Metodologi Kritik Hadits | rumahfiqih.com

Metodologi Kritik Hadits

by : Hanif Luthfi, Lc., MA
Thu 26 January 2017 09:47 | 2264 views | bagikan via

Dalam rangka menjaga kemurnian ajaran Islam, ulama telah bersungguh-sungguh memformulasikan ilmu untuk menjaga validitas hadits. Ilmu itu saat ini kita kenal dengan ilmu mushtalah hadits.

Untuk mengetahui valid tidaknya hadits, awalnya memang diteliti jalannya hadits dari Nabi sampai kepada para ulama pengumpul hadits; atau yang sering disebut dengan sanad.

Perkembangan kritik hadits nyatanya tak hanya dalam kaitan sanadnya saja. Jika menilisik jauh ke belakang, justru studi tentang kritik hadits itu malah dimulai dari kritik matan hadits. Hal itu sudah dimulai sejak zaman para shahabat Nabi.

Mengkritik isi hadits tentu tidak dalam rangka merendahakan atau mencari kesalahan Nabi Muhammad dan ajarannya. Para ulama hadits mengadakan kritik hadits; baik dari segi sanad maupun matan tidak lain dalam rangka menjaga agama agar benar-benar sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Mayoritas ulama muhaddits menyatakan bahwa shahabat Nabi adalah berstatus adil dalam hal meriwayatkan hadits, artinya perkataan mereka yang disandarkan kepada Rasulullah bisa diterima (Muhammad Khudhari Bek, Ushul Fiqih, h. 233). Hal ini menunjukkan bahwa apa yang mereka riwayatkan dari seorang shahabat kepada shahabat yang lain itu benar adanya, tidak muttaham bi al-kadzib (tertuduh dusta) dan juga kadzib (dusta), meskipun terkadang mereka mengatakan salah (khata’) dan salah sangka (wahm) kepada sesama shahabat (Musfir Azmullah ad-Damini, Maqayis Naqd Mutun as-Sunnah, h. 55).

Metode Muqaranah dan Mu’aradhah

Metode yang dipakai para shahabat Nabi dulu, awalnya adalah metode muqaranah dan mu’aradhah. Metode muqaranah artinya suatu metode dengan membandingkan antara riwayat atau antar riwayat dengan al-Qur’an. Metode mu’aradhah artinya pencocokan konsep yang menjadi muatan pokok suatu konsep setiap matan hadits agar tetap terpelihara kebertautan dan keselarasan antar konsep dengan hadis lain dan dengan dalil syar’i yang lain. (Masrukhin Muhsin, Kritik Matan Hadits, h. 20).

Kritik Hadits yang Dilakukan oleh Aisyah

Contoh yang kita bisa baca dari model kritik ini adalah kritik dari Aisyah terhadap beberapa hadits. Aisyah radliyaAllahu anha memang menjadi salah seorang shahabat sekaligus istri Nabi yang cukup kritis. Ada beberapa hadits yang dikritik oleh beliau karena dianggap bertentangan dengan kandungan al-Qur’an.

a. Mayit disiksa sebab tangis keluarganya

Dalam sebuah hadits shahih riwayat Ibnu Umar disebutkan:

وحدثني حرملة بن يحيى، حدثنا عبد الله بن وهب، حدثني عمر بن محمد، أن سالما، حدثه عن عبد الله بن عمر، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال: «إن الميت يعذب ببكاء الحي»

“Sesungguhnya Mayyit disiksa di kuburan karena tangisan orang yang masih hidup” (Muslim bin Hajjaj w. 261 H, Shahih Muslim, h. 2/ 642)

Hal ini dikritisi oleh Aisyah RadliyaAllahu anha, sebagaimana disebutkan dalam hadits Shahih Muslim juga:

وحدثنا خلف بن هشام، وأبو الربيع الزهراني، جميعا عن حماد، قال خلف: حدثنا حماد بن زيد، عن هشام بن عروة، عن أبيه، قال: ذكر عند عائشة قول ابن عمر: الميت يعذب ببكاء أهله عليه، فقالت: رحم الله أبا عبد الرحمن، سمع شيئا فلم يحفظه، إنما مرت على رسول الله صلى الله عليه وسلم جنازة يهودي، وهم يبكون عليه، فقال: «أنتم تبكون، وإنه ليعذب»

“Suatu ketika disebutkan dalam majlisnya Aisyah perkataan Ibnu Umar; bahwa mayyit disiksa karena tangisan keluarganya yang masih hidup. Lantas Aisyah menimpali, semoga Allah merahmati Abu Abdirrahman, mendengar tetapi tidak menghafal. Sesungguhnya yang terjadi adalah suatu ketika ada jenazah orang Yahudi lewat di depan Rasulullah, para anggota keluarganya menangis. Lantas Rasul bersabda: Kalian semua pada menangis, padahal si mayyit sedang disiksa” (Muslim bin Hajjaj w. 261 H, Shahih Muslim, h. 2/ 642)

Disini Aisyah mengkritisi matan hadits Ibnu Umar, selain juga Aisyah mengajukan argumen lain. Disebutkan dalam hadits lain:

...فقال عمر: يا صهيب أتبكي علي؟ وقد قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إن الميت يعذب ببعض بكاء أهله عليه»،فقال ابن عباس: فلما مات عمر ذكرت ذلك، لعائشة فقالت: يرحم الله عمر، لا والله ما حدث رسول الله صلى الله عليه وسلم إن الله يعذب المؤمن ببكاء أحد، ولكن قال: «إن الله يزيد الكافر عذابا ببكاء أهله عليه» قال: وقالت عائشة: حسبكم القرآن: {ولا تزر وازرة وزر أخرى} [الأنعام: 164]، قال: وقال ابن عباس عند ذلك: والله {أضحك وأبكى} [النجم: 43]، قال ابن أبي مليكة: فوالله ما قال ابن عمر من شيء.

…maka Umar berkata: Wahai Suhaib, apakah engkau akan menangisi aku padahal Rasulullah telah bersabda: ‘Sesungguhnya mayyit itu disiksa karena tangisan keluarganya’. Ibn Abbas berkata: ketika Umar wafat, saya ceritakan itu kepada Aisyah, maka ia berkata: Semoga Allah merahmati Umar, demi Allah baginda Rasulullah tidak pernah bersabda seperti itu, tetapi beliau bersabda: ‘Allah akan menambah siksa orang kafir karena tangisan keluarganya’. Aisyah berkata: ‘cukuplah bagi kalian al-Qur’an; orang yang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain’ (Q.S al-An’am: 164). Ibnu Abi Malikah berkata: Demi Allah, Umar tidak berkata sedikitpun. (Muslim bin Hajjaj w. 261 H, Shahih Muslim, h. 2/ 642)

Kata Aisyah (حسبكم القرآن); cukup bagi kalian al-Qur’an bukan berarti mengajak untuk meninggalkan as-Sunnah, itu hal yang mustahil. Akan tetapi perkataan itu dimaksudkan untuk menunjukkan kesalahan perawi dalam lafadz hadits.

Perawi hadits ini tidak menyampaikan lafadz hadits secara lengkap yang mengakibatkan bertentangan dengan kandungan al-Qur’an, kemudian Aisyah menampilkan hadits yang sempurna seperti disabdakan oleh Nabi Muhammad shallaAllahu alaihi wasallam. (Musfir Azmullah ad-Damini, Maqayis Naqd Mutun as-Sunnah, h. 63).

Menurut Aisyah bahwa hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar dan Bapaknya itu tidak sesuai dengan asbab al-wurud hadits, yaitu ketika Rasulullah berjalan berpapasan dengan mayat Yahudi yang ditangisi oleh keluarganya. Sesungguhnya mayat itu sedang disiksa di kuburan, sedang keluarnya sekarang sedang menangisinya. (Muhammad Thahir al-Jawabi, Juhud al-Muhadditsin di Naqdi Matni al-Hadits an-Nabawi as-Syarif, h. 461).

Metode kritik matan hadits yang telah dilakukan oleh Aisyah ini oleh para ulama disebut dengan metode Mu’aradhah; pencocokan konsep antar Hadits dengan al-Qur’an.

b. Nabi Muhammad Melihat Tuhannya di Dunia

Ada beberapa riwayat hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah melihat Tuhannya, diantaranya riwayat Ikrimah, Atha’, dan Aisyah. Dua diantaranya mengatakan bahwa Nabi telah melihat Tuhannya, dan yang satu menyebutkan bahwa bukan melihat Allah tetapi melihat Jibril. Dua hadits tersebut adalah:

عن عكرمة، عن ابن عباس، قال: «رأى محمد ربه» .. «وقد رأى محمد ربه مرتين». هذا حديث حسن غريب من هذا الوجه

Dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, beliau berkata: Nabi telah melihat Tuhannya. Ibnu Abbas juga menyebutkan juga: Nabi telah melihat Tuhannya dua kali. (Muhammad bin Isa at-Tirmidzi w. 279 H, Sunan at-Tirmidzi, h. 5/ 395, beliau mengatakan hadits ini hasan gharib).

Sementara Aisyah tidak sependapat dengan riwayat Ibnu Abbas tadi. Dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Bukhari (w. 256 H) disebutkan:

حدثنا محمد بن عبد الله بن إسماعيل، حدثنا محمد بن عبد الله الأنصاري، عن ابن عون، أنبأنا القاسم، عن عائشة رضي الله عنها، قالت: من زعم أن محمدا رأى ربه فقد أعظم، ولكن قد رأى جبريل في صورته وخلقه ساد ما بين الأفق

Dari Aisyah radhiyaAllahu anhu beliau berkata: Siapa yang mengatakan bahwa Muhammad melihat Rabbnya berarti dia telah masuk pada persoalan (salah) besar. Akan tetapi Beliau melihat Jibril dalam bentuk dan rupa aslinya yang menutupi apa yang ada diatara ufuk langit. (Muhammad bin Ismail al-Bukhari w. 256 H, Shahih Bukhari, h. 4/ 115).

Demikian Aisyah membantah apa yang telah ia dengar bahwa Rasulullah telah melihat Tuhannya dengan nash al-Qur’an. (ad-Damini, Maqayis Naqd Mutun as-Sunnah, h. 65).

Bersambung...

Bagikan via

Baca Lainnya : Hanif Luthfi, Lc., MA

Sifat Shalat Nabi yang Rajih; Menurut Tarjih Siapa?
19 May 2017, 01:08 | 5.354 views
Metodologi Kritik Hadits
26 January 2017, 09:47 | 2.264 views
Menomori Hadits, Bukan Tradisi Ulama Salaf
12 January 2017, 10:03 | 4.026 views
Hoax Politis Dalam Perjalanan Sejarah Hadits Nabi
5 January 2017, 07:09 | 5.172 views
Penjelasan Lebih Rinci Tahammul dan Ada
2 May 2015, 10:08 | 5.671 views
Penjelasan Lebih Rinci Tahammul dan Ada
30 April 2015, 09:55 | 5.801 views
Kelayakan Seorang Perawi Hadits Dalam Tahammul dan Ada
23 April 2015, 10:00 | 4.503 views
Tahammul dan Ada
22 April 2015, 09:42 | 5.467 views
Takhrij Hadits
4 June 2014, 09:37 | 16.882 views
Who: Jika Dhaif Suatu Hadits
30 April 2014, 07:03 | 8.930 views
Sebab Perbedaan Muhadditsin Dalam Menilai Suatu Hadits
11 April 2014, 19:00 | 7.597 views
Model Penulisan Kitab Hadits
3 April 2014, 07:02 | 6.512 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan
3 April 2014, 07:00 | 7.618 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag.2)
2 April 2014, 06:59 | 5.063 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag.1)
1 April 2014, 06:56 | 4.801 views

total 831854 views