Al-Qur’an Sebagai Objek Ilmu Ushul Fiqih (Bagian-1) | rumahfiqih.com

Al-Qur’an Sebagai Objek Ilmu Ushul Fiqih (Bagian-1)

by : Isnan Ansory, Lc, MA
Mon 16 January 2017 08:15 | 1591 views | bagikan via

Pada dasarnya al-Qur’an adalah sumber setiap ilmu yang lahir dalam sejarah dan peradaban keilmuan Islam. Bahkan menurut Ali Jum’ah, dengan mengutip Ibn Muqillah dan Abi Hayyan, ia berkata bahwa diciptakannya ilmu khat (kaligrafi) juga dimaksudkan untuk ber-khidmah terhadap nash wahyu (al-Qur’an).[1] Hal ini menunjukkan, bahwa al-Qur’an merupakan dasar dari setiap ilmu dalam Islam.

Namun, sebagai objek kajian sering terjadi tumpang tindih pembahasan di antara ilmu-ilmu keislaman hingga mengaburkan posisi al-Qur’an sebagai sebuah objek kajian. Padahal secara khusus terdapat satu ilmu yang secara lengkap dan lebih detail membahas setiap sisi al-Qur’an yaitu ‘Ulum al-Qur’an (Ilmu-ilmu al-Qur’an).

Nuruddin ‘Itr mendefinisikan ‘Ulum al-Qur’an sebagaimana berikut: [2]

المباحث الكلية التي تتعلق بالقرآن الكريم من ناحية نزوله، وترتيبه وجمعه، وكتابته، وتفسيره، وإعجازه وناسخه ومنسوخه، وغير ذلك

“Pembahasan-pembahasan beragam ilmu secara global yang terkait dengan al-Qur’an seperti dari sisi turunnya, kodifikasinya, tafsirnya, i’jaznya, nasikh mansukh dan lain-lain”.

 

Secara umum, al-Qur’an sebagai objek kajian Ushul Fiqih, dimaksudkan sebagai sumber hukum Islam atau sumber fiqih dan bukan kitab yang mengkompilasi hukum fiqih. Dan oleh sebab itu setiap pembahasan al-Qur’an dalam ilmu Ushul Fiqih dimaksudkan untuk membuahkan hukum fiqih. Dalam konteks ini asy-Syathibi berkata: [3]

كُلُّ مَسْأَلَةٍ مَرْسُومَةٍ فِي أُصُولِ الْفِقْهِ لَا يَنْبَنِي عَلَيْهَا فُرُوعٌ فِقْهِيَّةٌ، أَوْ آدَابٌ شَرْعِيَّةٌ، أَوْ لَا تَكُونُ عَوْنًا فِي ذَلِكَ؛ فَوَضْعُهَا فِي أُصُولِ الْفِقْهِ عَارِيَةٌ.

“Setiap masalah yang terdapat dalam ilmu Ushul Fiqih, namun tidak membuahkan fiqih, atau tidak menjadi penyangga keberadan fiqih, maka meletakkannya sebagai objek Ushul Fiqih terhitung tidak berguna.”

 

Jika diamati, pada dasarnya pembahasan tentang al-Qur’an dalam Ushul Fiqih akan terkait dengan tiga pondasi (istimdad) ilmu Ushul Fiqih itu sendiri, yatu: (1) Ilmu Kalam, (2) Bahasa Arab, dan (3) Fiqih.

Ilmu kalam menjadi pondasi dalam pelegitimasian al-Qur’an (hujjiyyah al-Qur’an) sebagai sumber hukum Islam. Di mana pertanyaan yang muncul adalah, apa dasar al-Qur’an dapat menjadi sumber hukum Islam?. Termasuk dalam hal ini, pembatasan definisi dari al-Qur’an itu sendiri, sehingga hakikat dari istilah al-Qur’an tidak menjadi bias dan dipahami secara keliru.

Pondasi kedua, ilmu Bahasa Arab. Ilmu ini menjadi pondasi dalam Ilmu Ushul Fiqih, terkait dengan objek utama Ushul Fiqih yang berbahasa Arab, yaitu syariah Islam yang terwujud dalam al-Qur’an dan Sunnah. Asy-Syathibi berkata:[4]

إن هذه الشريعة المباركة عربية، لا مدخل فيها للألسن العجمية

“Sesungguhnya syariat yang berkah ini adalah “Arabiyyah” (dengan lisan Arab), (itu sebabnya) tidak ada pintu masuk (untuk memahaminya) dengan lisan ‘ajam (selain Arab).”

 

Dari kaidah-kaidah Bahasa Arab inilah, disusun metodologi istinbath (penggalian) hukum syariah dari al-Qur’an, seperti kaidah seputar amr, nahy, aam khos, muthlaq muqayyad, manthuq mafhum, dan lainnya.

Dan terakhir, dari pondisi ilmu fiqih, kajian tentang al-Qur’an dalam Ushul Fiqih dimaksudkan untuk menggali hukum-hukum fiqih dari teks al-Qur’an sebagai cara menjalani kehidupan yang dikehendaki oleh pembuat syariat, Allah swt. Termasuk dalam hal ini, dalam rangka mendapatkan gambaran yang utuh (tashawwur) tentang permasalahan yang muncul di tengah manusia, untuk dicari jawabannya dari al-Qur’an sebagai tibyan li kulli syai’ (penjelas setiap sesuatu).

 

Untuk lebih mendapati gambaran yang cukup detail tentang al-Qur’an sebagai objek kajian Ushul Fiqih, maka akan dibahas dalam beberapa pembahasan berikut:

 

1. Definisi al-Qur’an

Secara etimologis, kata al-Quran berasal dari Bahasa Arab dengan bentuk mashdar dari kata kerja qara’a (قرأ), yang bermakna membaca. Makna bahasa ini dapat ditemukan dalam al-Quran surat al-Qiyamah ayat 17-18.[5]

Sedangan secara terminologis, para ulama mendefinisikan al-Quran dengan beragam redaksi, di antaranya definisi berikut:[6]

كلامُ اللهِ المُنزّلُ على مُحمّد بِلفْظِهِ العربيِ والمنْقُولُ بِالتّواتُر ويُتحدّى بِهِ العربُ والمُتعبّدُ بِتِلاوتِهِ

“Perkataan (kalam) Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, yang sampai kepada kita dengan periwayatan yang mutawatir, dengan berbahasa Arab, dimana dengan ayat itu Allah menantang orang Arab untuk membuat tandingannya, dan membacanya merupakan ibadah.”

 

Dari definisi di atas, al-Quran dapat dibedakan dengan hal lainnya, berdasarkan uraian berikut:

Pertama: Kalam (perkataan) Allah. Penyebutan al-Quran sebagai perkataan Allah untuk membedakannya dengan perkataan makhluk. Maka dengan demikian seluruh perkataan selain perkataan Allah bukanlah al-Qur’an.

Kedua: Diturunkan kepada Muhammad saw dengan bahasa Arab. Berdasarkan pembatasan ini, maka kalam Allah yang tidak diturunkan kepada Muhammad dan tidak berbahasa Arab bukanlah al-Qur’an,[7] seperti Taurat yang diturunkan kepada nabi Musa as. dan Zabur yang kepada nabi Dawud as., di mana kedua-duanya berbahasa Ibrani. Injil yang berbahasa Suryani dan diturunkan kepada nabi Isa as. Dan juga Shuhuf Ibrahim dan Shuhuf Musa. Demikian pula tidak disebut ayat-ayat al-Quran, terjemahan al-Qur’an ke dalam bahasa lain atau tafsir manusia atas al-Qur’an, sekalipun berbahasa Arab.

Ketiga: Diriwayatkan secara mutawatir. Berdasarkan pembatasan ini maka kalam Allah swt yang diturunkan kepada Muhammad namun tidak mutawatir bukanlah al-Qur’an. Seperti ayat-ayat yang diriwayatkan secara syaz atau ahad. Demikian pula hadits qudsi, yaitu hadits yang disandarkan kepada Allah swt dari sisi periwayatannya, namun bukan al-Qur’an.

Sedangkan yang dimaksud dengan mutawatir adalah bahwa jumlah perawi yang meriwayatkan kalam Allah dari Rasulullah itu sangat banyak dan tersebar luas dimana-mana, sehingga mustahil mereka kompak untuk berdusta. Di samping para periwayat itu juga sepakat bahwa apa yang diriwayatkan adalah lafaz al-Qur’an.

Keempat: Menantang Orang Arab (mu’jiz), untuk membuat semisalnya.[8] Pembatasan ini untuk tidak memasukkan hadits Qudsi. Sebab hadits qudsi adalah perkataan yang juga disandaran kepada Allah swt, namun ia tidak bersifat mukjizat atau tidak bertujuan untuk menentang orang Arab yang saat al-Qur’an diturunkan sangat bangga dengan keindahan bahasa dan sastranya. Di mana tantangan al-Qur’an tersebut, yaitu untuk membuat yang semisal dengan al-Qur’an meski satu ayat, tidak pernah bisa mereka jawab.[9]

Kelima: Membacanya merupakan ibadah yang berpahala. Terlepas apakah pembacanya mengerti maksudnya ataupun tidak. Hal ini pun untuk membedakannya dengan wahyu yang Allah turunkan kepada Muhammad saw selain al-Qur’an yaitu hadits atau Sunnah. Di mana membacanya tidak mendatangkan pahala jika hanya sekedar dibaca, kecuali bila dengan maksud untuk dipelajari dan dijalankan pesannya.

 

2. Hujjiyah al-Qur’an

Al-Qur’an merupakan sumber hukum Islam yang paling utama, pertama, dan pokok. Di mana landasan hujjiyyah atau legalitasnya didasarkan kepada dua hal:

a. Ijma’ Umat

Umat Islam telah sepakat bahwa al-Qur’an adalah dasar hukum Islam, dan bahwasannya ia diturunkan oleh Allah swt. Demikian pula kehujjahannya didasarkan kepada posisi al-Qur’an sebagai pelegitimasi dalil-dalil hukum lainnya.

Di samping itu, legitimasinya juga didasarkan kepada orisinalitas al-Qur’an sebagai wahyu yang disepakati oleh umat keterjagaanya dari distorsi dan penyelewengan. Hal itu dapat dilihat dari beberapa indikator, di antaranya:

Pertama: Sejarah telah menjelaskan dengan penjelasan yang tidak diragukan bahwa al-Qur’an telah ditulis sejak diterima oleh Nabi Muhammad saw. Dan status Muhammad saw sebagai sosok yang jujur dan terpercaya (al-amin), telah diakui oleh kawan maupun lawan. Bahkan Allah swt sendiri telah mengancam Muhammad, untuk tidak sekali-kali berani mengadakan perkataan dari dirinya atas nama Allah swt:

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الأقَاوِيلِ * لأخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ * ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ (الحاقة: 44-46)

“Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami (44) Niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya (45) Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya.” (46) (QS. Al-Haqqah: 44-46).

 

Kedua: Selain ditulis, al-Quran juga sampai kepada kita melalui jalur hafalan yang merupakan keunggulan bangsa Arab. Dan ini merupakan penjagaan pertama dan utama yang dilakukan terhadap al-Qur’an oleh sumbangsih manusia. Sebab al-Quran diturunkan dalam format suara dan bukan dalam format teks. Dan kelebihan bahasa Arab itu mudah dihafal dibandingkan menghafal kalimat dalam bahasa lainnya. Maka tak heran jika di setiap generasi bahkan hingga saat ini, al-Qur’an telah dihafal secara utuh oleh jutaan manusia.

Ketiga: Penjilidan al-Qur’an sudah dilakukan sejak masa khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq ra. sebagai khalifah pertama umat Islam pengganti Rasulullah saw. Yang mana usaha itu dilakukan dalam rangka untuk menjaga hilangnya hafalan al-Qur’an dari banyak shahabat, yang disebabkan wafatnya sebagian penghafal al-Qur’an sebagai syuhada pada perang Yamamah dan peperangan lainnya.

Keempat: Telah dilakukannya standarisasi penulisan teks al-Qur’an pada masa khalifah Utsman bin Affan ra (khalifah ke-3) yang disepakati oleh para shahabat Nabi saw. Bahkan standar penulisan ini yang disebut dengan rasm utsmani merupakan salah satu syarat legalitas ke-mutawatir-an bacaan (qira’at) al-Qur’an.

 

b. Legitimasi Al-Qur’an

Di samping ijma’ umat, legalitas al-Qur’an sebagai sumber hukum Islam juga didasarkan pada statement al-Qur’an itu sendiri. Sebagaimana firman Allah swt:

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا (النساء: 105)

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat.” (QS. an Nisa’: 105).

 

3. Qira’at al-Qur’an dan Hujjiyyahnya

Di antara kajian al-Qur’an dalam Ilmu Ushul Fiqih yang menjadi satu perhatian khusus para ulama adalah terkait ragam periwayatan qira’at al-Qur’an. Sebab qira’at al-Qur’an merupakan salah satu sebab terjadi perbedaan dalam penyimpulan hukum fiqih, di mana hal tersebut merupakan tujuan pokok disusunnya ilmu Ushul Fiqih.

 

a. Pengertian dan Ragam Qira’at al-Qur’an

Adapun yang menjadi titik perdebatan para sarjana Ushul Fiqih dalam qira’at al-Qur’an adalah qira’at yang bersifat syazah. Yaitu apakah bacaan al-Qur’an yang diriwayatkan oleh shahabat dari Nabi saw namun tidak bersifat mutawatir termasuk dikatagorikan al-Qur’an atau tidak?. Jika bukan bagian dari al-Qur’an, apakah statusnya yang dikaitkan dengan hukum, dapat dijadikan hujjah atau dalil dalam menetapkan hukum?.

Sebelum membahas dua masalah di atas, perlu diketahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan Qira’at dan klasifikasinya.

Qira’at (القراءات) secara bahasa artinya adalah bacaan. Adapun secara terminologis didefinisikan oleh Abu Syamah al-Maqdisi (w. 665 H) dalam kitabnya Ibraz al-Ma’ani dan dan al-Banna’ (w. 1117 H) dalam Ittihaf Fudhala’ al-Basyar sebagaimana berikut:[10] 

علم بكيفية أداء كلمات القرآن الكريم واختلافها معزوا لناقله.

“Ilmu tentang tata-cara membaca al-Qur’an dan perbedaan-perbedaanya yang disandarkan kepada pentransmisinya.”

 

Secara umum, kemudian ulama membedakan Qira’at al-Qur’an menjadi dua jenis: (1) Qira’at Mutawatirah, dan (2) Qira’at Syazzah.

Namun yang harus dipahami, bahwa pada dasarnya Qira’at dan al-Qur’an merupakan dua substansi yang berbeda sebagaimana dijelaskan oleh az-Zarkasyi (w. 794 H) yang dinukil oleh as-Suyuthi (w. 911 H) dalam al-Itqan.[11] Namun demikian, Qira’at bisa digolongkan sebagai teks al-Qur’an bilamana memenuhi beberapa persyaratan yang sekaligus menjadi syarat atas Qira’at mutawatirah. Syarat tersebut sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu al-Jazari (w. 833 H) dalam an-Nasyr fi al-Qira’at al-‘Asyr, yaitu:[12]

  1. Qira’at tersebut sesuai dengan salah satu kaidah dari kaidah-kaidah bahasa Arab (Qawa’id al-Lughah al-‘Arabiyyah) yang diakui.
  2. Qira’at tersebut bersumber dari Nabi saw, melalui sanad yang shahih.
  3. Qira’at tersebut tidak menyalahi rasm ‘utsmani atau standarisasi penulisan yang telah dikukuhkan pada masa khalifah Utsman bin Affan ra.

 

Jika ketiga syarat di atas terpenuhi, maka Qira’at tersebut disebut dengan Qira’at Mutawatirah dan dapat ditetapkan serta diakui aspek qur’aniyyah-nya (ke-qur’anan-nya). Sedangkan jika syarat pertama dan kedua terpenuhi, namun tulisannya menyalahi atau berbeda dengan rasm ‘utsmani, maka Qira’at tersebut disebut dengan Qira’at Syazzah. Dan jenis qira’at inilah yang diperselisihkan legalitasnya oleh ulama Ushul Fiqih.

Setidaknya total Qira’at yang diakui keshahihannya (dari aspek sanad) oleh para ulama sebanyak 14 Qira’at. Di mana tujuh (7) Qira’at di antaranya, para ulama sepakat mengakui sebagai Qira’at Mutawatirah. Tiga (3) yang lain disepakati sebagai Qira’at Syazzah. Dan empat (4) lainnya diperselisihkan apakah tergolong Qira’at Mutawatirah atau Qira’at Syazzah.

Adapun ke-tujuh Qira’at yang disepakati sebagai qira’at mutawatirah, adalah:

  1. Qira’at Ibnu ‘Amir asy-Syami (w. 118 H), yaitu qira’at Abdullah bin ‘Amir al-Yahshabi asy-Syami. Adapun rawi qira’at Ibnu ‘Amir adalah Hisyam bin ‘Ammar (w. 245 H) dan Ibnu Zhakwan Abdullah bin Ahmad (w. 240 H).
  2. Qira’at Ibnu Katsir al-Makki (w. 120 H), yaitu qira’at Abdullah bin Katsir. Adapun rawi qira’at Ibnu Katsir adalah al-Bazzi Ahmad bin Muhammad al-Makki (w. 250 H) dan Qunbul Muhammad bin Abdurrahman al-Makki al-Makhzumi (w. 291 H).
  3. Qira’at ‘Ashim al-Kufi (w. 128 H), yaitu qira’at ‘Ashim bin Abi an-Najud.  Adapun rawi qira’at ‘Ashim adalah Syu’bah Abu Bakar Syu’bah bin Abbas al-Kufi (w. 193 H) dan Hafsh bin Sulaiman al-Bazzaz al-Kufi (w. 180 H).
  4. Qira’at Abu ‘Amr al-Bashri (w. 154 H), yaitu qira’at Ziyan bin al-‘Ala’ al-Mazini. Adapun rawi qira’at Abu ‘Amr adalah ad-Duuri Abu ‘Amr Hafhs bin Umar ad-Duuri (w. 246 H) dan as-Susi Abu Su’aib Shalih bin Ziyad as-Susi (w. 261 H).
  5. Qira’at Hamzah al-Kufi (w. 156 H), yaitu qira’at Hamzah bin Habib az-Zayyat at-Taimi. Adapun rawi qira’at Hamzah adalah Khalaf bin Hisyam al-Bazzaz (w. 229 H) dan Khallad bin Khalid ash-Shairafi (w. 220 H).
  6. Qira’at Nafi’ al-Madani (w. 169 H), yaitru qira’at Nafi’ bin Abdurrahman. Adapun rawi qira’at Nafi’ adalah Qalun Isa bin Minya al-Madani (w. 220 H) dan Warasy Utsman bin Said al-Mishri (w. 197 H).
  7. Qira’at al-Kisa’i al-Kufi (w. 189 H), yaitu qira’at Ali bin Hamzah al-Kufi. Adapun rawi qira’at al-Kisa’i adalah Abu al-Harits al-Laits bin Khalid al-Baghdadi (w. 240 H) dan Hafsh ad-Duri rawi Abu ‘Amr.

 

Sedangkan ke-tiga Qira’at yang diperselisihkan statusnya antara mutawatir dan syazah, adalah:

  1. Qira’at Abu Ja’far al-Madani (w. 128 H atau 132 H), yaitu qira’at Yazid bin al-Qa’qa’. Adapun rawinya adalah Isa Ibnu Wardan (w. 160 H) dan Ibnu Jamaz Sulaiman bin Muslim al-Madani (w. 170 H).
  2. Qira’at Ya’qub al-Bashri (w. 205 H), yaitu qira’at Ya’qub bin Ishaq al-Hadhrami. Adapun rawinya adalah Ruwais Muhammad bin al-Mutawakkil al-Bashri (w. 238 H) dan Ruh bin Abdul Mu’min al-Bashri (w. 234 H atau 235 H).
  3. Qira’at Khalaf (w. 229 H), yaitu qira’at Khalaf bin Hisyam al-Bazzar al-Baghdadi. Adapun rawinya adalah Ishaq bin Ibrahim al-Warraq al-Maruzi (w. 286 H) dan Idris bin Abdul Karim al-Haddad al-Baghdadi (w. 292 H).

 

Sementara itu ke-empat qira’at yang disepakati sebagai qira’at syazzah, adalah:

  1. Qira’at al-Hasan al-Bashri (w. 110 H).
  2. Qira’at Muhammad bin Abdurrahman Ibnu Muhaishan (w. 123 H).
  3. Qira’at Yahya bin al-Mubarak al-Yazidi (w. 202 H).
  4. Qira’at Muhammad bin Ahmad asy-Syanbuzi (w. 388 H).

 

b. Hujjiyyah Qira’at al-Qur’an

1. Hujjiyyah Qira’at Mutawatirah

Para ulama sepakat bahwa Qira’at Mutawatirah berstatus hujjah dalam menetapkan hukum syara’. Bahkan teks dan lafaz al-Qur’an dengan qira’at inilah yang haram untuk diingkari seorang muslim serta dihukumi kafir bagi yang menentang dan mengingkarinya.[13]

 

2. Hujjiyyah Qira’at Syazzah

Sedangkan terkait hujjiyyah Qira’at Syazzah, setidaknya para ulama terpecah menjadi dua mazhab:

a. Mazhab pertama: Qira’at Syazzah adalah Hujjah.

Pendapat ini dianut oleh kalangan al-Hanafiyyah, satu riwayat dari Imam Malik, imam asy-Syafi’i, dan imam Ahmad, bahwa Qira’at Syazzah dapat dijadikan dalil dalam menetapkan hukum.

Argumentasi mereka adalah meskipun Qira’at Syazzah tidak diakui qur’aniyyah-nya karena memang tidak diriwayatkan secara mutawatir, akan tetapi, ia berkedudukan sebagai khabar ahad dari Nabi saw, sedang beramal dengan khabar ahad adalah wajib dan sifat hujjahnya adalah zhanni.

b. Mazhab kedua: Qira’at Syazzah Bukanlah Hujjah.

Pendapat ini dianut oleh satu riwayat imam Malik, dan satu riwayat imam asy-Syafi’i yang dishahihkan oleh al-Amidi, Ibnu al-Hajib, Ibnu as-Sam’ani, dan an-Nawawi, serta satu riwayat imam Ahmad.

Argumentasi mereka adalah bahwa qira’at syazzah tidak bisa digolongkan sebagai khabar ahad atau hadits nabi, karena perawinya hanya bermaksud meriwayatkan al-Qur’an, sedang al-Qur’an mesti diriwayatkan secara mutawatir. Adapun Qira’at Syazzah tentu tidak diriwayatkan secara mutawatir, maka atas dasar ini qira’at syazzah tidak bisa digolongkan sebagai khabar ahad ataupun al-Qur’an.

 

Implikasi Perbedaan:

Untuk mendapatkan gambaran yang jelas dari implikasi perbedaan pendapat ini akan diutarakan satu contoh dari implikasi perbedaan atas status legalitas Qira’at syazzah. Yaitu masalah, apakah puasa kaffarat atas pembatalan sumpah (kaffarah al-yamin), wajib dilakukan secara berturut-turut atau tidak?.

Dalam hal ini, mazhab Hanafi dan Hanbali mewajibkannya, berdasarkan Qira’at Syazzah dari Ibnu Mas’ud tentang kaffarat puasa atas pembatalan sumpah, “Maka berpuasalah tiga hari secara berturut-turut (fa shiyam tsalatsata ayyamin mutatabi’at). Sedangkan mazhab Maliki dan Syafi’i tidak menganggapnya wajib.

 

Isnan Ansory, Lc., M.Ag

Peneliti Rumah Fiqih Indonesia (RFI)

 


[1] Ali Jum’ah, al-Madkhal ila Dirasah al-Mazahib al-Fiqhiyyah, (Kairo: Dar as-Salam, 1422 H/2001 M), hlm. 10, 19.

[2] Nuruddin ‘Itr, Ulum al-Qur’an al-Karim, hlm. 8.

[3] Abu Ishaq asy-Syathibi, al-Muwafaqat, (t.t: Dar Ibnu Affan, 1417/1997), hlm. 4/125.

[4] Abu Ishaq asy-Syathibi, al-Muwafaqat, hlm. 2/101.

[5] Artinya: “Sesungguhnya atas tanggungan kamilah, mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. (17) Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. (18). (QS. Al-Qiyamah: 17-18).

[6] Pada dasarnya sebagai kitab dan kumpulan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, Allah swt dalam al-Qur’an telah menjelaskan hakikat al-Qur’an itu sendiri, lihat: QS. Fusshilat: 44, QS. An-Nahl: 89, 102, QS. Maryam: 97, QS. Yasin: 70, QS. An-Naml: 76, QS. Al-An'aam: 70, QS. Az-Zumar: 55-59, QS. Shaad: 29, dan QS. Ibrahim: 52.

[7] Informasi al-Qur’an tentang bahasa al-Qur’an yang berbahasa Arab dapat dilihat pada ayat-ayat berikut: QS. Yusuf: 2, QS. Ar-Ra’d: 37, QS. An-Nahl: 103, QS. Thaha: 113.

[8] Badruddin az-Zarkasyi (w. 794 H) berkata, “Tiada perbedaan di antara orang-orang berakal (‘uqala’) bahwa kitab Allah (al-Qur’an) adalah mu’jiz (memiliki mukjizat), sebab bangsa Arab tidak mampu menentangnya. (Badruddin az-Zarkasyi, al-Bahr al-Muhith fi Ushul al-Fiqih, (t.t: Dar al-Kutubi, 1414/1994), cet. 1, hlm. 2/183).

[9] Tantangan Allah itu bisa dilihat dalam QS. Al-Baqarah: 23, QS. Hud: 13, QS. Al-Qashash: 49, QS. Al-Isra’: 88, dan QS. Yunus: 37-38.

[10] Abu Syamah Abdurrahman bin Ismail, Ibraz al-Ma’ani min Hirz al-Amani, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.th), hlm. 772, Ahmad al-Banna’, Ittihaf Fudhala’ al-Basyar fi al-Qira’at al-Arba’ah ‘Asyar, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1427/2006), cet. 3, hlm. 6.

[11] Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, (Mesir: al-Hai’ah al-‘Ammah, 1394/1974), hlm. 273.

[12] Muhammad Ibnu al-Jazari, an-Nasyr fi al-Qira’at al-‘Asyr, (Bairut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.th), hlm. 9.

[13] Muhammad Ibnu al-Jazari, an-Nasyr fi al-Qira’at al-‘Asyr, hlm. 9, 14, Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, hlm. 1/76.

Bagikan via

Baca Lainnya : Isnan Ansory, Lc, MA

Al-Qur’an Sebagai Objek Ilmu Ushul Fiqih (Bagian-2)
23 January 2017, 21:36 | 1.284 views
Al-Qur’an Sebagai Objek Ilmu Ushul Fiqih (Bagian-1)
16 January 2017, 08:15 | 1.591 views
Apakah Dalil Syariat Sebatas al-Qur’an dan Sunnah Saja?
8 January 2017, 13:05 | 2.580 views
Bermazhab Atau Mengamalkan Satu Mazhab?
2 December 2016, 07:33 | 2.899 views
Taklif dan Kewajiban Manusia
27 August 2015, 15:55 | 4.413 views
Ilmu Ushul Fiqih dan Urgensinya
17 August 2015, 13:12 | 6.494 views
Orang Awam Tetap Harus Belajar
13 December 2014, 15:23 | 5.984 views
Tingkatan Para Fuqaha
1 December 2014, 08:51 | 6.304 views

total 807663 views