Ibnu Hajar Al-Asqalani: Ulama Syafii yang Membidahkan Maulid | rumahfiqih.com

Ibnu Hajar Al-Asqalani: Ulama Syafii yang Membidahkan Maulid

Muhammad Aqil Haidar, Lc Fri 9 December 2016 08:34 | 3413 views

Bagikan via

         Mendengar nama Ibnu Hajar al-Asqalani maka yang terlintas di benak adalah seorang ulama besar abad 9 hijriah yang mendapat gelar “amirul mu’minin fil hadist”.  Yaitu gelar paling tinggi dalam jajaran ulama hadist. Beliau juga salah satu faqih yang menjadi rujukan penting  bagi mazhab Syafi'i.  

        Salah satu karyanya yang terkenal adalah kitab Fathul Bari, yang merupakan penjelasan dari kitab Shahih Bukhari dan disepakati sebagai kitab penjelasan Shahih Bukhari yang paling detail yang pernah dibuat. Selain Fathul Bari beliau juga menulis lebih dari 150 kitab lainya yang sebagian besar membahas ulumul hadist.

Pendapat Ibnu Hajar al-Asqalani Tentang Maulid Nabi

          Jalaluddin As-Suyuthi ( w 911 H) mengatakan:

وقد سئل شيخ الإسلام حافظ العصر أبو الفضل ابن حجر عن عمل المولد، فأجاب بما نصه: أصل عمل المولد بدعة لم تنقل عن أحد من السلف الصالح من القرون الثلاثة

Syaikhul Islam, Hafihz al-‘asr, Abul Fadhl, Ibnu Hajar al-Asqalani ditanya tentang perayaan maulid. Beliau menjawab: Asal muasal perayaan maulid adalah bidah. Tidak ada contoh dari salaf as-sholih pada 3 generasi pertama setelah Rasulullah. [1]

          Dalam pernyataan tersebut dengan jelas sang Imam menyebut amalan maulid adalah bidah yang tidak ada contohnya dari salaf as-sholih. Namun fakta yang terjadi adalah mayoritas penduduk muslim Indonesia yang notabene bermadzhab syafii, masih ikut merayakan maulid baginda Rasulullah SAW. Sampai-sampai tanggal 12 Robiul Awal ditetapkan sebagai hari libur nasional. Apakah mereka tidak mengetahui tentang pendapat imamnya tersebut,  sehingga tetap merayakan maulid sampai saat ini? Bukankah sudah dijelaskan bahwa maulid tidak ada contohnya dan hukumnya bidah? Ataukah pendapat sang Imam sudah tidak dianggap lagi?

Bidah bukan sebuah hukum

          Salah satu yang sering keliru di masyarakat awam adalah anggapan bahwasanya bidah adalah sebuah hukum. Sehingga ketika mereka ditanya tentang hukum suatu amalan yang belum ada pada zaman Rasulullah SAW mereka menjawab “hukumnya bidah”.  Maka jawaban seperti ini bisa dikatakan tidak memberikan jawaban, namun hanya mengulangi pertanyaan. Karena sesuatu yang tidak ada pada zaman nabi ya disebut bidah. Seperti yang dikatakan Ibnu Hajar:

وكل ما لم يكن في زمنه يسمى بدعة

Dan setiap yang tidak ada pada zaman nabi, disebut sebagai bidah.[2]

Dalam kitab ushul fiqih disebutkan bahwa hukum taklifi hanya ada 5. Yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram. Maka semua perbuatan kita baik yang dzohir ataupun batin, tidak pernah lepas dari salah satu hukum yang 5 tersebut, tidak terkecuali perayaan maulid nabi yang disebut bidah karena tidak ada contohnya. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa bidah adalah sesuatu yang membutuhkan hukum, dan bukan hukum itu sendiri. Lantas apa hukum bidah?

Hukum Bidah Menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani

          Dalam kitab Fathul Bari, Ibn Hajar mengatakan:

وكل ما لم يكن في زمنه يسمى بدعة لكن منها ما يكون حسنا ومنها ما يكون بخلاف ذلك

Dan setiap yang tidak ada pada zaman nabi, disebut sebagai bidah. Akan tetapi bidah ada yang hasan (baik) dan ada juga sebaliknya (tidak baik). [3]

          Dari perkataanya tersebut, kita temukan Ibnu Hajar membagi bidah menjadi dua. Ada bidah hasanah (baik) ada pula sebaliknya yaitu bidah sayyiah (buruk). Dan kalau kita kembalikan kepada hukum taklifi yang lima di atas, bisa disimpulkan bahwa bidah hasanah hukumnya tidak keluar dari wajib dan sunnah, sedangkan bidah sayyiah hukumnya antara haram atau makruh, dan diantara keduanya ada bidah yang mubah. Seperti yang dijelaskan oleh Izzudin Bin Abdissalam (w 660 H):

البدعة منقسمة إلى: بدعة واجبة، وبدعة محرمة، وبدعة مندوبة، وبدعة مكروهة, وبدعة مباحة.

Bidah terbagi menjadi: bidah wajib, bidah haram, bidah mandub (sunnah), bidah makruh dan bidah mubah.[4]

          Terus bagaimana cara membedakan bidah hasanah dan bidah sayyiah? Maka pertanyaan itu sudah dijawab oleh Imam Muhammad Bin Idris As-Syafii (204 H) sang pendiri madzhab syafii dengan mengatakan:

قال الشافعي البدعة بدعتان محمودة ومذمومة فما وافق السنة فهو محمود وما خالفها فهو مذموم

Imam Syafii berkata: Bidah itu ada dua, mahmudah (terpuji) dan mdzmumah (tercela). Bidah yang sesuai dengan sunnah maka bidah yang terpuji, dan bidah yang menyelisihi sunnah adalah bidah yang tercela.[5]

Pembagian tersebut berdasarkan mafhum dari sebuah hadist yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim dari Sayyidah ‘Aisyah:

" مَن أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد"

Barang siapa yang melakukan hal baru, dalam urusan kami (agama) yang tidak ada sandaranya maka tertolak. (HR. Bukhori Muslim)[6]

Dari hadist ini dapat kita fahami bahwa sesuatu yang baru atau muhdast akan tertolak jika tidak ada sandaranya dalam syariat. Maka sesuatu yang ada sandaranya meskipun ia baru atau muhdast, tidak tertolak. Sehingga tolok ukurnya adalah ada tidaknya Ashl atau landasan syariatnya.

Kembali ke pembahasan pertama, yaitu perayaan maulid nabi. Jika dikatakan maulid adalah bidah karena tidak ada contoh dari nabi dan para sahabat, maka jawabanya adalah iya. Semua ulama sepakat akan hal itu. Namun yang terpenting adalah, setelah kita sepakat bahwa maulid adalah bidah, masuk dalam bidah hasanah atau madzmumah kah maulid?

        Ibnu Hajar mengatakan dalam pembahasan maulid:

ولكنها مع ذلك قد اشتملت على محاسن وضدها، فمن تحرى في عملها المحاسن وتجنب ضدها كان بدعة حسنة وإلا فلا

Meskipun demikian, maulid mengandung banyak kebaikan dan juga sebaliknya. Barang siapa mencari kebaikan maulid dan menjauhi keburukanya, maka maulid adalah bidah hasanah. Namun ketika sebaliknya ( Lebih mencari kejelekan dan menjauhi kebaikan maulid) maka termasuk bidah madzmumah. [7]

 

Kesimpulan

Maulid nabi merupakan sebuah bidah yang bisa menjadi bidah hasanah bisa juga menjadi bidah madzmumah. Tergantung dari apa yang dikerjakan dalam maulid tersebut. Jika maulid diisi dengan kebaikan (mengingatkan  kembali perjuangan nabi, bersedekah,  dan lain-lain) maka menjadi bidah hasanah. Namun jika maulid diisi dengan maksiat (ikhtilath laki-laki dan perempuan, jadi meninggalkan shalat dan sebagainya) maka menjadi bidah madzmumah.

Wallohu A’lam

 


[1] Jalaluddin as-Suyuthi, al-Hawi lil Fatawa (1/ 229)

[2] Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari (2/ 394)

[3] Ibid

[4] Izzuddin Abdul Aziz bin Abdis Salam, Qowaidul Ahkam fi Masholihil Anam (2/ 204)

[5] Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari (13/ 253)

[6] Muhammad bin Ismail al-Bukhori, Shohih al-Bukhori (3/ 184)

[7]Jalaluddin as-Suyuthi, al-Hawi lil Fatawa (1/ 229)

Bagikan via


Baca Lainnya :

Ustadz Sunnah dan Ustadz Tidak Sunnah?
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 8 December 2016, 09:00 | 2.759 views
Sebab-Sebab Perbedaan Ulama Fiqih
Muhammad Ajib, Lc., MA | 7 December 2016, 00:00 | 1.504 views
Benarkah Madzhab Maliki Membolehkan Wanita Haidh Membaca Al-Quran?
Isnawati, Lc | 6 December 2016, 11:05 | 1.509 views
Faidah Fiqih Dari Kisah Nabi Khidhr dan Musa AS
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 December 2016, 06:29 | 1.456 views
Lebih Utama Tidak Berbeda
Ahmad Zarkasih, Lc | 4 December 2016, 17:36 | 1.836 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Ibnu Hajar Al-Asqalani: Ulama Syafii yang Membidahkan Maulid
Muhammad Aqil Haidar, Lc | 9 December 2016, 08:34 | 3.413 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA52 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA46 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Galih Maulana, Lc14 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc11 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA11 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Isnawati, Lc8 tulisan
Siti Chozanah, Lc6 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan