Hukum Beli Barang Black Market | rumahfiqih.com

Hukum Beli Barang Black Market

Ahmad Zarkasih, Lc Fri 8 March 2013 07:00 | 11070 views

Bagikan via

Beberapa waktu yang lalu, ada pesan bbm yang masuk menanyakan tentang hukum jual-beli “Black Market”. Saya sudah lama dengar istilah ini, dan banyak juga dari teman saya yang memang mereka membeli barang lewat jalur ini ini. Tapi sama sekali tidak terfikirkan apa hukumnya secara syar’i, sampai akhirnya ada yang bertanya.

Pengertian Black Market

Namun sebelum membahas suatau masalah, satu hal yang menjadi kewajiban dan keharusan ialah mencari tahu apa pengertian dan definisi juga maksud dari masalah tersebut.

Karena bagaimanapun, dalam menentukan hukum suatu masalah, seseorang tidak bisa asal memberikan label halal dan haram sebelum ia benar-benar tahu dan mengerti masalah yang dipertanyakan itu. Dan ternyata susah juga mencari definisi apa itu black market.

Bahkan dalam situs kementrian perdagangan pun saya tidak mendapatkan definisi tersebut. Akhirnya saya mendapatkan definisi tersbut Dalam situs bussinessdictionary.com, yang mendefinisikan dengan redaksi seperti ini:

“Black Market is The Illegal free market which flourishes in economies where consumer goods are scarce or are heavily taxed. In the first kind, black market prices are higher than the 'official' or controlled prices. In the second kind, prices are lower than the 'legitimate' or taxed prices, due to tax evasion”

“Pasar bebas ilegal yang tumbuh subur di suatu negara yang mana barang-barang konsumsi sangat langka atau mahal karena dikenakan pajak. Pada jenis pertama, harga pasar gelap (black market) bisa jadi lebih tinggi dari harga 'resmi' atau yang dikendalikan oleh otoritas ekonomi negara. Pada jenis kedua, harga jadi lebih rendah dari harga 'sah' atau yang dikenakan pajak, karena penggelapan pajak.”

Kalau dari definisi diatas yang banyak terjadi di Indonesia itu ialah jenis black market yang kedua; yaitu barang illegal yang masuk ke dalam negeri dengan tanpa pembayaran pajak (bea). Yang awalnya barang itu mahal karena ada pajak yang dibayar, barang itu menjadi lebih murah bahkan sangat murah karena tidak terkena pajak.

Walaupun memang definisi ini tidak disepakati oleh semua, akan tetapi setidaknya definisi diatas itu memang yang banyak terjadi. Kabar yang banyak beredar di media itu juga kan walaupun redaksi berbeda, akan tetapi intinya sama. Yaitu penjualan barang illegal karena tidak melewati pembayaran pajak, artinya tidak melalui jalur yang sah, yang telah ditetapkan oleh suatu negara.

Lalu Bagaimana Syariat Islam Memandang Jual Beli Black Market Ini?

Secara umum, syariat ini menghalalkan praktek jual beli, sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat 275 surat Al-Baqoroh:

“Dan Allah telah halal-kan Jual beli dan mengharamkan riba”.

Tapi ini adalah dalil umum atas kehalalan jual beli, dan dalah nas-nash syar’i lainnya banyak disebutkan jenis-jenis jual beli yang diharamkan, semisal ba’i Al-ma’dum (membeli barang fiktip/tidak ada), ba’i Al-Ghoror (jual beli yang mengandung spekulasi/ketidak jelasan) , ba’i najasy (jual-beli yang ada unsur penipuan dengan menciptakan rekayasa permintaan palsu)

Tinggal nantinya kita mencocokan, blackmarket ini masuk ke golongan jenis jual-beli yang mana, apakah jual beli yang dihalalkan atau diharamkan.

Sebelum menulis artikel ini, saya telah membaca dan juga berdiskusi dengan teman-teman di rumahfiqih soal apa hukum jual beli black market ini. Yaa sudah pasti perbedaan pendapat ini juga tidak bisa dihindari. Pun begitu artikel-artikel yang saya baca, ada yang secara mutlak mengharamkan ada juga secara terang-terang membolehkan tanpa syarat.

HARAM

Yang mengatakan bahwa jual-beli Black Market itu haram hukumnya, menurut kelompok ini, black market ialah bentuk jual beli Talaqqi Rukban modern. Hanya berbeda zaman saja, aslinya ialah jual beli talaqqi Rukban yang dilarang oleh Nabi saw.

Banyak hadits Nabi saw dengan jalur yang shahih yang menerangken tentang keharaman jaul belia Talaqqi rukban ini. Salah satunya ialah yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhori dalam kitab Shahih-nya (no. 2021) dari riwayat Abdullah bin Umar, bahwasanya beliau beserta sahabat yang lain bertemu (Talaqqi) dengan segerombolan penjual (Rukban) yang belum sampai pasar. Lalu beliau membeli dari mereka beberapa makanan, yang kemudian Rasul saw mengetahui itu lalu melarangnya.

