Fiqih Itu Apa Sih? | rumahfiqih.com

Fiqih Itu Apa Sih?

Muhammad Ajib, Lc., MA Sun 25 December 2016 01:36 | 3620 views

Bagikan via

Sering kali kita jumpai ada beberapa orang yang masih belum paham apa itu hakikat ilmu fiqih. Bahkan saking tidak pahamnya dengan ilmu fiqih sampai punya anggapan bahwa fiqih itu hanya perkataan manusia saja yang tidak berlandaskan dalil-dalil syar’i. Fiqih dianggap hanya sekedar perkataan madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali.

Ketika seseorang punya pandangan mengenai fiqih seperti hal tersebut diatas maka dengan mudahnya yang ada dibenaknya adalah kalimat “Mari tinggalkan madzhab dan saatnya kembali kepada al-Quran dan al-Hadits”.

Kalimat ini bisa jadi benar dan bisa jadi juga salah. Dianggap benar karena memang Nabi menganjurkan kepada kita untuk kembali kepada al-Quran dan al-Hadits, Bahkan dua pusaka itulah yang diwariskan oleh Nabi kepada umatnya. Dianggap salah karena memang tidak semua orang bisa memahami al-Quran dan al-Hadits dengan benar. Oleh sebab itu tidak semua orang boleh mengotak-atik ayat al-Quran dan al-Hadits dengan pemahamannya sendiri yang super dangkal.

Mungkin dikiranya jika sudah kembali ke al-Quran dan al-Hadits dengan cara pemahamannya sendiri lantas sudah bisa dikatakan sebagai orang yang benar-benar berada dijalan yang benar. Padahal untuk memahami al-Quran dan al-Hadits diperlukan banyak syarat ilmu yang harus dikuasai dan dipahami.

Sebenarnya ketika kita belajar ilmu fiqih maka sejatinya kita juga sedang kembali kepada al-Quran dan al-Hadits. Sebab ilmu fiqih itu dibangun atas dali-dalil syar’i yang ada. Tidaklah suatu pendapat yang dikatakan oleh imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii dan Imam Ahmad bin Hanbal kecuali pastilah pendapat tersebut diambil dengan menggunakan dalil-dalil syar’i. Bahkan dalil itu tidak hanya al-Quran dan al-Hadits saja. Tapi masih banyak sekali deretan dalil yang bisa digunakan dalam memahami ayat al-Quran dan al-Hadits. Oleh sebab itulah dalam ilmu ushul fiqih kita mengenal adanya dalil muttafaq alaih (dalil yang disepakati) dan dalil mukhtalaf fih (dalil yang diperselisihkan).

Sebagai orang awam cukuplah bagi kita untuk kembali kepada al-Quran dan al-Hadits dengan cara mengikuti para ulama yang ada dan mu’tabar seperti imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad bin Hanbal dan ulama lainnya yang diakui keilmuannya sepanjang masa. Sebab kembali kepada al-Quran dan al-Hadits bukan dengan cara mempelajarinya sesuai hawa nafsunya dan kehendaknya apalagi hanya bermodalkan terjemah al-Quran dan al-Hadits saja.

Apa itu ilmu fiqih?

Para ulama salaf mendefinisikan ilmu fiqih adalah ilmu yang mempelajari hukum-hukum syar’i yang sifatnya amaliyah serta hukum tersebut diistinbat atau digali dari dalil-dalil yang terperinci.

Ayat al-Quran itu begitu banyak sekali jumlahnya. Bahkan hadits nabi juga banyak sekali jumlahnya. Setidaknya berikut ini ada jumlah hadits dari 20 kitab hadits yang bisa kita hitung haditsnya :

Jumlah dari 20 kitab hadits tersebut jika dijumlah haditsnya totalnya tidak sampai 200.000 hadits. Padahal imam Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa jika ingin menguasai ilmu agama minimal dia harus hafal dan paham 500.000 hadits. Tentu saja ulama sekelas imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii dan Imam Ahmad bin Hanbal sudah hafal al-Quran bahkan jutaan al-Hadits yang mereka hafal.

Lalu apakah ulama 4 madzhab pakai hadits Shahih Bukhari, Shahih Muslim dan kitab hadits lainnya? Tentu saja jawabannya iya, Bahkan ulama 4 madzhab sudah ada dan hidup di masa sebelum adanya ulama ahli Hadits seperti imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Ibnu Majah, Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi dan Imam Nasai. Sebab Imam Bukhari itu ternyata juga muridnya imam Ahmad bin Hanbal. Imam Ahmad bin Hanbal itu muridnya Imam Syafii dan seterusnya.

Logikanya begini, Apabila para imam Hadits semisal imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Ibnu Majah, Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi dan Imam Nasai hidup dimasa setelah ulama 4 madzhab maka hadits hadits mereka pastilah jalur periwayatannya melewati masa hidup para imam 4 madzhab. Dan asal tau saja ya, kitab Shahih Bukhari itu ternyata yang mengoreksi adalah imam Ahmad bin Hanbal. Sebab setelah penyusunan hadits selesai, Imam Bukhari menyetorkan kitab tersebut kepada imam Ahmad bin Hanbal untuk dikoreksi.

Perkembangan ilmu fiqih

Dalam dunia ilmu fiqih akan kita dapati adanya dua madrasah fiqih yang terkenal. Dua madrasah itu dikenal dengan istilah Madrasah al-Hadits dan Madrasah al-Ra’yu. Madrasah al-Hadits diwakili oleh beberapa sahabat dan tabiin seperti Ibnu Abbas, Zubair, Ibnu Umar, Amr bin al-Ash, Sya’bi, Said bin Musayyib, az-Zuhri, Imam Malik, Imam Syafii dan imam Ahmad bin Hanbal.

Sementara Madrasah al-Ro’yu diwakili oleh beberapa sahabat dan tabiin seperti Umar bin al-Khattab, Ibnu Mas’ud, Ali bin Abi Thalib, Said bin Abi Waqas, Abu Musa al-Asyari, Anas bin Malik, ‘Alqomah bin Qais an-Nakhoi, Ibrahim an-Nakhoi, Hammad bin Sulaiman dan Imam Abu Hanifah.

Inilah cikal bakal perkembangan ilmu fiqih yang nantinya meluas dan dikembangkan oleh ulama dari masa ke masa. Jika kita baca sejarah ternyata tradisi ulama salaf itu ya mereka bermadzhab kepada salah satu dari 4 madzhab yang ada. Sebut saja misalnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan imam Ibnu qoyyim al-Jauziyah termasuk ulama yang bermadzhab Hanbali. Ada juga imam Nawawi, imam Ibnu Hajar al-Asqolani dan Imam Ibnu Katsir mereka termasuk salah satu dari sekian banyaknya ulama yang bermadzhab Syafii.

Ulama kita yang keilmuannya tinggi saja mau bermadzhab. Masa kita yang baru bisa bahasa arab ane ente saja sudah tidak mau ikut ulama lagi. Bahkan sudah berani menyalahkan ulama. Naudzubillah min dzalik.

Sebaiknya mulai dari sekarang bahkan ya harusnya dari dulu kita banyak-banyak baca kitab para ulama. Baca dulu kitab-kitab Mu’tamad yang ada di masing-masing madzhab seperti kitab Raddu al-Mukhtar 'Ala ad-Dur al-Mukhtar karya imam Ibnu Abdiin al-Hanafi, kitab adz-Dzakhirah karya imam al-Qarafi al-Maliki, kitab al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab karya imam Nawawi asy-Syafi'i dan kitab al-Mughni karya imam Ibnu Qudamah al-Hanbali, Supaya kita tahu bahwa ilmu agama itu sangat luas cakupannya dan tentu saja juga ada dalil-dalilnya. Wallahu a’lam.

Muhammad Ajib, Lc

Bagikan via


Baca Lainnya :

Bisakah Hafalan Al-Quran Dijadikan Mahar?
Isnawati, Lc | 24 December 2016, 05:08 | 1.607 views
Ilmu Cocokologi al-Qur’an
Galih Maulana, Lc | 21 December 2016, 06:39 | 2.382 views
Memandang Wajah Wanita yang Bukan Mahram
Siti Chozanah, Lc | 17 December 2016, 18:27 | 1.696 views
Etika Dalam Melakukan Promosi Produk
Tajun Nashr, Lc | 16 December 2016, 05:00 | 1.210 views
Konsep Promosi Produk menurut Perspektif Hukum Islam
Tajun Nashr, Lc | 13 December 2016, 05:00 | 947 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Mengenal Lebih Dekat Madzhab Syafii (Bagian 2)
Muhammad Ajib, Lc., MA | 15 August 2017, 10:00 | 1.001 views
Mengenal Lebih Dekat Madzhab Syafii (Bagian 1)
Muhammad Ajib, Lc., MA | 14 August 2017, 14:50 | 1.610 views
Fiqih Itu Apa Sih?
Muhammad Ajib, Lc., MA | 25 December 2016, 01:36 | 3.620 views
Sebab-Sebab Perbedaan Ulama Fiqih
Muhammad Ajib, Lc., MA | 7 December 2016, 00:00 | 1.506 views
Batas Akhir Diperbolehkannya Takbiran Pada Hari Raya Ied
Muhammad Ajib, Lc., MA | 27 September 2015, 08:15 | 2.055 views
Ternyata Isbal Haram, Kata Siapa?
Muhammad Ajib, Lc., MA | 5 September 2015, 12:00 | 9.205 views
Imam Nawawi Sang Pembela Qunut Shubuh
Muhammad Ajib, Lc., MA | 3 September 2015, 06:02 | 5.540 views
Benarkah Imam Syafi'iy Mengatakan Tidak Sampainya Pahala ke Mayit?
Muhammad Ajib, Lc., MA | 1 September 2015, 10:05 | 16.404 views
Bolehkah Berqurban Dengan Selain Kambing, Sapi Dan Unta?
Muhammad Ajib, Lc., MA | 30 August 2015, 17:29 | 2.323 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA52 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA46 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Galih Maulana, Lc14 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc11 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA11 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Isnawati, Lc8 tulisan
Siti Chozanah, Lc6 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan