Penjelasan Lebih Rinci Tahammul dan Ada | rumahfiqih.com

Penjelasan Lebih Rinci Tahammul dan Ada

by : Hanif Luthfi, Lc
Sat 2 May 2015 10:08 | 5100 views | bagikan via

5. al-Kitabah Atau Tulisan

Yang dimaksud dengan al-kitabah di sini adalah aktivitas seorang guru menuliskan hadits, baik ditulis sendiri atau menyuruh orang lain untuk kemudian diberikan kepada orang yang ada di hadapannya, atau dikirimkan kepada orang yang berada ditempat lain[1].

Macam al-kitabah ini oleh para Ulama’ hadits dibagi menjadi dua, sebagaimana dalam al-Munawalah:

  1. Disertai dengan pemberian Ijazah. Sebagaimana perkataan seorang guru kepada muridnya: Saya ijazahkan kepadamu hadits yang telah aku tuliskan kepadamu[2].
  2. Tidak disertai pemberian ijazah. Sebagaimana seorang guru menuliskan hadits kepada seseorang tetapi tidak disertai ijazah untuk meriwayatkannya.

Mengenai hukum meriwayatkan hadits metode ini, jika disertai ijazah, maka diterima sebagaiamana seperti al-munawalah yang disertai ijazah, karena pada prinsipnya hampir sama antara al-kitabah dan al-munawalah[3]. Sedangkan jika tidak disertai ijazah, maka sebagian Ulama’ tidak memperbolehkan meriwayatkannya, seperti al-Qadhi Abu al-Mawardi as-Syafi’i (w. 450 H) dalam kitabnya al-Hawi dan al-Amidi (w. 631 H).

Sedangkan sebagian Ulama’ ada membolehkan meriwayatkan hadits dari al-kitabah, meskipun tidak disertai ijazah. Karena ada tanda-tanda yang bisa diketahui dari al-kitabah bahwa orang yang memberikan tulisannya kepada orang lain, artinya boleh untuk diriwayatkan. Ini pendapat yang shahih, sebagaimana diungkap oleh Dr. Mahmud at-Thahhan[4]. Sebelumnya, Al-Qadhi Iyadh al-Yahshafi (w. 544 H), dalam kitabnya al-Ilma’ ila Ma’rifati Ushul ar-Riwayah wa Taqyidu as-Sama’, juga menyatakan kebolehan riwayat dengan metode ini[5].

Karena sejatinya tulisan kepada seseorang adalah berbicaranya seseorang kepada orang lain, tetapi dengan media yang berbeda.

Bahkan Al-Qadhi Iyadh al-Yahshafi (w. 544 H) menceritakan sebuah perdebatan antara Imam Syafi’i (w. 204 H) dengan Ishaq bin Rahawaih (w. 238 H), yang disaksikan oleh Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H); terkait al-kitabah:

حدثنا أحمد بن محمد الحافظ من كتابه قال أخبرنا أبو الحسين الصيرفى أخبرنا أبو الحسن الفالى أخبرنا أبو عبد الله بن خربان أخبرنا القاضى أبو محمد بن خلاد أخبرنا الساجى أخبرنا جماعة من أصحابنا، أن الشافعى ناظر إسحاق بن راهوية وابن حنبل حاضر في جلود الميتة إذا دبغت. فقال الشافعى: "دباغها طهورها"، واستدل بحديث ميمونة: "هلا انتفعتم بإهابها". فقال إسحاق: "حديث ابن عكيم كتب إلينا النبى صلى الله عليه و سلم لا تنتفعوا من الميتة بإهاب ولا عصب أشبه أن يكون ناسخا لحديث ميمونة لأنه قبل موته بشهر".

فقال الشافعى: "هذا كتاب وذاك سماع". فقال إسحاق: "كتب النبى صلى الله عليه و سلم إلى كسرى وقيصر، وكان حجة عليهم". فسكت الشافعى.

Suatu ketika Imam Syafi’i (w. 204 H) berdebat dengan Ishaq bin Rahawaih (w. 238 H) tentang pemanfaatan kulit bangkai. Imam Syafi’I berkata bahwa kulit bangkai bisa dimanfaatkan jika sudah di-dibagh atau samak. Beliau berdalil dengan hadits dari Maimunah. Sedangkan Ishaq bin Rahawaih membantahnya dengan sebuah hadits yang didapat dari Ibnu Akim, bahwa Nabi Muhammad shallAllah alaihi wa sallam pernah menulis tulisan kepada Ibnu Akim untuk tidak memanfaatkan kulit bangkai meskipun sudah disamak.

Apakah untuk memastikan tulisan seorang guru itu dibutuhkan sebuah bukti?

Sebagaimana kita ketahui zaman dahulu belum ada mesin tik atau komputer, artinya semua tulisan dikerjakan dengan tangan. Sebagian Ulama’ mewajibakan adanya bukti atas sebuah tulisan. Adapun sebagian Ulama’ yang lain menyatakan bahwa bukti itu cukup dari pengetahuan dari orang yang mendapatkan tulisan; bahwa tulisan itu asli hasil dari gurunya. Karena tulisan tangan itu berbeda dari satu orang dengan orang lain. Pendapat kedua ini adalah pendapat yang shahih menurut Dr. Mahmud at-Thahhan[6].

Shighat Ada’:

  1. Menggunakan lafadz: (كتب إلي فلان)
  2. Boleh juga menggunakan lafadz: (حدثني فلان كتابة) atau (أخبرني كتابة).

6. I’lamu as-Syeikh at-Thalib Atau Pemberitahuan Guru Kepada Murid

Cara selanjutnya adalah al-i’lam, yaitu tindakan seorang guru yang memberitahukan kepada muridnya bahwa kitab atau hadits ini adalah riwayat darinya atau dari yang dia dengar, tanpa disertai dengan pemberian ijazah untuk menyampaikannya atau kebolehan meriwayatkannya. Atau jika seorang murid berkata kepada gurunya “Ini adalah hadits riwayatmu, bolehkah saya menyampaikannya?” lalu syaikh menjawab ya atau hanya diam saja[7].

Hukum Riwayat:

  1. Boleh: Sebagaimana dikatakan oleh Banyak Ahli Hadits dan Fiqih. Seperti Ibnu Juraij, Ibnu as-Shabbagh as-Syafi’I, Abu al-Abbas al-Walid bin Bakr al-Maliky[8].
  2. Tidak boleh: Ini pendapat yang dianggap shahih oleh Dr. Mahmud at-Thahhahan[9], karena menurut beliau seorang guru mengabarkan kepada muridnya atas sebuah riwayat tanpa disertai ijazah, itu menandakan adanya suatu cela dalam hadits.

As-Suyuthi (w. 911 H) dalam kitabnya; Tadrib ar-Rawi yang mensyarah kitab an-Nawawi (w. 676 H) yang berjudul at-Taqrib wa at-Taisir li Makrifati Sunani al-Basyir an-Nadzir mengungkapakan bahwa an-Nawawi (w. 676 H) menshahihkan pendapat kedua, yaitu tidak menerima riwayat metode ini.

Adapun Al-Qadhi Iyadh al-Yahshafi (w. 544 H) telah menjelaskan dengan panjang terkait perbedaan Ulama’ atas hukum riwayat metode ini dalam kitabnya[10]. Beliau lebih cenderung membolehkan riwayat metode ini, karena jika guru mengabarkan kepada murid, bahwa suatu hadits itu termasuk hadits yang didengar oleh dirinya sendiri, maka itu sama halnya guru itu memberikan hadits kepada muridnya. Meskipun tidak disertai ijazah.

