Masa Iddah, Istri Masih Berhak Dinafkahi? | rumahfiqih.com

Masa Iddah, Istri Masih Berhak Dinafkahi?

Aini Aryani, Lc Thu 7 February 2013 09:01 | 4452 views

Bagikan via

Seringkali kita melihat adegan suami-istri bercerai di televisi, lalu kemudian istri segera angkat koper dan 'minggat' dari rumah suaminya. Adegan-adegan semacam itu tak jarang ditampilkan, baik dalam reality show atau di sinetron-sinetron yang bisa saja tayang di prime time.

Padahal, Ulama Fiqih sepakat bahwa wanita yang ditalak raj'i (talak 1 dan 2 ) dan sedang menjalani masa iddahnya masih berhak mendapat nafkah dari suaminya berupa tempat tinggal, pakaian, makan dan kebutuhan hidupnya yang lain. Baik saat ditalak itu ia sedang hamil atau tidak. (al-Mausu'ah al-Fiqhiyyah al-kuwaitiyyah 29/353)

Maka, sebenci apapun suami pada istrinya pada saat perceraian itu terjadi, haram baginya mengusir istri yang sedang menjalani masa iddah dari rumahnya. Begitupula istri, ia tidak boleh serta merta 'kabur' dari rumah suaminya saat masih menjalani masa iddah, sekesal apapun dia pada suaminya.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam al-Qur'an:

لَا تُخْرِجُوهُنَّ مِن بُيُوتِهِنَّ وَلَا يَخْرُجْنَ إِلَّا أَن يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ

"Janganlah kamu keluarkan mereka (istri-istri yang dicerai) dari rumah mereka dan janganlah mereka diizinkan ke luar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah dan barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat dzalim terhadap dirinya sendiri." (at-Talaq : 1)

Adapun wanita yang ditalak ba'in (talak ke-3 kali) juga masih berhak atas nafkah diatas apabila saat ditalak oleh suaminya ia sedang mengandung janin dari suaminya.

Salah satu hikmah dari ketentuan ber-iddah ini adalah agar keduanya memikirkan kembali dengan matang tentang keputusan besar yang telah mereka buat. Sehingga jika diinginkan, maka suami dan istri dapat rujuk kembali di masa iddah itu tanpa harus mengulang ijab qabul pernikahan.

Beberapa hikmah pensyariatan iddah ini antara lain:
1) Istibra' ar-rahim. Wanita mu'taddah
(wanita yang menjalani iddah) tidak boleh menikah lagi dengan laki-laki lain sampai ia selesai menjalani iddah-nya. Tujuannya agar rahim terhindar dari percampuran sperma dari laki-laki yang berbeda. Maka jika ternyata ia hamil ditengah-tengah menjalani masa iddah, maka akan jelas siapa ayah kandungnya.

2) Menghormati kemuliaan pernikahan. Talaq dapat menodai kesucian pernikahan bila dilakukan tanpa ada alasan syar'i.

3) Memberi tenggat waktu untuk suami-istri, yakni menjaga hak rujuk yang ada di tangan suami, menjaga kemashlahatan untuk pihak istri, serta menjaga hak dan mashlahat anak-anak mereka
yang bisa saja terdzalimi sebab perceraian orangtuanya.

Maka dalam masa itu hendaknya pasangan suami-istri yang baru saja mengalami perceraian ini diharuskan tetap tinggal bersama dalam satu rumah dalam masa tertentu (selama masa iddah) agar keduanya kembali berfikir dengan matang mengenai keputusan besar yang baru saja dibuatnya.

Dalam masa iddah, jika suami ternyata ingin kembali rujuk, misalnya "mulai hari ini, engkau aku rujuk". atau "hari ini engkau jadi istriku seperti sebelumnya",atau kalimat yang serupa, maka rujuk telah terjadi. Bahkan rujuk dengan mengajak istri untuk berhubungan intim-pun dibolehkan.

Hak untuk menjatuhkan Talak dan Rujuk diberikan oleh Allah SWT kepada pihak suami. Sehingga, saat suami menyatakan rujuk pada istrinya yang sedang menjalani masa iddah, maka rujuk telah terjadi,
Dan istri hendaklah menyambut baik ajakan rujuk itu dengan penuh syukur dan ketaatan kepada suaminya.

Itulah diantara hikmah disyariatkannya iddah. Sesungguhnya Allah adalah hakim yang seadil-adilnya, dan Pembuat Hukum (syari') yang sebaik-baiknya.

Wallahu a'lam bishshawab.

Bagikan via


Baca Lainnya :

Ulama-ulama Bujang
Ahmad Zarkasih, Lc | 24 January 2013, 06:03 | 6.535 views
Edisi Tafsir: Pornografi dan Pornoaksi dalam Penjelasan al-Quran
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 10 January 2013, 18:28 | 4.891 views
Seri Kitab Kuning (Part 1): Matan Abi Syuja'
Sutomo Abu Nashr, Lc | 3 January 2013, 20:03 | 7.463 views
Bolehkah Shalat Jjum'at Dijama' Dengan Shalat Ashar Bagi Musafir
Aini Aryani, Lc | | 1.495 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Menyentuh Kemaluan, Apakah Membatalkan Wudhu?
Aini Aryani, Lc | 22 June 2016, 04:55 | 3.153 views
Mengapa Kita Harus Menghindari Makanan Haram?
Aini Aryani, Lc | 17 February 2016, 10:10 | 1.504 views
Antara Fatwa dan Taqwa
Aini Aryani, Lc | 16 June 2014, 06:52 | 4.237 views
Beauty Is Pain, Isn't It?
Aini Aryani, Lc | 3 April 2014, 10:20 | 4.440 views
Lupa Baca Bismillah Saat Menyembelih
Aini Aryani, Lc | 7 December 2013, 10:30 | 4.384 views
Taqwa & Fujur (Dua Sisi Yang Berbeda)
Aini Aryani, Lc | 29 November 2013, 22:44 | 3.924 views
Pilih Mana: Ahli Syariah atau Ahli Ibadah?
Aini Aryani, Lc | 19 November 2013, 12:43 | 4.625 views
Haramkah Potong Rambut dan Kuku Waktu Haidh?
Aini Aryani, Lc | 12 August 2013, 19:06 | 5.180 views
Belum Qadha' Puasa Hingga Ramadhan Berikutnya, Bagaimana Hukumnya?
Aini Aryani, Lc | 3 August 2013, 16:50 | 4.551 views
Suara Wanita Aurat, Masak Sih?
Aini Aryani, Lc | 30 July 2013, 08:59 | 5.006 views
Wanita Hamil & Menyusui : Qadha' atau Fidyah?
Aini Aryani, Lc | 4 July 2013, 06:33 | 5.774 views
Mengapa Terjadi Ikhtilaf Dalam Fiqih?
Aini Aryani, Lc | 21 April 2013, 00:53 | 5.599 views
Al-Muzani dan At-Thabary Membolehkan Wanita Mengimami Laki-laki, Benarkah?
Aini Aryani, Lc | 3 April 2013, 05:49 | 4.430 views
Darah Terputus-putus; Antara Haid & Istihadlah
Aini Aryani, Lc | 25 March 2013, 22:40 | 9.778 views
Halal Haram Menyambung Rambut
Aini Aryani, Lc | 5 March 2013, 08:23 | 4.471 views
Denda Berjima' Saat Haid
Aini Aryani, Lc | 18 February 2013, 09:10 | 4.057 views
Islam Cenderung Patriarkal, Benarkah?
Aini Aryani, Lc | 12 February 2013, 14:15 | 4.196 views
Masa Iddah, Istri Masih Berhak Dinafkahi?
Aini Aryani, Lc | 7 February 2013, 09:01 | 4.452 views
Bolehkah Shalat Jjum'at Dijama' Dengan Shalat Ashar Bagi Musafir
Aini Aryani, Lc | | 1.495 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA52 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA46 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc11 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA11 tulisan
Galih Maulana, Lc10 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Isnawati, Lc8 tulisan
Siti Chozanah, Lc6 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan