAW
25 November 2012, 02:18 | | 41.282 views
Berdoa Agar PSSI Menang, Kok Nggak Menang-menang Juga?
24 November 2012, 09:46 | | 5.243 views
Bersalaman Seusai Shalat
22 November 2012, 17:01 | | 7.049 views
Bolehkah Merevisi Mahar Setelah Akad?
20 November 2012, 17:00 | | 10.378 views
Bolehkah Orang Kafir Masuk Masjid?
18 November 2012, 17:00 | | 7.651 views
Demokrasi: Soal Aqidah atau Muamalah?
17 November 2012, 17:00 | | 6.058 views
Shalat Hadiah untuk Orang Tua Meninggal
16 November 2012, 00:45 | | 7.336 views
Operasi Selaput Dara
15 November 2012, 17:00 | | 5.581 views
Dzikir Ratib Al Haddad
14 November 2012, 17:00 | | 17.433 views
Hukum Wanita Haid Masuk Masjid
12 November 2012, 03:25 | | 18.447 views
Wanita Haram Menjadi Imam Buat Laki-laki
7 March 2012, 17:00 | | 5.487 views
Benarkah Wanita Boleh Jadi Imam Shalat Buat Laki-laki?
6 March 2012, 17:00 | | 4.673 views
Mengulang-ulang Tayammum
4 March 2012, 17:00 | | 4.168 views
Benarkah Wanita Haid Boleh Tetap Puasa?
6 September 2008, 22:45 | | 4.395 views
Mimpi Basah Saat Ramadhan
6 September 2008, 22:44 | | 4.753 views
Perlukah Bersyahadat Lagi?
6 September 2008, 12:20 | | 5.320 views
Kafirkah Orang Tua Rasullulloh?
6 September 2008, 12:18 | | 8.297 views
Nabi Isa Disebutkan 25 Kali Dalam Al-Quran
6 September 2008, 11:53 | | 5.148 views
Taqdir, Bisakah Diubah?
6 September 2008, 11:51 | | 6.550 views
Cara Menyadarkan Teman yang Inkar-Sunnah
6 September 2008, 11:50 | | 5.067 views
Status Pernikahan Isteri yang Murtad
6 September 2008, 11:49 | | 4.439 views
Baiat Dan Syahadatain
6 September 2008, 11:46 | | 5.180 views
Adakah Ayat Al-Quran atau Hadits yang Dinasakh?
6 September 2008, 11:23 | | 4.730 views
Menanam Kepala Sapi Mencari Keselamatan
6 September 2008, 10:16 | | 4.552 views
Shalat di Mushalla Ahmadiyah
6 September 2008, 03:16 | | 4.976 views
Apakah Dosa Bila Membuang Pembalut yang Tidak Bersih
17 June 2008, 22:24 | | 16.075 views
Apakah Sujud Tilawah Itu?
17 June 2008, 01:00 | | 6.181 views
Penasaran dengan Kelompok Ingkarussunnah
16 June 2008, 07:36 | | 4.710 views
Hukum Menjama` Shalat di Kantor dan Ketiduran
16 June 2008, 07:33 | | 4.436 views
Halalkah Darah Gusdur?
14 June 2008, 02:10 | | 5.813 views
Hukum Mengingkari Pembagian Hak Waris Menurut Islam
13 June 2008, 00:21 | | 4.313 views
Ternyata Dasar Negara Indonesia Bukan Pancasila Tapi Allah
10 June 2008, 23:17 | | 5.848 views
Kagum kepada Ahmadinejad?
10 June 2008, 00:31 | | 5.160 views
Pemimpin yang Takut kepada Pihak Asing
9 June 2008, 01:32 | | 3.882 views
Banci Menjadi Imam
8 June 2008, 23:36 | | 4.494 views
Arah Kiblat yang Sedikit Melenceng
8 June 2008, 01:01 | | 4.888 views
Ikut Casting Film Ketika Cinta Bertasbih
6 June 2008, 23:36 | | 4.139 views
Anarki dan Mengisi Kekebalan Tubuh
6 June 2008, 00:25 | | 4.948 views
Menggunakan Fasilitas Kantor
4 June 2008, 22:47 | | 4.893 views
DKM Masjid Tidak Mau Dikoreksi Arah Kiblatnya
4 June 2008, 00:52 | | 4.562 views

TOTAL : 2.279 tanya-jawab | 20,503,031 views