Selain karena itu juga mirip dengan Talaqqi Rukban, Black market juga dalam penerapannya terdapat unsur Ghoror (penipuan) dan juga Jahalah (ketidakjelasan). Karena tidak lengkapnya informasi atas barang tersebut yang sampai ke telinga pembeli. Juga adanya ketidak jelasan hukum atas barang dagangannya itu, apakah ilegal atau legal. Dan bisa jadi karena ini barang yang tidak melewati jalur yang sah, memungkinkan untuk terjadinya pemalsuan barang.

Dan memang unsur itu juga yang membuat Tlaqqi rukban itu menjadi haram. Ibnu Taimiyyah mengatakan: “......Karena dalam talaqqi Rukban penjual dirugikan karena menjual tidak dengan harga pasar sebagaimana mestinya.” (Majmu’ Fatawa 28/74)

BOLEH

Beberapa kalangan menilai bahwa jual beli black market itu sah-sah saja. Karena didalamnya tidak ada sesuatu yang membuat jual beli itu menjadi rusak secara syar’i. rukun-rukun jual beli-nya ada dan terpenuhi, begitu juga syarat-syaratnya terlaksana dengan baik.

Penjualnya ada, pembelinya juga mau, barangnya jelas, harganya pun disepakati. Dan yang paling penting, penjual dan pembeli sama-sama ridho menjalankan prkatek ini, dan itu syarat terpenting dalam jual beli. Sama sekali tidak ada unsur yang membuat praktek “gelap” ini menjadi haram. Hanya penamaannya saja yang sedikit negatif.

Unsur-unsur yang membuat prkatek jual beli itu menjadi haram seperti yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Rusyd dalam Kitab Bidayah-nya (2/125), itu jika ada 4 unsur :

  • Status kehalalan barang yang diperniagakan. Bila barang yang diperniagakan adalah haram, maka memperniagakannya juga haram, dan sebaliknya bila barangnya halal, maka memperniagakannya juga halal.
  • Adanya unsur riba.
  • Adanya ketidak jelasan (gharar).
  • Adanya persyaratan yang memancing timbulnya dua hal di atas (riba dan gharar).
Dan dalam black market yang sedang kita bicrakan ini, keempat unsur itu tidak ditemukan. Status barangnya tidak haram, karena bukan khamr, bukan barang-barang yang membahayakan seperti senpi dll. Akan tetapi kebanyakan itu barang elektronik yang hukum mubah untuk dimanfaatkan.

Tidak ada ribanya, pun tidak ada ghoror (penipuan/spekulasi) dalam barang tersebut. Barangnya jelas, harganya pun jelas.

Adapun status legalitas barang yang diragukan, itu tidak bisa merusak jual beli, karena itu urusan penjual dengan pemerintah. Sedangkan urusan jual beli itu, urusan dua belah pihak; penjual dan pembeli, kalau kedua nya saling ridho, maka jual belinya menjadi sah secara syar’i.

Mereka juga mengatakan bahwa perdagangan gelap ini sama saja kita membeli barang atau makanan di tukang kaki lima, warteg atau toko-toko pinggir jalan yang tidak mempunyai izin dan tidak ada pajaknya. Karena memang yang menjadi masalah black market itu ialah status barang yang tak berpajak.

Ada juga dari kalangan yang membolehkan ini, mereka menyamakan jual beli blacka market dengan nikah siri. Nikah siri walaupun statusnya ilegal karena tidak tercatat oleh negara, akan tetapi pernikahannya itu sah secara agama. Dan tidak ada yang meragukan ini. Sah dalam arti si wanita menjadi istri yang boleh di gauli dan lelaki menjadi suami yang sah yang bertanggung jawab atas eksistensi keberlangsungan hidup anggota keluarga.

Begitu juga dengan black market, semua hanya masalah keabsahan secara undang-undang saja. Mereka meng-klaim bahwa “perundang-undangan agama jauh lebih tinggi dan harus ditaati dibanding undang-undang negara”.

Jadi black market walaupun namanya “perdagangan gelap” tetap saja itu adalah praktek jual beli yang sah secara syariat dan tidak menjadi masalah.

DISKUSI ARGUMEN

Kelompok Pertama:


Pertama:

Kelompok ini mengatakan bahwa black market itu jual beli yang haram dan dilarang oleh syariat karena mirip dengan praktek talaqqi rukban, menurut penulis, ini agak keliru.

Karena dilihat dari sisi manapun, black market bukanlah prkatek Talaaqi rukban yang banyak dikenal oleh kalangan syariah. Karean talaqqi rukban ialah prkatek jual beli prematur. Barang dagangan masih berada dipundak penjual yang sedang menuju kepasar, kemudian ditengah jalan dihadang atau dicegat atau apapun itu namanya lalu menjualnya kepada para penghadang tersebut.

Ini membuat sipenjual dirugikan. Karena jual beli ketika itu, sipenjual tidak pernah tau harga barang yang akan dijual kecuali setelah dia sampai dipasar. Tapi belum sampai pasar, segerombolan penjual ini didatangi oleh para pembelim dan membeli barang-barang dagangan mereka dengan bukan harga pasar. Tentu ini merugikan, karena bisa jadi ada unsur penipuan. Dan biasanya para pembeli ini akan menjual lagi ke pasar dengan harga yang tentu lebih mahal. (Nihayah Al-Muhtaj 3/466)

Ini praktek jual beli yang dikenal oleh syariah. Dan karena ada unsur ghoror (penipuan) kepada penjual tadi itulah talaqqi rukban diharamkan. Kalau melihat demikian, maka talaqqi rukban yang diharamkan itu sepertinya sudah tidak ada. Karena didalam atau diluar pasar, harga komoditi pasar itu sudah banyak diketahui, jadi tidak ada lagi yang saling mengelabui. Jadi dalam beberapa kesempatan talaqqi rukban tidak selamanya jadi haram. (Subul Al-Salam 790)

Nah prktek jual beli black maket berbeda dengan talaqqi rukban. Karena tidak ada pencegatan dijalan, pun tidak ada penipuan harga terhadap penjual. Justru yang terjadi ialah penjual merasa diuntungkan karena barangnya laku terjual, pun dengan si pembeli merasa bahagia dengan harga yang murah. Jadi tidak ada Ghoror disini.

Kedua:

Kemudian kalau dikatakan dalam praktek jual beli ini ada unsur Jahalah (ketidakjelasan) dan karena itu, jual beli ini menjadi haram. Justru itu pernyataan yang jadi pertanyaan. Dimana ada unsur jahalah-nya?

Barang yang didagangkan dengan cara blackmarket ini adalah barang yang semua orang kenal dan tahu bahkan paham cara pengoperasiannya. Baik dan buruk kualitasnya pun sudah bisa diketahui.

Tingaal status legalitas barang tersebut didepan hukum negara ini yang benar-benar ilegal. Akan tetapi status diakui atau tidak diakui oleh hukum negara, apakah menjadi syarat jual beli yang sah pun masih diperdebatkan. Apakah barang yang tidak legal itu termasuk barang haram yang dilarang untuk diperdagangakan? Kalau masih dalam perdebatan ya tidak bisa dijadikan hujjah.

Kelompok Kedua:

Pertama:

Seperti yang telah dijelaskan diatas, kelompok ini meng-klaim bahwa prkatek perdagangan gelap yang kita bicarakan ini tidak terdapat didalamnya salah satu unsur yang membuat perdagangan ini menjadi rusak secara syar’i.

rukun-rukun dan syarat-syaratnya terpenuhi. Iya benar.
Saling ridho antara kedua belah pihak. Benar benar keduanya saling ridho.

Kemudian juga tidak adanya unsur-unsur yang membuat perdagangan itu menjadi haram. Memang benar unsur itu tidak terdapat dalam akad kedua pelaku blacmaket.

Akan tetapi pun Ibnu Rusyd dalam kitab yang sama Bidayatul-Mujtahid menerangkan kelanjutannya, bahwa keempat unsur itu ialah unsur yang tidak boleh terdapat dalam BENDA yang diperdagangkan. Akan tetapi ada unsur diluar perdagangan itu yang bisa membuatnya menjadi rusak yaitu: Al-Ghisy (penipuan) dan Al-Dhoror (bahaya). (Bidayatul-Mujtahid 2/126)

Dan ini juga yang banyak dipegang uleh mayortas Ulama, dalam redaksi lain, mereka menyebutkan Al-Dzulm (kedzoliman).

Tidak ada Ghisy (penipuan) memang yang terjadi antara kedua belah pihak. Pun tidak ada Dhoror (bahaya) yang terjadi antara keduanya. Juga keduanya tidak saling mendzolimi, justru saling menguntungkan.

Tapi prkatek blackmarket itu menghasilkan Dhoror dan kedzoliman untuk sekitarnya termasuk negara ini. Semua sudah bukan rahasia lagi bahwa blackmarket ini perdagangan yang tidak melalui pajak. Dan itu langsung atau tidak langsung sudah membuat negara ini terdzolimi. Terlalu dramitis kalau penulis mengatakan prkatek itu memiskinkan negara, tapi yang pasti negara sangat merugi dengan perdagangan gelap yang kalau makin dibiarkan, buakn tidak mungkin ekonomi kita terus akan memburuk.

