Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Larangan Memajang Gambar Makhluk Bernyawa | rumahfiqih.com

Larangan Memajang Gambar Makhluk Bernyawa

Fri 28 February 2014 08:00 | Kontemporer | 56.400 views

Pertanyaan :
Assalamu’alaikum wr wb,

Saya mohon bertanya ustadz.. Dalam kitab shahih Muslim terdapat beberapa hadist yang menyatakan bahwa malaikat tidak sudi memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing, patung, dan gambar/lukisan (utuh) makhluk hidup.

Apakah yang dilarang itu hanya gambar yang utuh (gambar manusia/hewan yang terlihat dari kepala sampai kaki) ? Apakah gambar manusia/hewan yang tidak utuh (hanya kepalanya saja/setengah badan) dibolehkan ?

Terima kasih sebelumnya ustadz,

Wassalamu’alaiku wr. wb.

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Memang sulit bagi kita untuk menghindari kenyataan bahwa pendapat-pendapat di kalangan ulama saling berbeda amat tajam tentang hukum melukis atau menggambar mahluk-makhluk yang hidup dan punya nyawa.

Sebagian ulama ada yang mengharamkannya secara mutlak, tanpa pengecualian atau syarat-syarat tertentu. Pokoknya apapun gambar, lukisan bahkan foto yang bernyata hukumnya haram.

Sebagian lainnya berposisi sebaliknya secara ekstrim, yaitu menghalalkan seluruh gambar makhluk bernyawa secara mutlak. Bahkan patung pun masih dianggapnya halal.

Dan di tengah-tengah ada kalangan ulama yang mengharamkannya sebagian dan menghalalkan sebagian. Dalam pandangan mereka, lukisan makhluk bernyawa itu haram bila mengandung kriteria tertentu, tetapi menjadi halal apabila lukisan itu tidak mengandung kriteria tertentu.

Walaupun mereka ini juga berbeda-beda dalam menentukan batas-batas mana yang masih boleh dan mana yang sudah tidak boleh.

Salah satunya seperti yang anda sebutkan, bila gambar makhluk bernyata itu tidak utuh, ada yang berpendapat hukumnya boleh. Yang dimaksud dengan tidak utuh disini seandainya makhluk itu ada sesungguhnya dalam keadaan tidak utuh itu, maka dia tidak mungkin hidup. Kalau kepalanya tidak ada, tentu makhluk itu tidak mungkin hidup tanpa kepala di alam nyata.

Lebih jelasnya, mari kita rinci lebih jauh tentang bagaimana perbedaan para ulama dalam masalah gambar bernyawa ini :

A. Pendapat Yang Menghalalkan Mutlak

Pendapat pertama menyebutkan bahwa lukisan atau gambar dengan objek makhkuk hidup yang bernyawa seperti manusia atau hewan hukumnya halal secara mutlak.

Ada banyak dalil yang mereka gunakan untuk menghalalkan lukisan dan gambar bernyawa ini, antara lain :

1. Larangan Hanya Berlaku Pada Objek Tiga Dimensi

Dalam pandangan mereka, semua dalil yang mengharamkan itu terbatas larangan untuk membuat patung yang berbentuk tiga dimensi. Sedangkan apabila gambar itu dibuat di atas kertas, kanvas, kain atau apa pun objek yang datang, tidak termasuk ke dalam yang diharamkan syariat.

Di dalam Al-Quran Allah SWT memang secara tegas mengharamkan patung berbentuk tiga dimensi yang dibuat untuk disembah oleh manusia.

قَالَ أَتَعْبُدُونَ مَا تَنْحِتُونَ وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

Ibrahim berkata: "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu". (QS. Ash-Shaaffaat : 95-96)

2. Syariat di Masa Lalu Membolehkan Patung

Mereka juga mendasarkan pendapat atas kebolehan membuat patung yang diberlakukan dalam syariat buat ummat terdahulu. Dan hal itu diabadikan di dalam salah satu ayat Al-Quran Al-karim.

يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاء مِن مَّحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَّاسِيَاتٍ

Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). (QS. Saba' : 13)

Dalam ayat ini jelas sekali bahwa para jin anak buah Nabi Sulaiman membuatkan untuknya patung-patung untuknya. Dan hal itu tidak dilarang atau diharamkan.

Meski terjadinya di masa Nabi Sulaiman, namum dalam pandangan mereka, syariat yang Allah SWT turunkan di masa lalu juga berlaku buat kita umat Muhammad SAW. Dan berlakunya syariat masa lalu itu juga ditegaskan di dalam Al-Quran.

أُوْلَـئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ

Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. (QS. Al-An'am : 90)

3. Dinar dan Dirham Bergambar Manusia Tidak Diharamkan

Dalil mereka yang lain adalah bahwa di masa Nabi SAW, orang-orang bermualat dan berjual-beli dengan menggunakan koin logam dari emas dan perak.

Yang terbuat dari emas disebut dengan dinar. Koin itu digunakan di barat, yaitu negeri Romawi dan wilayah jajahannya. Dan sudah lazim bahwa pada tiap-tiap koin dinar itu ada gambar para raja Romawi.

Koin yang terbuat dari perak disebut dirham. Berasal dari negeri Persia dan wilayah jajahannya, yang terletak di timur negeri Arab. Dan juga sudah menjadi lazim bahwa pada tiap-tiap koin perak itu terukir gambar para raja Persia yang sedang berkuasa.

Namun meski koin-koin emas dan perak itu bergambar kepala manusia, kita belum pernah mendengar bahwa Rasulullah SAW mengharamkan pemakaian kedua jenis koin itu. Seandainya gambar manusia yang bernyawa itu haram, maka seharusnya kita menemukan dalil yang qath'i dari mulut Nabi SAW bahwa beliau mengharamkannya karena ada gambar makhluk bernyawa.

4. Tafsir Atas Hadits

Ketika menghalalkan lukisan, mereka juga menggunakan hadits yang umumnya digunakan orang untuk mengharamkan lukisan. Namun mereka mengkritisi cara mengambil kesimpulan hukumnya. Hadits itu adalah :

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللهِ يَوْمَ القِيَامَةِ المـُصَوِّرُونَ

Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahuanhu bahwa Rasulllah SAW bersabda,"Sesungguhnya orang yang paling keras siksanya di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang melukis". (HR. Bukhari)

Kalau kalangan yang mengharamkan lukisan menjadikan hadits ini sebagai dalil untuk melarang praktek membuat lukisan dan gambar, mereka justru memahami sebaliknya. Hadits ini justru menjadi bukti bahwa yang dimaksud dengan orang yang melukis disini bukan sembarang melukis. Namun melukis disini maknanya adalah membuat patung atau berhala yang disembah.

Logikanya, para ulama sudah sepakat lewat dari Quran dan Sunnah bahwa orang yang paling keras siksanya di hari kiamat adalah orang-orang yang menyekutukan Allah SWT dan menyembah berhala. Kalau hadits di atas hanya dipahami secara kulit-kulitnya saja, yaitu sekedar membuat lukisan saja, maka tentu akan terjadi perbedaan (ta'arudh) yang sangat besar. Sebab melukis itu bukan jenis pekerjaan syirik atau menyekutukan Allah.

Agar maknanya sesuai dengan dalil yang lain, maka yang dimaksud dengan al-mushawwir di dalam hadits Bukhari ini harus disesuaikan maknanya dengan apa yang telah menjadi kesepakatan para ulama, yaitu maksudnya adalah orang yang melukis atau membuat patung berhala, dimana berhala buatannya itu disembah oleh manusia dalam rangka menyekutukan Allah SWT.

B. Pendapat Yang Mengharamkan Mutlak

Di tengah umat Islam kita juga menemukan pendapat yang cenderung untuk mengharamkan gambar makhluk bernyawa secara mutlak. Latar belakang sikap dan tindakan itu berdasarkan beberap logika, yaitu dzhahir nash dan kehati-hatian.