Bahkan jika seorang guru mengatakan kepada muridnya, “ini adalah riawayat yang saya dengar, kalian jangan meriwayatkannya dari saya” maka larangan ini tidak jadi pengahalang bagi muridnya untuk meriwayatkan hadits itu, jika memang hadits itu shahih. Karena jika hadits itu shahih, maka larangan meriwayatkan oleh guru itu tidak karena haditsnya, tetapi karena hal lain. As-Suyuthi (w. 911 H) menyandarkan pendapat ini kepada pendapat Ahli Dzahir[11].

Adapun shigat ada’ yang dipakai dalam metode ini adalah: lafadz (أعلمني شيخي بكذا).

7. al-Washiyah Atau Wasiat

Al-washiyyah adalah penegasan syeikh ketika hendak bepergian atau dalam masa-masa sakaratul maut; yaitu wasiat kepada seseorang tentang kitab tertentu yang diriwayatkannya.

Adapun hukum riwayat hadits dengan metode ini ada dua pendapat:

  1. Boleh: Ini adalah pendapat Ulama’ terdahulu. Tetapi pendapat ini tidak benar. Sebagaimana diungkapan, an-Nawawi (w. 676 H) yang dinukil oleh as-Suyuthi (w. 911 H)[12], al-Qadhi Iyadh (w. 544 H)[13], dan oleh Ulama’ saat ini, Dr. Mahmud at-Thahhan[14].
  2. Tidak boleh: Ini adalah pendapat yang shahih oleh para Ulama’ ahli Hadits.

Syeikh Hasan bin Abdurrahaman ar-Ramahurmuzi (w. 360 H), dalamkitabnya[15] al-Muhaddits al-Fashil Baina ar-Rawi wa al-Wa’iy, mengungkapkan sebuah riwayat:

حدثني أحمد بن مردويه الضرير شيخ من أهل رامهرمز حدثنا الحسن بن حابس البناء وهو من أهل رامهرمز ثنا حماد بن زيد قال: "أوصى أبو قلابة فقال ادفعوا كتبي إلى أيوب إن كان حيا وإلا فاحرقوها".

Shighat Ada’:

Lafadz yang digunakan dalam riwayat wasiat ini adalah: (أوصى إلي فلان بكذا) atau boleh juga (حدثني فلان وصية)

8. al-Wijadah Atau Menemukan

Sedangkan cara terakhir adalah ­al-wijadah. Al-wijadah adalah seorang rawi menemukan hadits yang ditulis oleh seseorang yang tidak seperiode, atau seperiode namun tidak pernah bertemu, atau pernah bertemu namun ia tidak mendengar langsung hadits tersebut dari penulisnya[16]

Wijadah juga tidak terlepas dari pertentangan pendapat antara yang memperbolehkan dan tidak. Sedangkan pendapat yang shahih adalah tidak membolehkan riwayat dengan wijadah, karena ada inqitha’ sanad. Bahkan jika seorang rawi ketahuan hanya mendapati tulisan hadits seseorang, lalu dengan sengaja meriwayatkannya dengan shighat yang mengindikasikan bertemu atau mendengar secara langsung, misal “haddatsana” atau “akhbarana”, maka bisa saja rawi itu dianggap mudallis, dan haditsnya tidak akan diterima.

Al-Qadhi Iyadh (w. 544 H) mencontohkan beberapa nama Ulama’ yang mendapatkan tulisan atau kitab seseorang, tetapi tidak pernah mendengar langsung. Dianataranya:

أخبرنا محمد بن إسماعيل أخبرنا القاضى محمد بن خلف أخبرنا أبو بكر المطوعى أخبرنا أبو عبيد الله الحاكم أخبرنا محمد بن صالح القاضى حدثنا المستعينى أخبرنا عبد الله بن على المدينى عن أبيه قال قال عبد الرحمن بن مهدى،كان عند مخرمة كتبا لأبيه لم يسمعها منه.

Makhramah mendapati kitab dari bapaknya, tetapi dia tidak pernah mendengar darinya[17].

Sedangkan shighat yang dipakai dalam dalam wijadah adalah: lafadz (وجدت بخط فلان) atau (قرأت بخط فلان) lalu disebutkan sanad dan matan.

Inilah kedelapan metode Tahammul hadits beserta shighat yang digunakan dalam ada’-nya.

Lebih mudahnya, bisa dilihat dalam tabel berikut:

 

Tahammul

Shighat Ada’

Keterangan

1

Sama’

حدثني، حدثنا، سمعت، قال لي، ذكر لي

Biasanya Ulama’ meringkas (حدثنا) dengan (ثنا) atau (نا)

2

‘Ardh

أخبرنا، حدثنا قراءة عليه، قرأت على فلان، قرئ عليه وأنا أسمع فأقرَّ به

Biasanya Ulama’ meringkas (أخبرنا) dengan (أنا) kadang (أرنا)

3

Ijazah

أنبأنا، أجاز لي فلان، أخبرنا أو حدثنا إجازة

 

4

Al-Munawalah

ناولني، ناولني وأجاز لي، أخبرنا مناولة وإجازة، حدثنا مناولة

 

5

Al-Kitabah

كتب إلي فلان، أخبرني كتابة، حدثني كتابة

 

6

Al-I’lam

أعلمني شيخي بكذا

 

7

Wasiat

أوصى إلي فلان بكذا، حدثني فلان وصية

 

8

Wijadah

وجدت بخط فلان، قرأت بخط فلان

 

Tabel: Tahammul beserta shighat ada’nya

Tentu penggunaan lafadz ada’ ini bukanlah hal yang disepakati oleh seluruh Ulama’ hadits terdahulu. Karena masing-masing Ulama’ dari beberapa daerah di Arab memiliki ciri khas masing-masing. Tetapi tabel diatas hanya mencoba mempermudah saja atas identifikasi metode tahammul.

Kitab al-Qadhi Iyadh (w. 544 H) yang berjudul, al-Ilma’ ila Ma’rifati Ushul ar-Riwayah wa Taqyidu as-Sama’, sepertinya kitab yang sangat luas berbicara tentang hal ini. Disana disebutkan perbedaan para Ulama’ terkait lafadz yang digunakan masing-masing Ulama’ dalam shighat ada’.

Untuk lebih luasnya, pembaca bisa merujuk langsung kepada kitab tersebut[18].

Penggunaan shighat atau kata-kata khusus ini kita masih bisa temukan dalam kitab-kitab hadits para ulama yang memang mencari sendiri haditsnya. Ini ketika belum ada kitab-kitab hadits yang tertulis sebagaimana saat ini. Paling tidak dengan kita mengetahui hal ini, ada sebuah gambaran bahwa ternyata para ulama dahulu sangat serius dalam menjaga validitas sebuah data, agar agama Islam itu benar-benar murni dari Nabi dan bisa dipertanggungjawabkan akurasinya.

Selain itu, ada manfaat lain yang diambil dari para ulama dengan diidentifikasinya shighat tahammul dan ada'. Yaitu terkait rawi hadits terindikasi mudallis jika dalam meriwayatkan hadits menggunakan shighat (عن). Semoga bisa dibahas pada kesempatan lain. waallahua'lam bisshawab.

Footnote:

[1] Abdurrahman bin Abu Bakar as-Suyuthi (w. 911 H), Tadribu ar-Rawi fi Syarhi Taqribi an-Nawawi, juz 2, hal. 55

[2] Mahmud at-Thahhan, Taisir Musthalah al-Hadits, hal. 163

[3] Abdurrahman bin Abu Bakar as-Suyuthi (w. 911 H), Tadribu ar-Rawi fi Syarhi Taqribi an-Nawawi, juz 2, hal. 55

[4] Mahmud at-Thahhan, Taisir Musthalah al-Hadits, hal. 163

[5] Al-Qadhi Iyadh al-yahshabi (w. 544 H), al-Ilma’ ila Ma’rifati Ushul ar-Riwayah wa Taqyidu as-Sama’, hal. 84

[6] Mahmud at-Thahhan, Taisir Musthalah al-Hadits, hal. 163

[7] Al-Qadhi Iyadh al-yahshabi (w. 544 H), al-Ilma’ ila Ma’rifati Ushul ar-Riwayah wa Taqyidu as-Sama’, hal. 109

[8] Abdurrahman bin Abu Bakar as-Suyuthi (w. 911 H), Tadribu ar-Rawi fi Syarhi Taqribi an-Nawawi, juz 2, hal. 59

[9] Mahmud at-Thahhan, Taisir Musthalah al-Hadits, hal. 165

[10] Al-Qadhi Iyadh al-yahshabi (w. 544 H), al-Ilma’ ila Ma’rifati Ushul ar-Riwayah wa Taqyidu as-Sama’, hal. 115

[11] Abdurrahman bin Abu Bakar as-Suyuthi (w. 911 H), Tadribu ar-Rawi fi Syarhi Taqribi an-Nawawi, juz 2, hal. 59

[12] Abdurrahman bin Abu Bakar as-Suyuthi (w. 911 H), Tadribu ar-Rawi fi Syarhi Taqribi an-Nawawi, juz 2, hal. 60

[13] Al-Qadhi Iyadh al-yahshabi (w. 544 H), al-Ilma’ ila Ma’rifati Ushul ar-Riwayah wa Taqyidu as-Sama’, hal. 115

[14] Mahmud at-Thahhan, Taisir Musthalah al-Hadits, hal. 165

[15] Hasan bin Abdurrahaman ar-Ramahurmuzi (w. 360 H), al-Muhaddits al-Fashil Baina ar-Rawi wa al-Wa’iy, (Baerut: Dar al-Fikr, 1404 H), Tahqiq Dr. Muhammad Ajjaj al-Khatib, hal. 459

[16] Al-Qadhi Iyadh al-yahshabi (w. 544 H), al-Ilma’ ila Ma’rifati Ushul ar-Riwayah wa Taqyidu as-Sama’, hal. 117

[17] Al-Qadhi Iyadh al-yahshabi (w. 544 H), al-Ilma’ ila Ma’rifati Ushul ar-Riwayah wa Taqyidu as-Sama’, hal. 118

[18] Bisa juga download kitab di: http://archive.org/details/AlilmaIlaMarifahUsulAlriwayah. diakses pada: 6 Januari 2013

Bagikan via

Baca Lainnya : Hanif Luthfi, Lc

Sifat Shalat Nabi yang Rajih; Menurut Tarjih Siapa?
19 May 2017, 01:08 | 3.929 views
Metodologi Kritik Hadits
26 January 2017, 09:47 | 1.574 views
Menomori Hadits, Bukan Tradisi Ulama Salaf
12 January 2017, 10:03 | 3.218 views
Hoax Politis Dalam Perjalanan Sejarah Hadits Nabi
5 January 2017, 07:09 | 4.385 views
Penjelasan Lebih Rinci Tahammul dan Ada
2 May 2015, 10:08 | 5.100 views
Penjelasan Lebih Rinci Tahammul dan Ada
30 April 2015, 09:55 | 5.271 views
Kelayakan Seorang Perawi Hadits Dalam Tahammul dan Ada
23 April 2015, 10:00 | 4.383 views
Tahammul dan Ada
22 April 2015, 09:42 | 5.335 views
Takhrij Hadits
4 June 2014, 09:37 | 16.750 views
Who: Jika Dhaif Suatu Hadits
30 April 2014, 07:03 | 8.742 views
Sebab Perbedaan Muhadditsin Dalam Menilai Suatu Hadits
11 April 2014, 19:00 | 7.463 views
Model Penulisan Kitab Hadits
3 April 2014, 07:02 | 6.418 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan
3 April 2014, 07:00 | 7.418 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag.2)
2 April 2014, 06:59 | 4.946 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag.1)
1 April 2014, 06:56 | 4.639 views

total 791729 views