Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Perang Sesama Muslim dan Saling Berbunuhan, Jihadkah? | rumahfiqih.com

Perang Sesama Muslim dan Saling Berbunuhan, Jihadkah?

Tue 25 October 2016 15:47 | Dakwah | 20.495 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum wr. wb.

Saya prihatin kalau membaca berita dunia Islam dewasa ini. Rasanya kok sudah tidak ada lagi berita yang mengenakkan hati. Dunia Islam tidak pernah sepi dari pertempuran. Dimana-mana kita dikepung dengan berita bentrok, pembunuhan, luka dan perang.

Sayangnya perang itu justru melibatkan sesama muslim. Seorang yang mengaku muslim dengan sangat marah membunuh saudaranya yang muslimnya juga. Tanpa merasa bersalah atau berdosa sedikitpun, bahkan dia meyakini pembunuhan yang dilakukannya dalam rangka JIHAD di jalan Allah.

Dulu sewaktu Uni Sovyet menjajah Afghanistan, jihadnya benar-benar terasa, karena musuhnya orang kafir harbi. Tetapi ketika pasukan komunis sudah hengkang, mengapa sesama pasukan yang nota bene masih sama-sama muslim terlibat konflik bersenjata, serta main bunuh-bunuhan?

Begitu juga kalau kita lihat di Indonesia, ketika Indonesia merdeka dan Belanda sudah pergi jauh, muncul pemberontakan dimana-mana. Lalu para pemberontak itu ditumpas secara militer, banyak dari mereka yang mati. Padahal militernya beragama Islam, komandannya pun Islam juga. Dan pemberontaknya juga beragama Islam.

Di Suriah, Iraq, Libya dan berbagai negeri lainnya pun sama saja. Kedua belah pihak yang berperang dan saling berbunuhan itu ternyata sama-sama muslim.

Pertanyaanya :

Apakah perang yang terjadi sesama muslim itu, lepas dari apa latar belakang penyebabnya, dibenarkan dalam syariat Islam? Apakah termasuk jihad fi sabilillah juga? Apa memang begini ajaran agama Islam, untuk bisa membela agama Islam, haruskah kita pamer kepada orang lain untuk saling berbunuhan?

Mohon penjelasan yang rinci dari Al-Quran dan As-Sunnah. Sebab tidak sedikit para pemuda yang diajak ikut-ikutan untuk menghunus pedang dan menembakkan peluru kepada sesama muslim sendiri.

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih banyak.

Wassalam

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Apa yang menjadi keprihatinan Anda sebenarnya juga menjadi keprihatinan seluruh dunia Islam. Sayang sekali memang, di tengah harapan kebangkitan Islam di abad ke-15 hijriyah, ternyata kita masih juga harus menelan pil pahit kenyataan, yang membuat kita susah makan dan susah tidur.

Walaupun perang dan berbunuhan sesama muslim itu dilarang dalam agama, pada kenyataannya justru kita seringkali menyaksikan pemandangan yang membuat kita mengurut dada. Satu kelompok umat Islam menyerbu sesama umat Islam juga, yang satu teriak Allahuakbar, lawannya pun sama meneriakkan Allahuakbar.

Mirisnya, kedua belah pihak merasa yakin apa yang dilakukannya itu atas nama Allah, demi membela kepentingan Allah. Tetapi keduanya sama-sama berbunuhan. Sungguh ini bukan jihad tetapi fitnah dan perang saudara.

Kalau saja Rasulullah SAW masih hidup dan menyaksikan pemandangan itu, pastilah beliau marah besar. Selain perang dan berbunuhan dengan saudara sesama muslim itu haram, justru musuh-musuh Islam yang sesungghnya akan berbahagia. Mereka tidak perlu capek-capek membunuh umat Muhammad, karena sesama umat Muhammad sudah perang saudara sendiri. Mereka cukup menunggu saja, tak lama lagi pasti akan menang.

