Konsep Promosi Produk menurut Perspektif Hukum Islam | rumahfiqih.com

Konsep Promosi Produk menurut Perspektif Hukum Islam

Tajun Nashr, Lc Tue 13 December 2016 05:00 | 945 views

Bagikan via

Promosi merupakan salah satu unsur penting dalam pemasaran (marketing) selain beberapa unsur penting lainnya seperti Produk (Product), Tempat (Place), Harga (Price) dan SDM (People). Di mana para Ahli Ekonomi mengistilahkannya dengan 5 P. Meskipun dalam perspektif syariat islam ada 1 P lagi yang tidak boleh dilupakan oleh seseorang ketika akan memulai usahanya, yaitu Pray atau doa. Dimana unsur ini adalah faktor X yang bisa sangat mempengaruhi kesuksesan seseorang dalam menjalankan usahanya.

Promosi atau dalam istilah ekonomi islam disebut dengan at-tarwij (الترويج) adalah merupakan usaha yang dilakukan oleh pembeli atau produsen untuk memperkenalkan produknya kepada konsumen dan mempengaruhi mereka untuk membelinya, baik dilakukan sebelum transaksi maupun sesudahnya.[1]

Usaha-usaha yang dilakukan oleh seseorang dalam melakukan promosi tentunya bermacam-macam, mulai dari cara yang biasa-biasa saja sampai cara yang cukup luar biasa. Mulai dari ala kadarnya sampai yang didesain sedemikian rupa, apalagi di zaman yang sudah canggih ini tentunya sarana dan pra-sarana yang ada untuk melakukan promosi produk tentunya semakin mudah. Sehingga sebagai seorang muslim, usaha-usaha tersebut memerlukan batasan dan patokan agar tidak bertentangan dengan tujuan syari’at islam secara umum, yaitu untuk mewujudkan kemaslahatan dan menghilangkan kerusakan bagi ummat manusia.

Maka menarik untuk dikaji sebenarnya apa dan bagaimana konsep promosi dalam perspektif hukum islam? Yaitu mulai dari hukum promosi dalam islam sampai ke etika-etika dalam promosi yang sesuai dengan hukum atau syari’at islam? Pada artikel berikut ini akan dibahas secara singkat :

Hukum Asal Promosi

Esensi dari promosi produk, sebagaimana disebutkan sebelumnya adalah usaha yang dilakukan oleh seorang pemasar dengan menunjukkan kelebihan dari produk yang ingin dipasarkan baik berupa barang maupun jasa dengan tujuan menarik minat konsumen untuk membeli produk yang ditawarkan.

Dari sini bisa diklasifikasikan bahwasanya bentuk pujian dan sanjungan itu ada yang berupa pujian dan sanjungan yang sesuai dengan kenyataan dan ada juga pujian dan sanjungan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Dua macam bentuk promosi ini memiliki pembahasan dan hukum tersendiri jika ditinjau dari syari’at islam. Berikut ini ulasan lengkapnya.

Hukum Promosi yang Sesuai Kenyataan[2]

Hukum melakukan jenis promosi ini adalah mubah atau dibolehkan, terutama jika dalam promosi yang dilakukan terdapat usaha untuk menginfokan kepada konsumen akan detail barang maupun jasa yang akan dibeli.[3]

Dalil mengenai dibolehkannya promosi jenis ini antara lain :

"Hukum asal dalam masalah muamalat adalah halal dan mubah selama tidak ada dalil yang menunjukkan pada keharamannya"

Sementara itu tidak ada satu dalil pun dan Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma’ maupun Qiyas yang menunjukkan terlarangnya promosi produk atau iklan yang dilakukan oleh penjual.

Syari’at Islam tidak mengharamkan semua yang dibutuhkan oleh manusia dan berkaitan dengan kemaslahatan kehidupan mereka, jika kemaslahatan tersebut lebih besar dari madharatnya.

Jika hal ini diharamkan maka akan menyebabkan kesulitan, dan dalam syariat islam kesulitan itu harus dihilangkan.[4]

Sudah tidak menjadi rahasia lagi bahwasanya iklan dan promosi adalah sarana yang dibutuhkan oleh para penjual atau produsen terutama ketika kita melihat realitas pasar perdagangan masa kini yang menampilkan sangat banyak sekali berbagai macam produk baik barang maupun jasa.

Realitas ini bisa membuat konsumen bingung menentukan pilihannya ketika akan membeli suatu produk. Sehingga fungsi dari adanya promosi adalah untuk memperkenalkan keistimewaan dan karakteristik serta manfaat dari barang yang dijual.

Dengan mengetahui diferensiasi antara barang bisa membuat konsumen lebih mudah menentukan pilihan dan menghilangkan kebingungan mereka sehingga mereka bisa mengambil keputusan yang tepat ketika akan membeli sebuah produk.

Promosi produk juga memiliki pengaruh besar dalam peningkatan kualitas dan kuantitas produk serta berfungsi untuk memperkenalkan tempat, produsen dan pemilik produk tersebut.

"Pekerjaan yang dilakukan dalam promosi dianalogikan dengan dallal"

      Dallal adalah orang yang berprofesi sebagai penunjuk toko yang menjual barang tertentu di pasar kepada orang yang akan belanja.[5] Para ulama memperbolehkan pekerjaan ini, begitu juga pekerjaan ini sudah turun temurun dilakukan oleh ummat islam dari masa ke masa dan tidak ada seorang ulama’ pun yang mengingkarinya.[6]

Ini menunjukkan bahkan profesi yang dilakukan oleh seorang sales atau promotor merupakan pekerjaan yang dibolehkan dan turun temurun dilakukan tanpa adanya pengingkaran.[7]

"Di dalam promosi terdapat unsur menunjukkan kelebihan produk"

Di dalam syari’at islam seseorang dibolehkan menyebutkan keistimewaan dan kelebihan yang ada pada dirinya ketika ada maslahat besar yang mendorong hal tersebut. Misalnya untuk memperkenalkan diri kepada orang yang belum mengenalnya atau kemaslahatan lain yang sejenis.[8]

Di antaranya bisa kita lihat apa yang dikisahkan Allah dalam Al-Qur’an mengenai Nabi Yusuf –‘alaihissalam-ketika beliau berkata kepada Raja:

اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ

“… Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan".” (QS. Yusuf : 55)

Hal ini juga berlaku terhadap pujian yang diberikan seseorang kepada barang atau jasa yang dia jual, dan tentunya hal ini lebih dibolehkan lagi dari memuji diri sendiri. Sebab pada dasarnya hukum asal memuji diri sendiri itu terlarang kecuali karena ada maslahat tertentu seperti yang disebutkan di atas. Hal ini berdasarkan firman Allah

فَلا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ

“… Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci…” (QS. An-Najm : 32)

Sedangkan pujian seseorang terhadap produk yang dia jual berbeda, karena tidak ada dalil yang melarang dan mengharamkannya, sebaliknya hukum asal dari pujian jenis ini dibolehkan.

Hukum Promosi yang Mengandung Tipuan dan Konsekuensinya terhadap Konsumen

Ada dua macam bentuk yang bisa dikategorikan dalam promosi yang mengandung tipuan :

  1. Penipuan terang-terangan terhadap konsumen, yaitu demgan mempromosikan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada pada produk.
  2. Penipuan secara samar terhadap konsumen. Yaitu dengan memberikan info kepada konsumen mengenai produk dengan bahasa-bahasa yang bisa mengandung unsur penipuan seperti berusaha menutupi aib atau menggunakan bahasa yang bisa mengelabuhi konsumen.

Terdapat banyak dalil dari Al-Quran maupun As-Sunnah serta Ijma’ tentang diharamkannya dua jenis promosi palsu tersesbut. Bahkan setiap ucapan maupun perbuatan yang bisa menjerumuskan konsumen untuk menduga bahwa pada produk yang akan dibeli itu ada kelebihan-kebihan yang sebenarnya tidak ada padanya juga termasuk hal yang diharamkan.[9]

Dalil-dalil pengharaman tersebut antara lain :

1. Dari Al-Qur’an

  • Surat An-Nisa’ : 29

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إلاّ أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ...

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu…”

Dalam ayat tersebut Allah mengharamkan memakan harta dengan cara yang batil, kecuali jika dengan jalan perdagangan yang dilakukan atas dasar suka rela dari kedua belah pihak. Tidak diragukan lagi bahwa orang yang membeli produk sebab tertipu dengan promosi yang dilakukan maka dia tentunya tidak rela ketika mengetahui yang sebenarnya.

Maka jual beli apapun yang mengandung unsur penipuan dan pengelabuhan termasuk ke dalam memakan harta dengan cara yang batil.

  • Surat Ali Imran : 77

إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَناً قَلِيلاً ...

“Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit…”

Ayat ini diturunkan berkaitan dengan orang yang menyamarkan kondisi real dari barang dagangannya di pasar, sedangkan dia bersumpah demi Allah bahwasanya barang tersebut adalah barang kualitas terbaik, dengan tujuan ada orang islam yang tertipu dengan yang dilakukan disebabkan sumpah palsu dari penjual tersebut.[10]

Ini menunjukkan diharamkannya seseorang yang melakukan sumpah dusta agar dagangannya laris dan dibeli orang lain.[11]

2. Dari As-Sunnah

  • Hadits pertama

Rasulullah -shallallahu 'alahi wa sallam- bersabda kepada penjual makanan yang menampakkan makanan yang baik, sementara yang kualitas buruk disamarkan,

((أفلا جعلته فوق الطعام ليراه الناس، من غش فليس مني))

 “Mengapa kamu tidak menampakkan pula yang kualitas rendah itu agar orang-orang bisa mengetahuinya. Siapa saja yang suka menipu maka dia bukan golonganku.” [12]

Nabi -shallallahu 'alahi wa sallam- melarang penjual makanan melakukan penyamaran barang dagangan dengan cara memperlihatkan barang kualiatas baik di atas, sementara yang rentah diletakkan di bawahnya dengan tujuan menipu. Ini menunjukkan larangan bagi penjual untuk menampakkan sifat tidak sesuai dengan  produk yang dia jual. baik hal tersebut dilakukan dengan ucapan maupun perbuatan. [13]

  • Hadits kedua

Dari Ibnu ‘Umar -radhiyallahu 'anhuma- beliau berkata :

نهى رسول الله - صلى الله عليه وسلم - عن النجش.

“Rasulullah -shallallahu 'alahi wa sallam- melarang melakukan transaksi Najsy.” [14]

Yang dimaksud dengan Najsy dalam transaksi jual beli adalah pujian yang berlebihan yang dilakukan seseorang terhadap suatu produk dengan tujuan agar harga barang tersebut bisa menjadi tinggi dan lebih laris terjual.

Biasamya dia akan menawar produk tadi dengan harga yang tinggi, padahal dia tidak ingin membeli barang tersebut, sebab tujuannya agar ada pembeli lain yang akhirnya menawar barang tersebut dengan harga yang lebih tinggi darinya.

Dalam hadits ini Nabi -shallallahu 'alahi wa sallam- melarang melakukan transaksi Najsy yang mengandung unsur pengelabuhan. Ini menunjukkan bahwa segala transaksi yang terdapat tipu muslihat dengan cara memuji barang dagangan yang tidak sesuai kenyataannya hukumnya haram.[15]

  • Hadits ketiga,

Rasulullah -shallallahu 'alahi wa sallam- bersabda :

لاتُصَرُّوا الإبل والغنم، فمن ابتاعها بعد فإنه بخير النظرين بعد أن يحتلبها، إن شاء أمسك، وإن شاء ردها وصاعاً من تمر.

“Janganlah kalian melakukan tasriyah terhadap unta dan kambing yang kalian jual. Jika ada orang yang membelinya maka dia boleh memilih di antara dua hal setelah memerah air susunya, jika mau dia boleh melanjutkan jual beli, dan jika mau dia boleh mengembalikannya dengan menyertakan 1 sha’ kurma (sebagai ganti susu yang diperah).”[16]

Yang dimaksud dengan tasriyah adalah membiarkan air susu binatang ternak tidak diperah ketika akan dijual sehingga binatang tersebut terlihat memiliki air susu yang banyak untuk menarik pembeli.

Pada hadits ini nabi -shallallahu 'alahi wa sallam- melarang melakukan tasriyah karena di sana terdapat untuk penyamaran dan penipuan kepada pembeli. Yaitu menampakkan seolah-oleh air susu binatang tadi banyak. Ini menunjukkan bahwa segala bentuk penyamaran dan penipuan itu merupakan hal yang terlarang.[17]

3. Ijma’ Ulama :

Banyak ulama yang menyebutkan bahwa telah ada ijma’ tentang haramnya jenis promosi yang mengandung unsur penipuan yang di dalamnya terdapat pengelabuhan, penyamaran maupun menyebutkan sifat yang tidak sesuai dengan kondisi produk yang dijual. [18]                      

Demikian hukum yang terkait dengan promosi dan berbagai jenisnya. Pada tulisan berikutnya, insya Allah akan kami jelaskan etika-etika promosi menurut perspektif hukum islam.

 

===============

[1] Lihat : Al-Usus Al-Muashirah fi at-taswiq, hal. 67, Mabadi at-Taswiq, Dr. Ubaidat, hal. 293, At-Taswiq (An-Nadhariyah wa At-Thathbiq, Dr. Al-‘Ashi, hal. 383.

