1. 2. Apa Hukum Bunuh Diri Karena Sakit Parah

Apa Hukum Bunuh Diri Karena Sakit Parah


YAS-1 : Thu, 16-11-2017 | Ahmad Sarwat, Lc., MA
1.Apa Hukum Kredit Kendaraan Dari Pembiayaan Pihak Ketiga
2.Apa Hukum Bunuh Diri Karena Sakit Parah
3.Bolehkah Mengkoreksi Pendapat Imam as-Syafii
4.Apa Hukumnya Salat Dzuhur Setelah Salat Jumat
5.Salat Tarawih 20 Rakaat Dan 8 Rakaat Mana Yang Lebih
6.Bagaimana Tentang Hal Mengadzani Bayi Yang Baru Lahir

Pertanyaan yang kedua

Hukum bunuh diri karena sakit tetapi Semasa Hidup rajin ibadah

Pertanyaan, “ Assalamualaikum pak Ustad saya salah satu pemirsa share channel TV. Yang ingin saya tanyakan tentang orang yang mati bunuh diri karena tidak tahan menahan sakit Kanker. Apa tanggapan Ustadz mengenai orang tersebut, sedangkan orang tersebut tekun dalam ibadah. Mohon penjelasannya Pak Ustadz Terima kasih sebelumnya”

Jawaban

Memang para ulama umumnya sudah sepakat bahwa yang namanya bunuh diri itu ada perbuatan yang dilarang. 

ولا تقتلوا أنفسكم

“Wa laa Taqtuluu Anfusakum”. Janganlah kamu membunuh dirimu sendiri (QS An Nisaa;29), atau ayat yang lain.

ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة

 Dan Janganlah kamu ceburkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan. (QS. Al-Baqarah : 195

Bahkan ada hadis Nabi SAW

من تردى من جبل فقتل نفسهفوهو في نار جهنم يتردى فيها خالدا

Siapa yang naik ke atas puncak gunung kemudian dia menjatuhkan dari atas puncak gunung itu, maka dia termasuk orang yang bunuh diri dan sebagainya.

Bunuh dirinya sendiri ada perbuatan yang haram yang diancam pelakunya masuk neraka. Tapi bagaimana dengan penyakitnya yang dia sendiri mungkin sudah “sangat sangat” tidak tahan karena sakitnya ini benar-benar sakit. Dalam hal ini para ulama mengatakan bahwa, ada semacam “bunuh diri” (dalam tanda petik) yang sifatnya itu tidak aktif tapi sifatnya pasif.

Sebutlah misalnya pasien yang sudah tidak mungkin lagi bisa diobati. Dalam arti, pasien tersebut masih/tetap diobati tapi reaksi tubuhnya terhadap obat itu boleh dikatakan tidak ada sama sekali. Jadi upaya-upaya yang dilakukan sebatas kemampuan manusia dengan teknologi kedokteran yang canggih itu misalnya, sudah tidak mampu lagi untuk bisa merubah keadaannya. Semakin hari semakin buruk, semakin hari semakin sakit dan sebagainya. Lalu kemudian ada inisiatif untuk menghentikan upaya pengobatan. Ini yang disebut dengan Euthanasia (menghentikan pengobatan).

Euthanasia ini kalau konteksnya adalah menghentikan upaya pengobatan yang dianggap memang sudah tidak berhasil ini, para ulama umumnya mengatakan itu tidak apa-apa. Tidak mengapa dihentikan pengobatannya. Urusan nyawanya, itu urusan Allah SWT.

Tapi ada juga Euthanasia yang haram hukumnya. Yaitu pasien bukan dihentikan pengobatan, tetap diobati, tapi dengan obat yang overdosis. Sehingga dengan itu seolah-olah dia (Pasien) di bunuh, diracun dengan obatnya itu. Nah ini adalah Euthanasia yang negatif yang tidak boleh dilakukan, yang haram hukumnya. 

Termasuk juga nanti kalau misalnya dia bunuh diri dengan cara gantung diri, atau dengan cara menembakkan pistol ke dahinya, atau misalnya dengan cara dia memutus urat nadinya sendiri, dan sebagainya. Nah semua perbuatan itulah perbuatan yang haram dan tidak boleh dilakukan untuk mengakhiri nyawa dirinya sendiri. Sesuatu yang diharamkan untuk kita lakukan.

Wallahua’lam

Ahmad Sarwat Lc.MA

more . . .