Fiqih Dalam Al-Quran | rumahfiqih.com

Fiqih Dalam Al-Quran

by : Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA
Wed 21 December 2016 01:20 | 2450 views | bagikan via

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ وَإِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِكَ قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ فَمَالِ هَؤُلَاءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, Kendatipun kamu di dalam benteng yang Tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) Hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?” (QS. An-Nisa: 78)

Ada empat pokok pembahasan pada ayat diatas:

[Pertama]

Ayat sebelum ini, tegas as-Suddi, seperti yang dikutip oleh Ibnu Asyur (w. 1393 H.) dalam kitab tafsirnya at-Tahrir wa at-Tanwir, menjelaskan kondisi dua kelompok: (1) Kelompok orang-orang muslim yang dahulu pada waktu periode Mekkah mereka sangat menggelora ruh jihadnya, lalu kemudian ketika jihad sudah diizinkan pada periode Madinah sebagian dari mereka melempem, ini adalah pendapat Ibnu Abbas, Qatadah, dan al-Kalbi, dan (2) Menjelaskan kelompok orang-orang munafik, yang tampilannya pemberani, namun aslinya mereka adalah sekompok orang yang pengecut. [1]

Kedua kelompok ini, tatkala turun perintah berjihad, mereka semua berusaha mencari alasan dengan mengatakan: "Ya Tuhan Kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi?"(QS. An-Nisa: 77). Sepertinya kenyaman hidup, dan kecintaan terhadap dunia sudah membutakan mata hati, sehingga ada kesan bahwa penolakan jihad itu akan membuat mereka bisa hidup lebih lama, sehingga Al-Quran “butuh” kembali menegaskan bahwa kematian itu tidak ada hubungannya dengan jihad, karena kematian tetap akan mendatangi kapanpun dan dimanapun, demikian Al-Biqa’i (w. 885 H.) lebih tegas mengaitkan ayat ini (An-Nisa: 78) dengan ayat sebelumnya. [2]

Lebih lanjut, Al-Biqa’i menuliskan, pesan yang ingin disampaikan oleh Al-Quran kepada dua kelompok diatas, khususnya, dan pada sekalian ummat Islam pada umumnya bahwa:

فَإذَا كَانَ لاَ بُدّ مِنَ المْوتِ فلأنْ يَكُوْنَ في الجِهادِ الّذِي يَسْتَعْقِبُ السّعَادَة الأَبِدِيّة أَوْلَى مِنْ أَنْ يَكُوْنَ فِي غَيْرِهِ

“Jika memang pada akhirnya kematian akan pasti menjumpai, maka mati dalam berjihad yang berujung kepada kebahagian abadi itu lebih utama ketimbang mati dalam kondisi lainnya” [3]

[Kedua]

Para ulama berbeda pendapat apa yang dimaksud dengan kata buruj pada ayat diatas, setelah sebelumnya mereka sepakat bahwa kata buruj adalah bentuk jamak dari kata burj yang bermakna bangunan yang tinggi (al-bina’ al-murtafi’) [4]. Sedangkan kata musyayyadah berarti tinggi (aliyah) atau bisa juga berarti kokoh (hashinah) [5]. Sehingga apapun itu, baik gedung yang tinggi dan kokoh berupa benteng, atau istina raja, atau apa saja namanya maka ia masuk dalam katagori buruj musyayyadah yang tidak akan bisa sama sekali menghalangi datangnya kematian.

Imam at-Thabari (w. 310 H.) menuliskan sebuah cerita yang terjadi dahulu kala [6], diyakini cerita ini bersumber dari Mujahid [7], perihal cerita seorang perempuan yang pada suatu hari melahirkan bayi perempuan, lalu dia meminta kepada pembantunya untuk mencari api (untuk penerangan). Setelah keluar rumah, laki-laki ini bertemu dengan seseorang yang tidak dikenal, lalu bertaya: “Bayi yang dilahirkan oleh perempuan itu, laki-laki atau perempua?”. “perempuan”, jawabnya apa adanya. Lalu seseorang tadi melanjutkan perkataannya: “Bayi perempuan ini tidak akan mati kecuali setelah dia berzina dengan 100 orang, dan dia nanti akan menikah dengan laki-laki pembantu ibunya, lalu laki-laki yang menikahinya nanti akan mati karena laba-laba”.

Mendengar perkataan itu, lalu laki-laki yang tadi diminta untuk mencari api segera pulang ke rumah, dia mengambil pisaunya lalu berusaha membunuh bayi perempuan yang baru dilahirkan tadi dengan pisaunya, dia berhasil melukai tubuh bayi mungil itu, lalu dengan secepat kilat dia minggat dari rumah tersebut. Sang Ibu mendapati bayinya luka parah segera saja berusaha mengobatinya, dan singkat cerita nyawanya masih tertolong. Tahun berganti tahun anak itu tumbuh besar, dan laki-laki yang tadi berusaha membunuhnya juga sudah pergi entah kemana, dia juga sudah yakin bahwa bayi yang dulunya dia lukai sudah meninggal dunia.

Tiba waktunya laki-laki tadi kembali pulang kampung, tentunya dengan kondisi yang sudah berubah, selain dianya yang  sudah menjadi kaya raya, kondisi kampung juga sudah banyak perubahan, sehingga awal mula berasa asing di kampung sendiri. Dia berniat ingin menikah, dan niat baiknya itu dia sampaikan dengan seorang perempuan yag sudah tua di kampung itu. “Maukah ibu mencarikan perempuan paling cantik di kampung ini untuk saya nikahi”, begitu ujarnya. Singkat cerita laki-laki kaya ini akhirnya menikah dengan perempuan paling cantik di kampung itu.

Setelah menjalani kehidupan rumah tangga, ternyata perempuan yang dia nikahi itu adalah bayi perempuan yang dahulu pingin dia bunuh, itu karena istrinya sendiri yang bercerita sesuai dengan cerita ibunya, lalu ditunjukkanlah bekas luka besar yang ada dibagian anggota badannya, dan usut punya usut ternyata istrinya tersebut juga dahulunya pernah bekerja sebagai PSK dan tidak kurang pernah melayani 100 laki-laki berhidung belang. Mendengar pengakuan itu dia ketakutan, kemudian dia berlari ke salah satu rumah mewah miliknya bak istanah menjulang kelangit yang kokohnya sama seperti benteng,

Dalam kegelisahannya dia melihat disalah satu pojokan rumah megahnya ada seekor laba-laba persis dengan sarangnya. Dia juga bingung bagaimana mungkin rumah mewah tersebut bisa bersarang laba-laba. Dia usir laba-laba itu, dia injak dengan jari jempol kakinya dengan penuh geramnya, tapi laba-laba itu sudah terlanjur menggigit jempolnya dan menularkan racut dari gigitan itu, tiba-tiba kakinya menghitam karena racun tersebut, dan akhirnya meninggal dunia.

Cerita ini, terlepas riwayatnya shahih atau tidak, setidaknya bisa memberikan faidah bahwa tidak ada yang bisa menghalangi kematian jika ia sudah datang, dan seseorang tidak akan meninggal dunia jika memang ajalnya belum sampai. Ayat ini juga, lanjut Al-Qurthubi [8], menjadi bantahan atas faham Qadariyah yang menilai bahwa manusia bebas menentukan kehendak sendiri di bumi ini tanpa campur tangan Allah swt, dengan bukti bahwa kematian tetap akan datang walaupun manusia tidak menginginkannya.

[Ketiga]

Firman Allah swt: dan jika mereka memperoleh kebaikan mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)".

