Bibliografi Dalam Islam (bagian-2) | rumahfiqih.com

Bibliografi Dalam Islam (bagian-2)

by : Sutomo Abu Nashr, Lc
Fri 13 January 2017 08:58 | 904 views | bagikan via

Al Imam Ibnu Hajar Al Asqalani -sebagaimana pada tulisan pertama- menjelaskan bahwa belum pernah ada penulisan massif atsar-atsar Nabi SAW pada masa shahabat dan tabi’in, dimana hal tersebut disebabkan oleh dua faktor. Pertama, karena sempat adanya larangan penulisan oleh Nabi SAW dan yang kedua karena ketrampilan menulis dikalangan shahabat sendiri memang belumlah banyak dimiliki. Mereka cenderung memiliki kelebihan luar biasa dalam hafal menghafal.

Penulisan di Masa Selanjutnya

Kemudian setelah menginformasikan siapa saja penulis-penulis pertama, Ibnu Hajar melanjutkan kisah sejarah penulisan di awal-awal Islam tersebut dengan menyebutkan sejumlah ulama yang berperan dalam penulisan dimasa-masa berikutnya.  

        وكانوا يصنفون كل باب على حدة إلى أن قام كبار أهل الطبقة الثالثة فدونوا الأحكام فصنف الإمام مالك الموطأ وتوخى فيه القوي من حديث أهل الحجاز ومزجه بأقوال الصحابة وفتاوى التابعين ومن بعدهم وصنف أبو محمد عبد الملك بن عبد العزيز بن جريج بمكة وأبو عمر وعبد الرحمن بن عمر والأوزاعي بالشام وأبو عبد الله سفيان بن سعيد الثوري بالكوفة وأبو سلمة حماد بن سلمة بن دينار بالبصرة ثم تلاهم كثير من أهل عصرهم في النسج على منوالهم إلى أن رأى بعض الأئمة منهم أن يفرد حديث النبي صلى الله عليه وسلم خاصة وذلك على رأس المائتين فصنف عبيد الله بن موسى العبسي الكوفي مسندا وصنف مسدد بن مسرهد البصري مسندا وصنف أسد بن موسى الأموي مسندا وصنف نعيم بن حماد الخزاعي نزيل مصر مسندا ثم اقتفى الأئمة بعد ذلك اثرهم فقل إمام من الحفاظ الا وصنف حديثه على المسانيد كالامام أحمد بن حنبل وإسحاق بن راهويه وعثمان بن أبي شيبة وغيرهم من النبلاء ومنهم من صنف على الأبواب وعلى المسانيد معا كأبي بكر بن أبي شيبة (ابن حجر، فتح الباري، ص. 6 ج. 1)

                “Mereka (yang pertama kali disebut sebagai penulis buku tersebut), menyusun setiap bab (dalam bukunya) masing-masing, sampai kemudian muncul para tokoh besar generasi ketiga yang membukukan atsar-atsar hukum. Imam Malik menulis kitab Al Muwatha’ dengan melakukan seleksi secara ketat mana hadits-hadits yang kuat yang bersumber dari haditsnya penduduk Hijaz. Dalam kumpulan hadits-haditsnya tersebut, beliau masukkan juga madzhab para shahabat dan fatwa para tabi’in plus generasi setelahnya. Ada juga penulis yang tinggal di Mekah; Abu Muhammad Abdul Malik ibn Abdul Aziz ibn Juraij. Di Syam ada penulis lain yaitu  Abu ‘Umar, ‘Abdurrahman ibn ‘Umar dan Al Auzai. Di Kufah ada Abu Abdillah Sufyan ibn Saed Atsauri. Di Bashrah ada Abu Salamah Hammad ibn Salamah ibn Dinar. Dan masih banyak lagi yang melakukan langkah yang sama, sampai kemudian muncul gagasan dari sebagian ulama untuk memisahkan secara khusus hanya menuliskan hadits-hadits Nabi SAW saja. Hal itu muncul di penghujung tahun dua ratusan hijriah. Muncullah para penulis Musnad seperti; Ubaidillah ibn Musa Al Abdi Al Kufi, Musaddad Al Bashri, Asad ibn Musa Al Umawi, Nuaim Ibn Muhammad Al Khuzai (pendatang di Mesir), dan banyak lagi yang kemudian mengikuti jejak mereka. Dan tidaklah ada seorang Imam dari para Hufadz kecuali pasti menuliskan hadits-haditsnya dengan model Musnad. Contohnya adalah Imam Ahmad ibn Hanbal, Ishaq ibn Rahawaih, ‘Utsman ibn Abi Syaibah, dan lain-lain. Ada juga yang menuliskan berdasarkan urutan tema dan bermusnad sekaligus seperti Abu Bakr Ibnu Syaibah” (Ibnu Hajar, Fathul Bari, hal. 6 Vol. 1)

                Apa yang terdapat dalam tulisan Al Hafidz Ibnu Hajar, meski ditulis dalam konteks sejarah penulisan hadits hingga munculnya Imam Bukhari dengan As Sahihnya, namun tidaklah berbeda dengan sejarah penulisan karya pada umumnya. Sehingga nama tokoh yang muncul pun juga selalu sama. Yang jelas, tulisan tersebut telah merekam bagaimana proses kelahiran penulisan buku dalam tubuh umat Islam. Dimana pada masa-masa awal, penulisan buku memang tidak terlalu massif. Imam Ibnu Hajar telah menyebutkan dua faktornya. Kalau kita baca sumber yang lain, maka ada sekian faktor berbeda yang bisa ditambahkan.

Faktor-Faktor Lain

Faktor-faktor itu antara lain; tidak adanya kebutuhan mendesak penulisan buku yang disebabkan masih sedikitnya kasus-kasus ikhtilaf, jarangnya kejadian-kejadian baru, berbagai riwayat belum terlalu luas menyebar, dan transmisi sanad masih cukup dekat dan pendek karena belum terlalu jauh dengan masa Rasulullah SAW. Selain faktor-faktor tersebut, ada juga satu faktor lain yang juga tidak bisa kita kesampingkan begitu saja. Faktor tersebut sebenarnya juga disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Barinya. Hanya saja dalam konteks yang berbeda. Faktor itu adalah adanya ikhtilaf dikalangan generasi awal tersebut tentang kebolehan penulisan ilmu pengetahuan.

(قوله باب كتابة العلم) طريقة البخاري في الأحكام التي يقع فيها الاختلاف أن لا يجزم فيها بشيء بل يوردها على الاحتمال وهذه الترجمة من ذلك لأن السلف اختلفوا في ذلك عملا وتركا (ابن حجر، فتح الباري، ص.204 ج. 1)

“(Bab Penulisan Ilmu). Metodologi Bukhari ketika membahas hukum yang terdapat khilaf didalamnya adalah dengan tidak menegaskan kesimpulan apapun. Namun beliau menuturkannya secara diplomatis. Judul pembahasan ini termasuk metodologi tersebut. Karena ulama salaf memang berbeda pendapat tentang hal tersebut (hukum penulisan ilmu) antara yang mengamalkan dan yang meninggalkan.” (Ibnu Hajar, Fathul Bari, hal. 204 Vol. 1)

                Al Khatib Al Baghdadi dalam Taqyid al Ilmi meriwayatkan beberapa cerita ketidaksukaan sejumlah ulama salaf terhadap penulisan ilmu. Contohnya adalah Abu Nadhrah. Beliau ingin sekali menuliskan hadits-hadits yang didengarnya dari Abu Said Al Khudri. Pada saat bertanya dan minta izin untuk menuliskannya, Abu Said berkomentar, “apakah kalian akan membuat mushaf baru ? Dulu Nabi kalian itu bersabda kepada kami dan kami menghafalnya. Maka hafalkanlah oleh kalian sebagaimana kami menghafal”

                Contoh bentuk ketidaksukaan yang lain dan masih dari catatan Taqyid al-Ilmi adalah kisah Abu Burdah anak Abu Musa Al Asy’ari yang menjadi qadhi di Kufah. Abu Burdah memiliki beberapa catatan hadits yang beliau dengar dari ayahandanya tersebut. Pada saat sang ayah mengetahuinya, beliau meminta anaknya untuk mengambilkan air yang ternyata dipakai untuk mencuci catatan tersebut.

                Bahkan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu juga termasuk yang pernah melarang penulisan ilmu, sebagaimana diriwayatkan oleh Saed ibn Jubair dalam Taqyid al Ilmi. Kata beliau, “Sungguh, yang telah menyesatkan umat-umat sebelum kalian adalah buku-buku”.  Begitu juga Umar ibn Al khatthab. Meski beliau pernah berniat untuk menuliskan sunnah-sunnah, namun akhirnya beliau mengurungkannya. Imam Abdurrazzaq dalam Mushannafnya meriwayatkan apa yang diungkapkan oleh Al Faruq ‘Umar, “Saya tidak akan sekalipun mencampuradukkan Al-Quran dengan apapun”.

Argumentasi Pihak Kontra Penulisan

Cerita penolakan serupa bisa kita jumpai dari para shahabat yang lain dan juga dari kalangan tabi’in. Hanya saja jumlah mereka memang lebih sedikit dibanding dengan jumhur (mayoritas) shahabat dan tabi’in yang membolehkannya. Argumentasi mereka yang menolak adalah; pertama, tulisan-tulisan selain Al-Qur’an, bisa jadi lebih menyibukkan seseorang dari Al-Qur’an. Itulah yang terjadi pada umat-umat terdahulu. Mereka menuliskan kitab-kitab dan takjub dengan tulisannya sendiri hingga meninggalkan taurat. Kedua, adanya kekhawatiran tidak bisa membedakan mana Al-Qur’an dan mana yang bukan bagi kalangan awam yang sama sekali buta dengan Al-Qur’an. Itulah dulu yang menjadi alasan Rasulullah SAW menuliskan hadits-haditsnya. Ketiga, adanya kekhawatiran turunnya kemampuan hafalan karena muncul ketergantungan terhadap tulisan. Keempat, dalam pandangan Al Auzai sebagaimana dikutip Ibnu Muflih dalam Al Adab As Syariyyah, munculnya buku itu menjadi salah satu penyebab orang-orang yang bukan ahlinya ikut-ikutan dalam urusan keilmuan. Beliau pernah menyatakan, “Ilmu ini pernah menjadi sangat amat mulia saat masih dipelajari dengan talaqqi kepada tokoh-tokohnya. Namun saat ilmu ini sudah masuk dalam buku-buku, ikut masuk pula akhirnya orang-orang yang sebenarnya tak mampu”

Jawaban Pihak Pro Penulisan

Sejumlah argumentasi yang dikemukakan oleh pihak yang tidak suka penulisan ilmu diatas, kalau kita perhatikan semuanya bertolak dari sikap kehati-hatian, waspada dan tindakan preventif untuk menghindari hal-hal yang mencemari kesucian dan kemurnian Al-Qur’an dan ajarannya. Hal itulah yang membuat rivalnya dari pihak pro penulisan dengan mudah memberikan jawaban. Intinya adalah kondisi sudah berubah. Kebutuhan akan penulisan benar-benar mendesak. Larangan Nabi tentang penulisan, selain karena memang ada alasan, toh Nabi sendiri juga yang akhirnya malah memberikan izin. Meski izin yang terbatas dan bersyarat. Dan tentu saja adanya banyak isyarat di dalam Al-Qur’an dan Sunnah itu sendiri tentang penulisan.

                Al Khatib Al Baghdadi ketika menafsiri ayat terpanjang dalam Al-Qur’an yang berbicara tentang piutang, sampai mengatakan bahwa menulis ilmu itu jauh lebih penting dari sekedar menulis utang.

فلما أمر الله تعالى بكتابة الدين حفظا له واحتياطا عليه وإشفاقا من دخول الريب فيه، كان العلم الذي حفظه أصعب من حفظ الدين، أحرى أن تباح كتابته؛ خوفا من دخول الريب والشك فيه، بل كتاب العلم في هذا الزمان مع طول الإسناد واختلاف أسباب الرواية، أحج من الحفظ. (الخطيب البغدادي، تقييد العلم، ص. 69)

Ketika Allah SWT memerintahkan dalam transaksi piutang untuk melakukan pencatatan, -dengan tujuan menjaga harta, bersikap waspada, dan menghindari munculnya keraguan di dalamnya-, maka sebuah ilmu pengetahuan yang menjaganya itu lebih berat, tentu saja akan lebih berhak dan layak untuk diperbolehkan pencatatan dan penulisannya. Karena adanya kekhawatiran masuknya berbagai ragu dan bimbang. Bahkan penulisan ilmu pengetahuan di zaman ini jauh lebih dibutuhkan dari pada menghafal, mengingat panjangnya transmisi sanad periwayatan dan sekaligus perbedaan sebab-sebab riwayat. (Al Khatib Al Baghdadi, Taqyid al Ilmi, hal. 69)

                Dalam kitab yang sama, beliau juga mengatakan bahwa tulisan-tulisan itu akan jauh lebih otentik dari sekedar hafalan-hafalan. Dan akhirnya penulisan semakin meluas dan buku semakin menyebar.

إنما اتسع الناس في كتب العلم وعولوا على تدوينه في الصحف بعد الكراهة لذلك، لأن الروايات انتشرت والأسانيد طالت وأسماء الرجال وكناهم وأنسابهم كثرت، والعبارات بالألفاظ اختلفت، فعجزت القلوب عن حفظ ما ذكرنا، وصار علم الحديث في هذا الزمان أثبت من علم الحافظ (الخطيب البغدادي، تقييد العلم، ص. 64)

“semakin meluasnya penulisan ilmu oleh manusia dan mereka beralih menuliskannya kedalam lembaran-lembaran setelah sebelumnya membencinya, tidak lain disebabkan oleh semakin menyebarnya riwayat, semakin memanjangnya sanad, semakin banyaknya kuantitas nama tokoh perawi, nama kunyah mereka dan nasab-nasabnya. Serta sangat beragamnya teks dan redaksi yang diterima. Dengan demikian menjadi lemahlah akal untuk menghafal itu semua. Maka ilmu hadits (dalam tulisan kitab-kitab) lebih otentik dari sekedar ilmu hafalan seorang hafidz” (Al khatib Al Baghdadi, Taqyid al Ilmi, hal. 64)

Ijma’

Dan akhirnya terjadilah ijma’ diantara semua ulama bahwa penulisan ilmu memang dibolehkan, bahkan bisa disunnahkan atau diwajibkan. Ada sejumlah ulama yang meriwayatkan ijma dalam hal ini. Diantara mereka adalah Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Bari.

(قوله باب كتابة العلم) طريقة البخاري في الأحكام التي يقع فيها الاختلاف أن لا يجزم فيها بشيء بل يوردها على الاحتمال وهذه الترجمة من ذلك لأن السلف اختلفوا في ذلك عملا وتركا وإن كان الأمر استقر والإجماع انعقد على جواز كتابة العلم بل على استحبابه بل لايبعد وجوبه على من خشي النسيان ممن يتعين عليه تبليغ العلم (ابن حجر، فتح الباري، ص.204 ج. 1)

“(Bab Penulisan Ilmu). Metodologi Bukhari ketika membahas hukum yang terdapat khilaf didalamnya adalah dengan tidak menegaskan kesimpulan apapun. Namun beliau menuturkannya secara diplomatis. Judul pembahasan ini termasuk metodologi tersebut. Karena ulama salaf memang berbeda pendapat tentang hal tersebut (hukum penulisan ilmu) antara yang mengamalkan dan yang meninggalkan. Walaupun kemudian permasalahan ini akhirnya selesai dan telah terjadi ijma atas kebolehan penulisan ilmu pengetahuan, bahkan sampai disunnahkan, atau tidak menutup kemungkinan bisa diwajibkan atas orang yang khawatir lupa dari kalangan wajib-tabligh (orang yang wajib menyampaikan ilmu)” (Ibnu Hajar, Fathul Bari, hal. 204 Vol. 1).

Setelah adanya Ijma’ inilah akhirnya produktifitas ilmiah di kalangan kaum muslimin semakin meningkat. Dan yang dikenal sebagai penulis pertamanya sebagaimana telah disebutkan dalam tulisan pertama adalah  Rabi’ ibn Shabih, Saed ibn Abi ‘Urubah dan Ibnu Juraij. Lalu bagaimana dengan Ibnu Syihab Az Zuhri (w. 124 H) dan Abu Hanifah (w. 150 H) ?

Ibnu Syihab Az Zuhri

Ibnu Syihab Az Zuhri meskipun memang dikenal dalam dunia hadits sebagai pelopor tadwin (kodifikasi), namun -sebagaimana disebutkan oleh para pakar dan huffadz hadits seperti Imam Nawawi dan Ibnu Hajar Al Asqalani, atau yang lebih dahulu dari mereka berdua; Imam Ahmad ibn Hanbal-, tidak termasuk pelopor penulisan buku. Tidak ada alasan yang secara eksplisit disebutkan oleh mereka. Hanya ada sedikit gambaran yang diisyaratkan dalam Fathul Bari karya Ibnu Hajar, ketika memasukkan Rabi’ dan Saed sebagai penulis pertama.   

وكانوا يصنفون كل باب على حدة

“Mereka (para penulis pertama) itu menyusun setiap bab nya masing-masing”

                Pernyataan Ibnu Hajar ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan tashnif (penulisan) adalah ketika ada proses penyusunan sistematis dan pembagian tema-tema. Sedangkan yang dilakukan oleh Ibnu Syihab hanyalah baru sebatas pengumpulan dan koleksi (kodifikasi) tanpa ada penyusunan dan pengelompokan tema. Sebagaimana dikatakan sendiri oleh Ibnu Syihab, “Umar ibn Abdul Aziz memerintahkan kami untuk mengumpulkan sunnah-sunnah”. (Ibnu Abdil Barr, Jami Bayan al Ilmi, hal. 331 Vol. 1)

Abu Hanifah

Sedangkan Abu Hanifah, meski beliau dikenal dengan karyanya Fiqih Akbar dan tahun wafatnya sama dengan Ibnu Juraij bahkan lebih dahulu dari Saed dan Rabi’, oleh para ulama tidak dimasukkan sebagai para pelopor penulisan buku. Barangkali yang menjadi sebabnya adalah karena Fiqih Akbar masih diperdebatkan otentisitasnya sebagai karya Imam Abu Hanifah. Atau kalaupun benar bahwa itu adalah pemikiran Imam Abu Hanifah, tersusunnya pemikiran tersebut bukan inisiatif Abu Hanifah sendiri, tapi merupakan kreatifitas para muridnya -seperti Abu Muthi Al Balkhi- yang menyimak langsung dan mencatatnya. Hal seperti itu juga terjadi pada Imam Syafi’i dan juga yang lain. Imam Syafi’i memiliki Musnad dan Juga Sunan. Namun bukan susunan beliau sendiri. Bahkan Imam Abu Hanifah pun juga memiliki kitab Musnad. Tapi itu merupakan karya yang disusun oleh Abu Nuaim Al Ashfihani (w. 430 H).

                Adapun klaim sebagian ulama Hanafiyah yang mengatakan bahwa Imam Abu Hanifah adalah penulis pertama dalam ilmu fiqih, maka akan ada pembahasannya dalam tulisan lain terkait bibliografi khusus fiqih. Dan pembahasan tentang siapa sebenarnya pelopor penulisan buku, sebenarnya tidaklah lebih dari ‘sekedar’ wawasan semata. Ia tidak berbuah amalan apapun. Selain itu, tidak ada juga yang bisa memastikan siapa tokohnya. Maka, walaupun nama-nama yang selalu disebutkan hanya Rabi’ ibn Shabih, Saed ibn Abi ‘Urubah dan Ibnu Juraij saja, maka tidaklah mengapa kita tambahkan Imam Ibnu Syihab Az Zuhri, Imam Abu Hanifah, dan ulama yang lain yang dimasa-masa awal memang pernah berkontribusi dalam dunia literasi.  

                Dalam tulisan ini yang hendak dijadikan sebagai fokus uraian hanyalah tentang bagaimana proses munculnya embrio literasi dalam Islam yang luar biasa itu, ternyata sempat mengalami episode dimana penulisan buku menjadi aktifitas yang dibenci. Walaupun akhirnya kemudian kebolehannya menjadi disepakati. Lalu bagaimana kelanjutan sejarah penulisan dalam Islam setelah adanya Ijma’ ini ? Bagaimana pula penulisan sampai menjamur dan mentradisi bahkan sampai muncul tradisi bibliografi ? Jawaban akan pertanyaan-pertanyaan ini akan ada dalam tulisan selanjutnya nanti.

Bagikan via

Baca Lainnya :

Bibliografi Dalam Islam (bagian-2)
13 January 2017, 08:58 | 904 views
Bibliografi Dalam Islam (bagian-1)
8 January 2017, 20:15 | 1.193 views
Fiqih dan Sastra
3 December 2016, 07:21 | 1.118 views
Madrasah Fiqhiyah An-Nizhamiyah
4 July 2016, 02:12 | 1.538 views
Raudhah 6 : Fatwa dalam Bingkai Sastra
13 March 2015, 11:34 | 4.319 views
Raudhah 5 : Mata yang Lapar
17 December 2014, 07:06 | 5.272 views
Raudhah 4 : Nasihat Sang Faqih kepada Calon Faqih
15 December 2014, 23:50 | 4.379 views
Raudhah 3 : Ini juga Taman Fiqih
12 December 2014, 09:10 | 3.287 views
Raudhah 2 : Taman Fiqih
12 December 2014, 08:47 | 3.509 views
Raudhah 1 : Sepenggal Kisah
22 August 2014, 08:51 | 4.408 views

total 777689 views