Sanad Fiqih Imam Abu Hanifah | rumahfiqih.com

Sanad Fiqih Imam Abu Hanifah

by : Ahmad Zarkasih, Lc
Tue 3 January 2017 05:21 | 2862 views | bagikan via

Beberapa kritik yang sering ditujukan kepada Imam Madzhab al-Hanafiyah; Abu Hanifah, adalah kecenderungan beliau beserta pengikutnya kepada Qiyas dibanding kepada al-Qur’an juga sunnah Rasul s.a.w. Yang itu dengan bahasa yang agak kasar berarti bahwa Imam Abu Hanifah dan madzhabnya terlalu mendahulukan otak sendiri dibanding berhukum kepada al-Qur’an dan juga hadits Nabi Muhammad s.a.w.

Untuk poin di atas, sudah kami jawab di beberapa artikel dalam rubric ini, termasuk di artikel ini; Imam Abu Hanifah dan Qiyas (klik). Beliau mengatakan dengan tegas terkait metodenya dalam pengambilan hokum, yang mana perkataannya ini direkam oleh al-Khathib al-Baghdadi dalam kitab Tarrikh Baghdad (13/368) sebagai berikut:

آخذ بكتاب الله فما لم أجد فبسنة رسول الله صلى الله عليه و سلم فان لم أجد في كتاب الله ولا سنة رسول الله صلى الله عليه و سلم أخذت بقول أصحابه آخذ بقول من شئت منهم وأدع من شئت منهم ولا أخرج من قولهم إلى قول غيرهم فأما إذا انتهى الأمر أو جاء إلى إبراهيم والشعبي وبن سيرين والحسن وعطاء وسعيد بن المسيب وعدد رجالا فقوم اجتهدوا فاجتهد كما اجتهدوا

Aku mengambil (hukum) dengan kitab Allah swt (al-Quran), dan apa yang aku tidak dapati di Al-Quran, aku mengambil dari hadits-hadits Nabi saw. Kalau aku tidak menemukannya di Al-Quran dan juga tidak di hadits Nabi saw, aku mengambil dari fatwa (perkataan) para sahabat Nabi saw, aku mengambil dari mereka yang aku mau, dan aku tingalkan yang aku mau (memilih), akan tetapi aku tidak keluar dari perkataan mereka kepada selain mereka (sahabat).

Kalau dari para sahabat juga aku tidak menemukan, atau perkara ini sampai pada Ibrahim Al-Nakho’i, SUfyan Al-Tsauri, Al-Sya’bi, Hasan Al-Bashri, ‘Atho, dan Said bin Al-Musayyib dan beberapa orang lain (dari kalangan tabi’in), maka aku berijtihad sebagaimana mereka berijtihad!

Pernyatan beliau di atas rasanya sudah cukup, akan tetapi untuk lebih meyakinkan juga sebagai tambahan informasi, berikut ini akan kami sampaikan sanad keilmuan beliau. Yang mana melalui sanad itulah beliau menapaki tangga keilmuan yang menyampaikannya kepada Rasul s.a.w..

Secara garis besar, keilmuan Imam Abu Hanifah itu bersumber dari 4 sahabat Nabi s.a.w yang kesemuanya adalah pembesar di kalangan sahabat. Dalam Tahdzib al-Asma’ wa al-Lughat (2/219), Imam Nawawi mewartakan kepada pembacanya percakapan antara Imam Abu Hanifah dan juga Abi Ja’far al-Manshur yang ketika itu menjadi khalifah ‘Abbasiyah;

قال أبو حنيفة: دخلت على أبي جعفر أمير الموُمنين، فقال لي: يا أبا حنيفة عن من أخذت العلم؟ فقلت: عن حماد (يعني ابن أبي سليمان) عن إبراهيم (يعني النخعي) عن عمر ابن الخطاب، وعلي بن أبي طالب، وعبد الله بن مسعود، وعبد الله بن عباس.فقال أبو جعفر: بخٍ بخٍ استوفيت يا أبا حنيفة.

Abu Ja’far: “dari mana kau dapatkan ilmu yang kau miliki?”Abu Hanifah: “aku mendapatkannya dari Hammad bin Abi Sulaiman, dari Ibrahim al-Nakha’i, dari Umar bin Khathtab. Juga dari Ali. Dan dari Ibn Mas’ud. Juga dari Abdullah bin ‘Abbas.

Secara garis besar, bisa dikatakan bahwa keilmuan Imam Abu Hanifah itu bersambung kepada 4 sahabat besar:

1.    Umar bin al-Khaththab yang sangat memperhatikan maslahat,

2.    Ali bin Abi Thalib yang sangat mendalami hakikat syariat,

3.    Ibn Mas’ud yang paham bagaimana ‘illah hokum, dan

4.    Ibn ‘Abbas yang sangat mendalami ilmu Qur’an.

Dan kesemuanya tidak mungkin tidak, kecuali ilmu mereka semua adalah anugerah hasil “ngaji” langsung dengan Nabi s.a.w.. bahkan Imam al-Dzahabi dalam kitabnya Tadzkirah al-Huffadz (1/23) meriwayatkan perkataan Masruq al-Ajda’; salah seorang ulama kalangan Tabi’in, yang menyatakan bahwa ilmu Nabi s.a.w. itu berakhir pada 6 sahabatnya; Ali, Umar, Ibn Mas’ud, Abu Darda’, Zaid bin Tsabit dan Ubai bin Ka’ab. Rasanya tidak terlalu berlebihna kalau kita katakana bahwa keilmuan Nu’man bin Tsabit alias Abu Hanifah ini adalah salah satu pecahan krstal ilmu Nabi s.a.w..

Muhammad Abu Zahrah mengurai apa yang disebutkan oleh Ima Abu Hanifah tentang sanad ilmunya tersebut. Dalam kitabnya; Tarikh al-Mazahib al-Islamiyah (252-255), bahwa jalur ilmu Abu Hanifah sampai kepada sahabat agung itu melalui gurunya, yakni Hammad bin Abi Sulaiman (120 H), yang mana beliau adalah murid dari Ibrahim al-Nakha’i (95 H), dan juga ‘Amir al-Sya’bi (104 H), yang merupakan Ahli-Hadits-nya orang Iraq ketika itu.

Keduanya mengambil ilmu dari Masruq al-Ajda’ (63 H) dan ‘Alqamah al-nakha’i (62 H). Dari Masruq inilah ilmu Abu Hanifah bersambung kepada Umar bin Khaththab serta Ibnu Mas’ud juga Ali radhiyallahu ‘anhum. Bahkan saking gigihnya, selama berada di Kufah, Imam Abu Hanifah tak sekalipun absen dari majlisnya Hammad bin Sulaiman selama 10 tahun sampai beliau wafat di tahun 120 H.

Sedangkan jalur yang menyambungkannya kepada sahabat Ibn ‘Abbas r.a. beliau dapatkan di luar kota Kufah ketika beliau pergi ke Makkah setelah wafatnya guru beliau Hammad bin Abu Sulaiman. Awal kepergiannya ke Makkah untuk berangkat Haji, namum melihat lingkungan keilmuan yang baik dan potensial, Abu Hanifah akhirnya menetap di sana selama lebih dari 6 tahun untuk belajar Fiqih Ibnu ‘Abbas dari murid-murid beliau, salah satunya adalah ‘Atha’ bin Abi Rabbah (114 H) yang dikenal sebagai Ahlu- Ra’yi-nya orang Makkah.

Dan di Mekkah inilah pertemuan beliau terjadi dengan salah satu cucu Nabi Muhammad s.a.w.; yakni Imam Muhammad al-Baqir. Cerita lengkapnya sudah kami tulis dalam artikel in; Imam Abu Hanifah dan Imam Muhammad al-Baqir.

Maka wajar jika banyak ulama memberi pujian kepada Imam Abu Hanifah atas ilmu yang beliau salurkan kepada murid-muridnya yang sampai kepada kita. Bahkan Imam al-Syafi’i menyebut Imam Abu Hanifah itu sebagai bapaknya ulama-ulama fiqih sejagad raya;

من أراد أن يتبحر في الفقه فهو عيال على أبي حنيفة

siapa yang ingin memperdalam fiqih, maka ia adalah keluarganya Abu Hanifah” (Tarikh Baghdad 3/346)

Wallahu a’lam

Bagikan via

Baca Lainnya : Ahmad Zarkasih, Lc

Sanad Fiqih Imam Asy-Syafii (bag-1-masyayikh-hijaz)
22 May 2017, 09:30 | 2.241 views
Mencampuradukan Madzhab, Bolehkah?
24 January 2017, 04:39 | 5.976 views
Sanad Fiqih Imam Malik
10 January 2017, 04:36 | 3.027 views
Sanad Fiqih Imam Abu Hanifah
3 January 2017, 05:21 | 2.862 views
Madzhab, Apa dan Bagaimana?
27 December 2016, 05:20 | 2.878 views
Lebih Utama Tidak Berbeda
4 December 2016, 07:24 | 2.482 views
Saya Pilih Madzhab Apa?
23 July 2016, 05:33 | 5.267 views
Bermadzhab, Untuk Apa?
5 July 2016, 17:12 | 1.255 views
Mencatut Nama Qur'an dan Sunnah, Bukan Pekerjaan Ulama Salaf!
26 January 2016, 05:24 | 9.324 views
Sahabat Nabi SAW Tidak Bermadzhab, Benarkah?
25 January 2016, 05:43 | 7.215 views
Bermadzhab, Untuk Apa?
1 August 2015, 11:10 | 7.682 views
Bermadzhab, Untuk Apa?
15 January 2015, 16:40 | 15.088 views
Orang Awam Wajib Taqlid Kepada Ulama
8 December 2014, 00:00 | 8.767 views
Relativisme Kebenaran Dalam Fiqih
12 August 2014, 17:55 | 9.294 views
Madzhab Fiqih Yang Hilang [Bag. 1]
3 June 2014, 04:23 | 7.798 views
Semua Orang Mengaku Syafiiyah Karena Haditsnya Shahih?
20 May 2014, 11:27 | 14.866 views
Selain Madzhab Empat
2 May 2014, 16:37 | 9.434 views
Kenapa Imam Ahmad Punya Banyak Riwayat Fatwa?
22 April 2014, 14:24 | 5.471 views
Kenapa Imam Syafii Digelari Pembela Sunnah?
17 April 2014, 09:19 | 6.673 views
Ini Pendapatku, Bukan al-Quran dan Sunnah
6 April 2014, 17:09 | 8.341 views
Sebelum Imam Syafi'i, Imam Madzhab Tidak Punya Ushul?
4 April 2014, 09:13 | 5.955 views
Imam Abu Hanifah dan Imam Al-Baqir
3 April 2014, 02:08 | 5.490 views
Madzhab Fiqih Zaidiyah
2 April 2014, 02:07 | 9.933 views
Imam Malik, Hadits Mursal dan Amal Ahli Madinah
1 April 2014, 02:06 | 4.763 views
Imam Abu Hanifah dan Qiyas
31 March 2014, 02:05 | 4.136 views
Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 3)
30 March 2014, 02:04 | 4.424 views
Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 2)
29 March 2014, 02:04 | 4.601 views
Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 1)
28 March 2014, 02:03 | 6.086 views

total 807665 views