Adzan | rumahfiqih.com

Adzan

by : Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA
Wed 11 January 2017 05:00 | 1477 views | bagikan via

Firman Allah swt:

فَلَمَّا جَهَّزَهُمْ بِجَهَازِهِمْ جَعَلَ السِّقَايَةَ فِي رَحْلِ أَخِيهِ ثُمَّ أَذَّنَ مُؤَذِّنٌ أَيَّتُهَا الْعِيرُ إِنَّكُمْ لَسَارِقُونَ

“Maka tatkala telah disiapkan untuk mereka bahan makanan mereka, Yusuf memasukkan piala (tempat minum) ke dalam karung saudaranya. kemudian berteriaklah seseorang yang menyerukan: "Hai kafilah, Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang mencuri". (QS. Yusuf: 70)

Ada lima pokok pembahasasn terkait ayat diatas:

[Pertama]

Diantara sebab keluarnya Yusuf dari penjara karena fitnah yang dituduhkan kepada beliau dan kembalinya Yusuf ke lingkaran istana untuk yang kedua kalinya bermula dari mimpi raja Mesir yang membingungkan dan tidak satupun orang istana mampu untuk menafsirkannya kecuali nabi Yusuf [1]. Maka dipangillah Yusuf dari penjara, lalu dikatakan kepada Yusuf:

 يُوسُفُ أَيُّهَا الصِّدِّيقُ أَفْتِنَا فِي سَبْعِ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعِ سُنْبُلَاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ لَعَلِّي أَرْجِعُ إِلَى النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَعْلَمُونَ

"Yusuf, Hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya”. (QS. Yusuf: 46)

Yusuf menjawab:

قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدْتُمْ فَذَرُوهُ فِي سُنْبُلِهِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّا تَأْكُلُونَ. ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ سَبْعٌ شِدَادٌ يَأْكُلْنَ مَا قَدَّمْتُمْ لَهُنَّ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّا تُحْصِنُونَ.  ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ عَامٌ فِيهِ يُغَاثُ النَّاسُ وَفِيهِ يَعْصِرُونَ

“Yusuf berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; Maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan dimasa itu mereka memeras anggur”. (QS. Yusuf: 47-49)

Dari sinilah mulanya Yusuf dikeluarkan dari penjara dan akhirnya bisa menghirup nafas segar di lingkungan istana dan akhirnya Yusuf diamanahi untuk menjabat sebagai hakim Mesir mengurus perkaran agama dan dunia, demikian menurut keterangan Ibnu Katsir. [2]

[Kedua]

Tatkala saudara-saudara Yusuf datang ke Mesir untuk yang kedua kalinya meminta bantuan makanan akibat kemarau panjang yang menyelimuti hampir seluruh penduduk Mesir dan sekitarnya, untuk yang kedua kalinya ini mereka datang bersama Bunyamin sesuai permintaan hakim Mesir yang sebenarnya itu adalah Yusuf, yang dahulu mereka buang ke sumur.

Diam-diam Yusuf memberi tahu Bunyamin bahwa hakim Mesir yang mereka datangi itu sebenarnya adalah Yusuf, saudara kandung dari Bunyamin. Bukan main senangnya, dan untuk itulah, agar keberadaan Bunyamin bisa terus berlama-lama bersama Yusuf di istana, dibuatlah semacam permainan kecil sehingga Bunyamin seakan “terpaksa” tinggal dulu di istana.

Mula-mula ketika semua makanan sudah disiapkan dan sudah dimasukkan ke karung masing-masing, maka dengan sengaja diletakkanlah as-siqayah/ sejenis wadah minum milik raja yang juga bisa dipakai untuk menakar makanan di karungnya Bunyamin [3]. Lalu berserulah seorang penyeru: “Wahai kafilah, sungguh kalian adalah pencuri”.

Menurut At-Thabari, kata (أَذَّنَ) pada ayat diatas secara bahasa juga bisa diartikan dengan (نادى) yang berarti memanggil/menyeru, dan bisa juga diartikan dengan (أعلم) yang berarti memberi tahu. Maka muadzzin adalah orang yang memanggil/menyeru atau seseorang yang memberi tahu tentang suatu hal. [4]

Demikian sebuah drama kecil yang akhirnya membuat Bunyamin ditahan sementara waktu karena ternyata barang milik raja yang hilang itu berada di karung milik Bunyamin, dan sesuai kesepakatan bahwa pada siapa diketemukan (barang yang hilang) dalam karungnya, maka dia sendirilah balasannya (tebusannya).

Tahun berikutnya mereka kembali dengan mengajak ayahnya/nabi Yaqub as. Singkat cerita akhirnya setelah 80 tahun terpisah (menurut sebagian riwayat) karena peristiwa Yusuf dibuang ke sumur, akhirnya mereka kembali dikumpulkan oleh Allah swt:

وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا وَقَالَ يَا أَبَتِ هَذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُمْ مِنَ الْبَدْوِ مِنْ بَعْدِ أَنْ نَزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

“Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. dan berkata Yusuf: "Wahai ayahku Inilah ta'bir mimpiku yang dahulu itu; Sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. dan Sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaKu, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS. Yusuf: 100)

[Ketiga]

Seperti yang sudah disinggung diatas bahwa adzan secara bahasa bisa diartikan dengan panggilan (an-nida’) atau pemberitahuan (al-i’lam(. Namun secara istilah fuqaha yang dimaksud dengan adzan adalah:

الإِْعْلاَمُ بِوَقْتِ الصَّلاَةِ الْمَفْرُوضَةِ، بِأَلْفَاظٍ مَعْلُومَةٍ مَأْثُورَةٍ، عَلَى صِفَةٍ مَخْصُوصَةٍ

Pemberitahuan perihal masuknya waktu shalat fardhu, dengan menggunakan lafazh-lafazh yang ma’tsurah, dengan cara yang khusus. [5]

Adapun perihal pensyariatannya seperti yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari [6], Muslim [7], Abu Daud [8], Tirmidzi [9], Ibnu Majah [10], dan lainnya, bahwa Rasulullah saw dan para sahabat awal mula sampai di Madinah setelah adanya peristiwa hijrah bermusyawarah perihal bagaimana memberi tahu dan mengumpulkan kaum muslimin untuk shalat di masjid.

Sebagian sahabat ada yang memberi usul dengan menghidupkan api pada setiap waktu shalat, sehingga mereka yang melihatnya dari jauh bisa saling mengingatkan bahwa waktu shalat telah tiba, namun Rasulullah saw tidak menyetujuinya.

Ada lagi yang memberi usul dengan meniup buq (dalam riwayat Al-Bukhari), qarn (dalam riwayat Muslim dan Nasai), qun’/syabbur (dalam riwayat Abu Daud), yang menunjuk arti sebuah alat yang ditiup lalu kemudian darinya keluar suara, dalam bahasa yang lebih familiar orang-orang sekarang menyebutnya terompet [11]. Tapi Rasulullah saw tidak menyukainya, beliau menegaskan bahwa huwa min amril yahud/ terompet itu bagian dari perkara orang-orang Yahudi.

Lalu ada juga yang memberi usulan agar diperdengarkan suara naqus, dengan cara kayu besar dan panjang dipukulkan dengan kayu kecil agar keluar suara [12]. Namun lagi-lagi Rasulullah saw tidak meng-iyakan, beliau mengatakan bahwa yang demikian sudah sering digunakan oleh orang-orang Nasrani.

Musyawarah pada hari itu belum menghasikan sebuah keputusan. Lalu Rasulullah saw dan para sahabat pergi untuk kemudian perkara ini dijadikan “pe er” bersama.

Selang beberapa hari dari sana, adalah Abdullah bin Zaid, sahabat Rasulullah saw ini bermimpi, dalam mimpinya beliau melihat seseorang membawa naqus, lalu beliau bertanya:

“Wahai hamba Allah, maukah Anda menjual an-naqus itu?”

“Untuk apa?”, tanya laki-laki didalam mimpi tersebut.

“Mau kami gunakan untuk memanggil orang-orag shalat”, jawab Abdullah bin Zaid dalam mimpi.

“Kalau begitu maukan Anda saya beri tahu cara yang lebih baik untuk mengajak orang-orang shalat?”, sahutnya.

“Dengan senang hati”, jawab Abdullah bin Zaid dengan singkat.

Laki-laki tadi lalu mengajarkan lafazh adzan. “Katakanlah:

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ/ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ/ أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ/ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ/ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ/ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ/ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ/ لَا إلَهَ إلَّا اللَّه

Setelah selesai laki-laki tadi diam sejenak, lalu kembali berkta: “Jika shalat sudah hendak dilaksanakan maka katakanlah:

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ/ أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ اللَّهِ/ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ/ حَيَّ علي الصلاة/ حى الْفَلَاحِ/ قَدْ قَامَتْ الصَّلَاةُ قَدْ قَامَتْ الصَّلَاةُ/ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ/ لَا إلَهَ إلَّا الله

Ketika pagi datang, Abdullah bin Zaid menemui Rasulullah saw dan menceritakan mimpinya kepada Rasulullah saw. “Sungguh ini adalah mimpi yang benar, insya Allah, sabada Rasulullah saw. Lalu Rasulullah saw meminta kepada Abdullah bin Zaid untuk mengajarkan lafzah adzan ini kepada Bilal, agar Bilal adzan dengan lafazh-lafazh itu.

Tatkala sahabat Bilal pertama kali melantunkan adzannya, Umar bin Khattab yang waktu itu sedang berada di rumah buru-buru keluar menuju masjid, sesampainya di masjid Umar berkata kepada Rasulullah saw: Demi Allah, sungguh saya juga melihat apa yang yang dilihat oleh Abdullah bin Zaid di dalam mimpi.

Usut punya usut ternyata Umar bin Khattab 20 hari sebelum ini sudah bermimpi persis seperti apa yang dilihat oleh Abdullah bin Zaid. Demikian awal mula disyariatkannya adzan yang diambil dari banyak riwayat yang ada.

[Keempat]

Lafazh adzan seperti yang diceritakan oleh Abdullah bin Zaid diatas adalah lafazh adzan yang diambil oleh kalangan Hanafiyah dan Hanabilah [13], persis seperti yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dengan redaksi:

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ/ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ/ أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ/ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ/ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ/ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ/ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ/ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ

Sedangkan dalam madzhab Syafii mengambil lafazh adzan dalam riwayat Abu Mahdzurah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Daud, Tirmidzi dan an-Nasai, dengan redaksi sama persis dengan apa yang diceritakan oleh Abdullah bin Zaid diatas, hanya saja ada pengulangan yang disebut dengan istilah tarji’.

Tarji’ itu adalah seorang muadzzin sedikit merendahkan suara ketika mengucapkan lafazh dua syahadat, lalu kemudian dia mengulang kembali kalimat syahadat itu dengan suara yang keras, barulah setelah itu dianjutkan dengan lafazh hayya alasshalah. Adanya Tarji’/pengulangan dalam mengucapkan lafazh syahadat itu menurut Abu Mahdzurah adalah sesuai dengan arahan nabi sendiri ketika nabi mengajarkan kepada Abu Mahdzurah lafazh adzan [14].

Dan menurut pendapat dalam madzhab Maliki redaksi adzan juga sama seperti yang diceritakan oleh Abdullah bin Zaid diatas, hanya saja lafzah takbir di awal adzan hanya dua kali bukan empat kali, sama seperti lafazh takbir diakhir adzan yang hanya dua kali bukan empat kali. Alasannya bahwa cara seperti inilah yang dipakai oleh penduduk Madinah, selain bahwa yang demikian juga adalah satu riwayat lain dari Abdullah bin Zaid. [15]

Dan mayoritas ulama berpedapat bahwa khusus untuk adzan shalat subuh ditambah dengan lafazh (الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ) setelah lafazh hayya alal falah. Penambahan redaksi khusus pada adzan subuh ini dikenal dengan istilah tatswib.

Sebelum adzan untuk shalat dikumandangkan ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

  1. Adzan dikumandangkan setelah masuk waktu shalat kecuali subuh yang boleh dibuat adzan dua kali.
  2. Adan dikumandangkan diawal waktu.
  3. Adzan dikumandangkan dengan lafazh arab bukan terjemahan.
  4. Melafalkan redaksi adzan dengan benar.
  5. Berurutan antara lafazh adzan dari awal hingga akhir.
  6. Al-Muwalah dengan tidak menjedah lafazh adzan satu dengan yang lainnya dengan perbuatan makan, minum, berbicara, dst.
  7. Mengeraskan suara.
  8. Disunnahkan menghشdap qiblat.
  9. Pelan, tidak cepat, sehingga seorang muadzzin sedikit memberikan jedah untuk orang-orang menjawab adzan
  10. Adzan dikumandangkan oleh orang Islam, laki-laki, berakal, dan baligh/sampai umur (minimal mumayyiz)

Ada beberapa ketentuan berikutnya yang harus diperhatikan khusus bagi seorang muadzzin;

  1. Muadzzin disunnahkan dalam keadaan suci dari hadts besar maupun kecil.
  2. Muadzzin bukan seorang yang fasiq.
  3. Muadzzin disunnahkan memiliki suara yang bagus/merdu.
  4. Disunnahkan bagi muadzzin untuk meletakkan kedua jempolnya ditelinga.
  5. Adzan dikumandangkan dengan berdiri.
  6. Disunnahkan orang yang adzan adalah dia yang melaksanakan iqamah (qomat).
  7. Ada baiknya seorang muadzzin tidak mengambil upah dari adzannya, walaupun sebagian ulama ada yang menilai boleh-boleh mengambil upah dari adzan.

[Kelima]

Memang aslinya adzan itu dimaksudkan untuk memberi tahu masuknya masuk shalat dan untuk mengajak ummat Islam shalat berjamaah, akan tetapi sebagian para ulama menilai bahwa ada beberapa kondisi dimana adzan boleh dikumandangkan walaupun bukan dengan niat adzan untuk shalat, diantaranta adalah:

  1. Adzan pada telinga bayi yang baru dilahirkan.
  2. Adzan pada telinga orang yang lagi pusing dirundung masalah.
  3. Adzan pada telinga orang yang sedang kesurupan syaitan.
  4. Adzan dibelakang orang yang mau musafir.
  5. Adzan ketika terjadi kebakaran.
  6. Adzan ketika tersesat dijalan.
  7. Adzan di rumah dalam rangka mengusir syaitan.
  8. Adzan ditelinga hewan yang “ganas”.
  9. Adzan ketika pasukan sedang berperang.
  10. Adzan pada waktu menurunkan mayyit ke kuburan.

Kesepuluh hal diatas dan kondisi lainnya memang masih menjadi perbedaan pendapat diantara para ulama, antara yang membolehkan dan yang tidak membolehkan. Apapun itu penulis hanya ingin mengungkap sebuah data bahwa ada kondisi dimana adzan diperbolehan untuk dikumandangkan walaupun bukan untuk adzan shalat.

Wallahu A'lam Bisshawab

----------------------------------

[1] Raja Mesir yang dimaksud bernama ar-Rayyan bin al-Walid bin Tsarwan bin Arasyah bin Faran bin Amr bin Amlaq bin Lawadz bin Sam bin Nuh. (Lihat: Ibnu Katsir, Qashash al-Anbiya’, (Cairo: Dar Ibnu al-Jauzi, 1426 H/2005), hlm. 194.

[2] Ibnu Katsir, Qashash al-Anbiya’,… hlm. 198.

[3] At-Thabari, Jami’ al-Bayan,… jilid 16, hlm. 172.

[4] At-Thabari, Jami’ al-Bayan,… jilid 16, hlm. 173.

[5] Musuah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah, jilid 2, hlm. 357.

[6] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, jilid 1, hlm. 124- 125.

[7] Muslim, Shahih Muslim, jilid 1, hlm. 285- 287.

[8] Abu Daud, Sunan Abu Daud, jilid 1, hlm. 135

[9] Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, jilid , hlm.

[10] Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, jilid 1, hlm. 232.

[11] Muhammad bin Amir bin Ali bin Haidar, Aun al-Ma’bud, jilid 2, hlm. 117.

[12] Muhammad bin Amir bin Ali bin Haidar, Aun al-Ma’bud, jilid 2, hlm. 118.

[13] Ibnu Qudama, al-Mughni, jilid 1, hlm. 404

[14] An-Nawawi, al-Majmu’, jilid 3, hlm. 90.

[15] Fath al-Qadir, jilid 1, hlm. 211. Ibnu Rusyd, Bidayah al-Mujtahid, jilid 1, hlm. 113-114.

Bagikan via

Baca Lainnya :

Penetapan Awal Ramadhan
11 May 2017, 10:24 | 555 views
Qadha Shalat
8 February 2017, 08:52 | 1.806 views
Adzan
11 January 2017, 05:00 | 1.477 views
Mujtahid dan Muqallid
4 January 2017, 08:05 | 1.387 views
Fiqih Dalam Al-Quran
21 December 2016, 01:20 | 1.461 views
Faidah Fiqih Dari Kisah Nabi Khidhr dan Musa AS
5 December 2016, 07:29 | 1.827 views
Doa Khatam Al-Quran (2)
15 July 2016, 19:11 | 1.282 views
Doa Khatam Al-Quran (1)
4 July 2016, 10:28 | 974 views
Lakum Dinukum Waliyadin
16 December 2015, 00:00 | 20.096 views
Syariat Puasa
17 June 2015, 07:01 | 5.152 views
Nikah Beda Agama
11 September 2014, 04:29 | 55.361 views
Bolehkah Perempuan Berkarir?
11 July 2014, 09:58 | 12.589 views
Fidyah Puasa
14 June 2014, 06:00 | 25.104 views
Ibu Hamil dan Menyusui Boleh Berbuka
31 May 2014, 05:00 | 5.167 views
Mudik, Berbuka atau Tetap Berpuasa?
20 May 2014, 08:22 | 4.592 views
Sakit Yang Membolehkan Berbuka
17 May 2014, 21:47 | 3.481 views
Shalat Menghadap (Arah) Ka
20 April 2014, 07:58 | 5.846 views
Shalat Menghadap (Arah) Ka
20 April 2014, 06:37 | 4.613 views
Sekufu’ Dalam Menikah
12 April 2014, 05:00 | 14.022 views
Berapakah Jumlah Ayat Hukum?
2 April 2014, 06:29 | 5.310 views
Pengantar Tafsir Fiqih
1 April 2014, 21:30 | 4.931 views

total 760754 views