Madzhab Fiqih Yang Hilang [Bag. 1] | rumahfiqih.com

Madzhab Fiqih Yang Hilang [Bag. 1]

by : Ahmad Zarkasih, Lc
Tue 3 June 2014 04:23 | 7707 views | bagikan via

Perlu diketahui juga bahwa madzhab-madzhab fiqih yang kita kenal sampai sekarang itu sama sekali tidak pernah ada deklarasi pendirian atau pembentukannya. Madzhab fqih bukanlah organisasi atau kelompok masa atau juga partai politik yang ada acara deklarasi atau peresmian sebagai informasi kepada dunia luar bahwa ada sekumpulan masa yang seudha terbentuk.

Para imam-imam madzhab tidak pernah mendeklarasikan dirinya sendiri sebagai pendiri madzhab, itu tidak pernah. Mereka juga tidak pernah memaksa murid-murid mereka yang mengambil ilmu fiqih dari mereka untuk membaiatnya sebagai pimpinan madzhab.

Eksistensi Sebuah Madzhab

Madzhab adalah sebuha pemikiran dan hasil penelitian terhadap nash-nas al-Quran dan hadits oleh seorang ulama madzhab, yang kemudian merekamemproduksi sebuah hukum dari penelitiannya tersebut lalu itu diikuti oleh murid atau sahabatnya.

Makin banyak pengikut atau murid yang mengamalkan metode serta fatwa imam madzhab, madzhab itu pun terus menjadi besar dan terjaga eksistensinya. Jadi bisa dibilang bahwa eksistensi sebuah madzhab tergantung kepada penganutnya. Makin banyak penganut yang mengamalkan akan semakin besar. Tapi makin sedikit yang mengamalkan, madzhab pun perlahan akan hilang dan punah.

Jalur eksistensi madzhab mirip sekali dengan model eksistensi suatu bahasa di daerah atau Negara tertentu, yang keberadaannya bergantung kepada penuturnya. Semakin banyak penutur bahasa tersebut, akan semakin hidup bahasa tersebut dan semakin berkembang. Tapi bahasa itu akan punah dan hilang jika penuturnya pun sudah tidak ada lagi.

Nah, dalam litelatur sejarah, kita menemukan bahwa ada beberapa madzhab fiqih yang pernah berkembang dan diamalkan namun akhirnya ia menghilang dan punah. Di antara madzhab yang tidak diamalkan tadi ialah:

Madzhab Imam Al-Auza’i (Syam)

Madzhab ini banyak diamalkan pada kisaran tahun ke-2 Hijrah sampai pertengahan abad ke-3 Hijrah di negeri Syam (sekarang: Lebanon, Yordania, Syiria, Palestina). Dinamakan madzhab al-Auza’ie karena penisbatan kepada Imam madzhab ini, yaitu Imam Abdurrahman bin Muhammad Al-Auza’ie.

Lahir di Ba’labak, salah satu daerah di Lebanon pada tahun 88 Hijriyah. Dan penisbatan al-Auza’ie adalah penisbatan suku asli dari ayahnya yang merupakan berasal dari suku al-Auza’ [الأوزاع], suku asli yang mendiami Bab-al-Faradis, sebelah selatan Beirut yang berbatasan dengan Suriah. dan wafat di kota yang sama pada tahun 157 Hijrah.

Imam al-Zirikli dalam kitabnya al-A’lam mengutip pernyataan Shalih bin Yahya, yang ini juga tertulis dalam tarikh Baghdad, beliau mengatakan: “Imam al-Auza’ie adalah orang yang punya kedudukan luhur bagi warga Syam. Bahkan perintahnya lebih ditaati dibanding perinta penguasa ketika itu”.

Beliau hidup semasa dengan Imam Ja’far al-Shadiq (148 H), Imam Robi’ah (136 H) di Mekkah, Imam Abu Hanifah di Baghdad (150 H), Imam al-Laits bin Sa’d (175 H) di Mesir, Imam Sufyan al-Tsauri (161 H), dan beberapa ulama pada akhir abas ke-2 Hijrah.

Jauh Dari Qiyas

Sheikh Muhammad al-Khudhari Bik dalam kitabnya Tarikh al-Tasyri’ al-Islami memberikan sedikit ciri khas yang dimiliki oleh madzhab al-Auza’ie ini, yaitu mereka sangat benci sekali dengan Qiyas dalam fiqih mereka. Corak ini jelas terpengaruh oleh Imam al-Auza’ie sendiri yang merupakan seorang Muhaddits (Ahli Hadits).

Terbukti banyak beberapa para ahli hadits di masa setelah yang meriwayatkan hadits melalui beliau, termasuk Shaikhoni dalam hadits, yaitu Imam Al-Bukhari dan juga Imam Muslim al-Naisaburi. Dan juga para pemilik kitab-kitab Sunan, seperti Imam Ibnu Majah, Imam al-Nasa’ie dan juga Imam al-Turmudzi serta Imam Abu Daud.

Pada masa perkambangannya, madzhab ini tidak hanya diamalkan di Syam daja, tapi juga diamalkan sampai ke negeri Andalus (Sekarang Spanyol) lewat banyaknya imigran yang masuk ke Andalus dari Syam. Bahkan Khaizuran (173 H), Istri Khalifah al-Mahdi (Masa al-Abbasiyah) itu bermadzhab fiqih-nya Imam al-Auza’ie.

Salah satu tokoh berkembangannya madzhab ini ialah Abdurrahman bin Ibrahim (245 H) dari keluarga Umawi (penguasa ketika itu), yang menyebarkan madzhab al-Auza’ie dengan posisinya sebagai Gubernur Yordan serta Palestina ketika itu.

Dan juga, yang masyhur ialah Sho’sho’ah bin Salam bin Abdullah al-Dimasyqa (190 H) yang membawa madzhab ini ke Andalus, yang mana beliau juga seorang khathib di Qurthuba.

Tak Diabadikan, Akhirnya Punah

Sayangnya, di pertengahan abad ke-3, madzhab ini perlahan mulai hilang dan ditinggalkan serta tidak ada lagi yang mengamalkan. Salah satu penyebabnya adalah masuknya madzhab Imam al-Syafi’i di awal abad ke-3 ke Syam, yang akhirnya menggerus madzhab al-Auza’ie. Kalau di Andalus, madzhab ini tergerus oleh eksistensinya madzhab al-Malikiyah di pertengahan abad ke-3 tersebut.

Tapi kalau diteliti lebih dalam, punahnya madzhab ini bukan hanya karena adanya madzhab baru yang datang, tapi kerena memang tidak adanya budaya pelestarian ilmu dengan tulisan yang dilakukan oleh para murid dan pengikut Imam al-Auza’ie. Mereka hanya mengamalkan tanpa mengabadikan.

Akhirnya kita sulit untuk melihat fiqih dan corak ushul madzhab al-Auza’ie serta fatwa-fatwa beliau. Tapi kita akan masih mendapati beberapa pendapat fiqih beliau di beberapa kitab fiqih Muqaranah Madzhab seperti Kitab Bidayatul-Mujtahid karangan Imam Ibnu Rusyd, atau juga kitab al-Majmu’ karangan Imam al-Nawawi, serta kitab Bada’i al-Shana’ie karangan Imam al-Kasani dari kalangan al-Hanafiyah.   

Univ. Imam al-Auza’ie

Tapi, Imam al-Auza’ie adalah orang yang banyak menorehkan catatan sejarah dalam leterasi keilmuan Islam, dan pastinya punya banyak kontribusi nyata bagi ummat. Dan untuk menghargai serta mengabadikan itu semua, didirikan Universitas Imam al-Auza’ie [ http://ouzai.org/ ] di Beirut pada tahun 1396 H / 1976 M.

bersambung

Bagikan via

Baca Lainnya :

Sanad Fiqih Imam al-Syafi'i (Bag. 1: Masyayikh Hijaz)
22 May 2017, 09:30 | 1.302 views
Mencampuradukan Madzhab, Bolehkah?
24 January 2017, 04:39 | 4.772 views
Sanad Fiqih Imam Malik
10 January 2017, 04:36 | 2.451 views
Sanad Fiqih Imam Abu Hanifah
3 January 2017, 05:21 | 2.307 views
Madzhab, Apa dan Bagaimana?
27 December 2016, 05:20 | 2.257 views
Lebih Utama Tidak Berbeda
4 December 2016, 07:24 | 1.951 views
Saya Pilih Madzhab Apa?
23 July 2016, 05:33 | 5.102 views
Bermadzhab, Untuk Apa?
5 July 2016, 17:12 | 1.126 views
Mencatut Nama Qur'an dan Sunnah, Bukan Pekerjaan Ulama Salaf!
26 January 2016, 05:24 | 9.114 views
Sahabat Nabi SAW Tidak Bermadzhab, Benarkah?
25 January 2016, 05:43 | 7.028 views
Bermadzhab, Untuk Apa?
1 August 2015, 11:10 | 7.595 views
Bermadzhab, Untuk Apa?
15 January 2015, 16:40 | 14.967 views
Orang Awam Wajib Taqlid Kepada Ulama
8 December 2014, 00:00 | 8.659 views
Relativisme Kebenaran Dalam Fiqih
12 August 2014, 17:55 | 9.198 views
Madzhab Fiqih Yang Hilang [Bag. 1]
3 June 2014, 04:23 | 7.707 views
Semua Orang Mengaku Syafiiyah Karena Haditsnya Shahih?
20 May 2014, 11:27 | 14.722 views
Selain Madzhab Empat
2 May 2014, 16:37 | 9.318 views
Kenapa Imam Ahmad Punya Banyak Riwayat Fatwa?
22 April 2014, 14:24 | 5.363 views
Kenapa Imam Syafii Digelari Pembela Sunnah?
17 April 2014, 09:19 | 6.553 views
Ini Pendapatku, Bukan al-Quran dan Sunnah
6 April 2014, 17:09 | 8.213 views
Sebelum Imam Syafi'i, Imam Madzhab Tidak Punya Ushul?
4 April 2014, 09:13 | 5.871 views
Imam Abu Hanifah dan Imam Al-Baqir
3 April 2014, 02:08 | 5.347 views
Madzhab Fiqih Zaidiyah
2 April 2014, 02:07 | 9.834 views
Imam Malik, Hadits Mursal dan Amal Ahli Madinah
1 April 2014, 02:06 | 4.649 views
Imam Abu Hanifah dan Qiyas
31 March 2014, 02:05 | 4.013 views
Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 3)
30 March 2014, 02:04 | 4.316 views
Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 2)
29 March 2014, 02:04 | 4.485 views
Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 1)
28 March 2014, 02:03 | 5.933 views

total 778790 views