[2] Lihat : Al-Hawafiz Al-Tijariyyah fi Al-Fiqh Al-Islami hal. 174.

[3] Lihat: Ihya’ Ulum Ad-Din jilid 2 hal. 75, Ma’alim Al-Qurbah fi Ahkam Al-Hisbah hal. 72,

[4] Lihat: Majmu’ Al-Fatawa, vol. 29, 64 dan 227.

[5] Lihat: At-Tartib Al-Idariyyah, vol.2, 57.

[6] Lihat: Ibn Nujaim, Al-Ashbah wa Al-Nadhair, 270. Al-Fawakih Al-Dawani, vol. 2., 161.

[7] Lihat: Al-Wisathah Al-Tijariyyah fi Al-Mu’amalat Al-Maliyyah, 69.

[8] Lihat: Al-Qurtubi, Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran, vol. 9, 215-217.

[9] Lihat: I’lau Al-Sunan, vol. 14, 53. ‘Aqd Al-Jawahir Al-Thamaniyyah, vol. 2, 475.

[10] Sabab nuzul ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari hadth Abdullah bin Ubay bin Abi Aufa dalam kitab Al-Buyu’, bab Sumpah yang Makruh dalam Jual beli, hadits no. 2088, vol.2, 88.

[11] Lihat: ‘Umdat Al-Qari, vol. 11, 206.

[12] HR. Muslim, Kitab Al-Iman, no. 102 vol. 1, 99.

[13] Lihat : Al-Hawi Al-Kabir, vol. 5, 269. Ihya’ Ulum Ad-Din, vol.2, 75.

[14] HR. Al-Bukhari, Kitab Jual Beli, Bab An-Najsy, no. 2142, vol. 2, 100.

[15] Lihat : Ibn Abd Al-Barr, Al-Tamhid, vol.13, 348.

[16] Hadits ini dari Abu Hurairah Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dengan lafadh ini pada kitab Al-Buyu’, bab boleh mengembalikan Musarrah, no. 2148, vol.2, 102.

[17] Lihat: Al-Baghawi, Syarh Al-Sunnah, vol.8, 167. Al-Mughni, vol. 6, 215.

[18] Para Ulama yang menyebutkan ijma ini antara lain : Al-Marizi (dalam Al-Mu’allim bifawaidi Muslim, vol.2, 248.) Badruddin Al-‘Aini, (dalam ‘Umdah Al-Qari, vol. 11, 273.) Asy-Syaukani (dalam Nail Al-Awtar, vol. 6, 304.) dan Ibn Hazm, (dalam Maratib Al-Ijma’, 102)

Bagikan via


Baca Lainnya :

Sahkah Sholat Di Belakang Imam Yang Fasik?
Faisal Reza | 11 December 2016, 14:16 | 1.162 views
Maulid Nabi, Bagaimana Sikap Kita?
Galih Maulana, Lc | 10 December 2016, 06:02 | 3.492 views
Ibnu Hajar Al-Asqalani: Ulama Syafii yang Membidahkan Maulid
Muhammad Aqil Haidar, Lc | 9 December 2016, 08:34 | 3.414 views
Ustadz Sunnah dan Ustadz Tidak Sunnah?
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 8 December 2016, 09:00 | 2.759 views
Sebab-Sebab Perbedaan Ulama Fiqih
Muhammad Ajib, Lc., MA | 7 December 2016, 00:00 | 1.504 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Puasa Syawwal ; Apa dan Bagaimana
Tajun Nashr, Lc | 30 June 2017, 06:37 | 804 views
Imam Abu Hanifah ; Antara Ilmu dan Perniagaan (Bagian-2)
Tajun Nashr, Lc | 15 May 2017, 05:00 | 661 views
Imam Abu Hanifah ; Antara Ilmu dan Perniagaan (Bagian-1)
Tajun Nashr, Lc | 14 May 2017, 05:00 | 714 views
Qunut Nazilah ; Apa dan Bagaimana
Tajun Nashr, Lc | 7 January 2017, 05:00 | 1.385 views
Etika Dalam Melakukan Promosi Produk
Tajun Nashr, Lc | 16 December 2016, 05:00 | 1.207 views
Konsep Promosi Produk menurut Perspektif Hukum Islam
Tajun Nashr, Lc | 13 December 2016, 05:00 | 945 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA52 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA46 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Galih Maulana, Lc14 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc11 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA11 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Isnawati, Lc8 tulisan
Siti Chozanah, Lc6 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan