Bibliografi Dalam Islam (bagian-1) | rumahfiqih.com

Bibliografi Dalam Islam (bagian-1)

by : Sutomo Abu Nashr, Lc
Sun 8 January 2017 20:15 | 2510 views | bagikan via

Terletak tidak jauh dari Baitul Hikmah yang didirikan oleh Harun ar-Rasyid, toko buku itu dipenuhi dengan buku-buku yang memadati ruang-ruangnya yang bertingkat. Selain ramai oleh para pengunjung, tokonya juga sering ramai dijadikan sebagai tempat diskusi para cendekiawan dan forum pertemuan para ilmuan. Pemiliknya memang sangat gandrung ilmu pengetahuan, mencintai para ulama, sehinga dia sampai hafal dan paham kitab-kitab apa saja yang dia jual. “Saya membuka toko buku untuk melayani mereka yang haus akan ilmu pengetahuan”, demikian katanya suatu saat dari tokonya yang terletak di pusat penerbitan buku, penulisan risalah ilmiah, filsafat dan juga sastra. Itulah kota Seribu Satu Malam.

                Ibnu Nadim, demikian pemilik toko tersebut populer ditulis oleh para penulis. Karena sedemikian cintanya akan ilmu, dan koleksi buku-bukunya yang amat melimpah, ia sangat bergairah untuk mendokumentasikan semua buku yang pernah ia miliki di perpustakaan dan dijual di toko bukunya itu. Yang ditulis oleh Ibnu Nadim dalam dokumentasinya itu, bukan sekedar judul buku dan pengarangnya saja. Ibnu Nadim juga melengkapinya dengan kajian singkat mengenai isi buku, riwayat hidup penulisnya, dengan mengelompokkan buku-buku tersebut kedalam sepuluh bab besar yang masing-masing bab nya, ia sebut dengan maqalah. Dokumentasinya yang luar biasa ini mengoleksi sekitar 8360 kitab dari 2238 penulis. Catatan dokumentasi dari seorang pemilik toko buku ini, akhirnya diterbitkan menjadi sebuah buku dengan judul Al Fihrist atau Buku Indeks. Sebuah karya yang mencerminkan kejayaan Islam di berbagai bidang Ilmu Pengetahuan.

                Buku karya Ibnu Nadim semacam ini, dalam studi kepustakaan hari ini dikenal sebagai Bibliografi. Sebagai sebuah kosakata, istilah bibliografi memang tidaklah dikenal dalam tradisi kaum muslimin. Istilah tersebut tidak lain merupakan kata serapan dari bahasa Inggris; bibliography, yang ternyata juga diserap dari sumber asalnya yang berbahasa Yunani; βιβλιογραφία.

            Namun sebagai sebuah realita sejarah, bibliografi telah menjadi sebuah aktifitas mentradisi sejak cukup lama dalam dunia intelektualitas kaum muslimin. Meski tidak dikenal dengan istilah bibliografi seperti hari ini, berbagai karya bibliografis telah lahir untuk memperkaya berbagai perpustakaan yang dimiliki umat Islam. Karya Ibnu Nadim tadi itu hanyalah salah satu contohnya. Kelahiran bibliografi dari rahim umat Islam ini, tidak lain dipicu oleh betapa kayanya karya yang dihasilkan oleh para ulama dan cendekiawan muslim dalam berbagai disiplin ilmu. Yang unik adalah bahwa aktifitas bibliografis yang sangat amat terkait erat dengan dunia literasi dan menulis ini, justru maju pesat dalam sebuah komunitas umat manusia yang pada mulanya dikenal sebagai umat buta huruf.     

            Islam memang lahir di tengah-tengah umat yang dikenal dengan ummat ummiyyah (umat buta huruf). Bahkan Nabi Muhammad SAW yang merupakan penyampai risalah Islam juga dengan tegas disebut oleh Al Qur’an sebagai Nabi yang Ummi. Maka ketika malaikat Jibril pertama kali datang menemui Muhammad untuk meminta beliau membaca, beliau menjawab, “Aku tak bisa membaca”.

                Di tengah ummat yang tak pandai membaca, kepada seorang laki-laki yang juga tak pandai membaca, wahyu yang pertama kali turun justru adalah perintah untuk membaca. Dan kemudian sejarah melihat secara berangsur-angsur, ayat per ayat, surat per surat, wahyu itu dengan tuntas turun semuanya ke bumi. Dan himpunan semua wahyu yang turun ke bumi itu kemudian dikenal oleh kawan maupun lawan sebagai Al Qur’an. Secara harfiah, nama kitab suci tersebut bisa kita maknai sebagai ‘bacaan’.

