Bolehkan Berwasiat Untuk Ahli Waris? | rumahfiqih.com

Bolehkan Berwasiat Untuk Ahli Waris?

Muhammad Abdul Wahab, Lc Fri 1 May 2015 15:55 | 15682 views

Bagikan lewat

Wasiat dalam istilah ilmu fiqih adalah pemberian harta berupa benda atau manfaatnya, bersifat sukarela (tabarru’), akadnya dilakukan selagi masih hidup, dan penerimaannya dilakukan setelah pemberi wasiat meninggal dunia. Kalau dalam bahasa Arabnya kira-kira seperti ini:

تَمْلِيكٌ مُضَافٌ إِلَى مَا بَعْدَ الْمَوْتِ بِطَرِيقِ التَّبَرُّعِ ، سَوَاءٌ كَانَ ذَلِكَ فِي الأَعْيَانِ أَوْ فِي الْمَنَافِعِ[1

Definisi wasiat seperti di atas, nampaknya agak berbeda dengan pengertian wasiat dalam bahasa Indonesia. Kata wasiat yang sering digunakan orang Indonesia pada umumnya, mempunyai makna yang lebih luas, tidak hanya berkaitan dengan harta benda, melainkan semua yang berkaitan dengan pesan seseorang sebelum meninggal. Contohnya, pak Qosim berpesan kepada anaknya, “Nak, kalau bapak meninggal tolong kuburannya jangan ditembok ya.”

Secara bahasa, apa yang dikatakan Pak Qosim kepada anaknya itu bisa disebut sebagai wasiat. Tapi itu tidak termasuk dalam pengertian wasiat yang dibahas dalam ilmu fiqih, karena wasiat dalam istilah ilmu fiqih hanya berkaitan dengan penyerahan harta benda atau manfaatnya.

Contoh, Pak Ucup punya anak namanya Jajang, kemudian Pak Ucup berkata kepada Jajang, “Nak, kalau bapak mati, nanti rumah ini buat kamu ya.”

Rumah yang disebutkan Pak Ucup itu adalah harta wasiat yang diberikan untuk jajang dan akan menjadi miliknya setelah Pak Ucup meninggal. Selama Pak Ucup masih hidup, Jajang belum punya hak atas rumah tersebut.

Ilustrasi di atas hanya sekedar contoh, sebagai gambaran dasar tentang apa itu wasiat. Karena ada ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam berwasiat. Misalnya berapa jumlah maksimal harta yang boleh diwasiatkan, kepada siapa saja wasiat itu boleh diberikan, bagaimana cara melakukan akad wasiat yang benar, dan lain-lain.

Tapi untuk membahas semua itu tentu saja tidak cukup ditulis dalam satu atau dua artikel saja, oleh karena itu kita tidak akan bahas semuanya disini.

Perbedaan Wasiat dan Waris

Sebagian kita mungkin masih bingung membedakan antara wasiat dan waris, karena dua-duanya memang punya persamaan, yaitu harta wasiat dan harta waris sama-sama boleh dimiliki jika pewasiat dan pewarisnya telah meninggal dunia.

Namun ada bebererapa hal mendasar yang membedakan antara wasiat dan waris, di antaranya:

1. Sukarela dan Ketetapan

Wasiat bersifat sukarela, artinya seseorang boleh berwasiat boleh tidak. Karena wasiat itu mirip dengan shadaqah yang mana keduanya bergantung pada kerelaan seseorang. Sedangkan waris mau tidak mau harus terjadi ketika seseorang meniggal dunia, artinya perpindahan harta dari tangan pewaris ke tangan ahli waris tidak tergantung pada kerelaan sang pewaris, tapi bersifat ketetapan yang memang harus dilaksanakan sesuai aturannya. Dengan kata lain, ketika seseorang meninggal dunia, hartanya akan otomatis menjadi hak milik ahli warisnya tanpa menunggu persetujuan dari siapapun, karena ketentuan waris, Allah sendiri yang menetapkan langsung dalam al-quran.

2. Akad dan Non akad

Ketika seseorang berwasiat ada akad yang terjadi antara dia sebagai pewasiat dan orang lain sebagai penerima wasiat. Karena akad wasiat itu dilakukan ketika pewasiat masih hidup. Tapi lain halnya dengan waris, tidak ada akad yang terjadi antara pewaris dengan ahli waris. Karena ketika pewaris meninggal dunia, hartanya akan pindah kepada ahli waris secara otomatis sesuai ketentuan pembagian yang ditetapkan dalam al-quran.

3. Berbeda dari sisi jumlah

dari sisi jumlah, wasiat boleh diberikan dengan ketentuan tidak boleh lebih dari sepertiga harta. Sedangkan waris, ketentuannya bervariasi tergantung siapa ahli warisnya, ada yang mendapat setengah, seperempat, sepertiga, dan lain-lain sebagaimana termaktub dalam al-quran surat an-Nisa ayat 11, 12 dan 176.

4. Berbeda dari sisi penerima

Penerima harta waris hanyalah dia yang ditetapkan bagiannya oleh syariat, tidak semua orang bisa menerima harta waris dari orang yang meninggal. Sebalikanya, wasiat justru tidak boleh diberikan kepada ahli waris yang sudah ditetapkan bagiannya itu. Wasiat hanya boleh diberikan kepada orang yang tidak mendapatkan bagian waris.

Poin keempat di atas, adalah fokus kita kali ini. Yaitu apa hukumnya berwasiat kepada ahli waris menurut para ulama?

Hukum Berwasiat Kepada Ahli Waris

Dalam hal ini para ulama terbagi menjadi dua kelompok:

1. Tidak boleh kecuali dengan izin dari ahli waris yang lain

Yang berpendapat demikian di antaranya ulama madzhab Hanafiyyah[2], sebagian Malikiyyah[3], sebagian Syafi’iyyah[4] dan sebagian Hanabilah[5]. Menurut pendapat pertama ini, jika seseorang berwasiat kepada seorang ahli warisnya, lalu kemudian ahli warisnya yang lain menyetujui maka wasiatnya boleh dan sah. Namun jika tidak disetujui oleh ahli waris yang lain maka wasiatnya tidak sah dan tidak boleh dilaksanakan.

Pendapat pertama ini, berdasarkan kepada beberapa dalil, antara lain:

1. Surat Al-Nisa ayat 11:

مِنۢ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِى بِهَآ أَوْ دَيْنٍ

“(Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya.”

ayat di atas secara dzhahir (tekstual) menunjukkaan kebolehan wasiat secara mutlak tanpa dibatasi siapa yang boleh dan siapa yang tidak boleh menerima wasiat.[6]

2. Hadits riwayat dari Ibnu Abbas:

لا تجوز لوارث وصية إلا أن يجيزه الورثة

“Tidak boleh berwasiat kepada ahli waris, kecuali jika disetujui oleh ahli waris yang lain”

3. Illat Larangan wasiat

Larangan wasiat kepada ahli waris bertujuan untuk menjaga hak ahli waris yang lain, karena pada dasarnya masing-masing ahli waris sudah ditetapkan bagiannya, sehingga jika ada ahli waris yang mendapatkan jatah wasiat, maka bagiannya akan bertambah dari jatah seharusnya dan dampaknya jatah ahli waris lain menjadi berkurang.

Oleh karena itu, jika ahli waris yang lain tersebut mengizinkan dan merelakan haknya menjadi berkurang, maka wasiatnya menjadi sah dan boleh dilaksankan.[7]

 

2. Tidak Boleh Walaupun Dengan Izin Ahli Waris Yang Lain

Yang berpendapat demikian di antaranya sebagian ulama Malikiyah[8], sebagian Syafi’iyyah[9], sebagian Hanabilah[10], dan madzhab Dzhohoriyah[11]. Menurut pendapat ini, wasiat kepada ahli waris tidak boleh walau bagaimanapun, termasuk ketika ahli waris sudah mengizinkan sekalipun.

Pendapat kedua ini, dalilnya sebagai berikut:

1. Hadits Ibnu Abbas:

إن الله أعطى كل ذي حق حقه فلا وصية لوارث

“Sesungguhnya Allah telah memberikan setiap orang haknya masing-masing, maka tidak ada wasiat untuk ahli waris.”

Hadits di atas menunjukkan bahwa hak masing-masing ahli waris dan yang bukan ahli waris sudah ditetapkan bagiannya. Ahli waris mendapatkan bagian dari jatah waris dan yang bukan ahli waris mendapatkan bagian dari jatah wasiat apabila almarhum pernah berwasiat.

 

2. Mengarah kepada Perbuatan Haram

Memberikan wasiat kepada sebagian ahli waris akan menimbulkan ketidak harmonisan karena rasa iri dari ahli waris yang lainnya. Sehingga lambat laun akan menyebabkan putusnya tali silaturahim. Sedangkan memutus tali silaturahim dalam syariat Islam hukumnya haram. Dan sesuatu yang menyebabkan timbulnya perbuatan haram, hukumnya menjadi haram.[12]

3. Larangan dari Allah Tidak Bisa Dibatalkan Oleh Manusia

Allah subhanahu wata’ala telah jelas-jelas melarang wasiat kepada ahli waris melalui lisan Nabi Muhmmad Shallallhu ‘alaihi wasallam di dalam hadits yang telah dikutip di atas.

Dan jika ahli waris mengizinkan wasiat itu diberikan kepada ahli waris yang lainnya, maka itu sama saja dengan menentang dan membatalkan larangan dari Allah.

Dan itu sama sekali tidak berpengaruh apa-apa karena manusia tidak berhak untuk membatalkan perintah Allah. Sehingga hukumnya tetap haram sekalipun ada izin dari ahli waris.

Adapun jika memang pada kenyataannya ahli waris tersebut mengizinkan dan merelakan wasiat itu diberikan, maka menurut pendapat kedua ini, itu pada hakikatnya bukanlah wasiat, tetapi pemberian atau hibah dari ahli waris itu sendiri. Jadi tidak langsung diberikan sebagai wasiat.

Melainkan dibagikan dulu semua harta almarhum kepada semua ahli waris. Kemudian ahli waris yang mengizinkan tersebut memberikan bagiannya kepada ahli waris yang seharusnya mendapatkan wasiat sebagai hibah atau pemberian.

Fatwa Kontemporer

Dari ulasan di atas kita tahu bahwa ulama dari dua kelompok, baik yang berpegangan kepada pendapat pertama dan kedua semuanya sepakat bahwa tidak boleh wasiat kepada ahli waris jika tidak ada izin dari ahli waris yang lainnya. walaupun harta yang diwasiatkan itu tidak lebih dari sepertiga harta almarhum.

Tetapi menarikanya ada fatwa ulama kontemporer yang agak berbeda dengan pendapat kedua kelompok ulama yang telah disebutkan di atas. Fatwa tersebut dikeluarkan oleh DR. Ali Jum’ah yang dimuat di dalam website lembaga fatwa Mesir Dar Al-Ifta Al-Mishriyyah.

Di dalam fatwanya tersebut beliau menyebutkan bahwa wasiat itu hukumnya boleh baik kepada ahli waris maupun kepada non ahli waris selama tidak melebihi sepertiga harta. Adapun jika lebih dari sepertiga harta maka itu tergantung kepada izin dari ahli waris yang lainnya.[13]

Sedangkan fatwa kerjaan Arab Saudi yang termuat dalam website resminya lebih condong kepada pendapat ulama kelompok kedua yang berpendapat bahwa wasiat tidak boleh kepada ahli waris secara mutlak baik ada izin dari ahli waris yang lain atau tidak.[14]

 

Kesimpulan

Terlepas dari perbedaan para ulama seperti yang telah dipaparkan di atas, kita tentunya tidak menginginkan timbulnya perpecahan di dalam keluarga kita selepas kita tiada. Maka alangkah baiknya sebagai ‘camat’ alias calon mati, ketika kita ingin berwasiat hendaknya kita pertimbangkan dengan matang siapa orang yang paling tepat dan berhak untuk menerima wasiat kita nanti.

Jangan sampai awalnya niat kita baik malah berujung pada perpecahan dan terputusnya tali silaturahim di antara ahli waris.

Harus dipertimbangkan, Jika kita memutuskan untuk memberikan wasiat kepada keluarga kita yang sejatinya akan mendapatkan jatah dari waris, maka wasiat kita akan percuma saja karena wasiat itu tidak sah jika kita mengikuti pendapat kelompok ulama kedua yang mengatakan tidah sah wasiat itu walaupun semua ahli waris yang lain rela dan mengizinkan.

Dan kalaupun kita mengikuti pendapat kelompok ulama yang pertama yang mengatakan boleh dengan syarat persetujuan dari ahli waris yang lain. Tidak menutup kemungkinan setelah kita meninggal mereka berubah pikiran yang awalnya menyetujui akhrinya karena alasan tertentu tidak mengizinkan wasiat itu diberikan. Maka hasilnya akan sama saja, wasiat kita jadi percuma.

Padahal bisa jadi ada keluarga kita yang lain yang tidak mendapat jatah waris sedangkan dia sangat membutuhkan. Contohnya cucu yang orangtuanya sudah tiada sedangkan paman-pamannya masih hidup, maka ketika kita meninggal cucu tersebut tidak akan mendapatkan apa-apa karena terhalang oleh paman-pamannya.

Padahal cucu tersebut lebih membutuhkan karena orang tuanya sudah meninggal dan tidak ada yang memberi nafkah untuknya. Dan karena cucu tersebut tidak akan mendapatkan jatah dari waris, maka jalan satu-satunya adalah dengan jalan wasiat.

Di Mesir, bahkan wasiat dalam kasus seperti ini diwajibkan dan diatur dalam undang-undang sehingga dikenal dengan istilah al-washiyyah al-wajibah (wasiat wajib). Walaupun undang-undang tersebut banyak dikritik karena dianggap bertentangan dengan teks-teks al-quran dan as-sunnah karena tidak ada satu pun dalil yang mewajibkan wasiat tersebut.

