baca versi HP | view by date | top hits | bidang | total 3,794,321 views

Baca Al-Fatihah Sesudah Imam : Apa Tidak Terburu-buru? | Ahmad Sarwat,Lc., MA | www.rumahfiqih.com

Baca Al-Fatihah Sesudah Imam : Apa Tidak Terburu-buru?

Thu, 4 April 2013 23:47 - 5896 | shalat

Untuk makmum hanya ada satu dari dua pilihan, yaitu membaca Al-Fatihan tapi tidak mendengarkan bacaan imam, atau mendengarkan bacaan imam namun tidak baca Al-Fatihah.

Kalau tidak baca Al-Fatihah, shalatnya tidak sah, karena merupakan rukun shalat. Maka pilihannya jatuh pada membaca Al-Fatihah dengan cepat, agar tidak terlalu tertinggal dari mendengarkan bacaan ayat berikutnya.

Pak ustadz yang saya hormati, bukankah shalat itu harus tartil, tumakninah, khusyuk?

Mohon pencerahan, pak ustadz.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Masalah membaca surat Al-Fatihah dengan cepat itu sebenarnya tidak perlu terjadi, apabila imam dan makmum saling mengerti kewajiban masing-masing. Yang jadi masalah, perilaku imam shalat yang kurang lengkap ilmunya, lalu main tabrak saja tanpa mempertimbangkan kondisi makmum.

Maksudnya?

Begini, kalau seorang imam shalat punya wawasan yang luas, maka seharusnya dia paham dan mengerti bahwa ada mazhab yang banyak dianut oleh masyarakat, dimana mazhab itu menggabungkan antara dua dalil sekaligus, sehingga pilihannya adalah makmum seusai mendengarkan bacaan imam, mereka membaca surat Al-Fatihah sendiri-sendiri dengan suara lirih.

Pilihan ini memang bukan ijma' ulama, tetapi setidaknya itulah pendapat mazhab Asy-Syafi'iyah yang di negeri kita dipeluk oleh hampir mayoritas umat Islam. Sejak mereka masih kanak-kanak belajar shalat, memang begitulah mereka diajarkan, yaitu baca Al-Fatihah sendiri-sendiri seusai mendengarkan bacaan imam.

Maka siapa pun yang menjadi imam shalat di Indonesia, atau pun di negeri yang banyak pemeluk mazhab Asy-Syafi'i-nya, harusnya memahami hal-hal kecil seperti ini. Jadi jangan langsung meneruskan bacaan ayat-ayat Al-Quran seusai melafadzkan kata 'amin'. 

Berilah jeda waktu sekadar para makmum bisa membaca surat Al-Fatihah dengan tartil dan tidak harus terburu-buru. Jadi apa yang anda khawatirkan itu tidak harus terjadi.

Tidak Harus Mendengarkan Bacaan Ayat Di Luar Al-Fatihah

Tetapi anggaplah tidak semua imam itu paham ilmu tentang shalat, khususnya tetang adanya perbedan pendapat di atas. Atau anggaplah si imam rada sentimen dengan apa yang telah menjadi pendapat mazhab Asy-Syafi'i. Lalu apakah ada jalan keluar?

Tentu saja jawabnya ada jalan keluar.

Dalam hal ini, para ulama khususnya mazhab As-Syafi'i mewajibkan makmum mendengarkan bacaan Al-Fatihah saja,  tidak termasuk bacaan ayat yang lain.

Jadi caranya, makmum tetap baca surat Al-Fatihah itu dengan tartil, tidak terburu-buru, tetapi juga tidak harus terlalu lamban. Kalau imam membaca surat yang lain, tidak mengapa untuk tidak didengarkan, sebab makmum saat itu membaca suarat Al-Fatihah, yang hukumnya bagi makmum merupakan kewajiban. Sedangkan mendengarkan bacaan ayat-ayat Al-Quran selain surat Al-Fatihah, tidak menjadi kewajiban.

