Imam Abu Hanifah ; Antara Ilmu dan Perniagaan (Bagian-1) | rumahfiqih.com

Imam Abu Hanifah ; Antara Ilmu dan Perniagaan (Bagian-1)

Tajun Nashr, Lc Sun 14 May 2017 05:00 | 439 views

Bagikan via

Tidak bisa dipungkiri bahwasanya permasalahan ekonomi merupakan permasalahan penting bagi setiap orang. Meskipun harta bukanlah segalanya, namun harta merupakan salah satu sarana yang ketika dikelola oleh orang yang tepat akan menjadi kekuatan luar biasa yang bermanfaat bagi orang banyak. Pada kesempatan ini penulis akan membicarakan tentang Imam Abu Hanifah dan kiprahnya di dunia ilmu dan perdagangan.

Tidak diragukan lagi bahwasanya Imam Abu Hanifah, An-Nu’man bin Tsabit bin Zuthiy adalah salah seorang mujtahid mutlak mustaqil yang pendapat-pendapatnya akhirnya dikodifikasikan oleh para muridnya sehingga menjadi madzhab hanafi. Kakek beliau, Zuthiy adalah pria berdarah Persia yang termasuk salah seorang yang terpadang di kaumnya. Dia sempat menjadi tawanan para tentara islam yang menaklukkan negeri Iraq, kemudian dibebaskan dari tawanan perang dan akhirnya mendapatkan hidayah islam. Setelah itu beliau pindah ke Kufah,

Di sanalah beliau bertemu dengan Ali bin Abi Thalib -radhiyallahu 'ahnu- dan menjalin hubungan sangat baik sekali. Hubungan baik ini pun diteruskan kemudian oleh anaknya, Tsabit, yang menurut banyak riwayat beliau didoakan oleh Ali bin Abi Thalib -radhiyallahu 'ahnu- agar anak cucunya kelak diberikan keberkahan oleh Allah.

Do’a Imam Ali ini pun akhirnya diijabahi oleh Allah, sehingga akhirnya beliau dikarunia seorang anak yang bernama An-Nu’man, yang kemudian dikenal sebagai Imam Abu Hanifah. Bisa kita lihat betapa do’a orang-orang shalih yang menyerahkan jiwa dan raganya untuk perjuangan di jalan Allah merupakan do’a yang mustajab.

Iklim Ilmu dan Perniagaan Sejak Belia

Abu Hanifah kecil tumbuh di tengah keluarganya yang berprofesi utama sebagai pengusaha. Keluarganya terkenal sebagai pengusaha kain sutra kota Kufah. Untuk itulah jiwa wirausahanya pun sudah tumbuh sejak kecil. Hanya saja, sebagaimana disebutkan di atas, kedekatan keluarga mereka dengan Ali bin Abi Thalib juga menumbuhkan gairah keilmuan yang tinggi pada sang Imam.

Sehingga tidak heran, di usianya yang masih belia, sebagaimana kebiasaan orang-orang yang memperhatikan pendidikan agama pada masa beliau, beliau sudah mulai menghafal Al-Qur’an sampai akhirnya menyelesaikan hafalannya, tidak hanya itu beliau juga termasuk salah seorang yang belajar qira’at secara langsung dari Imam Ashim, salah satu Imam Qira’at Sab’ah, yang jalur periwayatannya sampai saat ini dipakai oleh mayoritas ummat islam di seluruh dunia. Selain itu di usia tersebut beliau juga mulai menghafal hadits-hadits Nabi -shallallahu 'alahi wa sallam-.

Irak selain dihuni oleh orang dari berbagai suku dan bangsa di dunia, juga merupakan negeri yang terkenal sebagai tempat bertemunya berbagai macam agama, kepercayaan dan pemikiran pada zaman sebelum islam seperti filasaf Yunani dan hikmah Persia. Hal ini pun berlanjut setelah kedatangan islam. Pengaruh pemikiran-pemikiran dan kepercayaan-kepercayaan tadi lah yang menjadi salah satu faktor muncul dan tumbuh berkembangnya aliran-aliran sempalan dalam islam seperti Syi’ah, Khawarij dan Mu’tazilah.

Mungkin karena latar belakang itulah maka sahabat yang di utus menjadi duta di sana pun tidak main-main. Tercatat Umar Ibn Al-Khattab ketika menjadi khalifah mengutus Abdullah bin Mas’ud yang terkenal sebagai pakar di bidang fiqih. Yang kelak dari beliaulah muncul embrio madrasah ahlu ra’yi. Selain Ibnu Mas’ud juga ada Ali bin Abi Thalib yang juga dikenal sebagai salah seorang ulama sahabat.

Situasi dan kondisi itulah yang ikut mewarnai masa kecil Imam Abu Hanifah, sehingga sejak kecil beliau memang gemar sekali terhadap ilmu pengetahuan dan menghadiri majelis ilmu. Hanya saja porsinya masih lebih kecil daripada kegiatan perniagaan yang beliau lakukan. Tercatat pada waktu itu beliau hanya datang ke majelis ilmu para ulama di waktu-waktu luangnya saja, bahkan beliau memiliki cita-cita untuk menjadi pedagang sukses seperti ayah beliau.

Peristiwa yang menjadi titik tolak perjalanan keilmuan Abu Hanifah

Hal ini terus berlangsung sampai datang suatu hari yang akhirnya menjadi titik tolak beliau beralih dari dunia perniagaan menuju dunia ilmu pengetahuan. Beliau mengisahkan cerita beralihnya beliau dari fokus di dunia perniagaan menuju dunia ilmu pengetahuan. Diriwayatkan bahwasanya beliau bercerita,

“Pada suatu hari aku berjalan dan bertemu dengan Asy-Sya’bi di tengah perjalanan, kemudian dia berkata kepadaku,

“Hendak ke mana engkau pergi?”

“Aku hendak pergi ke pasar.”

“Yang aku tayakan bukan kepergianmu ke pasar, tetapi maksudku hendak pergi menemui ulama siapa?”

“Aku jarang pergi ke majelis ulama.”

“Jangan lakukan itu! Engkau wajib memperdalam ilmu dan mengikuti halaqah-halaqah para ulama. Karena aku melihat pada dirimu suatu kecerdasan dan potensi yang tinggi (dalam hal ilmu pengetahuan).”

Perkataan Asy-Sya’bi tadi benar-benar mengena di hatiku, sehingga sejak saat itu aku pun mulai meninggalkan aktivitas di pasar dan mulai serius menuntut ilmu, dan Allah benar-benar memberikan manfaat kepadaku dengan ucapannya tersebut.”

 Dari cerita yang dipaparkan Imam Abu Hanifah ini, bisa kita lihat betapa besarnya pengaruh perkataan seorang ‘alim, yang akhirnya merubah sudut pandang Abu Hanifah mengenai ilmu pengetahuan, dimana sebelumnya beliau memandang menuntut ilmu hanyalah sebagai pekerjaan sambilan untuk mengisi waktu luang menjadi berbalik 180 derajat, sehingga menjadikan pekerjaan menuntut ilmu menjadi kegiatan utamanya.

Semenjak kejadian tersebut Abu Hanifah pun mulai memperdalam kajiannya terhadap ilmu dengan lebih intensif lagi. Perjalanan beliau dimulai dengan memperdalam ilmu kalam sampai menjadi pakar di bidangnya. Bahkan beliau memiliki satu karya dalam bidang ilmu kalam dan aqidah bernama Al-Fiqhu Al-Akbar.

Dalam ilmu ini banyak sekali permasalahan-permasalahan yang menjadi ajang perdebatan panjang, sebagaimana beliau juga sudah  terlatih untuk melakukan hiwar ilmi sejak kecil. Beliau bahkan melakukan perjalanan-perjalanan ilmiyah ke berbagai kota seperti ke Bashrah untuk berdebat dan mengambil ilmu dari kelompok Mu’tazilah dan Khawarij.

Hanya saja dalam perjalanannya Abu Hanifah merasa bahwasanya ada yang bergejolak di hatinya, karena ternyata dalam ilmu kalam beliau hanya mendapati perdebatan demi perdebatan teoritis yang kurang begitu terasa manfaatnya, sehingga beliau pun akhirnya mempejari ilmu lain yang menurut beliau lebih memiliki manfaat yang luas untuk banyak orang. Akhirnya beliau mendapatinya dalam ilmu fiqih.

Kufah yang waktu itu merupakan salah satu ibu kota ilmu pengetahuan menjadi salah satu faktor pendukung perjalanan ilmiah beliau, sebab di sanalah tinggal banyak sahabat besar, di antaranya yang paling menonjol adalah Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud yang merupakan  dua ulama sahabat. Beliau bercerita sendiri bahwa ilmu fiqih yang beliau pelajari terinspirasi dari  corak fiqih 4 sahabat besar : Fiqih Maslahah Umar ibn Al-Khattab, Fiqih Istimbath dan Maqashid Ali bin Abi Thalib, Fiqih Takhrij Abdullah bin Mas’ud dan Fiqih Al-Qur’an Abdullah bin Abbas.

            Selain faktor-faktor di atas ada satu faktor lain yang sangat urgen dalam perjalanan ilmiah beliau, yaitu mulazamah (belajar lama) beliau dengan Hammad bin Abi Sulaiman selama kurang lebih 18 tahun.

Sehingga bisa disimpulkan bahwasanya syarat-syarat yang harus ditempuh oleh seorang penuntut ilmu agar mengkristal ilmunya, antara lain :

  • Dia harus hidup di lingkungan ilmu yang membuatnya matang mempelajari ilmu
  • Dia harus sering bermujalasah dengan para ulama dan berhadapan dengan berbagai macam corak pemikiran yang ada di zamannya
  • Dia harus mulazamah dengan seorang guru yang senantiasa membimbing dan mengarahkan beliau dalam setiap detail permasalahan dan hal-hal yang samar sehingga tidak tersesat.

Ke tiga persyaratan di atas semua telah dipenuhi oleh Abu Hanifah sehingga beliau pun menempati tempat mulia sebagai Imam Madzhab Hanafi sekaligus Imam Madrasah Ahlu Ra’yi di Iraq.

(Bersambung ke bagian berikutnya ...)

Bagikan via


Baca Lainnya :

Bolehkah Shalat Berjamaah Ditinggalkan?
Siti Chozanah, Lc | 12 May 2017, 22:32 | 759 views
Apa Setiap Manfaat yang Diambil dari Transaksi Pinjam Meminjam Itu Riba ?
Galih Maulana, Lc | 4 April 2017, 13:16 | 2.707 views
Jenis Gerakan yang Membatalkan Shalat
Firman Arifandi, LLB | 21 February 2017, 01:03 | 3.438 views
Nikah Tanpa Wali: Dari Madzhab Hanafi Hingga Implementasinya Dalam UU Pernikahan di Pakistan
Firman Arifandi, LLB | 1 February 2017, 01:45 | 2.617 views
Ukuran Sedikit Dari Najis yang Ditolerir
Siti Chozanah, Lc | 23 January 2017, 04:41 | 2.889 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Imam Abu Hanifah ; Antara Ilmu dan Perniagaan (Bagian-2)
Tajun Nashr, Lc | 15 May 2017, 05:00 | 367 views
Imam Abu Hanifah ; Antara Ilmu dan Perniagaan (Bagian-1)
Tajun Nashr, Lc | 14 May 2017, 05:00 | 439 views
Qunut Nazilah ; Apa dan Bagaimana
Tajun Nashr, Lc | 7 January 2017, 05:00 | 1.034 views
Etika Dalam Melakukan Promosi Produk
Tajun Nashr, Lc | 16 December 2016, 05:00 | 866 views
Konsep Promosi Produk menurut Perspektif Hukum Islam
Tajun Nashr, Lc | 13 December 2016, 05:00 | 616 views