1. Banyak Nash Yang Mengharamkan

Kalau diperhatikan ancaman dari Allah SWT kepada mereka yang membuat gambar, memang cukup banyak jumlahnya. Dan dilihat dari sisi sanad, kebanyakan di antaranya adalah hadits-hadits yang bisa diterima sebagai dalil-dalil syar'i. Di dalam tulisan ini saja, setidaknya ada 12 hadits yang berbeda, dimana semuanya mengarah ke satu titik, yaitu haramnya gambar.

Maka jumlah hadits yang banyak ini tidak bisa diremehkan begitu saja, kecuali kita benar-benar menerima apa adanya.

2. Ancaman Yang Sangat Keras

Hadits-hadits di atas bukan hanya banyak dari segi kuantitas, tetapi apabila kita perdalam esensi dan kandungannya, ternyata ada ancaman yang sangat keras bagi mereka yang menggambar dan segala yang terkait.

Dari sekian banyak ancaman itu antara lain Allah memastikan bahwa orang yang paling pedih siksanya di hari kiamat adalah para pelukis dan penggambar.

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ

Orang yang paling pedih siksaannya di sisi Allah pada hari kiamat kelak adalah para pelukis (HR. Ahmad)

Dan Allah SWT menjuluki orang yang membuat lukisan dan gambar sebagai makhul paling jahat di dunia.

الصُّوَرَ أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ

Mereka itu adalah sejahat-jahatnya makhluk di sisi Allah. (HR. Bukhari Muslim)

Selain itu juga ada ancaman nanti di akhirat dipaksa meniupkan ruh ke dalam lukisan buatannya. Dan tentunya masih banyak lagi jenis-jenis ancaman yang berat bagi pelakunya.

3. Kehati-hatian

Semua itu larangan dan ancaman yang sudah disebutkan di atas tentu bukan untuk dilupakan atau ditinggalkan, juga sikap kita bukan pura-pura tidak tahu.

Sebagai muslim, di dalam hati kita harus ada rasa takut atas semua ancaman itu, dan khawatir apabila nanti ancaman itu benar-benar dijatuhkan.

Setidak-tidaknya, sikap yang paling bijak itu adalah lebih hati-hati dengan segala larangan dan ancaman yang bertubi-tubi. Dan orang yang bersikap hati-hati tidak akan pernah merugi, bahkan dia akan beruntung dan selamat dari segala resiko.

C. Pendapat Yang Pertengahan

Di antara dua kutub yang membolehkan secara mutlak, dengan yang mengharamkan secara mutlak, ada pendapat yang pertengahan. Maksudnya, pendapat ini tidak secara ekstrim menghalalkan gambar dan sejenisnya, namun juga tidak secara ekstrim pula mengharamkannya.

Halal dan haramnya tergantung kriteria dan 'illat yang dilanggar, karena bertentangan dengan syariah. Setidaknya, dalam pandangan mereka, keharaman itu tidak bersifat mutlak, tetapi muqayyad, yaitu bila memang di dalam lukisan itu ada hal-hal yang secara nyata melanggar dan menyalahi ketentuan syariah.

1. Lukisan Yang Haram

Keharaman lukisan menurut pendapat yang pertengahan ini hanya apabila di dalam lukisan itu terkandung hal-hal yang memang bertentangan dengan syariah. Misalnya :

a. Lukisan Allah atau Para Dewa

Lukisan objek tertentu yang dianggap sebagai Allah SWT tentu adalah lukisan yang haram. Demikian juga lukisan yang objeknya sosok-sosok mereka yang dijadikan tuhan, dimana lukisan itu sendiri memang diperlakukan sebagai objek yang disucikan, diagungkan bahkan disembah.

b. Lukisan Nabi Isa (Yesus)

Oleh karena itu memajang lukisan Yesus atau Nabi Isa alaihissalam itu haram. Sebabnya karena lukisan itu dibuat dan dipajang dalam rangka menyembah dan mensucikannya. Setidaknya itulah yang diyakini oleh para pemeluk agama Kristiani di masa sekarang ini.

Dan buat kita sebagai muslim, ada tiga titik penyebab keharaman memajang lukisan Nabi Isa, yaitu :

Tidak Ada Bukti Keotentikannya

Tidak ada satu pun orang yang bisa memastikan bahwa lukisan itu benar-benar wajah asli Nabi Isa alaihissalam. Maka dalam hal ini 'illat keharamannya adalah berdusta tentang salah satu utusan Allah SWT.

Haram Menyerupai Perbuatan Orang Kafir

Memajang lukisan Nabi Isa itu adalah ciri khas perbuatan pemeluk agama Kristiani. Maka buat kita jadi haram hukumnya untuk melakukan hal yang sama.

Kalau pun kita ingin memuliakan dan menghormati beliau, caranya tentu bukan dengan membuat atau memajang lukisannya.

Haram Menggambar Nabi

Dan secara umum, para ulama memang sepakat mengharamkan kita melukis wajah para nabi dan rasul. Sebab lahirnya penyembahan berhala itu diawali dari dilukisnya wajah para nabi, sehingga berganti generasi yang satu ke generasi yang lain, orang-orang sudah menyembah lukisan itu.

b. Lukisan Sosok Rasulullah SAW

Para ulama sepakat bahwa sosok Rasulullah SAW itu haram untuk dijadikan objek lukisan. Baik tujuannya untuk mengagungkan pribadi beliau, atau pun untuk menghinanya. Kedua tujuannya itu sama-sama haramnya.

Barangkali ada pelukis yang dengan rasa cinta kepada nabinya, dia membuat lukisan wajah orang yang amat rupawan mirip malaikat. Tujuannya semata-mata ingin mengagungkan dan memuliakan Rasulullah SAW.

Tindakan ini meski bertujuan baik, namun secara hukum tetap haram hukumnya. Kenapa?

Karena di balik lukisan itu ada dusta dan kebohongan yang amat nyata. Sebab pelukis itu tanpa sengaja telah membohongi publik dengan mengarang sendiri wajah Rasulullah SAW. Padahal dia tidak pernah melihatnya sendiri.

Lain halnya apabila yang membuat lukisan itu orang yang statusnya sebagai shahabat Nabi SAW. Sebagai shahabat, pastilah dia tahu seperti apa rupa beliau SAW. Kalau kebetulan dia pandai melukis dan melukis wajah beliau SAW dengan tepat dan penuh presisi, kita masih bisa menerimanya. Apalagi misalnya Rasulullah SAW pun membubuhkan tanda tangan di atas kanvasnya, tentu kita bisa menerimanya.

Tetapi yang jadi masalah, dari 124 ribu shahabat, tidak ada satupun sempat iseng-iseng menggambar atau melukis wajah beliau SAW. Sampai shahabat Nabi SAW yang terakhir hidup pun tidak ada yang pernah melukisnya.

Melihat Wajah Nabi SAW Dalam Mimpi

Tetapi bagaimana kalau ada orang yang mengklaim bahwa dia bertemu dengan Rasulullah SAW di dalam mimpinya?

Bukankah bisa saja di dalam mimpi itu dia bisa dengan jelas memperhatikan wajah beliau SAW? Dan bukankah seusai bangun dari tidurnya, dia melukiskan apa yang dilihat di dalam mimpinya?

Jawabnya sederhana saja. Semua riwayat tentang Rasulullah SAW itu harus kita terima lewat sanad periwayatan, sebagaimana yang kita kenal dalam ilmu hadits.

Hujjah dalam syariat Islam tidak boleh ditegakkan di atas mimpi manusia biasa. Tidak pernah ada ulama yang membenarkan bahwa mimpi manusia biasa bisa dijadikan hujjah dalam hukum syariah.

Bahwa mimpi seorang mukmin itu kadang bisa dibenarkan, tetapi level kebenarannya sangat nisbi. Lagi pula banyak sekali konten asli dari mimpi itu hanya kejadian-kejadian yang tidak bisa dipahami secara eksak, kecuali hanya lewat tafsir subjektif, perasaan, dan asumsi belaka.

Sumbernya saja sudah tidak valid, dan cara menarik kesimpulannya pun sangat tidak valid. Bagaimana mungkin mimpi boleh dijadikan hujjah syar'iyah, terkait dengan sosok Rasulullah SAW?

Dan ancaman bagi orang yang secara sengaja berdusta tentang Nabi SAW adalah neraka. Oleh karena itu melukis Rasulullah SAW adalah perbuatan yang terlarang.

Maka siapa pun orang-orang yang datang kemudian, lalu dia melukis wajah Nabi SAW, bisa dipastikan 100% dia berdusta secara sengaja.

c. Lukisan Objek Yang Haram

Objek yang aslinya sudah haram, maka ketika dilukis tentu lukisannya pun ikut menjadi haram. Misalnya lukisan wanita yang tampil sensual, telanjang, dan mengumbar aurat serta nafsu birahi.

Termasuk juga di dalamnya adalah lukisan orang berzina, atau adegan tidak senonoh, penyimpangan seksual yang dilakukan kaum gay, lesbian dan hetero seksual.

2. Menghalalkan Foto

Umumnya para ulama mazhab pertengahan tidak mengharamkan lukisan yang dibuat berdasarkan teknik photografi. Perbedaan yang asasi antara melukis dan memotret adalah bahwa esensi memotret itu tidak lain hanyalah sebatas menangkap proyeksi atau bayangan suatu benda pada suatu media.

Sedangkan melukis adalah membuat atau menciptakan tiruan dari suatu benda.

3. Mengharamkan Patung

Dan kebanyakan para ulama mazhab pertengahan mengharamkan patung secara umum, yaitu patung yang memenuhi kriteria keharaman. Sedangkan benda-benda yang mirip patung, tetapi tidak sampai memenuhi kriteria patung yang telah ditetapkan, tidak diharamkan.

Demikian kurang lebih pemaparan bagaimana para ulama berbeda pendapat. Tugas kita bukan menyalahkan salah satu pendapat dan membela-bela pendapat lain. Tugas kita hanya menyampaikan apa-apa yang telah diijtihadkan oleh para ulama, sebagai amanah ilmiyah yang wajib kita panggul di atas pundak kita.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

 

Ahmad Sarwat, Lc., MA


Baca Lainnya :

Tentang Urf dan Tradisi
27 February 2014, 05:30 | ushul | 15.117 views
Siapa Yang Mewarisi Hutang?
26 February 2014, 07:25 | mawaris | 7.004 views
Tidak Semua Talak Halal, Ada Juga Yang Haram
25 February 2014, 06:02 | wanita | 8.922 views
Wanita Dicerai Tidak Boleh Langsung Kawin Lagi?
24 February 2014, 06:02 | wanita | 8.022 views
Posisi Imam Wanita Pada Jamaah Wanita
23 February 2014, 02:44 | wanita | 38.136 views
Menyusu Lewat Botol, Menjadikannya Mahram atau Tidak?
22 February 2014, 01:00 | nikah | 7.226 views
Mengapa Masih Ada Yang Menghalalkan Rokok?
21 February 2014, 05:55 | kuliner | 12.209 views
Keringanan Buat Orang Sakit Dalam Thaharah dan Shalat
20 February 2014, 04:30 | shalat | 10.664 views
Cara Bedakan Hadits Hasil Ijtihad Nabi dan Wahyu
19 February 2014, 07:42 | hadits | 7.274 views
Makmum Masbuk : Takbiratul Ihram Dulu Atau Langsung Ikut Imam?
18 February 2014, 06:10 | shalat | 14.721 views
Apakah Anak Susuan Mendapatkan Waris?
17 February 2014, 12:00 | mawaris | 7.018 views
Kiat-kiat Agar Terselamat Dari Bahaya Riba
17 February 2014, 01:07 | muamalat | 9.632 views
Apakah Wanita Disyariatkan Adzan dan Iqamah?
15 February 2014, 05:01 | wanita | 8.387 views
Hukum Menghias Masjid Dengan Megah
14 February 2014, 06:12 | shalat | 8.028 views
Dosa Riba Setara Berzina Dengan Ibu Kandung Sendiri?
13 February 2014, 00:32 | muamalat | 47.939 views

TOTAL : 2275 artikel 19374966 views