Perbedaan Pendapat Ulama Tentang Bacaan Al-Fatihah Buat Makmum Dalam Shalat Jahriyah

Benar sekali bahwa para ulama berbeda pendapat tentang hukum membaca surat Al-Fatihah bagi makmum yang shalat dibelakang imam, apakah tetap wajib membacanya, ataukah bacaan imam sudah cukup bagi makmum, sehingga tidak perlu lagi membacanya?

Berikut ini adalah rincian dari perbedaan pendapat itu dari beberapa mazhab yang berbeda :

1. Mazhab Al-Hanafiyah

Sedangkan mazhab Al-Hanafiyah berpendapat bahwa makmum secara mutlak tidak perlu membaca surat Al-Fatihah, baik di dalam shalat jahriyah atau pun sirriyah. Bahkan mereka sampai ke titik mengharamkan makmum untuk membaca Al-Fatihah di belakang imam.

Dasar pelarangan ini adalah ayat Al-Quran yang turun berkenaan dengan kewajiban mendengarkan bacaan imam.

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا

Dan apabila dibacakan Al-Quran, dengarkannya dan perhatikan. (QS. Al-A’raf : 204)

Dalam mazhab ini, minimal yang bisa dianggap sebagai bacaan Al-Quran adalah sekadar 6 huruf dari sepenggal ayat. Seperti mengucapkan tsumma nazhar, dimana di dalam lafaz ayat itu ada huruf tsa, mim, mim, nun, dha' dan ra'.

Namun ulama mazhab ini yaitu Abu Yusuf dan Muhammad mengatakan minimal harus membaca tiga ayat yang pendek, atau satu ayat yang panjangnya kira-kira sama dengan tiga ayat yang pendek.

2. Mazhab Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah

Mazhab Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah mengatakan bahwa seorang makmum dalam shalat jamaah yang jahriyah (yang bacaan imamnya keras) untuk tidak membaca apapun kecuali mendengarkan bacaan imam. Sebab bacaan imam sudah dianggap menjadi bacaan makmum.

Namun kedua mazhab ini sepakat untuk shalat yang sirriyah, dimana imam tidak mengeraskan bacaannya, para makmum lebih disukai (mustahab) untuk membacanya secara perlahan juga.

Dasar landasan pendapat mereka adalah hadits Nabi SAW berikut ini :

مَنْ كَانَ لَهُ إِمَامٌ فَقِرَاءَةُ الإْمَامِ لَهُ قِرَاءَةٌ

Orang yang punya imam maka bacaan imam adalah bacaan baginya.(HR. Ibnu Majah)

3. Mazhab As-Syafi'i

Mazhab As-syafi'iyah mewajibkan makmum dalam shalat jamaah untuk membaca surat Al-Fatihah, baik dalam shalat jahriyah maupun shalat sirriyah.

Dasarnya adalah hadits-hadits shahih yang sudah disebutkan :

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِأُمِّ القُرْآنِ

Dari Ubadah bin Shamit ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Tidak sah shalat kecuali dengan membaca ummil-quran (surat Al-Fatihah)"(HR. Bukhari Muslim)

لاَ تُجْزِئُ صَلاَةٌ لاَ يَقْرَأُ الرَّجُل فِيهَا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

Tidak sah shalat dimana seseorang tidak membaca Fatihatul-kitab (surat Al-Fatihah) (HR)

Namun mazhab Asy-Syafi’iyah juga memperhatikan kewajiban seorang makmum untuk mendengarkan bacaan imam, khususnya ketika di dalam shalat jahriyah.

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا

Dan apabila dibacakan Al-Quran, dengarkannya dan perhatikan. (QS. Al-A’raf : 204)

Disini ada dua dalil yang secara sekilas bertentangan. Dalil pertama, kewajiban membaca surat Al-Fatihah. Dalil kedua, kewajiban mendengarkan bacaan surat Al-Fatihah yang dibaca imam.

