Lihat per Bulan : ( 11 12 - 2017) ( 1 2 3 4 5 6 - 2018)


7. 2. Bolehkah Orang Yang Shalat Sunnah Bermakmum Kepada Orang Yang Shalat Wajib? Haruskah Menepuk Pundak?

Bolehkah Orang Yang Shalat Sunnah Bermakmum Kepada Orang Yang Shalat Wajib? Haruskah Menepuk Pundak?


YAS-7 : Thu, 7-12-2017 | Ahmad Sarwat, Lc., MA
1.Hukum Memakai Uang Yang Didapat Dari Menang Undian
2.Bolehkah Orang Yang Shalat Sunnah Bermakmum Kepada Orang Yang Shalat Wajib? Haruskah Menepuk Pundak?
3.Bolehkah Menjama Shalat Karena Macet?
4.Bolehkah Shalat Duduk Tidak Berdiri Karena Sakit Atau Perjalanan?
5.Membaca Surat Al-Fatihah Dalam Shalat Tanpa Basmalah, Sah Atau Tidak Shalatnya?
< Eps. SesudahEps. Sebelum >

Bolehkah Orang Yang Shalat Sunnah Bermakmum Kepada Orang Yang Shalat Wajib? Haruskah Menepuk Pundak?

 

Pertanyaan;

Apa hukum seorang yang shalat wajib bermakmum dengan orang yang shalat sunnah.

Misalnya ada orang yang masbuk mendapati orang yang sedang shalat sunnah ba'diyah. Apakah boleh dan harus menepuk pundak?

 

Jawaban;

Pertanyaannya cukup menarik yaitu apakah kita orang yang akan shalat fardhu boleh bermakmum kepada orang yang shalatnya salat sunnah.

Memang banyak terjadi di tengah masyarakat dan banyak juga yang bertanya seperti ini. Jadi anggaplah ini mewakili dari sekian banyak penanya lainnya.

Pertama adalah, bahwa sebenarnya kalau kita mau sholat berjamaah itu datangnya jangan telat. Jangan imam sudah selesai, kita baru datang lalu kita ingin / cari berjamaah, lalu orang yang sedang sholat ba'diyah sendirian kita colek-colek untuk dijadikan sebagai Imam. Ini jamaah juga sih namanya tapi bukan jamaah yang dimaksud di dalam hadits Nabi yang bunyinya:

صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

Shalat jama'ah lebih utama dari shalat sendirian sebanyak 27 derajat. (HR. Bukhari, no. 645 dan Muslim, no. 650)

Yang dimaksud mendapat keutamaan 27 derajat yakni shalat di masjid dengan Imam rawatib (imam yang resmi di masjid tersebut). Dan ketika imam sedang takbiratul ihram, kita sudah ada di belakangnya ikut juga takbiratul Ihram, hal ini yang dapat mendapat fadilah 27 derajat dalam berjamaah. Tetapi kalau berjamaah itu datang ke masjid tetapi imam sudah selesai, lalu kita mencari Imam seketemunya (bukan imam Rawatib), ini bukan shalat jamaah yang dimaksud. Disebut berjamaah juga, tapi bukan 27 derajat, nilainya sudah mengalami degradasi mungkin 2,7 derajat.

Lalu bolehkah orang yang ingin shalat berjamaah tersebut, namun sudah tidak kebagian imam karena imam nya sudah selesai, lalu kita cari siapa di antara mereka yang kebetulan shalatnya shalat sunah ba'diyah. Apakah kita boleh? Misalnya kita sholat maghrib (shalat fardhu) lalu imamnya shalat sunnah. Bolehkah orang yang shalat fardhu bermakmum pada orang yang shalat sunnah, dilihat dari judul shalatnya saja sudah berbeda, shalat fardhu dengan shalat sunnah.

Jawaban para ulama terpecah dua:

  1. Jumhur mayoritas ulama mengatakan tidak boleh, baik itu mazhab Hanafi, Maliki dan juga Hambali mengatakan bahwa, sholatnya Imam itu harus sama dengan salatnya makmum, demikian juga makmum juga harus sama salatnya dengan imam. Bahkan Imam harus berniat jadi imam nya dan makmum harus berniat jadi makmumnya dari awal harus sudah disetel sedemikian rupa. Jangan ada orang yang sholat sendirian tiba-tiba kita ikut, itu hukumnya tidak sah dan tidak boleh.
  2.  Dalam mazhab Syafi'i, imam dan makmum boleh pakai prinsip orang-orang yunani yaitu mens sana in corpore sano (imam mau ke sana, makmum mau ke sono), walaupun beda shalatnya maka ini tidak jadi masalah. Di Indonesia, yang rata-rata menggunakan mazhab imam syafi’i pasti akan menemukan fenomena seperti ini, orang sedang shalat sunnah sendirian tiba-tiba ada orang datang bermakmum, dalam hal ini niat imam saja sudah berbeda maka dalam mazhab ini hukumnya diperbolehkan. Terdapat dalil mengenai hal tersebut, yakni di jaman Rasulullah ada sebagian sahabat yang sudah shalat berjama’ah bersama Rasulullah, lalu dia pulang ke rumah mengimami jama’ah lain, maka shalat kedua ini merupakan shalat sunnah, namun jama’ahnya disebut shalat fardhu.

Peristiwa kedua pada jaman Rasulullah, ada orang yang sudah shalat berjama’ah bersama Rasulullah, lalu datang seorang yang datang ke masjid ingin shalat, Rasulullah bertanya, “kamu mau ngapain?”, maka jawab orang itu, “saya mau shalat, tadi saya tidak sempat ikut, jadi saya akan shalat sendiri saja”, maka Nabi bilang kepada yang ada satu / dua orang yang disampingnya, “siapa di antara kalian yang mau bersedekah kepada orang ini? Kasihan dia shalatnya sendirian, temanilah biar dia bisa menjadi berjamaah”. Nah, yang menemani itu sudah shalat tapi kemudian dia shalat lagi, dengan dia salat lagi itu berarti yang kedua jatuhnya adalah salat sunnah dan bukan salat fardhu, Itu juga diperbolehkan. Maka, makmum sholat fardhu imam salat sunnah itu pada dasarnya tidak mengapa di dalam mazhab Syafi’i.

Apakah harus dicolek? Tidak. Karena dalam hal ini yang harus berniat adalah makmumnya, makmum berniat menjadi makmum. Adapun imam, imam tidak harus berniat menjadi imam karena dia adalah orang yang diikuti. Sebagai orang yang diikuti dia tidak perlu berniat “saya berniat untuk diikuti” tidak usah begitu, tapi yang harus berniat adalah makmum “saya berniat untuk mengikuti”. Jadi, sebagai yang diikuti dia tidak harus berniat sebagai orang yang diikuti / tidak berniat sebagai imam ,sementara makmum memang harus berniat sebagai makmum. Lalu masing-masing shalat dengan tujuannya masing-masing, yang satunya adalah salat sunnah / shalat ba'diyah, yang belakang sholatnya shalat fardhu yaitu shalat magrib misalnya. Dalam mazhab Syafi'i membolehkan dan tidak harus kita mencolek, karena mencolek tersebut sebenarnya tidak datang dari sunnah Rasulullah SAW, itu isyaratnya orang-orang kemudian yang merasa perlu kalau dikasih tahu lah, padahal tidak harus dikasih tahu tidak jadi masalah karena itu tidak harus berniat menjadi imam.

 

Ahmad Sarwat, Lc., MA

 

Lihat per Bulan : ( 11 12 - 2017) ( 1 2 3 4 5 6 - 2018)