Nasakh Versi Syafiiyah dan Hanafiyah | rumahfiqih.com

Nasakh Versi Syafiiyah dan Hanafiyah

Firman Arifandi, Lc., MA Wed 16 October 2019 05:27 | 622 views

Bagikan lewat

Konsep nasakh yang dipelajari dalam ilmu Ushul Fiqih dan bagian dari disiplin ulumul Qur’an ternyata masih menyisakan perbedaan antara dua madzhab besar yakni Hanafiyah dan Syafiiyah. Hal ini tentunya berakibat pula kepada perbedaan keduanya dalam menghasilkan kesimpulan hukum dalam fiqih Islam. 

Memahami Nasakh

                Secara bahasa nasakh bermakna memindahkan atau menghilangkan. Sebagaimana dalam ungkapan tertulis :

نسخت الشمس الظلّ

Matahari menghilangkan bayangan

Sementara secara istilah definisi nasakh sebagaimana tertuang dalam kitab al waraqat sebagaimana berikut:

الخطاب الدال على رفع الحكم الثابت بالخطاب المتقدم على وجه لولاه لكان ثابتا مع تراخيه عنه

Khithab yang menunjukkan atas penghapusan hukum yang ditetapkan dengan khitab terdahulu , dengan jalan yang seandainya khitab penunjuk itu tidak ada pastilah khitab yang sebelumnya masih eksis, dengan adanya jarak antara keduanya.

Sebenarnya definisi ini lebih tepat diarahkan pada definisi peran dalil yang menghapus atau nasikh. Kalau kita lihat dalam definisi lain, nasakh dimaknai dengan:

رفع حكم شرعي بدليل شرعي

Penghapusan hukum syariat dengan dalil syar’i .

Maksud dari penghapusan hukum di definisi ini adalah menghapus keterkaitan hukum dalam dalil dengan perbuatan mukallaf yang sebelumnya berlaku menjadi tidak berlaku atau dirubah kepada konsekuensi hukum lain.

Perbedaan Konsep Nasakh Hanafiyah dan Syafiiyah

Pada umumnya, ketika sebuah dalil menyebutkan urutan pekerjaan dalam ibadah, maka hal tersebut dianggap sebagai bagian dari rukun ibadah itu sendiri. Karakteristik jumhur ulama pada dalil rukun ini biasanya menambahkan niat dan tertib sebagai bagian dari rukun juga sekalipun tidak tersebut dalam redaksi dalil. Hal ini dalam ijtihad dianggap sebagai ziyadah ala-n-nash atau penambahan atas redaksi tetap dalil.

Ulama Syafi’iyah memandang ziyadah ala-n-nash sebagai bagian dari ijtihad yang diperbolehkan karena masih dikorelasikan dengan dalil lain yang punya keterkaitan. Konsep ini yang tidak diterima oleh kalangan Hanafiyah, karena mereka justru memandang bahwa ziyadah ala-n-nash adalah bagian dari nasakh, dan yang berhak melakukan ini hanyalah Allah semata bukan dalam kapasitas manusia. Hal ini dinyatakan dalam kitab takhrijul furu alal ushul:

الزِّيَادَة على النَّص لَيست نسخا عندنَا وَذهب أَبُو حنيفَة رض إِلَى أَنَّهَا نسخ فَلَا تجوز إِلَّا بِمَا يجوز النّسخ بِهِ. وَاعْلَم أَن هَذِه الْمَسْأَلَة أَيْضا من الْمسَائِل اللفظية فِي الْأُصُول فان الْخلاف فِيهَا مَبْنِيّ على الْخلاف فِي حَقِيقَة النّسخ وَمَاهيته فحقيقة النّسخ عندنَا رفع الحكم الثَّابِت وَعِنْدهم هُوَ بَيَان لمُدَّة الحكم فان صَحَّ تَفْسِير النّسخ بِالْبَيَانِ صَحَّ قَوْلهم أَن الزِّيَادَة على النَّص نسخ من حَيْثُ أَنَّهَا بَيَان لكمية الْعِبَادَة أَو كيفيتها وان صَحَّ تَفْسِيره بِالرَّفْع لم تكن الزِّيَادَة نسخا

Penambahan atas nash sebenarnya bukan termasuk nasakah menurut kita, Imam Abu Hanifah justru berpandangan bahwa hal tersebut adalah nasakh. Maka tidak boleh ada hal tambahan apapun yang menasakhnya kecuali memang ada nasikh yang hadir untuk dalil tersebut. Ketahuilah bahwa hal ini sebenarnya adalah masuk dalam masalah lafdzhi dalam ilmu ushul. Karena perbedaan pendapat dalam konsep ini berangkat dari hakikat nasakh itu sendiri. Hakikat nasakh menurut kita (Syafiiyah) adalah penghapusan hukum yang telah tetap, sementara menurut mereka (Hanafiyah) nasakh adalah penjelasan tentang eksistensi masa berlakunya hukum. Jadi, (versi mereka) kalau penafsiran nasakh itu sah dengan penjelasan sah pula menurut mereka bahwa penambahan atas nash adalah bagian dari nasakh, dari sisi sesungguhnya penambahan tersebut adalah penjelasan tentang jumlah atau kadar ibadah atau tata caranya. Dan jika penafsiran nasakh hanya sah dengan penghapusan dari dalil lain, maka prinsipnya (menurut syafiiyah) penambahan nash bukanlah nasakh, hanya penjelasan.

 

Poin pembeda dalam konsep ziyadah ala-n-nash versi syafii dan hanafi ini sebenarnya adalah pada penstatusan ziyadah itu sendiri. Syafiiyah menganggap bahwa hal tersebut hanya sebagai penjelas kaifiyah atau tata caranya, sementara hanafiyah menganggap itu sebagai bagian dari penghapusan atas yang telah ditetapkan secara eksplisit.

 

Dampak Perbedaan keduanya Dalam Fiqih

            Perbedaan konsep nasakh versi Hanafiyah dan Syafiiyah ini tentunya berdampak pada perbedaan dalam ranah fiqih yang dihasilkan keduanya. Sedikitnya ada beberapa poin yang bisa kita sebutkan:

  1. Niat dalam wudhu menurut Syafi’iyah adalah rukun wajib, sedangkan menurut Hanafiyah bukan merupakan kewajiban. Alasan Hanafiyah adalah nash Al Quran yang menjelaskan kaifiyah wudhu sudah jelas (Al maidah : 6) hanya menyebutkan empat kewajiban saja. Maka mewajibkan niat dalam wudhu dianggap sebagai ziyadah yang merupakan bagian dari nasakh dan ini tidak dianggap benar oleh mereka.
  2. Pezina ghairu muhshan dalam pandangan Syyafiiyah selain dicambuk 100 maka juga dihukum taghrib atau diasingkan dengan dikorelasikan kepada dalil lain. Sementara menurut Hanafiyah ini tidak bisa diterapkan karena nash Quran hanya menyuruh cambuk seratus saja, maka jika ditambah dengan tagrib berarti  dianggap telah berani menasakh quran.

Itu adalah perbedaan fiqhiyyah yang muncul dari perbedaan konsep versi hanafiyah dan syafiiyah dalam ilmu nasakh, belum dalam pembahasan disiplin ilmu lain dalam ushul fiqih.

Wallahu a’lam bishhowab


Baca Lainnya :

Berilmu Sebelum Berutang
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 27 August 2018, 08:40 | 819 views
Jika Makmum dan Imam Berbeda Niat Shalat
Firman Arifandi, Lc., MA | 26 August 2018, 21:07 | 970 views
Fiqih Pinjam-meminjam
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 23 August 2018, 21:49 | 2.228 views
Keluarga Yang Dapat Pahala Qurban, Siapa Saja?
Aini Aryani, Lc | 18 August 2018, 18:08 | 741 views
Hari Arafah Ikut Waktu Wuquf atau Ikut Isbat Tiap Negara Saja?
Firman Arifandi, Lc., MA | 16 August 2018, 20:34 | 2.955 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Karena Khabar Ahad Bukan Hujjah
Firman Arifandi, Lc., MA | 3 November 2019, 20:03 | 261 views
Nasakh Versi Syafiiyah dan Hanafiyah
Firman Arifandi, Lc., MA | 16 October 2019, 05:27 | 622 views
Hari Arafah Ikut Waktu Wuquf atau Ikut Isbat Tiap Negara Saja?
Firman Arifandi, Lc., MA | 7 July 2019, 20:34 | 5.176 views
Tradisi Manaqiban dan Haul Menurut Salafushhalih
Firman Arifandi, Lc., MA | 1 July 2019, 05:47 | 1.201 views
Haramkah Menggelar Doa Akhir dan Awal Tahun Menyambut Muharram
Firman Arifandi, Lc., MA | 9 June 2019, 05:53 | 957 views
Bolehkah Tabarrukan ke Makam Rasulullah dan Shalihin?
Firman Arifandi, Lc., MA | 8 May 2019, 06:04 | 843 views
Jika Makmum dan Imam Berbeda Niat Shalat
Firman Arifandi, Lc., MA | 26 August 2018, 21:07 | 5.432 views
Fiqih dan Madzhab dalam Frame Sejarah (PART II)
Firman Arifandi, Lc., MA | 25 June 2018, 13:11 | 3.550 views
Fiqih dan Madzhab dalam Frame Sejarah (PART I)
Firman Arifandi, Lc., MA | 22 June 2018, 12:59 | 6.515 views
Sembelihan Ahli Kitab Zaman Sekarang Masihkah Dihalalkan?
Firman Arifandi, Lc., MA | 19 June 2018, 13:49 | 5.638 views
Fatwa Ulama Seputar Puasa di Negara Dengan Durasi Siang yang Panjang
Firman Arifandi, Lc., MA | 11 June 2018, 10:15 | 2.411 views
Jika Dalil Kita Selalu Bertentangan
Firman Arifandi, Lc., MA | 14 February 2018, 20:15 | 11.067 views
Tradisi Masyarakat Bisa Menjadi Dalil Dalam Agama?
Firman Arifandi, Lc., MA | 27 September 2017, 12:00 | 13.124 views
Ayat-ayat Hukum Terancam Expired?
Firman Arifandi, Lc., MA | 16 August 2017, 10:30 | 3.822 views
Jenis Gerakan yang Membatalkan Shalat
Firman Arifandi, Lc., MA | 21 February 2017, 01:03 | 19.066 views
Nikah Tanpa Wali: Dari Madzhab Hanafi Hingga Implementasinya Dalam UU Pernikahan di Pakistan
Firman Arifandi, Lc., MA | 1 February 2017, 01:45 | 18.464 views
Kembali Kepada Al-quran dan Hadist, Seperti Apa?
Firman Arifandi, Lc., MA | 14 January 2017, 16:07 | 8.588 views
Hukum Waris: Diskriminasi Islam Terhadap Perempuan?
Firman Arifandi, Lc., MA | 3 January 2017, 02:54 | 5.261 views
Diharamkan Melakukan Hal yang Belum Pernah Dilakukan Nabi?
Firman Arifandi, Lc., MA | 29 November 2016, 09:24 | 4.724 views
Menampar Istri yang Berbuat Nusyuz, Bolehkah?
Firman Arifandi, Lc., MA | 29 July 2016, 10:49 | 3.054 views
Perjalanan Pulang Ke Indonesia Menjelang Ramadhan; Ikut Awal Puasa Negara Setempat Atau Indonesia?
Firman Arifandi, Lc., MA | 4 June 2016, 17:48 | 4.559 views
Qawaid Fiqhiyyah Sebagai Formulasi Hukum: Sejarah, Urgensi, dan Sistematikanya (PART II)
Firman Arifandi, Lc., MA | 21 April 2016, 09:11 | 11.336 views
Qawaid Fiqhiyyah (Islamic Legal Maxim) Sebagai Formulasi Hukum: Sejarah, Urgensi, dan Sistematikanya (PART I)
Firman Arifandi, Lc., MA | 20 April 2016, 06:14 | 9.474 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA59 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA48 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA23 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Galih Maulana, Lc15 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc13 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Isnawati, Lc., MA9 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Siti Chozanah, Lc7 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Maharati Marfuah Lc4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan
Luki Nugroho, Lc0 tulisan
Nur Azizah, Lc0 tulisan
Wildan Jauhari, Lc0 tulisan
Syafri M. Noor, Lc0 tulisan
Ipung Multinigsih, Lc0 tulisan
Solihin, Lc0 tulisan
Teuku Khairul Fazli, Lc0 tulisan

Jadwal Shalat DKI Jakarta

13-11-2019
Subuh 04:05 | Zhuhur 11:39 | Ashar 15:00 | Maghrib 17:52 | Isya 19:04 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img