Selain kepada negara, kedzoliman juga terjadi kepada pedagang lain. Pedagang lain yang selalu berusaha untuk lurus dalam praktek dagangannya menjadi didzolimi dengan adanya penjual-penjual yang menawarkan barang gelap dengan harga yang lebih murah. Barang sama tapi harga beda.

Tentu pembeli akan membeli barang yang jauh lebih murah. Akhirnya dengan demikian pedagang dengan status legal dan juga menjual barang-barang legal karena ketaatannya kepada negara menjadi ditinggalkan oleh pelanggan dan akhirnya semakin merugi.

Jadi prkatek ini bukan hanya merugikan negara, akan tetapi juga merugikan saudara kita sesama penjual. Memiskin-kan negara dan memiskin-kan penduduknya.

Kedua:

Kemudian kelompok ini menanyakan tentang keabsahan jual beli kita yng kita lakukan dengan tukang kaki lima atau juga warteg, atau juga toko-toko pinggir jalan. Ya tentu sangat sah sekali.

Harus diketahui, pedagang seperti itu memang pedagang yang tidak memgang izin dagang atau sebagainya. Tapi kan memang negara ini tidak menunut mereka untuk itu. Negara telah menetapkan dan menetukan komoditi mana yang harus melewati pajak dan yang tidak melewati pajak.

Gorengan dipinggir jalan itu harganya 500 sampai 1000 rupiah, jangan disamakan dengan handphone yang harganya ratusan ribu bahkan jutaan. Kaos-kaos dan makanan, serta minuman diwarung pinggir jalan itu hargnya ribuan sampai puluhan ribu, jangan samakan dengan harga laptop yang bisa mencapai jutaan bahkan puluhan juta. Pun tidak ada yang namanya gorengan “Import”. Tidak ada sapu lidi “import”. Kita harus fair-lah dalam menganalogikan sesuatu.

Ok. Kalaupun diterima hujjah mereka itu tentang jual beli kaki lima dan warung-warung. Apakah barang-barang yang di kaki lima itu semuanya barang tak berpajak? Penjual kaki limanya memang tidak membayar pajak dan izin jualan. Tapi darimana si penjual itu mendapatkan komoditi dagangannya?

Tentu dari pabrik, dari rumah-rumah produksi yang besar atau sederhana. Dan tempat produksi itu lah yang telah membayar pajak kepada pemerintah. Jadi membeli barang diwarung dan dikaki lima, kita sama saja membeli barang legal yang berpajak.

Ketiga:

Lalu, dari kalangan ini juga ada yang menyamakan praktek blackmarket dengan nikah siri. Buat saya ini lucu. Sama sekali tidak bisa disamakan.

Pernikahan siri memang pernikahan tidak resmi, tapi apakah ada peraturan negara yang memberlakukan hukuman kepada seseorang yang menikah secara siri tanpa catatan KUA? Apakah ia yang melakukan pernikahan siri sama saja melakukan kriminalitas yang harus dipidanakan? Tidak ada aturan yang mengatakan seperti itu.

Akan tetapi black market, negara melarang itu, ada aturannya jelas tertulis dalam undang-undang. Dan melakukannya termasuk pelanggaran yang mengakibatkan pelakunya bisa dipenjara. Jadi sangat berbeda dengan pernikahan siri. So please, jangan samakan jual beli dan pernikahan.

KONKLUSI

Dari pemaparan kedua kelompok tadi, terlihat jelas bahwa masing-masing kelompok memiliki hujjah dan landasan yang kuat namun juga keduanya masih bisa dibantah. Dan terdapat celah dari argumen-argumen yang mereka berikan itu.

Dan sebelum memberikan konklusi, penulis akan memberikan tinjauan-tinjauan yang sebaiknya mesti diperhatikan oleh para pembaca. Berikut tinjauannya:

  1. Peraturan pemerintah dalam pembatasan dan pelarangan terhadap barang-barang tertentu pastilah dengan tujuan untuk kepentingan dan kemaslahatan negara. Di samping barang-barang black market yang masuk menghindari dari ketentuan kena pajak beacukai, dan itu merugikan negara, juga ada kemungkinan barang-barang yang masuk termasuk kategori barang-barang terlarang dan membahayakan.
  2. Harus diingat bahwa pemberlakuan pajak dalam syariat bukanlah sesuatu yang baru apalagi sesuatu yang tidak ada contohnya dalam sejarah perkembangan ekonomi Islam. Ini sudah dicontohkan oleh Amirul Mukminin Umar bin Khoththob, ketika memberlakukan pajak bagi para pedagang-pedagang yang masuk ke daratan Sawad (Iraq). Bahkan perarturan itu juga pernah diberlakukan oleh Nabi saw. (dari artikel Dr. Ali Muhammad Al-Showa dalam situs Majalah Syariah dan Kajian Keislaman Univ. Kuwait; kuniv.edu)
  3. Harus diingat pula bahwa dalam syariat ini ada istilah “Maqoshid Al-Syariah” (tujuan-tujuan syariah) yaitu tujuan-tujuan dibalik disyariatkannya sebuah syariah, yang kesemua itu jumlahnya ada 5, yaitu: menjaga Agama, Jiwa, Harta, Akal, dan Keturunan. (Al-Ihkam Lil-Aamidy 3/300). Dan praktek blacmarket ini membuat harta penjual lain yang menjual dagangannya dengan sesuai aturan menjadi terancam. Dan ini sangat tidak sesuai dengan tujuan syariah.
  4. Rasulullah SAW melarang bentuk transaksi yang berakibat pada terganggunya mekanisme pasar. Hal ini sama dengan model transaksi talaqqi rukban yang dilarang oleh Rasulullah SAW karena efeknya sama-sama mempengaruhi mekanisme pasar. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah dan Imam Ahmad, diceritakan bahwa Nabi saw pernah diminta untuk memnetukan harga bagi komoditi-komoditi pasar, tapi Nabi menolak permintaan itu, karena beliau saw tahu itu suatu kedzoliman, dan khawatir nantinya dihari kiamat ada ummatnya yang meminta pertanggung jawabbnya karena penentuan harga pasar. Maksud hadits tersebut ialah menghilangkan kedzoliman bagi masyarakat. Maka melakukan sebaliknya pun dibolehkan untuk kemaslahatan bersama, seperti menentukan harga pasar oleh seorang penguasa untuk menghindari para pemasok memasang harag tinggi. (Subul Al-Salam 794)Initinya memang segala kedzoliman yang membuat mekanisme pasar rusak dan tak beraturan sangatlah dilarang oleh syariat ini. Begitu juga praktek black market, yang kalau dibiarkan terus pastilah berdampak buruk bagi negara juga ekonomi rakyak. Nabi yang seorang pemimpin umat ketika itu mampu saja dan memang kebijakannya pasti di jalankan, hanya saja karena tahu kalau beliau saw memberikan penentuan harga itu akan membuat susah para pelaku pasar, dan itu merupakan suatu kedholiman. Karena itu nabi saw menolak untuk memberikan penentuan harga.
  5. Salah satu hikmah disyariatkannya praktek jual beli dalam syariah Islam ini ialah saling tolong menolong (At-Ta’awun). Yang membutuhkan suatu kebutuhan bisa mendapatkannya dengan mudah dari saudaranya. Dan saudaranya pun mengambil keuntungan dari prkatek jual beli itu. Karena ini praktek saling tolong menolong, hendaklah tidak kita rusak dengan praktek-praktek kotor yang menodai nilai saling tolong menolong itu. 

Jadi, sebaiknya praktek jual beli blackmarket ini dihindari sejauh-jauh mungkin karena dampaknya yang buruk bagi ekonomi negara juga kemaslahatan rakyat.

Wallahu A’lam bi Ash-Showab

Ahmad Zarkasih. 

Bagikan via


Baca Lainnya :

Halal Haram Menyambung Rambut
Aini Aryani, Lc | 5 March 2013, 08:23 | 5.273 views
Krisis Ulama’: Penyebab dan Dampaknya (bag. 1)
| 26 February 2013, 14:56 | 6.559 views
Kitab Kuning Kita
Sutomo Abu Nashr, Lc | 23 February 2013, 17:49 | 6.091 views
Meng-kecil-kan yang Kecil, Mem-BESAR-kan yang Besar
Ahmad Zarkasih, Lc | 22 February 2013, 05:53 | 5.620 views
Sholatnya Orang Mabuk
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 20 February 2013, 15:59 | 5.957 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Kalau Awam Boleh Ijtihad
Ahmad Zarkasih, Lc | 11 September 2017, 08:03 | 4.438 views
Mampu atau Tidak Berkurban? Ini Standarnya
Ahmad Zarkasih, Lc | 23 August 2017, 06:31 | 3.761 views
Lebih Utama Tidak Berbeda
Ahmad Zarkasih, Lc | 4 December 2016, 17:36 | 4.264 views
Wajah Santun Dakwah Nabi Muhammad
Ahmad Zarkasih, Lc | 3 June 2016, 10:45 | 6.445 views
Kalau Ada Pertanyaan 'Mana Dalil?'
Ahmad Zarkasih, Lc | 28 January 2016, 06:01 | 9.137 views
Dilema 'Mujtahid' Kekinian
Ahmad Zarkasih, Lc | 26 January 2016, 06:56 | 9.646 views
Muslim itu Yang Baik Sosialnya, Bukan Hanya Yang Rajin Ibadah
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 December 2015, 06:28 | 10.495 views
Nabi SAW Tidak Anti Kepada Non-Muslim
Ahmad Zarkasih, Lc | 5 November 2015, 05:26 | 7.669 views
Belajar Fiqih itu Santai
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 May 2015, 07:51 | 7.773 views
Berguru Kepada Mesin Pencari Gugel
Ahmad Zarkasih, Lc | 23 March 2015, 22:42 | 9.321 views
Ternyata, Shalat Wajib Hanya Satu!
Ahmad Zarkasih, Lc | 17 March 2015, 10:01 | 14.725 views
Banci Jadi Imam, Boleh?
Ahmad Zarkasih, Lc | 12 March 2015, 12:47 | 7.078 views
Bersiwak di Masjid Hukumnya Makruh
Ahmad Zarkasih, Lc | 27 February 2015, 20:30 | 6.162 views
Mana Yang Boleh dan Tidak Boleh Berbeda
Ahmad Zarkasih, Lc | 12 February 2015, 06:36 | 7.802 views
Nabi Tidak Mengerjakan, Berarti Itu Haram?
Ahmad Zarkasih, Lc | 7 February 2015, 06:31 | 14.582 views
Shalat Zuhur Setelah Shalat Jumat
Ahmad Zarkasih, Lc | 23 January 2015, 14:02 | 7.549 views
Satu Kampung Hanya Boleh Ada Satu Jumat, Begitukah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 9 January 2015, 08:37 | 8.434 views
Tidak Tahu Sok Tahu, Tahu Tapi Belagu
Ahmad Zarkasih, Lc | 1 November 2014, 10:24 | 11.837 views
Shalat untuk Menghormati Waktu, Apa dan Bagaimana?
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 October 2014, 08:36 | 17.342 views
Kufu', Syarat Sah Nikah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 31 August 2014, 11:20 | 10.563 views
Kawin Paksa, Masih Zaman?
Ahmad Zarkasih, Lc | 16 August 2014, 04:53 | 6.254 views
Puasa Syawal Hukumnya Makruh, Benarkah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 29 July 2014, 22:32 | 15.755 views
Kenapa Sahabat Melakukan Dosa, Padahal Mereka Generasi Terbaik?
Ahmad Zarkasih, Lc | 18 July 2014, 05:40 | 9.430 views
Miskin Ilmu Jago Ngambek
Ahmad Zarkasih, Lc | 11 July 2014, 08:02 | 10.526 views
Apakah Kita Cinta Nabi?
Ahmad Zarkasih, Lc | 23 June 2014, 08:21 | 7.708 views
Semangat Ramadhan Harus Dengan Ilmu
Ahmad Zarkasih, Lc | 19 June 2014, 06:24 | 6.336 views
Niat Berbuat Buruk Tidak Terhitung Dosa, Benarkah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 7 June 2014, 09:47 | 12.529 views
Merubah Kelamin, Bagaimana Jatah Warisnya?
Ahmad Zarkasih, Lc | 5 June 2014, 08:27 | 5.344 views
Jual Beli Kucing, Haramkah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 3 June 2014, 06:20 | 45.300 views
Kanibalisasi Madzhab
Ahmad Zarkasih, Lc | 30 May 2014, 09:31 | 6.596 views
Mau Ikut Nabi apa Ikut Ulama?
Ahmad Zarkasih, Lc | 13 May 2014, 20:00 | 14.850 views
Tarjih Antara 2 Hadits Yang Bertentangan
Ahmad Zarkasih, Lc | 12 May 2014, 21:40 | 8.348 views
Lawan Tapi Mesra
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 April 2014, 12:48 | 6.922 views
Imam Abu Hanifah dan Imam Al-Baqir
Ahmad Zarkasih, Lc | 1 April 2014, 09:01 | 6.641 views
Professor Harfu Jarr
Ahmad Zarkasih, Lc | 28 March 2014, 21:58 | 8.457 views
Madzhab Fiqih Zaidiyah
Ahmad Zarkasih, Lc | 26 March 2014, 21:37 | 11.128 views
Imam Malik, Hadits Mursal dan Amal Ahli Madinah
Ahmad Zarkasih, Lc | 21 March 2014, 06:31 | 6.902 views
Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 4)
Ahmad Zarkasih, Lc | 19 March 2014, 07:02 | 5.725 views
Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 3)
Ahmad Zarkasih, Lc | 18 March 2014, 05:09 | 5.930 views
Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 2)
Ahmad Zarkasih, Lc | 15 March 2014, 06:14 | 6.136 views
Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 1)
Ahmad Zarkasih, Lc | 13 March 2014, 07:59 | 6.686 views
Pendapat Awam Tidak Masuk Hitungan
Ahmad Zarkasih, Lc | 10 March 2014, 05:51 | 6.043 views
Bukan Mujtahid Kok Mentarjih?
Ahmad Zarkasih, Lc | 2 March 2014, 06:40 | 9.137 views
Mau Jadi Kritikus Madzhab Fiqih
Ahmad Zarkasih, Lc | 25 February 2014, 09:19 | 8.276 views
Jama' Sholat Tanpa Udzur, Bolehkah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 February 2014, 06:11 | 8.000 views
Gono-Gini Antara Syariah dan Hukum Adat (Bag. 2)
Ahmad Zarkasih, Lc | 18 February 2014, 09:24 | 5.035 views
Gono-Gini Antara Syariah dan Hukum Adat (Bag. 1)
Ahmad Zarkasih, Lc | 17 February 2014, 08:33 | 6.774 views
Lumbung Tanpa Padi
Ahmad Zarkasih, Lc | 15 February 2014, 05:52 | 5.211 views
Ijtihadnya Orang Awam
Ahmad Zarkasih, Lc | 13 February 2014, 06:59 | 8.283 views
Membangun Keluarga Ahli Fiqih
Ahmad Zarkasih, Lc | 12 February 2014, 06:31 | 5.955 views
Hukum Yang Punya Sebab
Ahmad Zarkasih, Lc | 7 February 2014, 06:45 | 7.508 views
Ulama Juga Harus Mengerti Sains
Ahmad Zarkasih, Lc | 4 February 2014, 06:19 | 5.896 views
Beda Level Penyanyi dan Suka Menyanyi
Ahmad Zarkasih, Lc | 31 January 2014, 06:18 | 7.659 views
KHI : Kitab Suci Beraroma Kontroversi (bag. 2)
Ahmad Zarkasih, Lc | 27 January 2014, 08:27 | 5.361 views
KHI : Kitab Suci Beraroma Kontroversi
Ahmad Zarkasih, Lc | 24 January 2014, 11:45 | 6.184 views
Belajar Bijak dalam Berbeda dari Ulama Salaf
Ahmad Zarkasih, Lc | 19 January 2014, 18:21 | 8.661 views
Meninggal Bersama dalam Kecelakaan, Bagaimana Pembagian Warisnya?
Ahmad Zarkasih, Lc | 10 January 2014, 16:25 | 4.908 views
Kenapa Calo Dilarang, dan Agen Tidak?
Ahmad Zarkasih, Lc | 2 January 2014, 05:01 | 8.095 views
Sepatu Yang Terbuat Dari Kulit Babi
Ahmad Zarkasih, Lc | 26 December 2013, 19:18 | 12.806 views
Bolehkah Muslim Masuk Gereja atau Tempat Ibadah Agama Lain?
Ahmad Zarkasih, Lc | 24 December 2013, 05:03 | 13.132 views
Pendapatku Benar Tapi Bisa Jadi Salah
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 December 2013, 06:44 | 7.057 views
Adakah Qadha' Sholat?
Ahmad Zarkasih, Lc | 14 December 2013, 05:36 | 13.165 views
Belajar Taqlid dari Ibnu Qudamah
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 December 2013, 12:56 | 8.427 views
Fiqih Dulu dan Sekarang
Ahmad Zarkasih, Lc | 27 November 2013, 18:42 | 7.015 views
Mayit Diadzab Karena Tangisan Keluarganya, Benarkah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 21 November 2013, 05:56 | 8.212 views
Menantang Ulama
Ahmad Zarkasih, Lc | 12 November 2013, 08:44 | 7.794 views
Ilmu Fiqih Bukan Ilmu Sembarang
Ahmad Zarkasih, Lc | 7 November 2013, 16:54 | 12.358 views
Sholat di Masjid Yang Ada Kuburannya
Ahmad Zarkasih, Lc | 25 October 2013, 18:23 | 10.414 views
Nikah Punya Banyak Hukum
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 October 2013, 06:59 | 9.940 views
Jasa Penghulu Nikah Sirri
Ahmad Zarkasih, Lc | 3 October 2013, 15:09 | 6.908 views
Titip Doa
Ahmad Zarkasih, Lc | 26 September 2013, 14:56 | 11.404 views
Mengkritisi Slogan Kembali ke Al-Quran dan Sunnah
Ahmad Zarkasih, Lc | 19 September 2013, 14:03 | 13.792 views
Tidak Bersedih Dengan Kematian Ulama Berarti Munafiq?
Ahmad Zarkasih, Lc | 16 September 2013, 10:10 | 8.093 views
Fatwa, Apakah Wajib Ditaati?
Ahmad Zarkasih, Lc | 6 September 2013, 09:22 | 7.166 views
Korupsi Bukan Pencurian, Tak Usah Potong Tangan
Ahmad Zarkasih, Lc | 3 September 2013, 08:05 | 7.308 views
Hukum Mengambil Upah Dakwah
Ahmad Zarkasih, Lc | 29 August 2013, 15:42 | 12.436 views
Sholat Jumat Tapi Tidak Mendengarkan Khutbah
Ahmad Zarkasih, Lc | 23 August 2013, 08:52 | 10.205 views
Syubhat Bukan Haram
Ahmad Zarkasih, Lc | 13 August 2013, 05:50 | 8.777 views
Haruskah Beri'tikaf dan Begadang di Malam Lailatul-Qodr
Ahmad Zarkasih, Lc | 30 July 2013, 03:43 | 9.306 views
Al-Tanaazul (Turun Tahta) Dalam Kajian Fiqih
Ahmad Zarkasih, Lc | 27 July 2013, 06:31 | 5.289 views
Hak Cipta Dalam Pandangan Syariah
Ahmad Zarkasih, Lc | 22 July 2013, 08:49 | 7.534 views
Makna Jauf (Rongga) Dalam Pengertian Fiqih Puasa
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 July 2013, 10:19 | 8.181 views
Apakah Ada Istilah "Tajil" Dalam Syariah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 18 July 2013, 05:36 | 6.583 views
Tarawih 4 Rokaat 1 Salam, Boleh atau Tidak?
Ahmad Zarkasih, Lc | 13 July 2013, 14:29 | 9.623 views
Setan Dibelenggu, Kenapa Masih Ada Yang Maksiat?
Ahmad Zarkasih, Lc | 11 July 2013, 14:20 | 7.951 views
Yang Boleh Tidak Berpuasa Ramadhan
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 July 2013, 16:37 | 6.743 views
Siapa Yang Wajib Puasa Ramadhan?
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 July 2013, 16:22 | 5.802 views
Dilema Punuk Unta
Ahmad Zarkasih, Lc | 3 July 2013, 05:40 | 17.724 views
Menyematkan Nama Suami di Belakang Nama Istri
Ahmad Zarkasih, Lc | 28 June 2013, 13:47 | 12.939 views
Almarhum Bukan Gelar
Ahmad Zarkasih, Lc | 19 June 2013, 05:22 | 8.425 views
Teka-Teki Fiqih
Ahmad Zarkasih, Lc | 11 June 2013, 08:04 | 13.201 views
Ustadz Anonim di Medsoc
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 June 2013, 06:09 | 6.181 views
Keanehan Hukum Fiqih
Ahmad Zarkasih, Lc | 28 May 2013, 19:12 | 7.341 views
Dokter dan Apoteker
Ahmad Zarkasih, Lc | 22 May 2013, 09:30 | 7.102 views
Siapa Salah, Siapa Kena Getahnya
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 May 2013, 20:45 | 6.606 views
Matang Sebelum Waktunya
Ahmad Zarkasih, Lc | 18 May 2013, 11:47 | 7.397 views
Masjid Kok Dikunci?
Ahmad Zarkasih, Lc | 28 April 2013, 01:44 | 7.175 views
Buku Fiqih Yang Tidak Fiqih
Ahmad Zarkasih, Lc | 22 April 2013, 06:41 | 9.026 views
Galaunya Para Ulama
Ahmad Zarkasih, Lc | 13 April 2013, 17:40 | 7.393 views
Pengkhianat Ilmu
Ahmad Zarkasih, Lc | 4 April 2013, 05:00 | 6.294 views
Menulis, Proses Penyelamatan Ilmu
Ahmad Zarkasih, Lc | 26 March 2013, 16:44 | 5.554 views
Hukum Beli Barang Black Market
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 March 2013, 07:00 | 11.070 views
Meng-kecil-kan yang Kecil, Mem-BESAR-kan yang Besar
Ahmad Zarkasih, Lc | 22 February 2013, 05:53 | 6.469 views
Ulama Pesanan
Ahmad Zarkasih, Lc | 17 February 2013, 08:01 | 6.319 views
Keistimewaan Ilmu Faraidh
Ahmad Zarkasih, Lc | 10 February 2013, 10:31 | 6.515 views
Ulama-ulama Bujang
Ahmad Zarkasih, Lc | 24 January 2013, 06:03 | 8.619 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA59 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA47 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA22 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Galih Maulana, Lc15 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc13 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Isnawati, Lc., MA9 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Siti Chozanah, Lc7 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Maharati Marfuah Lc3 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan
Luki Nugroho, Lc0 tulisan
Nur Azizah, Lc0 tulisan
Wildan Jauhari, Lc0 tulisan
Syafri M. Noor, Lc0 tulisan
Ipung Multinigsih, Lc0 tulisan
Solihin, Lc0 tulisan
Teuku Khairul Fazli, Lc0 tulisan

Jadwal Shalat DKI Jakarta

22-10-2019
Subuh 04:11 | Zhuhur 11:39 | Ashar 14:49 | Maghrib 17:49 | Isya 18:58 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img