Lihat per Bulan : ( 11 12 - 2017) ( 1 2 3 4 5 6 - 2018)


7. 3. Bolehkah Menjama Shalat Karena Macet?

Bolehkah Menjama Shalat Karena Macet?


YAS-7 : Thu, 7-12-2017 | Ahmad Sarwat, Lc., MA
1.Hukum Memakai Uang Yang Didapat Dari Menang Undian
2.Bolehkah Orang Yang Shalat Sunnah Bermakmum Kepada Orang Yang Shalat Wajib? Haruskah Menepuk Pundak?
3.Bolehkah Menjama Shalat Karena Macet?
4.Bolehkah Shalat Duduk Tidak Berdiri Karena Sakit Atau Perjalanan?
5.Membaca Surat Al-Fatihah Dalam Shalat Tanpa Basmalah, Sah Atau Tidak Shalatnya?
< Eps. SesudahEps. Sebelum >

Bolehkah Menjama Shalat Karena Macet?

 

Pertanyaan;

Apakah kita boleh menjamak sholat walaupun jaraknya belum memenuhi. Misalnya ada orang yang bekerja di daerah Jakarta, namun rumahnya juga di daerah Jakarta tapi pulangnya jam 17.00, jika diestimasikan waktunya itu dia bisa shalat maghrib di rumahnya tapi dikarenakan macet sekali jadi dia baru sampai di rumah Isya.  Apakah itu sholat yang bisa dijamak?

Terima kasih Ustadz

 

Jawaban;

Dari Jakarta boleh apa tidak shalat yang tidak terkejar karena gara-gara macet saat maghrib misalnya lalu kemudian  sholatnya di rumah saja yakni maghribnya dijamak dengan Isya tapi di rumah. Sebenarnya kalau untuk menjamak ya memang syarat yang utama / disepakati oleh ulama adalah kalau dalam kondisi safar. Kondisi safar itu artinya di dalam perjalanan yang jaraknya kata Nabi: 4 barid / 88,704 KM,  kalau kita bulatkan 89 KM atau 90 KM. Rata-rata pekerja di Jakarta mereka rumahnya memang jauh yaitu ada yang kantornya di Jakarta tapi rumahnya mungkin di Bekasi / di Bogor / Depok / Tangerang dan sebagainya. Tetapi semua itu bukanlah jarak safar, artinya belum membolehkan untuk menjamak dan memang tidak perlu dijamak dan tidak sah juga kalau dijamak. Lalu bagaimana dengan macet? Macet ini satu hal tersendiri yang tidak pernah ada di zaman Rasulullah sehingga tidak bisa kemudian kita menyatakan bahwa macet itu membolehkan jamak dan juga tidak bisa diqiyas karena ketika Rasulullah SAW membolehkan jamak atau qasar itu illat yang disepakati oleh para ulama itu bukan masyaqqah, bukan rasa berat, bukan halangan tapi yang jadi illat dari dibolehkannya jama' dan qashar adalah safar.

Banyak orang sekarang yang keliru memahaminya bahwa kita boleh jamak kalau ada masyaqqah, tidak. Bukan karena masyaqqahnya tapi karena safarnya. Macet itu masyaqqah karena kita jadi susah untuk  sholat dan sebagainya, tapi ingat kebolehan jamak / kebolehan qashar itu bukan karena masyaqqah tapi karena safar. Jadi karena macet ini bukan safar, maka macet ini bukan hal-hal yang membolehkan orang menjamak. Masyaqqah ini harus dilawan dengan berbagai macam antisipasi.

فَاتَّقُوا الَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu” (Qs. At Taghabun : 16)

Jadi kalau kita lagi macet, yang menjadi pertanyaan macetnya naik apa? naik angkot? Turun. Naik bus? Turun. Bahkan bus zaman sekarang di Jakarta yang disebut Transjakarta atau orang menyebutnya dengan busway, di halte tersebut sekarang sudah mulai ada mushola sehingga kita bisa turun lalu sholat di situ lalu naik lagi tanpa harus bayar lagi. Begitu juga di commuter line kalau di Jakarta di semua stasiun Commuter Line itu ada mushola yang adanya di dalam area, artinya kita tidak harus keluar dari stasiun dan kita bisa salat dulu lalu kita kemudian masuk lagi aja kereta tanpa harus bayar. Kalau kita naik angkot misalnya itu lebih gampang lagi tinggal turun saja lalu cari mushala / cari masjid, selesai. Jadi sebenarnya kalau mau dibilang masyaqqah, nggak juga. Kenapa saya bilang tidak masyaqqah? karena justru di jam maghrib itulah orang paling banyak ke mall, orang paling banyak berkumpul di tempat-tempat keramaian dan  itu sama sekali bukan masyaqqah. Mungkin kalau misalnya kita berada didalam jalan tol yang macet yang kita nggak bisa keluar sama sekali oke lah itu masyaqqah tapi macet di Jakarta itu tidak semata-mata stuck di dalam jalan tol, tapi kita berada di jalan yang bebas kita bisa berhenti dimana saja / bisa turun di mana saja / bisa shalat di mana saja, bahkan kalau perlu shalatnya di trotoar / di tanah / di rerumputan / di mana-mana semua adalah masjid sebagaimana sabda Rasulullah:

كُـلُّ اْلأَرْضِ مَسْـجِدٌ، وَطَـهُوْرٌ

‘Semua bumi / tanah adalah masjid dan suci”

Dimanapun seorang diantara umatku mendapatkan waktu shalat dia sudah punya masjid dan dia sudah punya tempat atau media untuk bersuci. Maka jangan dijamak di rumah karena melanggar tiga hal, pertama itu bukan masafatul qosri (bukan masafa yang bisa untuk menjamak), kedua kalaupun kita melakukannya di rumah maka masyaqqahnya sudah selesai padahal yang namanya kita boleh menjamak illatnya masih harus terjadi atau tidak boleh dilakukan di rumah juga pada akhirnya, dan yang ketiga kalau lagi mau dibilang darurat / masyaqqah harusnya yaitu sekali sekali saja, kalau setiap hari kita bilang ini selalu darurat, maka darurat sudah menjadi tidak berlaku lagi.

 

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Lihat per Bulan : ( 11 12 - 2017) ( 1 2 3 4 5 6 - 2018)