Ilmu Cocokologi al-Qur’an | rumahfiqih.com

Ilmu Cocokologi al-Qur’an

Galih Maulana Wed 21 December 2016 06:39 | 1314 views

Bagikan via

Ada-ada saja tentangga Saya satu ini. Sebut saja namanya Pak Sahlan [bukan nama sebenarnya]. Saat kelahiran putranya, Pak Sahlan beristikharah meminta nama anak. Caranya unik dan dibuat-buat sendiri.

Ketika malam hari, Pak Sahlan ini shalat istikharah. Karena ingin meminta langsung kepada Allah subhanahu wa ta’ala, setelah shalat Pak Sahlan membuka mushaf secara acak dengan mata terpejam. Masih dengan mata terpejam, jari telunjuk Pak Sahlan menunjuk ke suatu tempat di halaman mushaf yang telah dibuka secara acak tadi. Dimana jari telunjuk itu berhenti, itulah nama untuk putra barunya itu. Akhirnya dapat juga nama yang diistikharahkan dengan cara buat-buat tadi.

Esoknya, Pak Sahlan tadi sowan ke Kyai sebelum mengadakan aqiqah. “Pak Kyai, alhamdulillah Saya sudah dapat nama untuk anak Saya” lapor Pak Sahlan kepada Kyai.

“Bagus! Siapa namanya?”

“Setelah Saya mengadakan istikharah, akhirnya Allah pilihkan nama untuk anak Saya. Namanya Dhalimin.” Jawab Pak Sahlan.

“Artinya apa Dhalimin?” Selidik Pak Kyai.

“Belum tau, Kyai. Saya dapat setelah istikharah tadi malam”. Jawab Pak Sahlan sambil beliau menjelaskan cara istikharah minta nama yang tadi malam dilakukan.

Ternyata Pak Sahlan ini tadi malam jarinya menunjuk kepada Surat al-Anbiya’ ayat 29. Dimana surat itu diakhiri dengan kata [الظالمين]. Nah, nama Dhalimin diambil dari situ.

Pak Kyai tersenyum mendengar paparan Pak Sahlan. “Pak Sahlan, Dhalimin itu artinya orang-orang yang dzalim. Apa Bapak mau nama anaknya adalah orang-orang yang dzalim?”. Tanya Sang Kyai.

Setelah dijelaskan beberapa hal. Akhirnya atas arahan Pak Kyai, Pak Sahlan mengganti nama anaknya dengan nama Chalimin. Hanya mengganti “D” ke “C” yang artinya adalah orang-orang yang lembut. Cerita ini berdasarkan pada cerita nyata.

Mengatakan Tentang al-Qur’an Sekenanya

Tentu perbuatan cocokologi istikharah Pak Sahlan diatas tak sepenuhnya disalahkan, karena memang beliau orang awam. Untungnya saja beliau lapor dahulu kepada Kyai.

Selain cerita diatas, cocokologi al-Qur’an kadang kita juga temukan. Beberapa kalangan mencari-cari misteri dibalik angka al-Qur’an. Seperti katanya ada misteri dibalik angka 19 dalam al-Qur’an. Mulai dari basmalah.

Huruf basmalah: bâ-sîn-mîm-alîf-lâm-lâm-hâ-alîf-lâm-râ’-hâ-mîm-nûn-alîf-lâm-râ’-hâ-yâ’-mîm. Ya, semuanya berjumlah 19. Al-Qurân mempunyai 114 surah, yang berarti tepat 19 X 6, yang berarti 114 adalah kelipatan 19.

Al-Qurân mempunyai 114 surah, sekarang kita coba jumlahkan angka 1 hingga 114 yaitu (1+2+3+…+114), kalau dijumlahkan maka akan menjadi= 6555. Nah, 6555 ini juga kelipatan 19. Karena jika 6555 dibagi 19 adalah persis 345. Cocokologi angka ini masih panjang lagi dengan angka-angka yang lain.

Ada juga cocokologi suatu kejadian masa kini dengan ayat al-Qur’an. Misalnya, saat ada kejadian besar maka dicocokkan tanggal kejadian itu dengan surat dan ayat al-Qur’an. Misalnya saat Tsunami Aceh yang terjadi tanggal 26 Desember. Maka dicocokkan dengan ayat ke ayat ke 26 surat ke 12.

Suatu kejadian demo, karena bertepatan dengan tanggal 11 bulan 4 maka dicocokkan dengan ayat ke-11 surat ke-4. Begitu seterusnya dan dicari-cari kecocokan pembenarnya dari al-Qur’an.

Saya yakin, yang mengajari ilmu cocokologi ini bukan ulama. Jika ulama, harusnya mengerti bahwa berkata tentang al-Qur’an dengan pendapatnya sendiri ini ancamannya cukup serius.

Nabi Muhammad shallaallahu alalihi wa sallam bersabda:

"ومن قال في القرآن برأيه فليتبوأ مقعده من النار". قال الترمذي: «هذا حديث حسن» (سنن الترمذي، 5/ 199)

“Siapa saja yang berkata terkait Al Qur’an dengan menggunakan pendapatnya sendiri, maka hendaknya dia menempati tempat duduknya yang terbuat dari api neraka” HR. At-Tirmidzi.

Jumlah Ayat al-Qur’an yang Berbeda

Selain tidak boleh menggunakan serta menafsiri al-Qur’an semaunya sendiri, jika menelisik sejarah penulisan al-Qur’an dahulu, ternyata pemotongan ayat al-Qur’an juga bukan hal yang disepakati oleh para ahli al-Qur’an zaman itu. Bahkan sampai sekarang.

Jika jumlah Surat al-Qur’an adalah 114, menurut Imam Jalaluddin as-Suyuthi (w. 911 H) memang hal ini menjadi ijma’ para ulama’. (Jalaluddin as-Suyuthi w. 911 H, al-Itqan fi Ulum al-Qur’an, h. 1/ 225).

Tetapi jumlah pasti ayat al-Qur’an bukan hal yang disepakati para ulama. Ulama sepakat jumlah ayat al-Qur’an adalah 6000-an ayat lebih. Tetapi mereka berbeda pendapat terkait lebihnya. Ada yang menyatakan lebihnya adalah 204. Ada pula yang menyatakan lebihnya 214, 219, 225, 236 ayat. Ada pula riwayat Ibnu Abbas yang menyebut jumlah ayat al-Qur’an adalah 6616 ayat.

Imam as-Suyuthi (w. 911 H) menyebut bahwa perbedaan itu terjadi karena dahulu Nabi berhenti ketika membaca al-Qur’an. Kadang shahabat Nabi ada yang menyangka itu akhir ayat, yang lain menganggap itu tengah ayat.

سبب اختلاف السلف في عدد الآي أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقف على رؤوس الآي للتوقيف فإذا علم محلها وصل للتمام فيحسب السامع حينئذ أنها ليست فاصلة. (الإتقان في علوم القرآن للسيوطي، 1/ 231)

Sebab perbedaan ulama salaf terkait jumlah ayat al-Qur’an adalah Nabi dahulu berhenti disetiap permulaan ayat. Kadang-kadang Nabi melanjutkan sehingga orang yang mendengarnya menganggap tidak dipisah menjadi ayat tersendiri. (Jalaluddin as-Suyuthi w. 911 H, al-Itqan fi Ulum al-Qur’an, h. 1/ 231).

Perbedaan Pemotongan Ayat pada Tiap Surat al-Qur’an

Lebih jauh, terkait perbedaan jumlah ayat tiap surat dan letak pemotongan ayatnya bisa dibagi menjadi 3 kategori.

Pertama: Surat yang disepakati jumlah ayatnya, baik secara global maupun rincian letak pemotongan ayatnya.

Kedua: Surat yang disepakati jumlah ayatnya secara global tetapi para ulama berbeda terkait tempat dimana ayat itu dipotong.

Ketiga: Surat yang tidak disepakati baik jumlah ayatnya maupun rincian letak pemotongan ayatnya.

Lebih jelasnya sebagai berikut:

1. 40 Surat; disepakati jumlahnya, secara global maupun terperinci.

Surat Yusuf 121 ayat, an-Hijr 99 ayat, an-Nahl 128 ayat, al-Furqan 77 ayat, al-Ahzab 73 ayat, al-Fath 29 ayat, a-Hujurat & at-Taghabun 18 ayat, Qaf 45 ayat, ad-Dzariat 60 ayat, al-Qamar 55 ayat, al-Hasyr 24 ayat, al-Mumtahanah 13 ayat, as-Shaf 14 ayat, al-Jumuah & al-Munafiqun & ad-Dhuha & al-Adiyat 11 ayat, at-Tahrim 12 ayat, Nun 51 ayat, al-Insan 31 ayat, al-Mursalat 50 ayat, at-Takwir 29 ayat, al-Infithar & al-A’la 19 ayat, at-Muthaffifin 36 ayat, al-Buruj 22, al-Ghasyiah 26 ayat, al-Balad 20 ayat, al-Lail 21 ayat, al-Insyirah & at-Tin &at-Takatsur 8 ayat, al-Humazah 9 ayat, al-Fil &al-Falaq & al-Lahab 5 ayat, al-Kafirun 6 ayat, al-Kautsar & an-Nashr 3 ayat.

2. 4 Surat; Sepakat secara global, tak sepakat secara terperinci.

Secara global maksudnya para ulama sepakat jumlah ayatnya, tetapi mereka berbeda potongan ayatnya.

  • Pertama, Surat al-Qashah: Ayatnya ada 88. Ulama Kufah menghitung (طسم) satu ayat tersendiri, sedangkan ulama lain mennggantinya dengan ayat (أمة من الناس يسقون)
  • Kedua, Surat al-Ankabut: Ayatnya ada . Ulama Kufah menghitung (الم) sebagai ayat tersendiri, Ulama Bashrah menggantinya dengan ayat (مخلصين له الدين) Sedangkan Ulama Syam menggantinya dengan ayat (وتقطعون السبيل).
  • Ketiga, Surat al-Jin. Jumlah ayatnya ada 28. Ulama Makkah menganggap (لن يجيرني من الله) sebagai pemisah ayat. Sedangkan Ulama lain menganggap ayat (ولن أجد من دونه ملتحدا).
  • Keempat, Surat al-Ashr. Jumlah ayatnya ada 3. Ulama Madinah menjadikan pemisah ayat di (وتواصوا بالحق), sedangkan yang lain, memisahkan ayat di (والعصر)

3. 70 Surat; tak sepakat jumlah ayatnya, juga tak sepakat pemotongan ayat.

Sebagai contoh: Surat al-Fatihah.

Beberapa ulama menyebut jumlah ayatnya ada 7 dan ini yang masyhur. Tetapi adapula yang berbendapat ada 6 ayat, sebagian yang lain menyebut ada 8 ayat, bahkan ada yang menghitungnya menjadi 9 ayat.

Pendapat yang menyatakan 7 ayat, sebagian menyebut bahwa ayat pertama adalah basmalah. Ini adalah pendapat ulama Makkah dan Kufah. Sebagian yang lain menganggap potongannya bukan di basmalah tapi di ayat (أنعمت عليهم).

Pendapat yang menyatakan 8 ayat, menambah potongan ayat (إياك نعبد).

Pendapat yang menyatakan 9 ayat, memasukkan basmalah dan (أنعمت عليهم) dan (إياك نعبد).

Bagaimana dengan 69 surat yang lain? Tentu jika ditulis akan panjang. Untuk lebih jelasnya, bisa dibaca di kitab al-Itqan fi Ulum al-Qur’an karya Imam as-Suyuthi (w. 911 H).

Cocokologi berbahaya: Ayat Untuk Orang Kafir Digunakan Untuk Menilai Orang Beriman

Ada cocokologi yang cukup berbahaya; yaitu mencocok-cocokkan ayat yang ditujukan untuk orang kafir, digunakan untuk menunjuk saudara sesama muslim.

Kenapa berbahaya? Karena muamalah antar sesama muslim dengan muamalah terhadap orang kafir tentu berbeda. Lebih bahaya lagi, jika darah orang beriman dihalalkan karena dicocokkan dengan ayat untuk orang kafir.

Hal itu sebagaimana disebut dalam hadits Shahih Bukhari:

وكان ابن عمر، يراهم شرار خلق الله، وقال: «إنهم انطلقوا إلى آيات نزلت في الكفار، فجعلوها على المؤمنين». صحيح البخاري (9/ 16)

“Ibnu Umar menganggap mereka [khawarij] adalah sejelek-jeleknya makhluq. Ibnu Umar berkata: Mereka menggunakan ayat yang turun kepada orang kafir, lalu digunakan untuk orang mukmin.” HR. Bukhari.

Memang dalam hadits-hadits yang berbicara tentang kaum khawarij masa yang akan datang, Nabi selalu menyertakan suatu tanda. Salah satu tanda itu adalah mereka membaca al-Qur’an.

Sebut saja hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim sebagai berikut:

"إن من ضئضئ هذا، أو: في عقب هذا قوما يقرءون القرآن لا يجاوز حناجرهم، يمرقون من الدين مروق السهم من الرمية، يقتلون أهل الإسلام ويدعون أهل الأوثان، لئن أنا أدركتهم لأقتلنهم قتل عاد" (متفق عليه)

Sesungguhnya di belakang orang ini akan muncul suatu kaum yang rajin membaca al-Qur’an namun tidak melampaui pangkal tenggorokan mereka. Mereka membunuhi umat Islam dan justru meninggalkan para pemuja berhala. Mereka keluar dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari sasaran bidiknya. Apabila aku menemui mereka, niscaya aku akan membunuh mereka dengan cara sebagaimana terbunuhnya kaum ‘Aad.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu, ini lafaz Muslim).

Hadits lain menyebutkan:

رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «سيخرج في آخر الزمان قوم أحداث الأسنان، سفهاء الأحلام، يقولون من خير قول البرية، يقرءون القرآن لا يجاوز حناجرهم، يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية، فإذا لقيتموهم فاقتلوهم، فإن في قتلهم أجرا، لمن قتلهم عند الله يوم القيامة» صحيح مسلم (2/ 746)

Akan keluar satu kaum di akhir zaman, (mereka) adalah orang-orang yang masih muda, akal mereka bodoh, mereka berkata dengan sebaik-baiknya perkataan manusia, keimanan mereka tidak melewati kerongkongan, mereka keluar dari agama bagaikan anak panah yang keluar dari busurnya, di mana saja kalian menjumpai mereka, maka (perangilah) bunuhlah, karena sesungguhnya dalam memerangi mereka terdapat pahala di hari Kiamat bagi siapa saja yang membunuh mereka. (HR. Muslim)

Mari kembali kepada para ulama, kembali kepada para ahlinya. Kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah tanpa dibimbing ulama yang ahli dibidangnya bisa jadi lebih berbahaya, karena hal itu sama halnya memahami agama dengan pemikiran sendiri. Waallahua’lam bisshawab.

Bagikan via


Baca Lainnya :

Memandang Wajah Wanita yang Bukan Mahram
Siti Chozanah, Lc | 17 December 2016, 18:27 | 865 views
Etika Dalam Melakukan Promosi Produk
Tajun Nashr, Lc | 16 December 2016, 05:00 | 398 views
Adat Masyarakat Bisa Menjadi Dalil Dalam Agama?
Firman Arifandi, LLB | 14 December 2016, 12:00 | 1.024 views
Konsep Promosi Produk menurut Perspektif Hukum Islam
Tajun Nashr, Lc | 13 December 2016, 05:00 | 265 views
Sahkah Sholat Di Belakang Imam Yang Fasik?
Faisal Reza | 11 December 2016, 14:16 | 516 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Melafadzkan Niat Ternyata Tidak Wajib
Galih Maulana | 8 January 2017, 16:57 | 691 views
Manhaj Imam Syafii dalam Memahami Al-Quran dan As-Sunnah
Galih Maulana | 29 December 2016, 10:29 | 805 views
Ilmu Cocokologi al-Qur’an
Galih Maulana | 21 December 2016, 06:39 | 1.314 views
Maulid Nabi, Bagaimana Sikap Kita?
Galih Maulana | 10 December 2016, 06:02 | 2.155 views