1. 3. Bolehkah Mengkoreksi Pendapat Imam as-Syafii

Bolehkah Mengkoreksi Pendapat Imam as-Syafii


YAS-1 : Thu, 16-11-2017 | Ahmad Sarwat, Lc., MA
1.Apa Hukum Kredit Kendaraan Dari Pembiayaan Pihak Ketiga
2.Apa Hukum Bunuh Diri Karena Sakit Parah
3.Bolehkah Mengkoreksi Pendapat Imam as-Syafii
4.Apa Hukumnya Salat Dzuhur Setelah Salat Jumat
5.Salat Tarawih 20 Rakaat Dan 8 Rakaat Mana Yang Lebih
6.Bagaimana Tentang Hal Mengadzani Bayi Yang Baru Lahir

Pendapat imam Syafi'i bisa dikoreksi

Pertanyaan.

“Ada seorang Ustadz tenar yang menyampaikan bahwa pendapat Imam Syafii pun masih bisa dikoreksi. Beliau bertendensi Pada perkataan Imam Syafi'i yaitu

إذا صح الحديث فهو مذهبي

Jika suatu hadits itu shahih, maka itulah mazhabku.

mohon penjelasannya ya Ustadz”

Jawaban

Baik ini pertanyaan cukup menarik yaitu tentang Bolehkah kita atau Bisakah kita mengoreksi pendapat dari seorang imam besar yaitu Al Imam As Syafii rahimahullah.

Sebenarnya kalau kita dudukan perkaranya, apakah bisa dikoreksi pendapatnya (Imam Syafi'i), maka sebenarnya tidak ada dalil yang mengatakan bahwa (pendapat Imam Syafi’i) tidak bisa dikoreksi.

Bahkan oleh diri beliau sendiri (Imam Syafi'i), beliau sendiri pun mengkoreksi pendapatnya.

Karena itu kita mengenal ada 2 Qoul istilahnya. Qoul Qodim ketika beliau masih tinggal di Baghdad, kemudian ada Qaul Jadid ketika beliau sudah tinggal di Mesir. Antara Qoul Qodim dengan Qoul Jadid itu juga sebenarnya adalah tidak lain koreksi an juga. Jadi beliau mengoreksi pendapatnya sendiri dengan berbagai macam alasan.

Misalnya, Katakanlah dulunya beliau belum menemukan hadisnya atau mungkin ada hadisnya tapi belum bisa dipastikan kesahihan dan sebagainya.

Maka ketika beliau sudah menemukan hadisnya atau sudah memastikan keshohihannya, maka hukum atau fatwa yang tadinya sudah beliau katakan “A” bisa saja berubah menjadi “B” karena memang sudah ada data-data yang lebih terbaru dan sebagainya. 

Yang mengkritisi adalah diri beliau sendiri, maka itu tidak jadi masalah. Dan umumnya para ulama dari kalangan Madzhab Syafi’i  mengatakan bahwa, yang lebih rajih, yang lebih kuat itu memang pendapat-pendapat beliau yang terbaru, yaitu Qaul jadid.

Walaupun nanti para kritikus Mazhab Syafi'i, misalnya al Imam Nawawi rahimahullah di dalam kitabnya Al majmu, kadang-kadang mengatakan bahwa, pendapat al-imam,ini memang pendapat beliau yang baru, yang jadid, yang seharusnya kita pegang.

Tetapi kebanyakan ulama (al-ashab), para ulama di masa berikutnya yaitu di kalangan madzhab Syafi'i, umumnya malah tidak merojihkan (tidak menguatkan) pendapat yang kedua. tetapi malah pendapat yang lebih awal (Qoul Qodim). Di situ nanti ada diskusi yang cukup panjang.

Tetapi yang menjadi catatan adalah bahwa mengkritisi pendapat seorang Imam mujtahid sekelas al Imam Syafi'i, itu hanya layak dilakukan oleh orang yang kelasnya memang satu level (sama/sederajat). Setidak-tidaknya minimal dia adalah seorang mujtahid juga. Maka seorang mujtahid kalau memang sudah punya kemampuan dalam berijtihad, maka silakan saja dia setuju dengan pendapat yang ada sebelumnya dari mujtahid yang lain atau mungkin dia tidak setuju. Sebagai sesama mujtahid masing-masing punya hak/previlege, atau  katakanlah wilayah di mana dia bisa melakukan kritik terhadap ijtihad-ijtihad yang ada sebelumnya.

Tetapi yang jadi masalah adalah, bagaimana kalau yang melakukan kritik itu, yang mengkritisi itu pendapat seorang  Syafi’i itu adalah orang yang awam. Orang yang tidak mengerti ilmu agama, orang yang tidak memahami Al Qur'anul Karim, tidak tahu sunnah, tidak tahu bagaimana cara meng istimbath. Tidak kenal apa itu Ijma, tidak tahu apa itu qiyas, tidak tahu apa itu Maslahah Mursalah, apa itu istihsan, istishab, al ‘Urf, dan sebagainya,

Tidak mengerti mashodir Al-Syariah al-Islamiyah, sumber sumber syariat islamiyah. Bagaimana cara melakukan ijtihad. Tidak tahu bagaimana cara menshahihkan hadis kecuali hanya bertaklid. Taklidnya hanya kepada imam-imam yang sudah ada, seperti takqlid pada Imam Bukhari, taqlid kepada Imam Muslim dan sebagainya. 

Dengan segala ketidakmampuannya dalam ilmu hadits itu dan ketidakmampuan nya dalam ilmu istimbath hukum, kemudian tiba-tiba dia mengatakan, saya menolak pendapat Syafi'i,  karena Syafi’i itu laki-laki dan saya juga laki-laki. Nah ini adalah sesuatu yang sebenarnya cukup memalukan. Kurang lebih seperti begini kejadiannya (analoginya).

Seorang dokter ahli kandungan tentu dia adalah spesialis, bukan sekedar hanya dokter umum, tapi dia adalah dokter ahli. Yang namanya spesialis, kuliahnya itu sudah selesai S1 dan sudah selesai S2. Kemudian menilai, pasien yang sedang hamil ini harus di operasi Caesar, karena memang terjadi berbagai macam masalah. Apakah terbelit dengan tali pusar,  2-3 kali dan sebagainya. 

Maka sebagai seorang dokter ahli yang memang dia belajar untuk itu semua, dan sudah punya jam terbang yang cukup banyak, maka dia berhak untuk mengatakan, bahwa harus dilakukan tindakan Caesar. Dan keputusan dokter ini tidak bisa ditolak pendapatnya, oleh seorang "dukun beranak" yang praktek di kampung, yang mengatakan bahwa saya ini (dukun beranak ini) lebih ahli dari dokter spesialis kandungan. Padahal dia cuman dukun beranak saja, itupun juga belum pernah membantu melahirkan orang. Baru calon dukun beranak. Baru calon saja, belum jadi dukun beranak yang resmi, karena memang tidak ada yang meresmikan. Tidak ada lembaga yang memberikan sertifikat kepada dukun beranak. Seorang calon dukun beranak ini, tentu saja tidak bisa mengatakan bahwa. saya lebih ahli daripada dokter ahli itu.

Benar bahwa dokter spesialis itu pasti pernah punya salah, tidak bisa kita pungkiri, sebagaimana pilot misalnya, di dalam perjalanan pesawat terbang itu, di dalam kokpit itu ada Pilot, sudah punya jam terbang yang tinggi. Dia punya izin untuk menerbangkan pesawat dan sebagainya, dan tentunya pasti ada orang yang pernah sekolah di sekolah penerbangan bertahun-tahun dengan segala kemampuannya.

Pilot Itu dipercaya oleh maskapai, dipercaya oleh dunia Airline, dan dipercaya oleh dunia penerbangan internasional bahwa dia (Pilot) adalah orang yang layak untuk menerbangkan pesawat.

Tidak bisa tiba-tiba ada seorang penumpang, lalu bilang, Minggir Pilot, biar saya saja yang menerbangkan pesawat. Saya juga terbiasa main game pilot di PlayStation.

Nah itu tidak bisa begitu karena bahwa yang namanya seorang pilot itu tidak mungkin dia dibolehkan menerbangkan pesawat kecuali dia sudah expert dibidangnya. Silahkan Dia (pilot) menerbangkan pesawatnya, karena dia memiliki kewenangan untuk melakukan hal tersebut, sementara penumpang yang tadi ingin “mengemudikan pesawat tersebut”, dia adalah penumpang biasa ini, yang cuma hidup di alam Maya (karena hanya terbiasa menerbangkan pesawat di dalam game Playstation atau yang lainnya) lalu tiba-tiba dia (penumpang itu) mengatakan, “menerbangkan pesawat itu sederhana kok. Kokpit yang ada di pesawat itu juga saya sering menghadapinya di dalam simulasi.

Tentu beda dengan orang yang sudah terbiasa yang sudah menjadi pilot profesional, dengan orang yang cuman baru bersimulasi.

Kalau dia mengambil alih pesawat/penerbangan itu, pastinya dia akan ditangkap karena dia sudah melakukan perbuatan yang tidak benar melanggar hukum. Cukup lama mungkin di penjaranya. Kalau sampai ada penumpang mengambil alih pekerjaan pilot. Bisa disebut sebagai pembajak, bisa sebagai dikatakan sebagai teroris dan sebagainya, yaitu orang yang bukan ahlinya kemudian mengambil alih pekerjaan yang sangat sangat vital. Ini sangat besar resikonya kalau dilakukan oleh bukan yang expert nya, kalau dia mengambil alih begitu atau membuat penyesatan penyesatan di tengah masyarakat, sambil mengatakan bahwa saya juga bisa menerbangkan pesawat sebesar ini karena saya sering main game.

Dan pilot itu, namanya juga manusia, masih mungkin membuat kesalahan. Benar bahwa pilot itu namanya juga manusia, bisa saja dia melakukan banyak kesalahan-kesalahan, namun sesalah salahnya seorang pilot, biar bagaimanapun dia adalah orang Expert,  orang yang paling ahli dalam menerbangkan pesawat dan sudah disiapkan secara profesional untuk melakukannya. Kira-kira seperti itu

Wallahua’lam

Us Ahmad Sarwat Lc.MA

more . . .