Bagian Waris Anak Angkat | rumahfiqih.com

Bagian Waris Anak Angkat

Muhammad Abdul Wahab, Lc Fri 28 November 2014 17:35 | 6062 views

Bagikan lewat

Masalah pembagian harta waris memang selalu menimbulkan permasalahan tersendiri di masyarakat kita. Karena memang tidak bisa kita pungkiri masih banyak orang yang belum paham dan belum tahu tatacara pembagian waris yang tepat dan sesuai dengan syariat.

Padahal salah satu tujuan adanya ilmu waris (faroidh) dalam islam adalah untuk mencegah adanya konflik dan perselisihan di antara ahli waris. Maka ketika ilmu waris itu tidak dipahami dengan benar, ditambah dengan kurangnya kesadaran akan kewajiban menjalankan syariat islam dalam kehidupan, maka di situlah akan selalu timbul permasalahan terutama pada saat pembagian harta warisan yang sifatnya memang agak sensitif.

Termasuk dalam hal ini adalah tatacara pembagian harta waris terhadap anak angkat. Apakah anak angkat itu sebenarnya mendapatkan bagian dari harta waris orang tua angkatnya  atau tidak. Atau bahkan apakah praktek adopsi atau pengangkatan anak itu sendiri dibolehkan dalam islam?.

Hukum mengadopsi anak (tabanni)

Pada dasarnya, praktek Tabanni atau pengangkatan anak di dalam islam itu tidak diperbolehkan. Yaitu ketika seseorang menjadikan anak orang lain sebagai anak kandungnya dan menisbatkan anak tersebut kepada dirinya, bukan kepada orang tua kandungnya. Yang berarti disitu ada unsur merubah atau mempengaruhi keturunan anak angkat tersebut seoalah-olah menjadi anak kandung dari orang tua angkatnya itu.

Praktek tabanni ini pada awalnya dilakukan oleh orang arab pada zaman jahiliyah. Pada waktu itu terjadi kebiasaan dimana seseorang mengakui anak orang lain sebagai anak kandungnya, menisbatkan namanya kepada dirinya dan memberikannya bagian dari harta waris sebagaimana anak kandungnya.

Bahkan pada masa-masa awal keislaman parktek ini juga pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Beliau pernah mengangkat Zaid bin Haritsah --seorang budak yang merupakan pemberian dari Siti Khadijah-- sebagai anaknya. Sehingga para sahabat pada waktu itu memanggilnya Zaid bin Muhammad bukan Zaid bin Haritsah. Kemudian setelah itu turunlah wahyu dari Allah Subhanahu Wata’ala yang menegaskan bahwa praktek seperti itu tidak diperbolehkan yaitu dalam surat Al-Ahzab ayat 4 dan 5.

“...dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).

Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah.....” (Al-Ahzab : 4-5).

Tapi, dalam kasus dimana seseorang mengangkat anak orang lain untuk tujuan mengasuh, merawat, memberikan nafkah dan memberikannya kasih sayang sebagaiamana orang tua kandungnya tanpa menganggapnya sebagai anaknya sendiri dan tetap menisbatkan keturunannya kepada orang tua aslinya, maka itu sah-sah saja. Bahkan hal tersebut dianjurkan dalam islam apalagi jika anak tersebut sudah tidak mempunyai keluarga atau yatim piatu.

Jadi yang menjadi poin penting dalam keharaman praktek tabanni ini adalah adanya unsur mempengaruhi atau merubah nasab anak angkat tersebut. Ketika tidak ada unsur tersebut maka, hukumnya menjadi boleh, bahkan sangat dianjurkan apalagi ketika anak tersebut sudah tidak meiliki orang tua atau keluarga yang merawatnya.

Apakah anak angkat mendapat bagian dari harta waris?

Nah, ternyata meskipun praktek mengangkat anak dengan kriteria seperti di atas itu boleh, tetapi ketika orang tua angkatnya meninggal, dia tetap tidak mempunyai hak untuk mendapatkan bagian dari harta warisan orang tua angkatnya tersebut.

Karena salah satu sebab adanya hak penerimaan waris itu adalah adanya hubungan darah atau kekerabatan antara orang yang meninggal dan ahli warisnya. Maka anak angkat itu, seberapa pun dekatnya hubungan dia dengan orang tua angkatnya, tetap tidak dapat bagian dari harta warisannya. Karena di antara keduanya tidak ada hubungan darah atau kekerabatan.

Hal itu disebabkan karena memang syariat lebih mengutamakan kerabat yang paling dekat dan memliki hubungan darah dengan muwarrits (orang yang meninggal dan meninggalkan harta waris) ketimbang orang lain. Bahkan saudara yang agak jauh pun bisa terhalang hak warisnya dengan adanya kerabat yang lebih dekat.

Tapi tetap ada solusi agar anak angkat tersebut bisa mendapatkan bagian dari harta waris orang tua angkatnya. Yaitu dengan cara wasiat. Di mana sebelum meninggal orang tua angkatnya berwasiat untuk memberikan sebagian dari harta warisnya untuk anak angkatnya. Tetapi dengan syarat tidak boleh lebih dari sepertiga harta warisan. Karena jumlah maksimal untuk wasiat itu adalah sepertiag dari harta waris.

Wallahu A'lam.


Baca Lainnya :

Istri : Mahram Apa Bukan?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 24 November 2014, 21:17 | 8.406 views
Masak Sih Ikhwan dan Akhawat Boleh Berduaan?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 16 November 2014, 06:59 | 17.066 views
Ulama Mie Instan Seleraku
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 4 November 2014, 08:55 | 11.146 views
Tidak Tahu Sok Tahu, Tahu Tapi Belagu
Ahmad Zarkasih, Lc | 1 November 2014, 10:24 | 8.945 views
Shalat untuk Menghormati Waktu, Apa dan Bagaimana?
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 October 2014, 08:36 | 11.604 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Berilmu Sebelum Berutang
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 27 August 2018, 08:40 | 5.659 views
Fiqih Pinjam-meminjam
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 23 August 2018, 21:49 | 37.006 views
Qardh dan Dain, Jenis Utang yang Serupa Tapi Tak Sama
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 30 August 2017, 11:29 | 9.621 views
Bolehkah Melebihkan Pembayaran Utang dengan Alasan Inflasi?
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 20 August 2017, 23:24 | 9.320 views
Benarkah Go-Food Haram?
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 16 July 2017, 22:27 | 36.606 views
Ketika Ulama Tidak Mengamalkan Hadits
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 26 December 2016, 13:20 | 3.975 views
Ustadz Sunnah dan Ustadz Tidak Sunnah?
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 8 December 2016, 09:00 | 7.470 views
Bolehkan Berwasiat Untuk Ahli Waris?
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 1 May 2015, 15:55 | 16.524 views
Benarkah Tubuh Wanita Haid Itu Najis?
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 16 February 2015, 00:01 | 11.342 views
Satu Keluarga Meninggal Bersamaan, Bagaimana Cara Pembagian Warisnya?
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 25 January 2015, 19:12 | 7.591 views
Bagian Waris Anak Angkat
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 28 November 2014, 17:35 | 6.062 views
Islamisasi Atau Arabisasi?
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 12 April 2014, 08:01 | 9.528 views
Hadits-hadits Yang Saling Bertentangan
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 6 April 2014, 12:00 | 17.957 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA59 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA48 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA23 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Galih Maulana, Lc15 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc13 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Isnawati, Lc., MA9 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Siti Chozanah, Lc7 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Maharati Marfuah Lc4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan
Luki Nugroho, Lc0 tulisan
Nur Azizah, Lc0 tulisan
Wildan Jauhari, Lc0 tulisan
Syafri M. Noor, Lc0 tulisan
Ipung Multinigsih, Lc0 tulisan
Solihin, Lc0 tulisan
Teuku Khairul Fazli, Lc0 tulisan

Jadwal Shalat DKI Jakarta

16-12-2019
Subuh 04:10 | Zhuhur 11:50 | Ashar 15:17 | Maghrib 18:07 | Isya 19:21 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img