Haram Berperang dan Saling Berbunuhan Dengan Sesama Muslim

Tidak ada salahnya kalau kita mengulang-ulang kembali pelajaran tentang ajaran Islam yang damai. Islam tidak membolehkan kita membunuh orang kafir, selama dia bukan kafir harbi. Apalagi membunuh muslim, tentu jauh lebih haram lagi.

Setiap muslim yang pernah belajar ilmu syariah, pasti tahu bahwa hukum membunuh nyawa sesama muslim diharamkan dan merupakan dosa besar. Tindakan keji itu jelas diharamkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Ada begitu banyak dalil yang melarang perang dengan sesama pemeluk agama Islam sendiri, di antaranya :

1. Diancam Masuk Jahannam dan Abadi di dalamnya

Orang yang membunuh nyawa seorang muslim tanpa hak, maka Allah SWT mengancamnya dengan siksa berupa dimasukkan ke dalam neraka jahannam. Tidak akan keluar lagi, abadi di dalamnya.
 

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِناً مُتَعَمِّداً فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِداً فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَاباً عَظِيماً


Siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (Qs. An-Nisa' : 93)

Perhatikan baik-baik detail ayat ini. Rupanya orang yang membunuh nyawa muslim tanpa hak, bukan hanya dimasukkan ke dalam jahannam saja. Ternyata masih ada lagi ancaman lainnya, yaitu Allah SWT marah kepada pelakunya, bahkan mengutuk atau melaknatnya.

Di dalam banyak kitab tafsir disebutkan bahwa menurut Abdullah Ibnu Abbas radhiyallahuanhu, inilah ayat yang terakhir kali turun dalam sejarah kehidupan Rasulullah SAW. Tidak ada lagi ayat yang turun setelah ayat ini.

2. Membunuh Satu Nyawa Sama Dengan Membunuh Semua Nyawa

Salah satu alasan kenapa membunuh nyawa muslim diharamkan, karena pembunuhan nyawa manusia itu akan melahirkan dendam dari pihak keluarga atau kelompoknya. Lalu dendam ini akan melahirkan pembunuhan yang kedua, ketiga dan seterusnya.

 

مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ كَتَبْنَا عَلَى بَنِي إِسْرائيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْساً بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعاً وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعاً


Siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.(QS. Al-Maidah : 32)

Maka dalam syariat Islam, dendam untuk membunuh itu diharamkan. Istilah nyawa dibayar nyawa tidak dikenal di dalam syariat Islam, kalau yang dimaksud adalah balas dendam dengan cara membunuh lagi.

Nyawa dibalas nyawa hanya dibenarkan manakala dilakukan lewat proses pengadilan yang sah. Kalau pembunuhnya terbukti membunuh dengan sengaja, tanpa tekanan dan dengan penuh kesadaran, serta dilengkapi dengan saksi dan bukti yang diterima secara hukum, maka barulah dijalankan hukum qishash.

Sebaliknya, bila pengadilan yang sah tidak berhasil membuktikannya, maka tidak bisa dijalankan hukum qishash. Dan penting untuk dicatat, eksekusi hukum qishash itu tidak dilakukan oleh pihak keluarga korban, melainkan oleh petugas negara.

3. Wasiat Allah : Haram Membunuh Muslim

Kecuali lewat jalur hukum yang benar, maka membunuh nyawa seorang muslim itu jelas-jelas sesuatu yang diharamkan. Dan keharamannya disampaikan dalam bentuk WASIAT dari Allah.

 

وَلا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ


Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. (QS. Al-An'am : 151)

Dan tidaklah ada orang yang melanggar apa-apa yang telah Allah SWT wasiatkan, kecuali dia memang benar-benar telah melakukan dosa besar.

4. Membunuh Muslim : Dosa Yang Dihisab Pertama Kali

Di hari kiamat nanti, amal yang pertama kali dihisab dalam urusan hubungan kepada Allah adalah masalah shalat. Siapa yang lulus urusan shalatnya, maka dia akan mudah dalam hisab-hisab selanjutnya.

Sedangkan dalam urusan dengan sesama manusia, amal-amal yang akan dihisab pertama kali adalah urusan hutang nyawa. Maksudnya, kalau sampai seorang muslim membunuh nyawa dengan sesama muslim, maka di akhirat urusannya akan jadi gawat. Sebab dosa membunuh nyawa sesama muslim ini akan menjadi pintu gerbang dan faktor penentu utama, apakah dia akan lulus dari hisab atau tidak.

Dahsyatnya dosa membunuh sesama muslim digambarkan dalam hadits berikut ini :

 

أولُ ما يُحاسَبُ به العبدُ الصلاةُ وأولُ ما يُقضَى بينَ الناسِ الدماءُ


Yang dihisab pertama kali dari seorang hamba adalah masalah shalat. Dan yang pertama kali dihisab atas dosa sesama manusia adalah dosa menumpahkan darah muslim. (HR. Bukhari)

Maka urusan membunuh dan menghilangkan nyawa sesama muslim ini amat berat. Kita tidak boleh gegabah dan menganggap dosa berbunuhan ini cuma masalah sepele. Jangan sampai urusan kita nanti di akhirat jadi runyam, cuma lantaran kita suka membunuh nyawa sesama muslim.

5. Kedua Belah Pihak Masuk Neraka

Rasulullah SAW tidak main-main ketika melarang sesama umat Islam saling berbunuhan. Kalau sampai ada perang dan saling berbunuhan antara dua pihak, padahal keduanya sama-sama mengaku muslim, maka ancamannya tidak tanggung-tanggung, yaitu kedua belah pihak diancam akan sama-sama masuk neraka.

Rasulullah SAW bersabda :

 

إذا التقى المسلمان بسيفيهما فالقاتل والمقتول في النار . قلت : يا رسول الله ، هذا القاتل فما بال المقتول  قال : إنه كان حريصاً على قتل صاحبه


Dari Abu Bakrah Nafiq bin Al-Harits, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Bila dua pihak muslim bertemu (saling berbunuhan) dengan pedang mereka, maka yang membunuh dan yang dibunuh masuk neraka. Aku bertanya,"Ya Rasulullah SAW, wajar masuk neraka bagi yang membunuh, tetapi bagaimana dengan yang dibunuh?". Beliau SAW menjawab,"Yang dibunuh masuk neraka juga, karena dia pun berkeinginan untuk membunuh lawannya". (HR. Bukhari dan Muslim)

Pihak yang terbunuh ikut masuk neraka juga, karena biar bagaimana pun dia ikut terjun ke medan perang yang haram. Sebuah medan perang yang melibatkan kedua belah pihak yang sama-sama muslim adalah medan perang yang harus dijauhi dan tegas diharamkan untuk ikut terlibat di dalamnya.

Maka sikap nekat dan ikut-ikutan membela salah satu pihak, lalu ikut saling berbunuhan juga, bukanlah termasuk jihad membela agama Allah. Perbuatan itu termasuk menginjak-injak larangan Rasulullah SAW, dan pantas bila yang membunuh dan yang terbunuh sama-sama masuk neraka.

Dosanya jelas, karena yang terbunuh berniat untuk membunuh saudaranya. Seandainya dia tidak terbunuh, dia pun pasti akan membunuh juga.

6. Hancurnya Dunia Lebih Ringan Dari Membunuh Muslim

Menumpahkan darah seorang muslim bukan cuma dosa, tetapi peristiwa itu lebih dahsyat dan hancurnya dunia dan alam semesta. Apalagi kalau sampai terjadi perang saudara sesama muslim, tentu lebih parah lagi kondisinya. Sebab dalam sebuah peperangan, nyawa yang terbunuh biasanya bukan cuma satu atau dua orang, tetapi bisa ratusan bahkan ribuan.

Betapa beratnya dosa membunuh nyawa seorang muslim, juga ditegaskan oleh sabda Rasulullah SAW :

 

والذي نفسي بيده لقتل مؤمن أعظم عند الله من زوال الدنيا


Demi Allah Yang jiwaku berada di tangan-Nya, membunuh seorang muslim itu lebih dahsyat di sisi Allah dari hancurnya dunia. (HR. Muslim)

Dalam riwayat yang lain disebutkan hal yang sama meski dengan redaksi yang agak berbeda :

 

 لزوال الدنيا أهون على الله من قتل رجل مسلمٍ


Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dari dibunuhnya seorang muslim. (HR. Muslim)

Maka haram bagi seorang muslim untuk turun ke medan perang, kalau orang yang harus dibunuhnya ternyata masih beragama Islam. Dan tentu saja perang semacam itu bukan jihad. Sebab jihad itu hanya dalam rangka perang melawan orang kafir saja. Kafirnya pun bukan sembarang kafir, tetapi syaratnya harus kafir harbi.

7. Nyawa Seorang Muslim Hanya Halal Lewat Pengadilan Syariah Yang Sah

Pada dasarnya umat Islam itu bersaudara. Maka tidak boleh seorang muslim menghunuskan pedangnya kepada sesama muslim, apalagi sampai membunuh dan menumpahkan darah.

Kalau pun ada jalur yang sah dimana darah seorang muslim itu bisa menjadi halal, maka jalurnya amat sempit dan terbatas sekali. Di dalam hadits nabi kita sudah diingatkan bahwa tidak halal darah seorang muslim, kecuali hanya karena satu dari tiga  sebab.

 

  لايحل دم امرئ مسلم يشهد أن لا إله إلا الله وأني رسول الله  إلا بإحدى ثلاث : الثيّب الزاني  والنفس بالنفس  والتارك لدينه المفارق للجماعة


Tidak halal darah seorang muslim yang telah bersaksi tiada tuhan selain Allah dan  Aku adalah utusan Allah, kecuali karena satu dari tiga penyebab. [1] Pelaku zina, [2] nyawa dibalas nyawa (qishash), dan [3] orang yang keluar dari agama dan meninggalkan jamaah umat Islam. (HR. Bukhari dan Muslim)

Hanya dalam salah satu dari tiga kasus ini saja yang syariat membolehkan dibunuhnya seorang yang beragama Islam. Itu pun tidak boleh dilakukan seenaknya, harus lewat proses pengadilan yang panjang. Harus ada saksi yang memenuhi syarat, harus ada bukti dan semua syubuhat benar-benar bersih.

Syubuhat secara bahasa adalah ketidak-jelasan. Namun dalam pengertian yang lebih jauh, syubuhat termasuk semua hal yang membuat alasan untuk menjatuhkan vonis hukuman mati menjadi tidak kuat.

Salah satunya ketika ada seorang wanita yang dengan ikrar dan pengakuannya sendiri menyatakan telah berzina dan minta dijatuhi hukum rajam. Namun karena wanita ini mengandung bayi di dalam perutnya, hukum rajam tidak bisa dilaksanakan.

Sebab meski syariat Islam mengenal hukuman mati buat pelaku kejahatan tertentu, namun hukuman itu bisa dibatalkan bila ada syubuhat. Prinsipnya sebagaimana yang Rasulullah SAW tegaskan :

 

ادرؤا الحدود بالشبهات


Tolaklah pelaksanaan hukum hudud dengan adanya syubuhat.

Kalau Terlanjur Pecah Perang Sesama Muslim, Apa Yang Wajib Kita Lakukan?

Yang wajib kita lakukan tentu saja menghentikan perang itu. Kita damaikan kedua belah pihak yang masih bersaudara dalam Islam. Dengan syarat selama kita mampu dan bisa mendamaikan.