                Dengan turunnya ‘bacaan’, umat yang awalnya dikenal tak pandai membaca itu, selanjutnya justru berubah menjadi umat yang mendobrak tradisi. Sejarah kemudian menyaksikan umat tersebut berhasil mengalahkan dua imperium berperadaban besar pada saat itu; Romawi dan Persia. Lebih dari itu, pengaruh ‘bacaan’ semakin menyebar dan meluas hingga melintasi benua Asia, Afrika dan Eropa. Bahkan hari ini, lantunan indah ‘bacaan’ bisa kita dapati dan kita dengar dalam kopaja di tengah-tengah kemacetan kota Jakarta.

                Salah satu bentuk pengaruh dari bacaan suci itu adalah tumbuh suburnya aktifitas ilmiah baik berupa diskusi dan talaqqi maupun membaca, menghafal dan menulis yang kemudian membuahkan kekayaan intelektual yang terwariskan secara turun temurun hingga hari ini.

Isyarat Al-Qur’an

Aktivitas tulis-menulis yang buahnya sudah bisa kita saksikan sendiri hari ini adalah salah satu bentuk perwujudan amal terhadap apa yang sudah diisyaratkan Al Qur’an Al Karim. Allah SWT dalam salah satu surat di Al Qur’an pernah bersumpah dengan suatu alat tulis yang kita kenal dengan pena. Dan sudah kita ketahui bahwa jika Allah SWT bersumpah dengan salah satu makhluk-Nya, maka hal tersebut -salah satunya- menunjukkan tentang betapa mulia dan pentingnya makhluk tersebut. Demikian halnya dengan pena. Bahkan lebih dari itu, sumpah dengan pena itu malah diabadikan dalam sebuah surat yang dinamai Surat Pena (Al Qalam).

                Dalam ayat suci-Nya yang lain, Allah SWT juga telah mengisyaratkan bahwa ilmu pengetahuan itu bisa diletakkan dalam dua tempat, yaitu qalbu dan juga buku. Qalbu (hafalan) menjadi tempat bagi ilmu diisyaratkan oleh Allah SWT dalam ayat, “Sebenarnya, (Al-Quran) itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada orang-orang yang berilmu” (Q.S. Al-Ankabut : 49). Qalbu inilah yang menjadi tempat ilmu yang paling dipakai pada masa-masa awal Islam. Imam Ad-Dzahabi dalam Tadzkirah al Huffadz mengatakan, “Ilmu para shahabat dan tabi’in terletak di dalam dada-dada mereka. Itulah gudang keilmuan bagi mereka” (Ad Dzhahabi, Tadzkirah al Huffadz, hal. 120 Vol. 1)  

                Sedangkan buku menjadi tempat bagi ilmu bisa kita dapati isyaratnya dalam ayat, “Dia (Musa) menjawab, ‘Pengetahuan tentang itu ada pada Tuhanku, di dalam sebuah ‘kitab” (Q.S. Thaha : 52). Ketika menafsirkan ayat 52 ini, Imam Al Qurthubi menyatakan, “dalam ayat ini terdapat petunjuk untuk melakukan kodifikasi ilmu dan penulisan buku”

Awal Penulisan di Masa Nabi

Dengan isyarat-isyarat mulia Al Qur’an inilah ummat yang buta huruf tadi secara drastis berubah menjadi umat berperadaban besar. Langkah awal dari perubahan besar itu adalah dengan memerangi buta huruf. Maka salah satu bentuk penebusan tawanan perang Badar yang disyaratkan oleh Rasulullah SAW adalah masing-masing tawanan yang bisa membaca dan menulis harus mengajarkan tulis menulis kepada sepuluh anak kaum muslimin.

                Langkah cerdas Rasulullah SAW itu kemudian melahirkan para penulis wahyu. Pada awalnya hanya Al Qur’an yang boleh ditulis. Dan pada langkah selanjutnya hadits-hadits beliau juga mulai diizinkan untuk ditulis. Izin itu keluar secara jelas dari lisan mulia Rasulullah SAW kepada salah satu periwayat hadits terbanyak dari kalangan sahabat; Abdullah ibn Amr ibn ‘Ash, salah satu ‘Abadillah yang empat. Beliau bersabda kepada Abdullah, “tulislah !, …”. Maka dari sahabat mulia ini lahirlah kemudian sebuah sahifah yang dikenal dengan As Sahifah As Shadiqah. (Lihat; Ibnu ‘Abdil Barr, Jami’ Bayan al ‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 305 Vol. 1)

                Selain Abdullah ibn ‘Amr ibn ‘Ash, hanya ada satu dua shahabat lain yang juga melakukan penulisan yang sama. Jumlahnya memang sangat amat terbatas. Ketrampilan menulis masih sangat jarang dimiliki oleh mereka. Abdullah ibn ‘Amr memang dikenal sebagai pembaca kitab-kitab terdahulu dan bisa menulis Arab maupun Suryani. Sedangkan para shahabat yang lain lebih banyak yang buta huruf. Dan meskipun ada yang bisa menulis, namun mereka tidak terlalu trampil dalam ejaan yang benar. Karena itulah Abdullah ibn ‘Amr beserta sedikit shahabat diizinkan menulis, sedangkan sejumlah besar shahabat lain tidak diperkenankan. (Lihat; Ibnu Qutaibah dalam Ta’wil Mukhtalif al Hadits hal. 412, Muassasah Al Isyraq)  

                Hanya saja, semua hasil tulisan itu belum bisa disebut sebagai buku. Apalagi buku yang secara sistematis ditulis urutan bab dan sub babnya. Karena dimasa ini sebagaimana diceritakan Al Hafidz Ibnu Hajar, memang belum ada pembukuan terhadap atsar-atsar Nabi SAW.      

        اعلم علمني الله وإياك أن آثار النبي صلى الله عليه وسلم لم تكن في عصر أصحابه وكبار تبعهم مدونة في الجوامع ولا مرتبة لأمرين أحدهما إنهم كانوا في ابتداء الحال قد نهوا عن ذلك كما ثبت في صحيح مسلم خشية أن يختلط بعض ذلك بالقرآن العظيم وثانيهما لسعة حفظهم وسيلان أذهانهم ولأن أكثرهم كانوا لا يعرفون الكتابة ثم حدث في أواخر عصر التابعين تدوين الآثار وتبويب الأخبار لما انتشر العلماء في الأمصار وكثر الابتداع من الخوارج والروافض ومنكرى الاقدار فأول من جمع ذلك الربيع بن صبيح وسعيد بن أبي عروبة وغيرهما (ابن حجر، فتح الباري، ص. 6 ج. 1)

                “Ketahuilah -semoga Allah mengajari diriku dan juga dirimu- bahwa atsar (hadits) Nabi SAW di   zaman para sahabatnya dan juga para tabi’in belumlah terbukukan dan tersusun sistematis dalam buku-buku. Hal tersebut disebabkan oleh dua faktor. Pertama, pada mulanya mereka memang dilarang untuk melakukan penulisan hadits karena adanya kekhawatiran tercampurnya sebagian hadits dengan Al-Quran, sebagaimana diinformasikan secara valid oleh Imam Muslim dalam Sahihnya. Kedua, karena kekuatan hafalan dan kecerdasan akal mereka. Selain itu juga karena mayoritas mereka memang tidak mengenal dunia tulis menulis. Baru pada penghujungmasa tabi’in muncullah untuk pertama kalinya kodifikasi dan sistematisasi atsar dan akhbar (hadits). Lahirnya hal demikian dipicu oleh semakin luasnya penyebaran ulama, banyaknya bid’ah khawarij, rafidhah, dan para pengingkar takdir. Dan yang pertama kali melakukan penulisan buku adalah Rabi’ ibn Shabih, Saed ibn Abi ‘Urubah dan selain mereka” (Ibnu Hajar, Fathul Bari, hal 6 Vol. 1)  

Penulis Buku Pertama

Selain menjelaskan bagaimana tradisi menulis itu lahir, dalam kutipan tersebut Ibnu Hajar juga menginformasikan tentang siapa yang pertama kali melakukan penulisan buku. Ada dua nama yang disebutkan oleh beliau, yaitu Rabi’ ibn Shabih dan Saed ibn Abi ‘Urubah. Hal ini sedikit berbeda dengan apa yang diinformasikan oleh Imam Ahmad ibn Hanbal rahimahullah. Sebagaimana dinukil oleh Imam Nawawi dalam Al Majmu’ Syarh Al Muhaddzab.

        قال أحمد بن حنبل رضي الله عنه أول من صنف الكتب ابن جريج وابن أبي عروبة  (الإمام النووي، المجموع شرح المهذب، ص. 124 ج. 1)

                “Imam Ahmad ibn Hanbal radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Orang yang pertama kali menulis buku adalah Ibnu Juraij dan (Saed) Ibnu ‘Abi ‘Urubah” (An-Nawawi, Al Majmu’, hal.124 Vol.1)

                Namun kalau kita baca penjelasan Al Khatib As Syirbini dalam Mughni al Muhtaj, sedikit perbedaan tersebut bisa kita ketahui faktornya. Yaitu bahwa informasi tentang siapa penulis buku pertama tidaklah lebih dari sekedar perkiraan yang memang susah untuk dipastikan. Redaksi As Syirbini menggunakan kata qila. Meskipun demikian, nama-nama yang muncul dalam berbagai kitab memang selalu saja tiga orang tersebut.

        قِيلَ: أَوَّلُ مَنْ صَنَّفَ الْكُتُبَ الرَّبِيعُ بْنُ صَبِيحٍ. وَقِيلَ: سَعِيدُ بْنُ أَبِي عَرُوبَةَ. وَقِيلَ: ابْنُ جُرَيْجٍ (الخطيب الشربيني، مغنى المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج، ص. 101 ج. 1)

                “konon yang pertama kali menulis buku adalah Rabi’ ibn Shabih. Ada juga yang mengatakan Saed ibn Abi ‘Urubah. Dan ada pula yang berpendapat Ibnu Juraij.” (As Syirbini, Mughni al Muhtaj Ila ma’rifat ma’ani alfadz al Minhaj, hal. 101 Vol. 1)

                Kalau kita perhatikan tiga sosok ulama yang dianggap sebagai penulis-penulis buku pertama dalam Islam tersebut, mereka hidup di masa awal atau separuh pertama dari abad kedua hijriah. Rabi’ ibn Sabih wafat pada tahun 160 H. Saed ibn Abi ‘Urubah wafat pada tahun 156 H. Sedangkan Ibnu Juraij wafat lebih dulu dari mereka berdua, yaitu pada tahun 150 H. Pada tahun inilah Imam Abu Hanifah sebagai pendiri madzhab pertama dalam urutan empat madzhab fiqih juga wafat.

Abu Hanifah Bukan Penulis Pertama ?

Dalam banyak kitab biografi, Abu Hanifah diriwayatkan memiliki satu tulisan yang dikenal dengan nama Fiqih Akbar (aqidah). Akan tetapi, adanya kesamaan tahun wafat dengan Ibnu Juraij, bahkan lebih dahulu dari Rabi’ dan Saed, ternyata tidak lantas nama beliau dimasukkan sebagai salah satu diantara ulama yang pertama kali menulis buku. Hanya saja, untuk disiplin ilmu fiqih, sebagian ulama hanafiyah mengklaim bahwa Imam Abu Hanifah lah penulis pertamanya. Apalagi Imam As Syafi’i sebagai salah satu pendiri madzhab besar fiqih Islam, seakan-akan mengamininya dengan mengatakan, “Seluruh manusia dalam keilmuan fiqih, berhutang budi kepada Imam Abu Hanifah”. Salah satu yang mengklaim adalah Ibnu ‘Abdin dalam Hasyiyahnya.

        فإنه أول من دون الفقه ورتبه أبوابا وكتبا على نحو ما عليه اليوم، وتبعه مالك في موطئه (ابن عابدين، رد المختار، ص. 50 ج. 1)

                “Dia (Imam Abu Hanifah) adalah yang pertama kali menuliskan buku fiqih, merumuskan sistematikanya ke dalam beberapa bab dan sub bab, sebagaimana susunan buku-buku yang ada hari ini. Kemudian Imam Malik mengikuti langkahnya dalam menyusun kitab Al Muwattha’

                Apakah pernyataan Ibnu ‘Abdin tersebut memang hanya sekedar klaim ? Lalu bagaimana respon para ulama terhadap kitab Fiqih Akbar Abu Hanifah yang wafat pada tahun 150 H ? Bahkan jauh sebelum itu, bukankah ada Ibnu Syihab Az Zuhri (w. 124 H) yang sudah membukukan hadits-hadits Nabi SAW atas titah dari pemerintahan Umar ibn Abdul Aziz (w. 101 H) ? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini, akan ada pada tulisan bagian kedua.

Bagikan via

Baca Lainnya : Sutomo Abu Nashr, Lc

Bibliografi Dalam Islam (bagian-2)
13 January 2017, 08:58 | 2.183 views
Bibliografi Dalam Islam (bagian-1)
8 January 2017, 20:15 | 2.510 views
Fiqih dan Sastra
3 December 2016, 07:21 | 2.392 views
Madrasah Fiqhiyah An-Nizhamiyah
4 July 2016, 02:12 | 2.814 views
Raudhah 6 : Fatwa dalam Bingkai Sastra
13 March 2015, 11:34 | 5.503 views
Raudhah 5 : Mata yang Lapar
17 December 2014, 07:06 | 6.580 views
Raudhah 4 : Nasihat Sang Faqih kepada Calon Faqih
15 December 2014, 23:50 | 4.670 views
Raudhah 3 : Ini juga Taman Fiqih
12 December 2014, 09:10 | 3.538 views
Raudhah 2 : Taman Fiqih
12 December 2014, 08:47 | 3.835 views
Raudhah 1 : Sepenggal Kisah
22 August 2014, 08:51 | 4.759 views

total 864755 views