Dalam hal ini mazhab Asy-syafi’iyah nampaknya menggunakan tariqatul-jam’i (طريقة الجمع), yaitu menggabungkan dua dalil yang sekilas bertentangan, sehingga keduanya bisa tetap diterima dan dicarikan titik-titik temu di antara keduanya.

Thariqatul-jam’i yang diambil adalah ketika imam membaca surat Al-Fatihah, makmum harus mendengarkan dan memperhatikan bacaan imam, lalu mengucapkan lafadz ‘amin’ bersama-sama dengan imam. Begitu selesai mengucapkan, masing-masing makmum membaca sendiri-sendiri surat Al-Fatihah secara sirr (tidak terdengar).

Dalam hal ini, imam yang mengerti thariqatul-jam’i yang diambil oleh mazhab Asy-Syafi’iyah ini akan memberikan jeda sejenak, sebelum memulai membaca ayat-ayat Al-Quran berikutnya. Dan jeda itu bisa digunakan untuk bernafas dan beristirahat sejenak.

Namun dalam pandangan mazhab ini, kewajiban membaca surat Al-Fatihah gugur dalam kasus seorang makmum yang tertinggal dan mendapati imam sedang ruku'. Maka saat itu yang bersangkutan ikut ruku' bersama imam dan sudah terhitung mendapat satu rakaat.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

 

Rumah
Fiqih
Indonesia

 


baca versi HP | view by date | top hits | bidang | total 3,794,321 views

Lihat Sebelumnya


  • Memahramkan Anak Suami, Bisakah? | Thu, 4 April 2013 01:09 | 2623
  • Harta Isteri Menjadi Hak Isteri, Apa Dasarnya? | Tue, 2 April 2013 20:34 | 3658
  • Ragu Diundang Makan di Rumah Non Muslim | Mon, 1 April 2013 00:28 | 3023
  • Mana yang Berlaku, Masa 'Iddah Berdasarkan Agama atau Negara? | Sat, 30 March 2013 22:14 | 2708
  • Islam Tidak Mengenal Pembagian Harta Gono-Gini? | Fri, 29 March 2013 20:46 | 3785
  • Zakat Rumah yang Disewakan | Fri, 29 March 2013 01:48 | 2241
  • Mencabut Sighat Taliq yang Terlanjur Dilakukan | Thu, 28 March 2013 23:46 | 3458
  • Kotoran Kambing dan Air Kencing Unta Tidak Najis? | Wed, 27 March 2013 23:01 | 4090
  • Perayaan Khitanan, Adakah Pensyariatannya? | Tue, 26 March 2013 23:24 | 2797
  • Membatalkan Baiat, Apakah Ada Kaffarahnya? | Tue, 26 March 2013 23:21 | 2855
    Konsultasi Syariah | total 3794322 views

  •  
          1. Aqidah - 208
          2. Quran - 74
          3. Hadits - 86
          4. Fiqih - 72
          5. Thaharah - 102
          6. Shalat - 212
          7. Zakat - 65
          8. Puasa - 81
          9. Haji - 39
        10. Muamalat - 119
        11. Nikah - 199
        12. Mawaris - 101
        13. Kuliner - 62
        14. Qurban Aqiqah - 34
        15. Negara - 89
        16. Kontemporer - 126
        17. Wanita - 58
        18. Dakwah - 33
        19. Umum - 154

    • Di rubrik ini tersimpan 1,928 artikel dari 3,890 pertanyaan yang sudah masuk.

    • Silahkan mengambil manfaat dari tulisan-tulisan ini, selain mengamalkannya juga mengajarkannya serta menyebarkannya. Mohon cantumkan sumber tulisan ini agar memudahkan siapa saja untuk merujuk kepada penulisnya.

    • Pastikan Anda mencari terlebih dahulu hal-hal yang ingin Anda ketahi sebelum mengirimkan pertanyaan.

    • Pertanyaan yang terkirim mungkin tidak semua terjawab, karena kami akan diseleksi lagi dari segi kelayakannya. Sebagiannya hanya akan dikirim jawabannya via email.