Bolehkah Shalat Berjamaah Ditinggalkan? | rumahfiqih.com

Bolehkah Shalat Berjamaah Ditinggalkan?

Siti Chozanah, Lc Fri 12 May 2017 22:32 | 1174 views

Bagikan via

Setiap muslim tentu tahu, terutama bagi kaum laki-laki apa afdholiyah dari pelaksanaan sholat berjamaah disamping kewajiban atasnya. Yang sudah tentu masyhur ditelinga kita bahwa peringkat sholat berjamaah berbanding dua puluh tujuh kali lipat dengan pelaksanaan sholat munfarid (sholat tanpa berjamaah). Meskipun jika ditelusuri lebih dalam, masih ada silang pendapat antar ulama atas kewajiban kaum laki-laki sholat berjamaah di masjid.

Akan tetapi terlepas dari pembahasan diatas, apakah pelaksanaan sholat berjamaah boleh ditinggalkan? Apa saja ketentuan-ketentuan didalamnya?

Namun menarik pula untuk dibahas, bahwa dalam  pembahasan hukum shalat berjamaah sendiri, para pembesar madzhab berbeda pendapat, misalnya dalam madzhab Syafi’i sendiri, imam Nawawi mengatakan hukumnya adalah fardlu kifayah sementara Abu Syuja’ mengatakan hal tersebut adalah sunnah muakkadah. Bila diklasifikasikan, maka pendapat tersebut akan terbagi menjadi tiga yaitu: Fardlu ‘ain, Fardlu Kifayah, dan Sunnah Muakkadah.

Shalat Berjamaah Hukumnya Fardlu ‘ain

Ibnu Qudamah dari Hanabilah dalam al kaafi mengatakan:

الجماعة واجبة على الرجال، لكل صلاة مكتوبة؛ لما روى أبو هريرة: أن رسول الله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قال: «والذي نفسي بيده، لقد هممت أن آمر بحطب فيحتطب، ثم آمر بالصلاة، ثم آمر رجلًا فيؤم الناس، ثم أخالف إلى رجال لا يشهدون الصلاة فأحرق عليهم بيوتهم بالنار» متفق عليه

Shalat berjama’ah diwajibkan bagi para lelaki pada setiap sholat yang diwajibkan. Sebagaimana riwayat Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Demi jiwaku yang berada didalam genggaman-Nya sesungguhnya aku bermaksud menyuruh orang-orang mengumpulkan kayu bakar, kemudian menyuruh shalat, lalu menyuruh seseorang pula untuk menjadi imam bagi orang banyak, maka aku akan mendatangi orang yang tidak ikut berjamaah lantas aku bakar rumah-rumah mereka” (Muttafaqun Alaih)[1].

Namun meski demikian, dalam madzhab ini shalat jamaah tidak lantas menjadi syarat sahnya shalat.

Shalat Berjamaah Hukumnya Fardlu Kifayah

Diantara yang berpendapat demikian adalah sejumlah ulama dari madzhab Malikiyah dan Syafi’iyah seperti imam An-Nawawi. Dalam kitab al fiqhu ‘ala madzahib al arba’ah terkait pendapat malikiyah tentang shalat berjamaah dijelaskan:

المالكية قالوا: في حكم الجماعة في الصلوات الخمس قولان. وأما الثاني فهو أنه فرض كفاية في البلد، فإن تركها جميع أهل البلد قوتلوا؛ وإن قام بها بعضهم سقط الفرض عن الباق

Malikiyah berpendapat: dalam hukum shalat berjamaah pada shalat lima waktu ada dua pendapat. Pendapat yang kedua adalah fardlu kifayah dalam satu daerah, apabila meninggalkan berjamaah semua penduduknya maka berhak diperangi, namun bila sebagian melaksanakanya berjamaah maka kewajiban yang lain telah jatuh[2]

Dalam kitab Raudlatu-t-thalibin Imam Nawawi mengatakan:

قُلْتُ: قَوْلُ أَبِي إِسْحَاقَ أَصَحُّ. وَلَوْ أَقَامَ الْجَمَاعَةَ طَائِفَةٌ يَسِيرَةٌ مِنْ أَهْلِ الْبَلَدِ، وَأَظْهَرُوهَا فِي كُلِّ الْبَلَدِ، وَلَمْ يَحْضُرْهَا جُمْهُورُ الْمُقِيمِينَ بِالْبَلَدِ، حَصَلَتِ الْجَمَاعَةُ، وَلَا إِثْمَ عَلَى الْمُتَخَلِّفِينَ

Aku berpendapat: perkataan Abu Ishaq adalah paling benar. apabila sebagian kecil penduduk suatu daerah telah melaksanakan shalat berjamaah, dan terlebih di seluruh wilayah, dan sebagian besar penduduk lainnya absen dalam shalat jamaah, maka shalat jamaah telah sah, dan tidak berdosa bagi yang meninggalkannya.[3]

Shalat Berjamaah Hukumnya Sunnah Muakkadah

Seperti disebutkan sebelumnya, bahwa dari Malikiyah juga ada yang berpendapat bahwa shalat berjamaah hukumnya sunnah Muakkadah. Imam Tsa’labiy dalam kitab Al Maunah ‘ala madzhabi Alim Al Madinah menuliskan:

صلاة الجماعة في غير الجمعة مندوب إليها متأكدة الفضيلة ، لقوله صلى الله عليه وسلم: "صلاة الجماعة تفضل على صلاة الفذ بخمس وعشرين درجة"

Shalat Berjamaah selain shalat Jum’at hukumnya mandub yang sangat ditekankan keutamaannya, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: Shalat berjamaah keutamaanya dari shalat sendiri dengan dua puluh lima derajat”

Tidak hanya Malikiyah, dalam madzhab Syafi’i juga ada yang berpedapat serupa, diantaranya adalah Abu Syuja’ dan Rafi’I, dalam kitab Al-Iqna’ dijelaskan:

وَصَلَاة الْجَمَاعَة فِي المكتوبات غير الْجُمُعَة سنة مُؤَكدَة وَلَو للنِّسَاء للأحاديث السَّابِقَة وَهَذَا مَا قَالَه الرَّافِعِيّ وَتَبعهُ المُصَنّف

Dan Shalat berjamaah dalam shalat Fardlu selain shalat jum’at adalah sunnah Muakkadah walaupun bagi wanita sebagaimana disebut dalam hadist sebelumhya, dan ini adalah pendapat Ar-Rafi’iy dan diikuti oleh penulis (Abu Syuja’)[4]

Bahkan Imam Majduddin Abu-l-Fadl Al Hanafiy dalam kitab al ikhtiyar mengatakan serupa[5]. Hal ini menunjukkan bahwa ulama-ulama pembesar madzhabpun masih berbeda pendapat dalam menghukumi shalat jamaah.

Kondisi Dibolehkannya Meninggalkan Shalat Berjamaah

Hal ini sudah menjadi pembahasan ulama salaf, bahwa sholat berjamaah itu boleh ditinggalkan dengan beberapa kondisi tertentu. Secara global ulama membagikannya menjadi dua : udzur secara umum dan udzur khusus terkait pelaksanaan sholat berjamaah[6].

  1. Udzur (halangan) Secara Umum

Yang dimaksud udzur secara umum disini adalah, udzur yang disebabkan oleh kondisi alam yang memang tidak memungkinkan seseorang keluar masjid untuk melaksanakan sholat berjamaah, diantara kondisi alam yang dimaksud adalah :

  • Hujan lebat. Hujan lebat menjadi halangan yang memperbolehkan seseorang meninggalkan sholat jamaah. Jika hujan lebat itu memang menghalanginya karena akan membahayakan dirinya jika keluar ke masjid.
  • Angin kencang
  • Cuaca yang sangat dingin atau sangat panas
  • Kondisi jalanan yang sangat berlumpur. Jalanan yang sangat berlumpur, yang bisa membahayakan seseorang dan juga bajunya yang tentu menjadi sangat kotor. Meskipun dalam kondisi ini Madzhab Hanafi menerangkan ini termasuk halangan yang memperbolehkan seseorang meninggalkan sholat berjamaah, tetapi hal ini tidak sependapat dengan Madzhab Syafi’i yang tidak mengkategorikan kondisi berlumpur itu sebuah udzur.
  • Malam yang sangat gelap. Seperti termaktub dalam sebuah riwayat :

حَدَّثَنِى نَافِعٌ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ نَادَى بِالصَّلاَةِ فِى لَيْلَةٍ ذَاتِ بَرْدٍ وَرِيحٍ وَمَطَرٍ فَقَالَ فِى آخِرِ نِدَائِهِ أَلاَ صَلُّوا فِى رِحَالِكُمْ أَلاَ صَلُّوا فِى الرِّحَالِ. ثُمَّ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَأْمُرُ الْمُؤَذِّنَ إِذَا كَانَتْ لَيْلَةٌ بَارِدَةٌ أَوْ ذَاتُ مَطَرٍ فِى السَّفَرِ أَنْ يَقُولَ أَلاَ صَلُّوا فِى رِحَالِكُمْ.

Dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwasanya dia pernah beradzan untuk shalat di malam yang dingin, berangin kencang dan hujan, kemudian dia mengatakan di akhir adzan, ’Alaa shollu fi rihaalikum, alaa shollu fir rihaal’ (Hendaklah shalat di rumah kalian, hendaklah shalat di rumah kalian). Kemudian beliau mengatakan: ”Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam biasa menyuruh muadzin, apabila cuaca malam dingin dan berhujan ketika beliau bersafar (perjalanan jauh) untuk mengucapkan, ’Alaa shollu fi rihaalikum’ (Hendaklah shalat di kendaraan kalian masing-masing)’. (HR. Ahmad)

2. Udzur  khusus

Udzur khusus ini lebih mengarah kepada kondisi seseorang, ada hal yang terjadi pada dirinya sehingga diperbolehkan baginya meninggalkan sholat berjamah, diantaranya :

a. Sakit. Seperti yang dikemukakan dalam hadist :

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ الْأَسْوَدِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ لَمَّا ثَقُلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَاءَ بِلَالٌ يُوذِنُهُ بِالصَّلَاةِ فَقَالَ مُرُوا أَبَا بَكْرٍ أَنْ يُصَلِّيَ بِالنَّاسِ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari Al A’masy dari Ibrahin dari Al Aswad dari ‘Aisyah, “Ketika sakit Rasulullah semakin parah, Bilal datang menemui beliau mengabarkan bahwa waktu shalat telah tiba. Beliau lalu berkata: “Kalian suruhlah Abu Bakar untuk memimpin shalat jama’ah bersama orang banyak.” (HR. Ahmad)

b. Rasa takut, dalam ini ada rincian pembagiannya :

  • Ketakutan atas dirinya: Ada beberapa permisalan dalam hal ini,seseorang takut akan adanya penculik, serigala yang mengintainya atau hal lain sejenisnya yang rawan meimpa dirinya.
  • Ketakutan atas harta yang dimilkinya: Adanya ketakutan atas pencuri yang akan mencuri harta atau rumah terbakar karena sedang memasak, atau ketakutan atas barang pinjaman, barang titipan yang harus dijaga.
  • Ketakutan atas keluarganya: Jika salah satu keluarganya ada yang sakit, maka diperbolehkan baginya untuk meninggalkan sholat jamaah guna menjaga keluarganya yang sakit, dan memenuhi kebutuhannya. Dan ini juga berlaku jika ada seseorang merawat orang asing yang tidak yang merawatnya selain dirinya. Ini seperti yang diriwayatkan ibnu umar R.A ketika sa’id bin  zaid sedang sakit, maka ibnu umar merawatnya dan meninggalkan sholat jum’at.
  • Terhidangnya makanan untuknya. Ibnu qudamah berpendapat : jika sudah terhidang makanan untuk dimakan seketika itu dihadapannya, maka seyogyanya untuk mendahulukan makan sebelum menenuaikan sholat, jika sudah tiba waktunya. Agar hati lebih tenang dan kondisi lebih nyaman untuk melaksanakan sholat setelah menyantap makanannya. Dan tidak diperkenankan untuk terburu-buru menyantapnya. Seperti hadist yang diriwayatkan oleh Anas R.A :

أَخْبَرَنِي عَمْرٌو النَّاقِدُ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَأَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالُوْا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَإِذَا حَضَرَ الْعَشَاءُ وَأُقِيْمَتِ الصَّلاَةُ فَابْدَءُوْا بِالْعَشَاءِ

Telah mengabarkan kepadaku Amru an-Naqid dan Zuhair bin Harb serta Abu Bakar bin Abi Syaibah mereka berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari az-Zuhri dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: Apabila makan malam telah dihidangkan, sedangkan shalat telah diiqamahkan maka mulailah dengan makan malam terlebih dahulu.

  • Karena makan yang berbau menyengat: Beberapa makanan yang dimaksud seperti : jengkol, petai, bawang dan makanan semisalnya yang berbau menyengat dan tidak disukai orang lain  sampai bau dari makanan tersebut menghilang. Hadist menerangkan :

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللّهِ، عَنِ النّبيّ صلى الله عليه وسلم، قَالَ: "مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ, الْبَقْلَةِ، الثّومِ (وَقَالَ مَرّةً: مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ والثّومَ وَالْكُرّاثَ) فَلاَ يَقْرَبَنّ مَسْجِدَنَا، فَإِنّ الْمَلاَئِكَةَ تَتَأَذّى مِمّا يَتَأَذّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ".

Dari Jabir bin Abdullah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Barangsiapa yang memakan biji-bijian ini, yakni bawang putih (suatu kali beliau mengatakan, “Barangsiapa yang memakan bawang merah, bawang putih dan kurrats [sejenis mentimun]), maka janganlah ia mendekati masjid kami, sebab malaikat merasa terganggu dengan hal yang membuat Bani Adam (manusia) terganggu.” (HR.Muslim)

  • Tidak mempunyai pakaian
  • Orang yang buta
  • Seseorang yang akan melakukan bepergian jauh menggunakan transportasi umum
  • Tertidur

Dari pembahasan ini setidaknya kita mampu melihat sejauh mana para ulama menghukumi shalat berjamaah, serta kondisi yang membolehkan untuk ditinggalkan. Sekalipun semua sepakat bahwa shalat berjamaah bukanlah sebagai syarat sahnya shalat.

Wallahu a’lam bisshowab

 

 


[1] Ibnu Qudamah ad-Dimasyqi Al-Hanbali. Al-Kafi Fi Fiqhi-l-imam Ahmad. Darul Kutub Ilmiyyah. 1/287

[2] Iwad Al Jaziry. Al fiqhu ‘ala Madzhabi al Arba’ah. Darul kutub Ilmiyyah. 1/369

[3] An-Nawawi. Raudlatu-t-thalibin wa umdatu-l-muftiin. 1/339

[4] Khatib As-Syarbini. Al-Iqna’ Fi Hilli Alfadzi Matan Abi Syuja’. 1/163

[5] Majduddin abu-l-fadl Al Hanafiy. Al-ikhtiyar li ta’liilil mukhtar. 1/57

[6] Lihat: Al Mausuah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah bab Shalat Jamaah

Bagikan via


Baca Lainnya :

Apa Setiap Manfaat yang Diambil dari Transaksi Pinjam Meminjam Itu Riba ?
Galih Maulana, Lc | 4 April 2017, 13:16 | 3.132 views
Jenis Gerakan yang Membatalkan Shalat
Firman Arifandi, Lc., MA | 21 February 2017, 01:03 | 3.771 views
Nikah Tanpa Wali: Dari Madzhab Hanafi Hingga Implementasinya Dalam UU Pernikahan di Pakistan
Firman Arifandi, Lc., MA | 1 February 2017, 01:45 | 3.071 views
Ukuran Sedikit Dari Najis yang Ditolerir
Siti Chozanah, Lc | 23 January 2017, 04:41 | 3.386 views
Bolehkah Seorang Wanita Haid Membaca Al-Quran?
Faisal Reza | 18 January 2017, 15:08 | 2.787 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Bolehkah Shalat Berjamaah Ditinggalkan?
Siti Chozanah, Lc | 12 May 2017, 22:32 | 1.174 views
Ukuran Sedikit Dari Najis yang Ditolerir
Siti Chozanah, Lc | 23 January 2017, 04:41 | 3.386 views
Hukum Menghibahkan Seluruh Harta Untuk Ahli Waris
Siti Chozanah, Lc | 15 January 2017, 22:21 | 1.859 views
Sedekah Dengan Harga Perak Dari Timbangan Rambut Bayi
Siti Chozanah, Lc | 4 January 2017, 08:23 | 1.395 views
Memandang Wajah Wanita yang Bukan Mahram
Siti Chozanah, Lc | 17 December 2016, 18:27 | 1.688 views
Wajibkah Seorang Ibu Menyusui Anaknya?
Siti Chozanah, Lc | 27 June 2013, 10:45 | 729 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA52 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA46 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Galih Maulana, Lc14 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc11 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA11 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Isnawati, Lc8 tulisan
Siti Chozanah, Lc6 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan