Etika Dalam Melakukan Promosi Produk | rumahfiqih.com

Etika Dalam Melakukan Promosi Produk

Tajun Nashr, Lc Fri 16 December 2016 05:00 | 1206 views

Bagikan via

 

Setelah dijelaskan pada bagian sebelumnya mengenai bagaimana hukum melakukan promosi dalam perspektif hukum islam, maka secara lebih rinci ada hal-hal yang harus dijaga oleh seorang pedagang agar promosi yang dilakukan itu tidak masuk ke dalam promosi yang terlarang.

Hal ini tentunya dengan menaati rambu-rambu yang ada. Inilah yang disebut dengan etika promosi, hal ini perlu dijaga karena berkaitan dengan hubungan dengan konsumen sehingga tidak ada pihak yang dirugikan, dimana mewujudkan keadilan adalah merupakan salah satu tujuan dari diturunkannya syariat islam.

Etika-etika tersebut antara lain :

1. Niat yang baik dari pedagang

Hal ini melalui maindset berfikir bahwasanya tujuan pokok dari promosi produk adalah untuk memperkenalkan kelebihan dari produk yang dimiliki serta memberikan pelayanan yang memuaskan kepada konsumen. Sehingga pedagang akan memberikan info yang lengkap kepada konsumen mengenai produk tadi ketika konsumen ingin mencari tahu secara detail.[1]

2. Tidak mudah mengobral sumpah

Dalam berpromosi atau beriklan janganlah mudah mengucapkan janji sekiranya janji tersebut tidak bisa  ditepati.  Dari Abu Qatadah Al-Anshari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالْحَلِفَ فِي الْبَيْعِ فَإِنَّهُ يُنَفِّقُ ثُمَّ يَمْحَقُ

“Hati-hatilah dengan banyak bersumpah dalam menjual dagangan karena ia memang melariskan (dagangan), namun malah menghapuskan (keberkahan)”.[2]

Bersumpah secara berlebihan dilarang dalam etika promosi Islam, mengobral sumpah tanpa sesuai dengan yang sesungguhnya dapat merusak nilai-nilai Islami. Sebab banyak dewasa ini perusahaan-perusahaan yang berpromosi dengan melebih-lebihkan dalam berkata  melalui iklan. Allah ta’ala da Rasul-Nya telah memberikan aturan dan larangan mengenai hal ini.

3. Menjaga agar selalu memenuhi akad dan janji serta kesepakatan- kesepakatan di antara kedua belah pihak (pembeli dan penjual).

Sebagaimana Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ أُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيمَةُ الْأَنْعَامِ إِلَّا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ

“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu  (yang demikian itu). Dihalalkan bagimu binatanag ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak  menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji.  Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.”. [3]

4. Berpegang teguh kepada kejujuran dalam promosi yang dilakukan

Kejujuran adalah salah satu asas pokok dalam semua muamalat, terutama jual beli. Prakteknya adalah promosi dengan mengabarkan produk yang dijual sesuai dengan kenyataan barang maupun jasa yang ada.

Rasulullah -shallallahu 'alahi wa sallam- bersabda,

الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

“Orang yang melakukan transaksi itu boleh melakukan khiyar selama mereka belum berpisah, jika mereka berdua jujur dan terus terang maka akan diberkahi transaksi yang dilakukan, namun jika mereka berbohong dan melakukan penyamaran maka keberkahan transaksi mereka akan ditahan “[4]

Bentuk lain dari kejujuran ini antara lain menjauhi sikap berlebih-lebihan dalam mendeskripsikan produk yang dijual.[5] Karena hal itu bisa menjauhkan diri dari sifat kejujuran.

Rambu-rambu dalam masalah ini adalah seorang penjual tidak dibolehkan untuk melakukan sesuatu yang nanti bisa membuat orang yang membelinya menyesal di kemudian hari ketika mengetahuinya.

5. Menghindari penipuan dan manipulasi dalam iklan dan promosi yang dilakukan

Berbagai iklan di media televisi atau dipajang di media cetak, media indoor maupun  outdoor, atau lewat radio sering kali memberikan keterangan palsu. Model promosi tersebut melanggar akhlaqul karimah. Islam sebagai agama yang menyeluruh, mengatur tata cara hidup manusia, setiap bagian tidak dapat dipisahkan  dengan bagian yang lain. Demikian pula pada proses  marketing, jual beli  harus berdasarkan etika Islam.

Bentuk manipulasi tersebut antara lain dengan menunjukkan seakan-akan produk yang dijual itu sangat bagus atau menyamarkan aibnya. Atau memuji produknya dengan hal yang tidak ada padanya. Semua itu termasuk hal yang tidak dibolehkan.[6]

6. Tidak melakukan celaan atau kampanye buruk terhadap produk orang lain yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah -shallallahu 'alahi wa sallam- :

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak sempurna keimanan salah seorang dari kalian sampai dia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” [7]

Patokan dalam hal ini adalah kita dilarang melakukan sesuatu kepada orang lain yang jika hal tersebut dilakukan orang lain ke kita maka kita tidak suka atau merasa dirugikan maupun tersakiti.[8] Hal ini juga berdasarkan sabda Rasulullah -shallallahu 'alahi wa sallam- :

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan diri sendiri atau membahayakan orang lain.”[9]

7. Dalam iklan dan promosi yang dilakukan tidak ada hal-hal yang mengajak pada foya-foya dan hura-hura

Ini karena hal tersebut termasuk hal yang dilarang dalam syari’at islam. Sebagaimana firman Allah :

... وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“… dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”[10]

Dan Firman Allah :

... وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيراً. إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ...

…dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan…”[11]

8. Iklan dan Promosi yang dilakukan tidak menodai hal-hal yang suci dalam syari’at islam

Contohnya penggunaan-penggunaan hal-hal yang diharamkan dalam rangka promosi yang dilakukan seperti menggunakan bintang iklan yang mengumbar auratnya baik berbentuk audio, visual maupun audio-visual.[12]

9. Hendaknya iklan dan promosi yang dilakukan tidak menghabiskan biaya yang terlalu besar sehingga nanti biaya dari promosi yang dilakukan tersebut menjadi tanggungan konsumen.

Namun sebaliknya, promosi yang dilakukan harus proporsional dari sisi biaya yang dikeluarkan, yang terpenting adalah tujuan utama darinya yaitu untuk memperkenalkan produk yang dimiliki pembeli baik berupa barang atau jasa bisa tercapai. Dengan demikian hal tersebut tidak membuat produsen menaikkan harga karena biaya promosi tersebut.[13]

10. Konsumen adalah mitra sejajar

Konsumen dalam pedagangan syari’ah diletakkan sebagai mitra sejajar, dimana baik perusahaan sebagai penjual prduk maupun konsumen sebagai pembeli produk berada pada posisi yang sama. Perusahaan tidak menganggap konsumen sebagai “sapi perah” untuk membeli produknya, namun perusahaan akan menjadikan konsumen sebagai mitra dalam pengembangan persahaan.

Berbeda dalam pedagangan konvensional, konsumen diletakkan sebagai obyek untuk mencapai target penjualan semata. Konsumen dapat dirugikan karena ntara janji dan realitas seringkali berbeda. Perusahaan setelah mendapatkan target penjualan, akan tidak mempedulikan lagi konsumen yang telah membeli produknya tanpa memikirkan kekecewaan atas janji produk.

Demikianlah adab-adab atau etika-etika yang harus dipegang teguh oleh seorang muslim dalam melakukan promosi untuk produk mereka. Sebagai seorang muslim, para pedagang harus sadar bahwasanya tujuan utama dari transaksi yang mereka lakukan tidak hanya mencari keuntungan duniawi semata, namun transaksi tersebut jika diniatkan untuk melakukan ibadah kepada Allah, insya Allah akan dicatat sebagai pahala kebaikan. 

 


[1] Ihya’ Ulumuddin jilid 2 hal. 75

[2] HR. Ibnu Majah, hadits no. 1808

[3] Q.S. Al-Maidah : 1

[4] HR. Al-Bukhari, Bab Al-Bayyi’ani bi Al-Khiyar, no. 2110, vol. 5, 309. 

[5][5] Fiqh Iqtishad As-Suq (An-Nasyath Al-Khash) hal. 200-201

[6] Tuhfat Al-Muhtaj hal. 204-207

[7] HR. Al-Bukhari dalam Kitab Al-Iman. no. 13, vol. 1, 17

[8] Ihya ulumuddin jilid 1 hal 74 s.d. 75

[9] HR. Ahmad, Musnad Abdullah bin ‘Abbas, no. 2865, vol. 5, 55.

[10] Al-An’am : 141

[11] Al-Isra’ : 26-27

[12] Bahts : Al-I’lan wa Wasail Al-A’lam wa Dlawabithuhu Al-Islamiyah karya Ahmad Adl-Dlulaimi hal. 84 s.d. 93

[13] Adab As-Suq fi Al-Islam hal. 63

Bagikan via


Baca Lainnya :

Konsep Promosi Produk menurut Perspektif Hukum Islam
Tajun Nashr, Lc | 13 December 2016, 05:00 | 945 views
Sahkah Sholat Di Belakang Imam Yang Fasik?
Faisal Reza | 11 December 2016, 14:16 | 1.161 views
Maulid Nabi, Bagaimana Sikap Kita?
Galih Maulana, Lc | 10 December 2016, 06:02 | 3.492 views
Ibnu Hajar Al-Asqalani: Ulama Syafii yang Membidahkan Maulid
Muhammad Aqil Haidar, Lc | 9 December 2016, 08:34 | 3.413 views
Ustadz Sunnah dan Ustadz Tidak Sunnah?
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 8 December 2016, 09:00 | 2.759 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Puasa Syawwal ; Apa dan Bagaimana
Tajun Nashr, Lc | 30 June 2017, 06:37 | 804 views
Imam Abu Hanifah ; Antara Ilmu dan Perniagaan (Bagian-2)
Tajun Nashr, Lc | 15 May 2017, 05:00 | 661 views
Imam Abu Hanifah ; Antara Ilmu dan Perniagaan (Bagian-1)
Tajun Nashr, Lc | 14 May 2017, 05:00 | 714 views
Qunut Nazilah ; Apa dan Bagaimana
Tajun Nashr, Lc | 7 January 2017, 05:00 | 1.384 views
Etika Dalam Melakukan Promosi Produk
Tajun Nashr, Lc | 16 December 2016, 05:00 | 1.206 views
Konsep Promosi Produk menurut Perspektif Hukum Islam
Tajun Nashr, Lc | 13 December 2016, 05:00 | 945 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA52 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA46 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Galih Maulana, Lc14 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc11 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA11 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Isnawati, Lc8 tulisan
Siti Chozanah, Lc6 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan