Hukum Wanita Hadir Shalat Berjamaah di Masjid Menurut Ulama Empat Madzhab | rumahfiqih.com

Hukum Wanita Hadir Shalat Berjamaah di Masjid Menurut Ulama Empat Madzhab

Isnawati, Lc Fri 19 May 2017 05:18 | 2277 views

Bagikan via

Ketika Ramadhan tiba, kita perhatikan masjid-masjid dipenuhi oleh jama'ah laki-laki dan wanita.. Baik untuk menunaikan shalat fardhu atau tarawih. Karena pada dasarnya shalat berjamaah sangat dianjurkan, terutama jika dilaksanakan di masjid. Ada banyak keutamaan shalat berjama'ah di masjid. Dalam hadis nabi SAW bersabda

صَلاَةُ الرَّجُلِ فيِ جَمَاعَةٍ تَضْعُفُ عَلىَ صَلاَتِهِ فيِ بَيْتِهِ وَسُوْقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِيْنَ ضَعْفًا. وَذَلِكَ أَنَّهُ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الوُضُوءَ ثُمَّ خَرَجَ إِلىَ الْمَسْجِدِ لاَ يَخْرُجُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ لمَ يَخْطُ خُطْوَةً إِلاَّ رُفِعَتْ لَهَا دَرَجَة وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيْئَةً فَإِذَا صَلىَّ لَمْ تَزَلْ المَلاَئِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْهِ مَا دَامَ فيِ مُصَلاَّهُ مَا لَمْ يَحْدُثْ: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ. وَلاَ يَزَالُ فيِ صَلاَةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلاَةَ

Dari Abi Hurairah radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Shalatnya seseorang dengan berjamaah lebih banyak dari pada bila shalat sendirian atau shalat di pasarnya dengan dua puluh sekian derajat. Hal itu karena dia berwudhu dan membaguskan wudhunya, kemudian mendatangi masjid dimana dia tidak melakukannya kecuali untuk shalat dan tidak menginginkannya kecuali dengan niat shalat. Tidaklah dia melangkah dengan satu langkah kecuali ditinggikan baginya derajatnya dan dihapuskan kesalahannya hingga dia masuk masjid dan malaikat tetap bershalawat kepadanya selama dia berada pada tempat shalatnya seraya berdoa,"Ya Allah berikanlah kasihmu kepadanya, Ya Allah ampunilah dia, Ya Allah ampunilah dia. Dan dia tetap dianggap masih dalam keadaan shalat selama dia menunggu datangnya waktu shalat.". (HR. Bukhari Muslim)

Adanya janji pahala dari Allah yang berlipat ganda inilah yang menjadi motivasi besar bagi kaum muslimin muslimat untuk menunaikan shalat berjama'ah di masjid. di tambah lagi kalau shalat berjama'ah itu dilaksanakan di bulan Ramadhan. Tentu sangat besar sekali keutamaan dan lebih berlipat lagi ganjaran pahalanya. Namun ada hal menarik dari sebuah riwayat sayyidah Aisyah istri rasulullah terkait shalatnya para wanita di masjid. Beliau pernah berkata:

لو أن رسول الله صلى الله عليه وسلم رأى ما أحدث النساء، لمنعهن المساجد كما مٌنعت نساء بني إسرائيل

Kalau seandainya Rasulullah melihat apa yang terjadi dengan para wanita sekarang. Maka sungguh beliau akan melarang para wanita ke masjid sebagaimana dulu dilarangnya para wanita bani israil ke masjid. (HR. Muttafaq 'Alaih).

Dalam riwayat di atas seolah Aisyah tidak suka para wanita hadir shalat ke masjid. Tidak menganjurkan para wanita shalat di masjid. Maka melihat ini, bagaimanakah pandangan para ulama fiqih terkait hadirnya para wanita ke masjid untuk shalat berjamaah.Apakah dianjurkan atau malah diharamkan? Dan mana yang lebih afdhal bagi mereka untuk shalat? Apakah di masjid atau di rumah saja?

Dalam hal ini penulis mencoba mengumpulkan dan memaparkan pendapat para fuqaha terkait hukum di atas.

