Mencampuradukan Madzhab, Bolehkah? | rumahfiqih.com

Mencampuradukan Madzhab, Bolehkah?

by : Ahmad Zarkasih, Lc
Tue 24 January 2017 04:39 | 5975 views | bagikan via

Kalau pertanyaan apakah kita harus mengikut madzhab dalam menjalankan syariat ini? jawabannya bisa haram alias tidak boleh dan terlarang, tapi bisa jadi wajib alias harus, tidak bisa tidak.

Dalam kitabnya, Raudhoh Al-Nadzir wa Junnah Al-Munadzir, di bab Taqlid, Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi (620H) menyebutkan Ijma’ (Konsensus) para sahabat bahwa seorang awam wajib taqlid (mengikuti) mujtahid atau madzhab. Sama sekali tidak diwajibkan seorang awam untuk mengetahui dalil, cukup bagi seorang awam untuk mengetahui hukum suatu masalah, dan menjalankan ibadah sesuai hukum yang ia ketahui walau tidak tahu dalil. Dan cukup baginya fatwa ulama yang ia ikuti, atau guru yang ia belajar kepadanya.

Sedangkan seorang mujtahid, yang memang mampu menganalisa serta menggali hukum langsung dari al-Qur’an dan hadits, ia diharamkan mengikuti sipapun itu. Yang dia harus lakukan adalahberijtihad; karena memang ia adalah ahli dalam hal itu.

Nah, tinggal di lihat dengan penuh kesadaran diri, kita masuk dalam kategori yang mana; awam kan atau mujtahid kan kita? Apakah bisa kita memahami teks-teks syariah yang ada tanpa melirik sedikitpun kepada pemaparan dan penjelasan ulama terdahulu? Seberapa baik kemampuan bahasa arab kita? Seberapa paham kita tentang maqasihd syariah? Kalau jauh dari itu semua, maka segera sadari, kita adalah awam yang hanya bisa mengikuti ulama madzhab agar selamat dalam beragama dan tidak keliru memahami al-Qur’an serta hadits Nabi s.a.w. yang suci. Karena memang pada dasarnya, mengikuti ulama-ulama madzhab tersebut itu sama juga mengikuti al-Qur’an dan hadits Nabi s.a.w.; karena memang mereka tidak mendatangkan hukum-hukum ysriah dari otak dan nafsu mereka, akan tetapi itu semua dari al-Qur’an dan hadist Nabi s.a.w..

Konsisten Satu Madzhab?

Pertanyaan lanjutannya, apakah harus konsisten dalam satu madzhab? atau juga yang biasa disebut dengan istlah talfiq, apakah dibenarkan? Ini juga masalah yang memang menjadi bahan diskusi para ulama sejak dulu. Setidaknya ada 3 pendapat ulama dalam hal ini, sebagaimana disebutkan oleh Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili dalam kitabnya al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu;

Pertama, pendapat konservatif dari kelompok ulama yang mewajibkan umat Islam untuk bermadzhb satu dan tidak boleh berpindah.

Kedua, pendapat kebanyakan ulama yang membolehkan dan membebaskan umat untuk memilih madzhab mana saja yang ia suka dan boleh berpindah-pindah.

Ketiga, pendapat yang lebih rinci; yakni jika seorang dalam hal shalat memakai pendapat madzhab al-Syafi’i, misalnya. Maka wajib ia konsisten dalam hal tersebut; artinya dalam shalat tidak boleh mengambil pendapat lain selain al-Syafi’iyyah. Sedangkan masalah selain shalat, boleh dengan madzhab lain.

Ketiga pendapat di atas punya nilai positif dan juga yang pastinya tidak lepas dari kekurangan di beberapa sisi. Pendapat pertama ini adalah pendapat beberapa ulama di masa-masa terbentuknya madzhab-madzhab fiqih yang ada. Bahwa bagi mereka yang tidak sampai pada derajat mujtahid, wajib baginya mengikuti madzhab, tidak boleh tidak. Pendapat ini berguna agar syariah dan agama ini tidak terkotori dan terkontaminasi oleh tangan dan mulut-mulut orang jahil yang punya kemampuan minim dalam hal syariah yang coba memahami teks syariah secara tekstual tanpa merujuk kepada ulama. Serta menghindari orang muslim dari berbuat dalam syariah ini sesuai nafsu dan kesukaannya saja. Serta menutup pintu untuk lahirnya fatwa-fatwa nyeleneh dari pihak-pihak yang tidak otoritatif.

Sisi negatifnya, pendapat ini mengekang orang sehingga tidak ada pilihan lain, padahal dalam kondisi-kondisi tertentu, seorang muslim bisa saja tidak bisa mengikuti pendapat madfzhab yang diikuti karena sebab dan udzur yang mengharuskannya beralih ke pendapat lain. Terlebih lagi bahwa mengikuti satu madzhab saja, tidak punya landasan argumen kuat dari teks syariah.

Pendapat kedua ini lebih moderat dan sepertinya memudahkan. Karena memang agama ini mewajibkan kita untuk mengikuti ahli ilmu; “bertanyalah kepada ahli ilmu” (al-nahl: 34) tapi dalam perintah-Nya tidak ada pengkhususan kepada ahli ilmu manapun. Jadi selama memang ia adalah seorang mujtahid, layak untuk diikuti, dan tidak harus selalu satu, bisa dan boleh seorang muslim beralih ke ahli ijtihad yang lain. Negatifnya, pendapat ini dikhawatirkan membuka pintu fatwa prematur yang dihasilkan oleh orang-orang yang tidak mampu. Karena sudah terbiasa pindah sana sini, ia beranggapan bahwa seperti tidak ada masalah kalau ia melahirkan pendapat baru, padahal dirinya bukan orang yang layak. Sedangkan pendapat ketiga ini sejatinya sama seperti pendapat pertama, hanya saja ada perkembangannya. Dan sisi kelemahan dari pendapat ini, sama seperti kelemahan pendapat pertama.

Bagi penulis, sebaiknya seorang muslim itu dalam beribadah, segala amalnya itu punya sandaran argumen yang kuat dan bukan mengada-ngada. Karenanya, tidak dibenarkan seorang muslim beribadah dan mengamalkan ajaran agama tanpa mendapat bimbingan seorang ahli agama yang bisa menjadi akses baginya menuju para mujtahid-mujtahid yang ada. Dengan bahasa yang lebih dekat “berguru kepada guru”, bukan kepada buku, apalagi laman internet yang sama sekali tidak bisa dipertanggung jawabkan. Dengan bahasa lain madzhab awam itu madzhab gurunya. Jadi apapun yang diajarkan gurunya, itulah madzhab yang ia harus ikuti. Jangan sekali-kali mencoba untuk menafsirkan dan meneliti ayat serta hadits sendirian yang akhirnya justru menghinakan al-Qur’an itu sendiri bukan memuliakan, karena ditafsiri serampangan dengan nalar yang dangkal dan metode asal-asalan.

Wallahu a’lam.

Bagikan via

Baca Lainnya : Ahmad Zarkasih, Lc

Sanad Fiqih Imam Asy-Syafii (bag-1-masyayikh-hijaz)
22 May 2017, 09:30 | 2.241 views
Mencampuradukan Madzhab, Bolehkah?
24 January 2017, 04:39 | 5.975 views
Sanad Fiqih Imam Malik
10 January 2017, 04:36 | 3.027 views
Sanad Fiqih Imam Abu Hanifah
3 January 2017, 05:21 | 2.862 views
Madzhab, Apa dan Bagaimana?
27 December 2016, 05:20 | 2.878 views
Lebih Utama Tidak Berbeda
4 December 2016, 07:24 | 2.482 views
Saya Pilih Madzhab Apa?
23 July 2016, 05:33 | 5.267 views
Bermadzhab, Untuk Apa?
5 July 2016, 17:12 | 1.255 views
Mencatut Nama Qur'an dan Sunnah, Bukan Pekerjaan Ulama Salaf!
26 January 2016, 05:24 | 9.324 views
Sahabat Nabi SAW Tidak Bermadzhab, Benarkah?
25 January 2016, 05:43 | 7.215 views
Bermadzhab, Untuk Apa?
1 August 2015, 11:10 | 7.682 views
Bermadzhab, Untuk Apa?
15 January 2015, 16:40 | 15.088 views
Orang Awam Wajib Taqlid Kepada Ulama
8 December 2014, 00:00 | 8.767 views
Relativisme Kebenaran Dalam Fiqih
12 August 2014, 17:55 | 9.294 views
Madzhab Fiqih Yang Hilang [Bag. 1]
3 June 2014, 04:23 | 7.798 views
Semua Orang Mengaku Syafiiyah Karena Haditsnya Shahih?
20 May 2014, 11:27 | 14.866 views
Selain Madzhab Empat
2 May 2014, 16:37 | 9.434 views
Kenapa Imam Ahmad Punya Banyak Riwayat Fatwa?
22 April 2014, 14:24 | 5.471 views
Kenapa Imam Syafii Digelari Pembela Sunnah?
17 April 2014, 09:19 | 6.673 views
Ini Pendapatku, Bukan al-Quran dan Sunnah
6 April 2014, 17:09 | 8.341 views
Sebelum Imam Syafi'i, Imam Madzhab Tidak Punya Ushul?
4 April 2014, 09:13 | 5.955 views
Imam Abu Hanifah dan Imam Al-Baqir
3 April 2014, 02:08 | 5.490 views
Madzhab Fiqih Zaidiyah
2 April 2014, 02:07 | 9.933 views
Imam Malik, Hadits Mursal dan Amal Ahli Madinah
1 April 2014, 02:06 | 4.763 views
Imam Abu Hanifah dan Qiyas
31 March 2014, 02:05 | 4.136 views
Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 3)
30 March 2014, 02:04 | 4.424 views
Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 2)
29 March 2014, 02:04 | 4.601 views
Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 1)
28 March 2014, 02:03 | 6.086 views

total 807662 views