Tetapi mendamaikan dua belah pihak yang dikuasai nafsu syaitani untuk saling membunuh memang bukan perkara mudah. Namanya saja orang kesetanan, maka setanlah yang lebih berkuasa dan bertahta. Alih-alih kita bisa mendamaikan, justru kita sendiri yang malah ikut juga diperangi. Atau malah ikut perang juga, karena terpengaruh situasi.

Nasib kita bisa seperti nasib Nabi Musa alaihissalam. Ketika melihat dua orang berseteru, beliau niatnya ingin mendamaikan. Tetapi karena nafsu angkara murka, justru Nabi Musa akhirnya malah terlibat ikut membunuh salah satunya. Dan ujung-ujungnya, Nabi Musa yang tidak tahu urusan apa-apa, malah dikejar-kejar orang sekampung jadi buronan. Akhirnya beliau terpaksa mengungsi ke negeri Madyan.

Maka kalau sudah demikian parah kondisinya, ada baiknya kita diam saja. Diam bukan berarti setuju, tetapi diam karena tidak ingin ikut memperkeruh suasana yang panas membara.

Dan tidak perlu mengajak-ajak orang lain ikut nimbrung ke dalam arena peperangan, karena bisa-bisa malah akan jadi korban peluru nyasar. Namanya juga orang lagi perang, peluru bisa beterbangan kemana saja. Tidak peduli kawan atau lawan, bahkan orang yang netral sekalipun bisa terkena terjangan timah panas.

Jadi kita bukan tidak boleh peduli dengan nasib umat Islam. Tetapi kalau yang kita pedulikan itu sedang terlibat perang dengan sesama saudaranya, kita harus cerdas dan cermat, agar jangan sampai ikut memperparah situasi.

Jihad Rasululllah SAW : Minim Korban

Jihad memang disyariatkan dalam agama Islam. Namun dari semua jihad yang dijalankan oleh Rasulullah SAW, tidak ada satupun yang diarahkan untuk memerangi sesama pemeluk Islam sendiri.

Bahkan orang-orang munafik di Madinah yang seringkali bikin onar dan fitnah, tidak pernah dihalalkan darahnya. Sebab sebejat apapun orang munafik itu, secara status mereka masih termasuk orang Islam. Urusan dia berpura-pura, kita serahkan saja kepada Allah SWT.

Kalau pun Rasululullah SAW berperang dan membunuh, maka yang dibunuh hanya sebatas orang-orang kafir harbi, yang posisi mereka memang siap membunuh atau dibunuh. Itu pun kalau kita hitung secara statistik, jumlah korban nyawa dalam semua perang di masa Nabi SAW sangat minim.  Totalnya korbannya dari pihak muslim dan kafir hanya sampai 386 orang saja. Padahal beliau menanage puluhan peperangan.

Dr. Muhammad Imarah, salah seorang ilmuwan Mesir pernah menuliskan data tentang minimnya jumlah korban nyawa selama 23 tahun perang yang dijalankan oleh Rasulullah SAW. Dan angkanya cukup mencengangkan. Ternyata jumlah korbannya minim sekali, baik di pihak muslim ataupun di pihak orang kafir.

 

 

Nama Perang Tahun Kafir Muslim Jumlah
1. Perang Badar 2 H 70 14 84
2. Perang Sawiq 2 H - 2 2
3. Ba’ts Kaab bin Asyraf 2 H 1 - 1
4. Perang Uhud 3 H 22 70 92
5. Perang Hamra Al-Asad 3 H 1 - 1
6. Ba’ts Raji’ 3 H - 27 27
7. Ba’ts Bi’r Maunah 3 H - 6 6
8. Perang Khandak 5 H 3 - 3
9. Perang Bani Quraidzah 5 H - - -
10.  Ba’ts Abdullah bin Atik 5 H 1 - 1
11.  Ba’ts Dzi Qard 6 H 1 2 3
12.  Perang Bani Musthaliq 6 H - 1 1
13.  Perang Khaibar 7 H 2 20 22
14.  Perang Wadil Qura 7 H - 1 1
15.  Perang Mu’tah 8 H - 11 11
16.  Fathu Mekkah 8 H 17 3 20
17.  Perang Hunain 8 H 84 4 88
18.  Perang Thaif 8 H - 13 13
TOTAL   203 183 386


Penelitian ini menarik sekali, ternyata jumlah korban cuma 386 orang saja, sudah termasuk korban dari pihak muslim dan kafir. Sebuah fakta yang barangkali jarang kita sadari, mengingat bab jihad cukup mendapat tempat di dalam kitab fiqih. Dan ayat-ayat tentang jihad cukup banyak bertabur di dalam Al-Quran. Bahkan banyak sekali hadits-hadits yang bicara tentang jihad.

Semua fakta ini menggugurkan mitos bahwa agama Islam harus darah, sebagaimana yang ditudukan oleh orang-orang kafir. Bahkan tidak sedikit di kalangan umat Islam sendiri yang sadar bahwa agama tidak mengajarkan kita untuk mudah membunuh nyawa manusia.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

 

 

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Sadar dan Tahu Saat Melakukan Dosa Besar, Bagaimana Cara Bertaubat?
23 October 2016, 04:10 | Umum | 3.025 views
Bolehkah Minum Air Kencing Unta?
19 October 2016, 04:40 | Kuliner | 4.656 views
Hukum Makan Daging Buaya : Halalkah?
17 October 2016, 07:40 | Kuliner | 7.181 views
Wali Nikah Bukan Ayah Kandung
16 October 2016, 06:17 | Nikah | 30.014 views
Adakah Zakat Atas Tanah Gusuran?
14 October 2016, 10:00 | Zakat | 3.173 views
Tax Amnesty, Pajak Dalam Pandangan Syariah: Wajib atau Haram?
2 October 2016, 06:59 | Muamalat | 30.594 views
Adakah Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun
1 October 2016, 18:25 | Hadits | 27.432 views
Sudah Mampu Secara Harta, Bolehkah Menunda Pergi Haji?
22 September 2016, 05:12 | Haji | 16.249 views
Bolehkah Wanita Menyembelih Hewan Qurban atau Aqiqah?
15 September 2016, 02:20 | Qurban Aqiqah | 5.382 views
Bolehkah Saya Sebagai Wanita Pergi Haji Tanpa Suami atau Mahram?
10 September 2016, 03:01 | Haji | 13.094 views
Diqurbankan Oleh Perusahaan Tempat Bekerja
8 September 2016, 05:44 | Qurban Aqiqah | 5.851 views
Benarkah Puasa Tanggal 9 Dzulhijjah Harus Mengacu Kepada Wuquf di Arafah?
3 September 2016, 03:30 | Puasa | 10.103 views
Pedoman Panitia Penyembelihan Hewan Qurban
2 September 2016, 06:01 | Qurban Aqiqah | 18.693 views
Bisakah Perusahaan Melakukan Penyembelihan Hewan Qurban?
1 September 2016, 09:12 | Qurban Aqiqah | 6.046 views
Kapan Peran Ayah sebagai Wali Nikah Boleh Digantikan?
30 July 2016, 23:00 | Nikah | 13.611 views
Sulit Memahami Terjemahan Al-Quran
29 July 2016, 10:24 | Quran | 10.582 views
Bagaimana Ketentuan dan Tata Cara Mengqadha' Shalat?
27 July 2016, 16:30 | Shalat | 136.765 views
Tidak Ada Air Untuk Wudhu Tidak Ada Tanah Untuk Tayammum
22 July 2016, 06:20 | Shalat | 7.455 views
Makna Iedul Fithri dan Hubungannya Dengan Tradisi
16 July 2016, 19:59 | Puasa | 2.981 views
Apakah Bayi Wafat Karena Keguguran Harus Dishalati?
4 July 2016, 05:15 | Shalat | 8.670 views

TOTAL : 2.297 tanya-jawab | 23,324,457 views