Imam Ar-Razi (w. 606) menjelaskan bahwa Ini adalah tanda berikutnya dari orang-orang munafik setelah sebelumnya mereka menolak seruan jihad karena memang mereka orang yang takut mati, maka ciri berikutnya adalah statmen yang sering terlontar dari lidah mereka memang selalu menyudutkan Islam, jika ada kebaikan (dunia) dari keberagamaan yang mereka anut mereka akan berkomentar bahwa ini murni karena Tuhan berbaik hati, jika keburukan (dunia) yang mereka terima mereka akan berkomentar pedas bahwa keburukan ini murni karena kesalahan Rasulullah saw. [9]

Hal senada pernah diucapkan oleh loyalis Firaun:

فَإِذا جاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قالُوا: لَنا هذِهِ، وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسى وَمَنْ مَعَهُ، أَلا إِنَّما طائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ

“Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: "Itu adalah karena (usaha) kami". dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. ketahuilah, Sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah…” (QS. al-A’raf:131)

[Keempat]

Berkaitan dengan kata ‎yafqahun pada ayat diatas, Muhammad Fuad Abdul Baqi, dalam karyanya al-Mu’jam al-Mufahras li alfadzhi al-Quran  menyebutkan bahwa tidak lebih dari dua puluh ayat al-Quran menyebut dan mengulang kata fiqih dengan segala derivasinya; tafqahuna (QS. Al-Isra’: 44), nafqahu (QS. Hud: 91), yafqahuu (QS. Thaha: 28), yafqahuna (QS. An-Nisa: 78, Al-Anam: 65, 98, Al-A’raf: 179, Al-Anfal: 65, At-Taubah: 81, 87, 127, Al-Kahfi: 93, Al-Fath: 19, Al-Hasyr: 13, Al-Munafiqun: 3, 7), yafqahuhu (QS. Al-An’am: 25, Al-Isra’: 46, Al-Kahfi: 58), yatafaqqahu (QS. At-Taubah: 122). [10]

Ibnu Faris (w. 395) dalam Maqayis al-Lughah [11], memberikan keterangan bahwa huruf fa, ha, dan qaf dalam bahasa arab pada aslinya menunjuk makna pengetahuan tentang sesuatu. Lebih lanjut, Ibnu Manzhur (w. 711), dalam kamus besarnya Lisan al-Arab [12], memberikan penjelasan tambahan bahwa pengetahuan yang dimaksud sampai pada taraf memahaminya dengan baik dan benar, hal ini didasarkan kepada doa baginda nabi Muhammad saw untuk sahabat yang bernama Ibnu Abbas ra: [13]

اللّهُمّ عَلّمْهُ الدّينَ وَفَقّهْهُ فَي التّأوِيْلِِ

“Ya Allah, ajarkan kepadanya (Ibnu Abbas) perkara agama, dan fahamkanlah dia dalam urusan takwil (mana Al-Quran)”

Dan persis doa tersebut diijabah oleh Allah swt, hingga akhirnya sahabat Ibnu Abbas ra pada zamannya dikenal sebagai ahli takwil, yang paling faham dalam urusan kitab Allah (Al-Quran).

Belakangan,  Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili menyimpulkan bahwa fiqih secara bahasa dapat diartikan dalam dual hal: (1) Faham secara alakadarnya, (2) Faham yang sifatnya sangat mendalam [14]. Dan dalam tradisi bahasa arab akhirnya kata fiqih ini dikhususkan untuk pengetahuan atau pemahaman dalam ranah hukum syariat, bukan untuk yang lainya. Sehingga disebut sebagai ahli fiqih itu untuk pengetahuan ilmu syariah, mereka yang ahli dibidang kedokteran, arsitek, listrik, bahasa, atau lainnya tidaklah disebut dengan ahli fiqih.

Sehingga, jelas Al-Ashfahani (w. 502 H), dalam kitabnya al-Mufradat fi Gharib al-Quran, penggunakaan kata fiqih didalam al-Quran juga sesuai dengan makna asli dalam bahasa arab, yaitu menunjuk sebuah pengetahuan/pemahaman yang dengannya akan dicapai pengetahuan/pemahaman baru. Dan Al-Asfahani juga sepakat bahwa pengetahuan atau pemahaman yang dimaksud terkhusus untuk pengetahuan seputar ilmu syariah (ahkam as-syariah). [15].

Demikianlah pada akhirnya kita akan mendapati dalam banyak kitab furu’ (maksudnya kitab fiqih), bahwa yang dimaksud dengan fiqih dalam istilah yang dikenal oleh ahili fiqih adalah:

الْعِلْمُ بِالأَْحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ الْعَمَلِيَّةِ الْمُكْتَسَبُ مِنْ أَدِلَّتِهَا التَّفْصِيلِيَّةِ

”Ilmu yang membahas hukum-hukum syariat bidang amaliyah (perbuatan nyata) yang diambil dari dalil-dalil secara rinci” [16]

Adapun tafaqquh (memahami dengan mendalam) dalam perkara syariat, menjadi ahli fiqih, ahli tafsir, ahli hadits, dan ahli keilmuan syariat yang lainnya, yang disinggung oleh Allah swt dalam QS. At-Taubah: 122 melalui firmannya:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”

Maka hukumnya adalah wajib, demikian kesimpulan para ulama, walaupun kewajibannya masuk dalam katagori wajib kifayah, kewajiban yang jika sejumlah orang sudah menjalankannya maka gugurlah kewajiban bagi yang lainnya. Akan tetapi khusus untuk perkara syariat yang harus dijalankan secara pribadi oleh masing-masing ummat Islam, maka hukum mempelajarinya adalah wajib ain, yang kewajibannya harus dikerjakan oleh setiap muslim, tidak bisa diwakilkan kepada yang lainnya [17], untuk perihal wajib ain inilah berlaku sabda Rasulullah saw:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajb bagi setiap muslim” )HR. Ibnu Majah)

Sehingga jika ada seorang muslim yang tidak mengerjakan shalat maka dia berdosa, jika alasan tidak mengerjakan shalatnya karena tidak mempunyai ilmu perihal shalat maka dia berdosa (lagi), lantaran dia tidak mau belajar, jika dalam satu tempat tersebut tidak ada satu orangpun yang faham secara mendalam tentang fiqih shalat sehingga disana tidak ada seorangpun yang mampu menjadi guru untuk yang mau belajar maka semua orang dalam satu tempat itu berdosa, lantaran wajib kifayah-nya belum terlaksana dengan baik. Demikianlah konsekwensi dari sebuah kewajiban, yang jika dikerjakan dia berpahala dan jika diabaikan maka pelakuknya bedosa.

Lebih lanjut, sebuah amal perbuatan yang dikerjakan oleh seorang mukallaf baru bisa masuk dalam katagori amal shalih yang akan membuahkan pahala dan bisa mengantarkan pelakunya menuju syurga Allah swt, jika amal perbuatan tersebut diakui kebenarannya oleh emapat hal: (1) urf/tradisi, (2) Syariat, (3) Akal sehat, dan (4) Fitrah. Demikian tulis Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili [18]. Sehingga dari sini bisa dipastikan bahwa jika ada sebuah amal ibadah, atau muamalah, yang tidak sesuai dengan petunjuk syariat, maka perilaku tersebut tidak bisa dianggap sebagai amal shalih.

Belum cukup dikatakan sudah mengerjkan amal shalih, jika ada seseoang yang melaksanakan shalat setiap harinya namun shalat yang dikerjakan tidak sesuai dengan ketentuan syariat, sehingga wajar jika sekali waktu Allah swt menyinggung bahwa:

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ، الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya” (QS. Al-Maun: 4-5)

Lalai yang dimaksud dalam ayat diatas, tulis Ibnu Katsir [19], bisa jadi lalai dari keseluruhan shalat (syarat, rukun, waktu, khusyu, dll) ini pendapat Ibnu Abbas ra, atau lalai perihal waktu shalat, dimana shalatnya dikerjakan bukan pada waktunya, demikian pendapa Masruq dan Abu Ad-Dhuha.  Artinya shalat yang dikerjakan tidak sesuai aturannya, karena tidak sesuai maka shalat yang demikian tidak bisa diterima sebagai sebuah amal shalih.

Al-Quran dan As-Sunnah memang keduanya datang dalam bahasa arab, yang mungkin tidak bisa difahami langsung oleh kita yang non arab, akan tetapi kewajiban mempelajarinya tidak berarti putus, maka perintah dan larangan yang datang dari keduanya tetap harus dikerjakan dengan baik, dengan wasilah/perantara para ulama yang dari dulu hingga sekarang sudah berusaha menjelaskannya kepada kita semua kaum muslimin dalam berbagai bahasa yang ada.

Memang benar bahwa hanya Allah swt yang mengetahui maksud dari firmannya, akan tetapi Allah swt juga memberikan mandat-Nya, kepada manusia untuk menetapkan suatu hukum yang bersandar atas pemahaman mereka terhadap Al-Quran dan As-Sunnah. 

Allah swt memberikan legetimasi-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS. An-Nisa: 59)

Juga firman-Nya:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (QS. An-Nahl: 43)

Wallahu Alam Bisshawab

-------------------------------------

Footnote:

[1] Ibnu Asyur, at-Tahrir wa at-Tanwir, (Tunis: ad-Dar at-Tunisiyah, 1984 M), jilid 5, hlm. 125.

[2] Al-Biqa’i, Nazhmu ad-Durar fi Tanasub al-Ayat wa as-Suwar, (Cairo: Dar al-kutub al-Islami, t.t), jilid 5, hlm. 334.

[3] Al-Biqa’i, Nazhmu ad-Durar…, jilid 5, hlm. 334.

[4] As-Syaukani, Fath al-Qadir, (Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1414 H), jiid 1, hlm. 564.   .

[5] Ibnu Katsir, Tafsir al-Quran al-Azhim, (t.t: Dar Tahyyibah, 1420 H/1999 M), jilid 2, hlm. 360.

[6] At-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Tafsir ay al-Quran, (t.t: Muassah ar-Risalah, 1420 H/ 2000 M), jilid 8, hlm. 552-553.

[7] Beliau adalah Mujahid bin Jabr, dilahirkan pada tahun 21 H. pada masa khalifah Umar bin Khattab, dan meninggal dunia pada umur 83 th, pada tahun 104 H dalam keadaan sujud. Belau adalah salah satu murid terbaik dari sahabat Ibnu Abbas ra. Imam as-Syafii dan Imam al-Bukhari yang datang setelahnya banyak mengambil riwayat tafsir dari beliau. (Lihat: az-Dzhabi, at-Tafsir wa al-Mufassirun, (Cairo: Maktabah Wahbah, t.th), jilid 1, hlm. 79.

[8] Al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, (Cairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, 1384 H/1964 M),  jilid, 5, hlm. 284.

[9] Ar-Razi, Mafatih al-Ghaib, (Beirut: Dar Ihya at-Turats, 1420 H), jilid 10,hlm. 145. Lihat juga: al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi… jilid, 5, hlm. 284.

[10] Muhammad Fuad Abdul Baqi, al-Mu’jam al-Mufahras li Al-fadzhi al-Quran, (Cairo: Dar al-Hadits, 1428/2007), hlm. 635.

[11] Ibnu Faris, Maqayis al-Lughah, (t.t: Dar al-Fikr, 1399 H/1979 M ), jilid 4, hlm. 442.

[12] Ibnu Manzhur, Lisan al-Arab, (Beirut: Dar Shadir, 1414 H ), jilid 13, hlm. 552.

[13] Beliau adalah Abdullah bin Abbas, anak paman nabi yang bernama Abbas bin Abdil Mutthalib. Abdullah bin Abbas dilahir tiga tahun sebelum hijrahnya Rasulullah saw ke Madinah, membersmai nabi dalam segala kondisnya yang ada tidak kurang dari 30 bulan. Beliau memiliki wajah yang ganteng, cerdas. Sehingga tidak berlebihan jika beliau disebut sebagai lautan ilmu, ahli fiqih pada zamannya, dan imam para mufassir. Lihat: Az-Dzahabi, Siayar A’lam an-Nubala’,(t.t: Muassasah ar-Risalah, 1405 H/1985 M),  jilid 4, hlm. 380.

[14] Wahbah Az-Zuhaili, al-Fiqhu al-Isami, (Damaskus: Dar al-Fikr, t.th),  jilid 1, hlm. 29.

[15] Al-Ashfahani, al-Mufradat fi Gharib al-Quran (Beirut: Dar al-Qalam, 1412 H), hlm. 642

[16] Ini adalah definisi fiqih secara istilah yang banyak ditulis oleh ulama dalam madzhab as-Syafii. Lihat: al-Khatib as-Syirbini, Mughni al-Muhta,j, (t.t: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1415 H/1994 M), jilid 1, hlm. 93; ar-Ramli,  Nihayah al-Muhtaj, (Beirut: Dar al-Fikr, 1404 H/1984 M), jilid 1, hlm. 31; Al-Qailubi dan Umairah, Hasyiata al-Qailubi wa umairah, (t.t: t.pn, 1415 H/1995 M), jilid 1, hlm. 6.

[17] Al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi…, jilid 8, hlm. 295

[18] Wahbah az-Zuhaili, Tafsir al-Munir,(Damaskus: Dar al-Fikr al-Muashir, 1418 H),  jilid 1, hlm. 107-108.

[19] Ibnu Katsir, al-Quran al-Azhim…, jilid 8, hlm. 493

Bagikan via

Baca Lainnya : Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA

Penetapan Awal Ramadhan
11 May 2017, 10:24 | 1.747 views
Qadha Shalat
8 February 2017, 08:52 | 3.413 views
Adzan
11 January 2017, 05:00 | 2.633 views
Mujtahid dan Muqallid
4 January 2017, 08:05 | 2.496 views
Fiqih Dalam Al-Quran
21 December 2016, 01:20 | 2.450 views
Faidah Fiqih Dari Kisah Nabi Khidhr dan Musa AS
5 December 2016, 07:29 | 3.117 views
Doa Khatam Al-Quran (2)
15 July 2016, 19:11 | 1.456 views
Doa Khatam Al-Quran (1)
4 July 2016, 10:28 | 1.269 views
Lakum Dinukum Waliyadin
16 December 2015, 00:00 | 20.351 views
Syariat Puasa
17 June 2015, 07:01 | 5.358 views
Nikah Beda Agama
11 September 2014, 04:29 | 55.652 views
Bolehkah Perempuan Berkarir?
11 July 2014, 09:58 | 12.863 views
Fidyah Puasa
14 June 2014, 06:00 | 25.432 views
Ibu Hamil dan Menyusui Boleh Berbuka
31 May 2014, 05:00 | 5.340 views
Mudik, Berbuka atau Tetap Berpuasa?
20 May 2014, 08:22 | 4.805 views
Sakit Yang Membolehkan Berbuka
17 May 2014, 21:47 | 3.665 views
Shalat Menghadap (Arah) Ka
20 April 2014, 07:58 | 6.077 views
Shalat Menghadap (Arah) Ka
20 April 2014, 06:37 | 4.778 views
Sekufu’ Dalam Menikah
12 April 2014, 05:00 | 14.389 views
Berapakah Jumlah Ayat Hukum?
2 April 2014, 06:29 | 5.573 views
Pengantar Tafsir Fiqih
1 April 2014, 21:30 | 5.160 views

total 831857 views