Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Sadar dan Tahu Saat Melakukan Dosa Besar, Bagaimana Cara Bertaubat? | rumahfiqih.com

Sadar dan Tahu Saat Melakukan Dosa Besar, Bagaimana Cara Bertaubat?

Sun 23 October 2016 04:10 | Umum | 2.169 views

Pertanyaan :
Assalamualaikum wr.wb Ust, Selamat pagi dan salam sejahtera ust. Saya telah melakukan dosa besar. Pada saat melakukan dosa itu saya sadar dan tahu betul kalau yang saya lakukan itu termasuk dalam larangan Allah dan tergolong dosa besar. Masihkah saya memiliki kesempatan untuk menerima ampunan dari Allah? Apakah Allah masih mau menutup aib di dunia dan di akherat? Saya sudah berdosa dan dosa itu masih terus membayangi saya sampai saat ini. Apa yang harus saya lakukan? Alasan saya tetap melakukan dosa itu meski saya tahu itu dosa besar adalah karena rasa penasaran saya terhadap sesuatu yang dibilang nikmat oleh kebanyakan orang. Bagaimana ustad? Saya malu pada diri saya sendiri dan orang orang disekitar saya. Terima kasih atas jawaban nya tad Wassalamualaikum wr wb

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahamatullahi wabarakatuh,

Asalkan seseorang serius bertaubat dalam arti yang sesungguhnya, serta menjalankan semua ketentuan dalam bertaubat, maka kita tidak boleh meragukan bahwa Allah SWT adalah Tuhan Maha Penerima taubat.

Jangankan cuma dosa-dosa kecil, bahkan dosa yang besar seperti membunuh nyawa manusia, berzina termasuk juga dosa menyekutukan Allah SWT, semua dengan mudah Allah SWT ampuni, dengan Kemaha-kasihan-Nya, dengan ke-Maha-Pengampun-Nya.

لله أشد فرحا بتوبة عبده حين يتوب إليه من أحدكم كان على راحلته بأرض فلاة فانفلتت منه وعليها طعامه وشرابه فأيس منها، فأتى شجرة فاضطجع في ظلها، وقد أيس من راحلته، فبينما هو كذلك إذا هو بها، قائمة عنده ، فأخذ بخطامها ثم قال من شدة الفرح‏:‏ اللهم أنت عبدي وأنا ربك، أخطأ من شدة الفرح

Sungguh Allah lebih berbahagia atas taubat hamba-Nya ketika bertaubat, dibandingkan bahagianya seorang kehilangan untanya di padang pasir, padahal semua bekal makan minumnya disitu, sehingga putus asa lalu duduk berteduh di bawah bayang pohon tanpa harapan, lalu tiba-tiba untanya telah berdiri di depannya, digenggamnya tali kekang unta itu saking bahagianya sambil berkata,"Ya Allah, Engkau hambaku dan Aku tuhanmu", sampai terbalik-balik lantaran terlalu bahagia. (HR. Muslim)

Maka sebelum segala sesuatunya, seorang yang bertaubat harus yakin 100% bahwa Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Pengampun. Allah SWT bukan Tuhan pendendang, yang kerjaannya sibuk bagaimana membalaskan sakit hati-Nya.

Orang yang membunuh 99 nyawa kemudian ditambah lagi dengan 1 nyawa pun diampuni dan dimasukkan ke surga.

Wanita berzina yang hamil ketika datang kepada Rasulullah SAW minta dirajam, meksi sempat disumpah-serapahi oleh beberapa shahabat, namun beliau SAW tegaskan bahwa wanita itu sedang dalam perjalanan menuju surga. Mengapa demikian? Karena dia sudah bertaubat sebagaimana sabda SWT :

لقد تابت توبة لو قمست بين سبعين من أهل المدينة لوستعتهم

Dia telah bertaubat (dengan ampunan sangat besar), sehingga bila (ampunan itu) dibagian untuk 70 penduduk Madinah, cukuplah untuk mereka (bisa masuk surga). (HR. Muslim).

Sehingga posisi yang benar buat seorang muslim adalah antara khauf dan raja'. Antara takut dan harap. Takut dari azab Allah SWT atas dosa yang pernah dilakukan. Dan berharap kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang berserah diri.

Di antara taubat yang tidak diterima antara lain adalah:

1. Taubat yang tidak diiringi rasa sesal di dalam hati

Orang yang bertaubat, namun di dalam hatinya tidak merasakan rasa sesal atas semua kesalahannya yang telah diperbuatnya, maka Allah SWT pun juga tidak menyesal untuk menolak taubat hamba yang seperti ini.

Orang yang tobat harus menghilangkan semua kenangan masa lalunya. Jangan diceritakan kepada siapapun juga. Allah yang telah menutupi aib itu semoga juga menutupi dosa-dosa sebelumnya. Dan mulai kehidupan baru yang lebih baik dan lebih Islami.

2. Taubat yang tidak mencegah dari pengulangan dosa

Orang yang bertaubat tapi secara sadar dan terus menerus mengulangi dosa dan kesalahannya tanpa ada tekad untuk menghentikannya, tentu tidak akan diterima taubatnya. Sebab pada hakikatnya, dia tidak bertaubat.

Agar orang yang sudah tobat itu jangan sampai mengulangilagi, salah satunyadengan cara pindah dari suasana dan lingkungan yang selama ini memberikan peluang melakukan itu. Orang yang taubat harus hidup di tengah orang-orang shaleh dan selalu menjaga hukum Allah. Bukan lingkungan yang mendiamkan apabila ada kemungkaran dan kebatilan. Sehingga apapun yang dia lakukan, selalu ada orang-orang yang dengan ikhlas mengingatkan.

3. Tidak Mendapat Maaf dari Orang Lain

Khusus untuk dosa yang terkait dengan hak milik orang lain seperti dosa memukul, membuh, menyakiti, mencuri, menipu dan merugikan orang lain, maka perlu permintaan maaf kepada mereka yang telah dizalimi itu.

Hal ini mengingat bahwa hak orang lain yang telah diambil secara zalim itu masih tetap akan dituntut oleh pemiliknya kelak di akhirat. Bahkan seorang yang mati syahid sekalipun, tetap akan dimintai pertanggung jawaban urusan hutangnya yang belum selesai. Padahal orang yang mati syahid itu masuk surga tanpa dihisab lagi amal-amalnya.

Taubat yang Benar Akan Menghapus Dosa Sebelumnya

Bila seseorang bertaubat atas dosa yang pernah dilakukannya dengan taubat yang sesungguhnya serta diiringi dengan minta ampun kepada Allah, penyesalan dan meninggalkan semua dosa-dosa itu, lalu mulai kehidupan yang baru yang jauh dari dosa dan suci dari noda, maka sesungguhnya Allah akan mengampuni dan memasukkan hambanya yang bertaubat itu ke dalam kelompok orang-orang yang shalih.

Di masa lalu seorang bertanya kepada Ibnu Abbas ra., ”Aku melakukan zina dengan seorang wanita, lalu aku diberikan rizki Allah dengan bertaubat. Setelah itu aku ingin menikahinya, namun orang-orang berkata (sambil menyitir ayat Allah), ”Seorang pezina tidak menikah kecuali dengan pezina juga atau dengan musyrik.” Lalu Ibnu Abbas berkata, ”Ayat itu bukan untuk kasus itu. Nikahilah dia, bila ada dosa maka aku yang menanggungnya.” (HR Ibnu Hibban dan Abu Hatim)

Ibnu Umar ditanya tentang seorang laki-laki yang berzina dengan seorang wanita, bolehkan setelah itu menikahinya? Ibnu Umar menjawab, ”Ya, bila keduanya bertaubat dan memperbaiki diri.”

Agar Punya Benteng

  1. Seseorang harus belajar Islam secara serius dan mendalam, baik yang berkaitan dengan aqidah, syariah maupun akhlaq. Sehingga diapaham dan mengerti betul apa itu iman dan Islam sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
  2. Dia harus memiliki lingkungan pergaulan yang Islami dan baik, di mana di dalamnya selalu ditegakkan amar makruf dan nahi mungkar dan selalu ada taushiyah antara sesama teman.
  3. Dia harus selalu berdakwah dan mengajarkan ajaran Islam itu baik dalam diri Anda, keluarganya dan juga teman-temannya yang lainnya. Sehingga dia tidak hanya menjadi objek dakwah, namun sekaligus juga menjadi pelaku dakwah itu sendiri.
  4. Dia harus selalu memperbaharui keimanannya, karena iman itu kadang berkurang dan kadang bertambah. Caranya adalah dengan beragam kegiatan seperti menambah kajian tentang keimanan, merenungi penciptaan alam semesta, mengambil pelajaran dari orang-orang yang shalih dan seterusnya.

Wassalamu 'alaikum warahamatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat,Lc., MA


Baca Lainnya :

Bolehkah Minum Air Kencing Unta?
19 October 2016, 04:40 | | 3.846 views
Hukum Makan Daging Buaya : Halalkah?
17 October 2016, 07:40 | | 5.805 views
Wali Nikah Bukan Ayah Kandung
16 October 2016, 06:17 | | 24.786 views
Adakah Zakat Atas Tanah Gusuran?
14 October 2016, 10:00 | | 2.542 views
Tax Amnesty, Pajak Dalam Pandangan Syariah: Wajib atau Haram?
2 October 2016, 06:59 | | 28.092 views
Adakah Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun
1 October 2016, 18:25 | | 19.509 views
Sudah Mampu Secara Harta, Bolehkah Menunda Pergi Haji?
22 September 2016, 05:12 | | 14.748 views
Bolehkah Wanita Menyembelih Hewan Qurban atau Aqiqah?
15 September 2016, 02:20 | | 4.565 views
Bolehkah Saya Sebagai Wanita Pergi Haji Tanpa Suami atau Mahram?
10 September 2016, 03:01 | | 10.211 views
Diqurbankan Oleh Perusahaan Tempat Bekerja
8 September 2016, 05:44 | | 5.100 views
Benarkah Puasa Tanggal 9 Dzulhijjah Harus Mengacu Kepada Wuquf di Arafah?
3 September 2016, 03:30 | | 9.272 views
Pedoman Panitia Penyembelihan Hewan Qurban
2 September 2016, 06:01 | | 15.878 views
Bisakah Perusahaan Melakukan Penyembelihan Hewan Qurban?
1 September 2016, 09:12 | | 5.272 views
Benarkah Haram Potong Rambut dan Kuku Bila Mau Berqurban?
10 August 2016, 07:17 | | 26.138 views
Kapan Peran Ayah sebagai Wali Nikah Boleh Digantikan?
30 July 2016, 23:00 | | 12.612 views
Sulit Memahami Terjemahan Al-Quran
29 July 2016, 10:24 | | 9.775 views
Bagaimana Ketentuan dan Tata Cara Mengqadha' Shalat?
27 July 2016, 16:30 | | 102.761 views
Tidak Ada Air Untuk Wudhu Tidak Ada Tanah Untuk Tayammum
22 July 2016, 06:20 | | 6.523 views
Makna Iedul Fithri dan Hubungannya Dengan Tradisi
16 July 2016, 19:59 | | 2.397 views
Apakah Bayi Wafat Karena Keguguran Harus Dishalati?
4 July 2016, 05:15 | | 7.403 views

TOTAL : 2.281 tanya-jawab | 20,574,568 views