Wallahu a’lam bi al-shawab

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Mughni al-Muhtaj, 38-39/3, Kasysyaf al-Qina’ 336/4

[2] Al-Kasani, Bada’i Al-Shana’i 380/7, Ibnu al-Humam, Fath Al-Qadir 382/9, Al-Marginani, Al-Hidayah Syarh Bidayah Al-Mubtadi 233/4

[3] Al-Dasuqi, Hasyiah Al-Dasuqi 427-428/4, Al-Namari Al-Qurthubi, Al-Kafi Fi Fiqh Ahl Al- Madinah 219,221/2

[4] Al-Syairazi, Al-Muhadzdzab 71,712/3, Al-Nawawi, Raudhah Al-Thalibin 108-109/6, Al-Syarbini, Mughni Al-Muhtaj 44/3

[5] Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, Al-Syarh Al-Kabir 522-523/3, Al-Buhuthi, Kasysyaf Al-Qina’ 339-340/4

[6] Al-Jashshash, Ahkam Al-Quran 56/2

[7] Al-Maidani, al-Lubab 168/4, Rajab, Al-Washiyah Wa al-Waqfu 99

[8][8] Al-Dasuqi, Hasyiah Al-Dasuqi 427-428/4

[9] Al-Syairazi, Al-Muhadzdzab 712-713/3, Al-Nawawi, Raudhah Al-Thalibin, 108-109/6

[10] Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, Al-Syarh Al-Kabir 522-524/3

[11] Ibnu Hazm, Al-Muhalla 356/8

[12] Al-Kasani, Bada’i al-Shana’i 337-338/7

[13] http://www.dar-alifta.org/ViewFatwa.aspx?ID=3847

[14] http://www.alifta.net/Fatawa/fatawaDetails.aspx?BookID=5&View=Page&PageNo=1&PageID=5606&languagename=


Baca Lainnya :

Apa Saja Kitab Fiqih Madzhab Ahli Hadits?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 21 April 2015, 21:03 | 7.484 views
Madzhab Fiqih Ahli Hadits
Hanif Luthfi, Lc., MA | 21 April 2015, 13:36 | 6.659 views
Shalat Jum'at Tidak Ditempat yang Biasa Disebut Masjid, Bolehkah?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 9 April 2015, 21:21 | 8.792 views
Bolehkah Bagi Musafir, Shalat Jum'at Dijama' Dengan Shalat Ashar?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 27 March 2015, 11:02 | 9.741 views
Berguru Kepada Mesin Pencari Gugel
Ahmad Zarkasih, Lc | 23 March 2015, 22:42 | 8.354 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Berilmu Sebelum Berutang
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 27 August 2018, 08:40 | 5.295 views
Fiqih Pinjam-meminjam
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 23 August 2018, 21:49 | 33.030 views
Qardh dan Dain, Jenis Utang yang Serupa Tapi Tak Sama
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 30 August 2017, 11:29 | 9.138 views
Bolehkah Melebihkan Pembayaran Utang dengan Alasan Inflasi?
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 20 August 2017, 23:24 | 8.827 views
Benarkah Go-Food Haram?
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 16 July 2017, 22:27 | 35.286 views
Ketika Ulama Tidak Mengamalkan Hadits
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 26 December 2016, 13:20 | 3.874 views
Ustadz Sunnah dan Ustadz Tidak Sunnah?
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 8 December 2016, 09:00 | 7.216 views
Bolehkan Berwasiat Untuk Ahli Waris?
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 1 May 2015, 15:55 | 15.682 views
Benarkah Tubuh Wanita Haid Itu Najis?
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 16 February 2015, 00:01 | 10.969 views
Satu Keluarga Meninggal Bersamaan, Bagaimana Cara Pembagian Warisnya?
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 25 January 2015, 19:12 | 7.445 views
Bagian Waris Anak Angkat
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 28 November 2014, 17:35 | 5.815 views
Islamisasi Atau Arabisasi?
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 12 April 2014, 08:01 | 9.291 views
Hadits-hadits Yang Saling Bertentangan
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 6 April 2014, 12:00 | 17.048 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA59 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA48 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA23 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Galih Maulana, Lc15 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc13 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Isnawati, Lc., MA9 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Siti Chozanah, Lc7 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Maharati Marfuah Lc4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan
Luki Nugroho, Lc0 tulisan
Nur Azizah, Lc0 tulisan
Wildan Jauhari, Lc0 tulisan
Syafri M. Noor, Lc0 tulisan
Ipung Multinigsih, Lc0 tulisan
Solihin, Lc0 tulisan
Teuku Khairul Fazli, Lc0 tulisan

Jadwal Shalat DKI Jakarta

22-11-2019
Subuh 04:04 | Zhuhur 11:40 | Ashar 15:04 | Maghrib 17:55 | Isya 19:08 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img