2. 1. Benarkah Kalau Sedang Haid Tidak Boleh Membaca Al Quran Atau Memegang Mushaf?

Benarkah Kalau Sedang Haid Tidak Boleh Membaca Al Quran Atau Memegang Mushaf?


YAS-2 : Tue, 21-11-2017 | Ahmad Sarwat, Lc., MA
1.Benarkah Kalau Sedang Haid Tidak Boleh Membaca Al Quran Atau Memegang Mushaf?
2.Bagaimana Hukumnya Safar Atau Bepergian Tanpa Mahram Zaman Sekarang?
3.Bagaimana Kalau Haid Telah Selesai Tapi Besoknya Keluar Cairan Seperti Haid Tapi?
4.Apa Hukumnya Makan Hadiah Tetangga Non Muslim Sisa Ritual Mereka
5.Adakah Penjelasan Tentang Hukum KPR Subsidi Pemerintah Akadnya Benar Namun Bank Nya Pakai Bank Konvensional

Benarkah Kalau Sedang Haid Tidak Boleh Membaca Al Quran Atau Memegang Mushaf?

Pertanyaan;

Saya ini Ibu ini bertanya tentang Apa hukumnya, kalau sedang halangan, (mungkin sedang haid) bolehkah  membaca al-quran atau memegang mushaf?

Jawaban;

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Apa kabar pemirsa yang dirahmati Allah, pagi hari ini kita bisa bertemu kembali dalam tanya Ustadz yang ditayangkan secara live dari studio satu rumah fiqih Indonesia. Bekerja sama dengan televisi kesayangan kita, Share Chanel TV Alhamdulillah.

Di Pagi yang cukup cerah ini sudah beberapa pertanyaan yang masuk kepada pihak kami. Dan dikirimkan dalam bentuk pertanyaan format video. Jadi kami menerima pertanyaan tidak hanya lewat email lewat Facebook dan sebagainya tapi juga dalam format video yang insya Allah kita coba bahas pertanyaan ini.

Perkara ini oleh para ulama, umumnya telah disepakati oleh 4 madzhab, bahwa seorang yang sedang dalam keadaan haid atau sedang dalam keadaan ber janabah, memang diharamkan untuk melafadzkan Alquran.

Melafadzkan itu maksudnya adalah membaca al-quran dengan lisan. Baik dengan suara keras atau dengan suara yang lirih, tetapi lisannya itu melafadzkan bacaan al Quran. Hal seperti ini tidak dibolehkan sampai haidnya selesai.

Tetapi ada juga pengecualiannya, yaitu apabila membacanya hanya di dalam hati saja. Tidak sampai di lisannya. Maka seandainya membacanya hanya dalam hati, itu tidak jadi masalah.

Yang kedua, bisa juga membaca teks terjemahannya, karena kalau teks terjemahan itu, dia bukanlah merupakan Alquran. Yang merupakan Alquran itu adalah teks bahasa Arabnya.

Maka kalau mau membaca isinya atau tafsirnya atau penjelasan-penjelasan tentang isi daripada ayat al-quran, itu tidak masalah.

Jadi yang pertama, boleh kalau membaca di dalam hati, atau yang kedua boleh kalau membaca terjemahnya saja, atau bisa juga yang ketiga ini, mungkin buat wanita yang sedang dalam program Tahfidz/menghafal, yaitu dia tetap boleh mendengarkan Al Quran, tidak boleh melafadzkan, tapi tetap masih bisa atau masih dibolehkan untuk mendengarkan bacaan Al Quran. Istima’ dengan ayat-ayat suci al Quran itu tetap dibolehkan.

Sehingga walaupun misalnya ada larangan untuk membaca dalam arti melafadzkan, tapi kalau di dalam hati atau baca teks terjemahnya, atau mendengarkan bacaan dari orang lain, atau dari kaset atau dari suara audio, dari headset yang kita dengarkan, atau dari suara radio dari televisi dan lain-lain, sebatas hanya mendengarkan, maka itu juga tidak menjadi masalah.

Ini terkait dengan haramnya membaca Alquran bagi wanita yang Haidh.

Lalu bagaimana dengan menyentuh mushaf nya?

Memang yang dimaksud dengan mushaf itu adalah segala benda atau segala media yang tertulis teks al-quran dalam bahasa Arab.

Teks al-quran dalam bahasa Arab ini adalah benda yang dikatakan sebagai mushaf. Oleh karena itu keharamannya adalah apabila mushaf betul-betul teks al-quran bahasa Arab.

Kalau seandainya ada buku yang tertulis dalam bahasa Arab, tetapi mu’jam, yang lebih banyak nya, Mu’jam isinya adalah teks bahasa Arab yang bukan Alquran, entah itu Hadits, entah itu perkataan para ulama, para fuqoha dan sebagainya maka tidak dikatakan sebagai mushaf.

Jadi yang dikatakan mushaf itu adalah yang murni isinya Alquran saja. Sehingga kalau haram hukumnya bila kita memegang mushaf dalam keadaan haid atau dalam keadaan ber hadats besar.

Sebagian ulama membolehkan apabila dalam keadaan darurat.

Misalnya mushaf terjatuh di atas tanah, khawatir nanti bisa menjadi  penghinaan terhadap Alquran, maka perlu diselamatkan (diambil). Untuk kasus seperti ini, menyelamatkan mushaf, untuk bisa dipindahkan ke tempat lain, walaupun orang tersebut sedang janabah atau sedang dalam keadaan haid.

Sebagian lagi dari ulama, juga ada yang  mengatakan boleh  menyentuhnya (mushaf Alquran) walaupun dalam kondisi berjanabah/haidh, asalkan dengan alas.

Alas itu berarti ada alat atau media, dimana kita bisa menyentuh mushaf itu tidak secara langsung dengan tangan kita. Mungkin dengan tongkat atau dengan pensil atau dengan sesuatu yang membuat kita tidak bersentuhan langsung dengan mushaf Alquran.

Karena di dalam al-quran, Ulama sepakat menerjemahkan atau memaknai firman Allah “laa yamassuhu Illal muthoharun” tidak boleh ada yang menyentuhnya Kecuali mereka yang suci.

Suci dari hadats,  baik itu hadats kecil atau besar. Ini berlaku pada mushaf.

Itu kira-kira terkait dengan Bolehkah wanita yang sedang haid membaca al-qur'an menyentuh Mushaf.

Wallahua’lam

Ust Ahmad Sarwat Lc.MA

more . . .