A. Madzhab Hanafi

Al-Kasani (w.587 H.) salah seorang ulama Hanafiyah dalam kitabnya Badai Ash-Shanai fi Tartib Asy-Syarai menuliskan:

فالجماعة إنما تجب على الرجال، العاقلين، الأحرار، القادرين عليها من غير حرج فلا تجب على النساء

"Shalat berjama’ah diwajibkan bagi laki-laki yang berakal, merdeka, mampu melakukannya tanpa halangan, dan tidak diwajibkan bagi wanita”.[1]

Dari penjelasan beliau di atas, diketahui bahwa madzhab Hanafi mewajibkan shalat berjamaah bagi laki-laki namun  tidak wajib bagi wanita. Maka jika tidak di wajibkan, apakah boleh bagi wanita shalat berjama'ah di masjid?

Al-Marghinani(W.593 H) dalam kitabnya Al-Hidayah menyebutkan:

 ويكره لهن حضور الجماعات " يعني الشواب منهن لما فيه من خوف الفتنة " ولا بأس للعجوز أن تخرج في الفجر والمغرب والعشاء " وهذا عند أبي حنيفة رحمه الله "

Makruh bagi wanita-wanita muda menghadiri shalat berjamaah, karena dikhawatirkan menimbulkan fitnah, dan tidak mengapa bagi wanita yang sudah berusia senja untuk menghadiri shalat shubuh, maghrib dan isya di masjid. Ini merupakan pendapat Abu Hanifah. [2]

Kemudian Badruddin Al-‘Aini menjelaskan maksud dari makruh dari pernyataan Al-Marghinani adalah makruh yang mendekati haram.

قلت: المراد من الكراهة التحريم ولا سيما في هذا الزمان لفساد أهله

Yang dimaksudkan dari makruh disana adalah haram. Terutama pada zaman sekarang ini, seiring bertambah rusak orang-orangnya. [3]

Dari pemaparan di atas dapat disimpulakan bahwa  madzhab Hanafi membedakan hukum menghadiri shalat berjama’ah antara wanita yang masih muda, dan tua. Kalau wanita yang telah tua, tidak menarik lagi, yang kecil kemungkinan menyebabkan fitnah mereka membolehkan untuk para wanita ini hadir shalat di masjid.

Adapun para wanita yang masih muda mereka memakruhkannya, bahkan mengharamkannya. Karena dapat menimbulkan fitnah. Badruddin menjelaskan sesuatu yang membawa kepada yang haram maka diharamkan. Maka kalau kehadiran para wanita ini ke masjid dapat menyebabkan fitnah,  maka dia diharamkan. [4]

B. Madzhab Maliki

Al-Hathab Ar-Ru’aini (w. 954 H) salah seorang ulama Malikiyah dalam kitabnya Mawahib Al-Jalil menuliskan:

وقد كره مالك ذلك للشابة ولعل هذا هو المعهود من عمل الصحابة فلا يعرف أن أبكارهن ومن ضاهاهن يخرجن إلى المسجد، ولو خرج جميع النساء لملأن المسجد وعادلن الرجال في ذلكثم قال وخرج أبو داود عن ابن عمر أن النبي - صلى الله عليه وسلم - قال «لا تمنعوا نساءكم المساجد وبيوتهن خير لهن» ، وهذا يقتضي أن خروجهن إليها جائز وتركه أحب على ما قاله مالك في المختصر.

Imam Malik memakruhkan wanita yang masih muda (hadir shalat berjama’ah di masjid), karena berdasarkan perbuatan para sahabat, dimana pada waktu itu tidaklah diketahui para wanita mereka yang masih gadis atau yang muda-muda  keluar ke masjid. Kalau seandainya para wanita ini turut ke masjid. Maka masjid dipenuhi mereka dan melebihi laki-laki. Adapun hadis yang diriwayatkan Abu Daud dari Ibnu Umar:” Janganlah kalian larang wanita-wanita kalian ke masjid, dan rumah mereka lebih baik bagi mereka”, maksudanya adalah keluaranya mereka menuju masjid boleh, namun meninggalkan perbuatan tersebut lebih disukai sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Malik dalam Al-Mukhtashar.[5]

Kemudian Al-Kharsyi (w. 1011 H) menjelaskan, hukum terkait hadirnya wanita ke masjid tergantung status wanita tersebut. Sebagaimana berikut:

أنه يجوز ويندب للمتجالة المسنة التي لا أرب للرجال فيها أن تخرج إلى صلاة العيد والاستسقاء وأحرى للفرض، أما متجالة لم ينقطع أرب الرجال منها بالجملة فهذه تخرج للمسجد ولا تكثر التردد كما في الرواية، ويجوز جوازا مرجوحا للشابة أن تخرج للمسجد في الفرض وجنازة أهلها وقرابتها لا لذكر ومجالس علم وإن انعزلت كما قاله ابن عرفة وهذا ما لم تكن بادية في الشباب والنجابة وإلا فلا تخرج أصلا ولا يقضى على زوج الشابة بالخروج للمسجد لصلاة الجماعة إن

طلبته بخلاف المتجالة

Bahwasanya boleh bagi seorang wanita yang telah senja usianya dan tidak menarik perhatian lelaki,  untuk keluar rumah guna menjalankan shalat ied, istisqa’ dan terlebih lagi untuk shalat fardlu.  Adapun untuk wanita yang telah senja usianya tetapi masih menarik perhatian lelaki secara umum maka ia (diperbolehkan) ke masjid tetapi tidak sering demikian yang terdapat dalam riwayat ini, sedangkan untuk wanita muda boleh ke masjid untuk menunaikan shalat fardlu dan menghadiri jenazah keluarga serta kerabatnya. Namun (tidak diperbolehkan ke masjid) untuk menghadiri dzikir atau majlis ilmu meskipun menjadikan ia terasingkan. Sebagaimana yang diakatakan oleh Ibnu Arafah. Kehadiarannya dibolehkan selama tidak menarik dan nampak di kalangan pemuda. Kalau justru menarik para pemuda, maka dia tidak boleh keluar masjid, dan tidak pula bagi suaminya untuk mengijinkannya ke masjid meskipun dia meminta.[6]

C. Madzhab Asy-Syafi’i

Al-Mawardi (w.450 H.), salah satu ulama mazhab Syafi'iyah menuliskan di dalam kitabnya Al-Hawi Al-Kabir sebagai berikut :

من السنة لهن الصلاة في بيوتهن دون المساجد

Disunnahkan bagi para wanita shalat di rumah-rumah mereka bukan di masjid”.[7]

Imam An-Nawawi (w.676 H) menuliskan:

وَأَمَّا النِّسَاءُ فَجَمَاعَتُهُنَّ فِي الْبُيُوتِ أَفْضَلُ لِمَا رَوَى ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ " قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ " فَإِنْ أَرَادَتْ الْمَرْأَةُ حُضُورَ الْمَسَاجِدِ مَعَ الرِّجَالِ فَإِنْ كَانَتْ شَابَّةً أَوْ كَبِيرَةً تُشْتَهَى كُرِهَ لَهَا الْحُضُورُ وَإِنْ كانت عجوز الا تُشْتَهَى لَمْ يُكْرَهْ

Bagi para wanita, melaksanakan shalat berjamaah di rumah-rumah mereka lebih afdhal. Sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Umar, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian larang istri-istri kalian ke masjid, dan rumah mereka lebih baik bagi mereka”. Namun jika seorang wanita ingin hadir shalat berjama’ah di masjid bersama kaum laki-laki, dan seorang dia wanita yang masih muda, atau sudah tua tapi masih menarik, maka makruh baginya hadir shalat berjamaah di masjid. Tapi, jika wanita tersebut telah berusia senja, tidak menarik lagi, maka tidak makruh baginya hadir ke masjid. [8]

Kemudian Ar-Ramli (w.1004 H.) juga menegaskan mengenai hukum wanita muda shalat berjama’ah di masjid:

ويكره لها حضور جماعة المسجد إن كانت مشتهاة ولو في ثياب مهنة، أو غير مشتهاة وبها شيء من الزينة أو الريح الطيب

“Dimakruhkan bagi wanita yang musytahah (menarik) ikut shalat berjamaah di masjid walaupun memakai pakaian yang jelek, atau dia bukan wanita yang menarik yang dapat menimbulkan syahwat, tapi mengenakan perhiasan atau wewangian”.[9]

D. Madzhab Hambali

Al-Buhuti (w. 1051H) salah seorang ulama Hanabilah dalam kitabnya Kasyaf Al-Qina’ menjelaskan:

وَتُسْتَحَبُّ) الْجَمَاعَةُ (لِنِسَاءٍ، إذَا اجْتَمَعْنَ مُنْفَرِدَاتٍ عَنْ الرِّجَالِ، سَوَاءٌ كَانَ إمَامُهُنَّ مِنْهُنَّ أَوْ لَا) لِفِعْلِ عَائِشَةَ وَأُمِّ سَلَمَةَ (وَيُبَاحُ لَهُنَّ حُضُورُ جَمَاعَةِ الرِّجَالِ، تَفِلَاتٍ غَيْرَ مُتَطَيِّبَاتٍ) يُقَالُ: تَفِلَتْ الْمَرْأَةُ تَفَلًا، مِنْ بَابِ تَعِبَ إذَا أَنْتَنَ رِيحُهَا لِتَرْكِ الطِّيبِ وَالِادِّهَانِ وَتَفِلَتْ إذَا تَطَيَّبَتْ، مِنْ الْأَضْدَادِ، وَذَكَرَهُ فِي الْحَاشِيَةِ (بِإِذْنِ أَزْوَاجِهِنَّ) ؛ لِأَنَّ النِّسَاءَ كُنَّ يَحْضُرْنَ عَلَى عَهْدِهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - كَمَا يَأْتِي فِي الْبَابِ وَفِي صَلَاةِ الْكُسُوفِ وَكَوْنُهُنَّ تَفِلَاتٍ لِئَلَّا يَفْتِنَّ وَكَوْنُهُ بِإِذْنِ أَزْوَاجِهِنَّ لِمَا يَأْتِي أَنَّهُ يَحْرُمُ خُرُوجُهَا بِغَيْرِ إذْنِ زَوْجِهَا

(وَيُكْرَهُ حُضُورُهَا) أَيْ جَمَاعَةَ الرِّجَالِ (لِحَسْنَاءَ) شَابَّةٍ أَوْ غَيْرِهَا؛ لِأَنَّهَا مَظِنَّةَ الِافْتِتَانِ (وَيُبَاحُ) الْحُضُورُ (لِغَيْرِهَا) أَيْ غَيْرِ الْحَسْنَاءِ، تَفِلَةً غَيْرَ مُتَطَيِّبَةٍ بِإِذْنِ زَوْجِهَا: وَبَيْتُهَا خَيْرٌ لَهَا.

Disunnahkan bagi jamaah perempuan tersendiri melaksanakan shalat berjama’ah selama terpisah dari kaum laki-laki. Baik yang menjadi imam dari mereka sendiri atau yang lain, sebagaimana yang pernah dilakukan Aisyah dan Ummu Salamah.

Diperbolehkan pula bagi para wanita ikut shalat berjama’ah bersama kaum laki-laki selama mereka tidak mengenakan wewangian dan seijin para suami mereka.

Dan makruh hukumnya bagi wanita yang menarik, baik masih muda, ataupun sudah tua menghadiri shalat berjama’ah di masjid, karena dapat menyebabkan fitnah.

Dan sebaliknya, dibolehkan bagi wanita yang tidak menarik untuk hadir shalat berjama’ah di masjid, dengan tidak memakai minyak wangi dan seijin suaminya. Dan rumahnya lebih baik baginya. [10]

Kesimpulan:

  1. Shalat di rumah bagi para wanita terutama yang masih mauda-muda lebih afdhal daripada shalat di masjid menurut keempat ulama madzhab.

  2. Mengenai hukum shalat berjamaah di masjid bagi wanita, para ulama membedakan berdasarkan usia dan kecantikan atau menarik tidaknya wanita tersebut. Kalau wanita tersebut masih muda, cantik dan menarik, mayoritas ulama memakruhkannya hadir ikut berjama'ah di masjid. sedangkan wanita yang telah berusia senja atau tua semuanya membolehkan selama wanita ini dinilai sudah tidak menarik lagi dan kecil kemungkinan menimbulkan fitnah di tengah kaum muslimin.

  3. Bagi para istri jika ingin pergi shalat berjama'ah ke masjid, di syaratkan atau dibolehkan dengan seijin suaminya.

  4. Dan menjadi syarat diperbolehkannya wanita ke masjid, tanpa memakai wewangian dan pakaian yang mencolok dan menarik yang dapat menimbulkan syahwat para laki-laki. 

Wallahua'lam.

 



 

 


[1] Al-Kasani, Badai Ash-Shanai fi Tartib Asy-Syarai, jilid 1 hal.155.

[2] Al-Marghinani, Al-Hidayah fi Syarhi bidayah Al-Muftadi, jilid 1, hal.58.

[3] Badruddin Al-Aini, Al-Binayah Syarah Al-Hidayah, Jilid 2, hal.354.

[4] Badruddin Al-Aini, Al-Binayah Syarah Al-Hidayah, Jilid 2, hal.354.

[5] Al-Hathab Ar-Rua’aini, Mawahib Al-Jalil, Jilid. 2, hal.117.

[6] Al-Kharsyi, Syarah Mukhtashar Khalil li Al-Kharsyi, Jilid. 2, hal.35.

[7]Al-Mawardi Al-Hawi Al-Kabir, jilid.2, hal. 163.

[8] An-Nawari, Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzab, jilid.4, hal.197.

[9] Ar-Ramli Nihayatu Al-Muhtaj, jilid 2, hal. 140.

[10]Al-Buhuti, Kasyaf Al-Qina’ ‘an Matan Al-Iqna’ , jilid.1, hal 456.  

Bagikan via


Baca Lainnya :

Haruskah Niat Puasa dengan Redaksi Khusus
Isnawati, Lc | 18 May 2017, 13:23 | 1.387 views
Imam Abu Hanifah ; Antara Ilmu dan Perniagaan (Bagian-2)
Tajun Nashr, Lc | 15 May 2017, 05:00 | 658 views
Imam Abu Hanifah ; Antara Ilmu dan Perniagaan (Bagian-1)
Tajun Nashr, Lc | 14 May 2017, 05:00 | 706 views
Bolehkah Shalat Berjamaah Ditinggalkan?
Siti Chozanah, Lc | 12 May 2017, 22:32 | 1.175 views
Apa Setiap Manfaat yang Diambil dari Transaksi Pinjam Meminjam Itu Riba ?
Galih Maulana, Lc | 4 April 2017, 13:16 | 3.132 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Bolehkah Aqiqah dengan Sapi?
Isnawati, Lc | 26 August 2017, 14:35 | 834 views
Bolehkah Qurban untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?
Isnawati, Lc | 24 August 2017, 03:35 | 1.832 views
Apakah Dalil Adalah Nash Al-Quran dan Hadis?
Isnawati, Lc | 22 July 2017, 11:57 | 1.085 views
Konsekuensi Bagi Ibu Hamil dan Menyusui yang meninggalkan Puasa, Qadha atau Fidyah?
Isnawati, Lc | 29 May 2017, 17:10 | 2.188 views
Hukum Wanita Hadir Shalat Berjamaah di Masjid Menurut Ulama Empat Madzhab
Isnawati, Lc | 19 May 2017, 05:18 | 2.277 views
Haruskah Niat Puasa dengan Redaksi Khusus
Isnawati, Lc | 18 May 2017, 13:23 | 1.387 views
Bisakah Hafalan Al-Quran Dijadikan Mahar?
Isnawati, Lc | 24 December 2016, 05:08 | 1.596 views
Benarkah Madzhab Maliki Membolehkan Wanita Haidh Membaca Al-Quran?
Isnawati, Lc | 6 December 2016, 11:05 | 1.505 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA52 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA46 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Galih Maulana, Lc14 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc11 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA11 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Isnawati, Lc8 tulisan
Siti Chozanah, Lc6 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan