Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag.2) | rumahfiqih.com

Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag.2)

by : Hanif Luthfi, Lc
Wed 2 April 2014 06:59 | 4593 views | bagikan via

Perkembangan Hadits dan Ilmu Hadits

Bisa dikatakan hadits berkembang pesat pada akhir abad kedua sampai pertengahan abad keempat Hijriyyah. Banyak muncul ulama hadits pada abad ketiga hijriyyah. Hal itu bisa kita lihat pada hal berikut:

1. Banyak dikarang kitab-kitab hadits yang sampai sekarang diakui sebagai kitab hadits yang jadi pegangan oleh umat islam; seperti

Musnad Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H), Shahih al-Imam al-Bukhari (w. 256 H), Shahih al-Imam Muslim (w. 261 H), Sunan Abi Daud as-Sajistani (w. 275 H), Sunan at-Tirmidizi Abu Isa (w. 279 H), Sunan an-Nasa’i Abu Abdirrahman (w. 303 H), Sunan Ibn Majah (w. 275 H).

2. Banyak dikarang kitab-kitab tentang rawi hadits atau yang sering disebut dengan ilmu ar-rijal

Kitab at-Tarikh al-Kabir, at-Tarikh al-Ausath, at-Tarikh as-Shaghir, kitab ad-Dhuafa’ karya Imam Bukhari (w. 256 H), Kitab Tarikh Yahya bin Ma’in (w. 234 H), Kitab at-Thabaqat al-Kubra karya Muhammad bin Saad (w. 230 H), Kitab ad-Dhuafa’ karya Imam an-Nasa’I (w. 303 H), Kitab al-Jarh wa at-Ta’dil karya Imam Ibn Abi Hatim (w. 327 H), Kitab as-Tsiqat karya Ibnu Hibban (w. 354 H).

3. Banyak dikarang kitab hadits yang berhubungan dengan satu tema saja.

Hal tersebut misalnya kitab hadits yang hanya mengumpulkan hadits-hadits shahih, seperti kitab Shahih Bukhari dan Muslim. Ada juga kitab yang hanya mengumpulkan hadits-hadits mursal, seperti kitab al-Marasil karya Imam Abu Daud (w. 275 H). Ada yang hanya mengumpulkan hadits-hadits nasikh mansukh, seperti kitab an-Nasikh wa al-Mansukh karya Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H), an-Nasikh wa al-Mansukh karya Imam Abu Daud (w. 275 H).

Sebagian ulama ada yang menulis kitab hadits yang berkaitan tentang hadits-hadits yang sepertinya bertentangan dalam pemahaman antara satu dengan yang lainnya, atau yang lebih terkenal dengan Mukhtalaf al-Hadits dan Musykil al-Hadits. Sebagaimana kitab Ikhtilaf al-Hadits karya Imam as-Syafi’i (w. 204 H), kitab Ta’wil Mukhtalaf al-Hadits karya Ibnu Quthaibah ad-Dinawari (w. 276 H) dan lain sebagainya.

Jika kita perhatikan dengan seksama, pada masa ini para ulama terdahulu belum begitu banyak berbicara pada konsep teori dan pengertian-pengertian atau definisi, sebagai contoh Imam Bukhari (w. 256 H) dan Imam Muslim (w. 261 H) belum mendefinisikan dengan jelas apa pengertian hadits shahih, bagaimana kriteria hadits shahih itu. Atau Imam Abu Daud (w. 275 H) belum mejelaskan definisi jelas mengenai nasikh-mansukh, dan bagaimana cara mengetahuinya.

4. Pada masa ini muncul benih penulisan tentang Ilmu Mushthalah al-Hadits.

Bisa dikatakan ulama yang pertama menulis ilmu mushtalah hadits dalam pengertian saat ini adalah Imam Syafi’i (w. 204 H) ketika menulis kitab ar-Risalah. Meski kitab itu berbicara mengenai ushul fiqih, tetapi di dalamnya terdapat kaedah-kaedah ilmu hadits; seperti syarat-syarat hadits bisa dijadikan hujjah, kehujjahan hadits ahad, syarat-syarat ketsiqahan seorang rawi, hukum meriwayatkan hadits dengan maknanya saja, hukum riwayat hadits rawi mudallis, hukum hadits mursal dan lain sebagainya.

Imam Syafi’i (w. 204 H) berbicara hal itu dalam kaitan hadits menjadi salah satu sumber hujjah dalam pengambilan hukum.

Hal yang sama juga ditulis oleh Imam Muslim (w. 261 H) dalam muqaddimah kitab shahihnya. Beliau menuliskan sedikit kaedah-kaedah ilmu mushthalah hadits. Imam at-Tirmidzi (w. 279 H) juga menuliskan sedikit pengertian dan kaedah-kaedah Ilmu Mushthalah hadits dalam kitabnya al-Ilal as-Shaghir yang beliau letakkan di bagian akhir kitab as-Sunan beliau.

Tetapi kitab-kitab tersebut belum bisa disebut kitab Ilmu Musthalah Hadits dalam pengertian secara istilah saat ini.

Awal Mula Penulisan Kitab Ilmu Musthalah Hadits

Para ulama mulai menuliskan ilmu musthalah hadits pada pertengahan abad keempat hijriyyah, dimana masa pengumpulan hadits dalam satu kitab hampir sudah tidak ada lagi.

Orang yang pertama menulis hal itu adalah al-Qadhi Abu Muhamad Hasan bin Abdurrahman bin Khalad ar-Ramahurmuzi (w. 360 H) dalam kitab al-Muhaddits al-Fashil Baina ar-Rawi wa al-Wa’i. beliau menuliskan tentang adab-adab seorang rawi hadits, apa saja yang harus dikuasai oleh seorang muhaddits, cara-cara tahammul dan ada’ suatu hadits. Hanya saja kitab beliau masih sederhana karena hanya berbicara tentang apa saja yang berhubungan dengan rawi saja.

Ulama selanjutnya yang menulis ilmu mushtalah hadits adalah Imam Abu Abdillah Muhammad bin Abdurrahman al-Hakim an-Naisaburi (w. 405 H), beliau menulis kitab yang berjudul Ma’rifat Ulum al-Hadits. Imam al-Hakim mengumpulkan paling tidak 52 bab ulum al-hadits. Kitab imam al-Hakim ini sudah cukup sempurna dibanding kitab-kitab terdahulunya.

Adapun ulama yang cukup komplit menulis ilmu musthalah hadits adalah Imam al-Khatib al-Baghdadi Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Tsabit as-Syafi’i (w. 463 H), beliau menulis beberapa kitab tentang ilmu musthalah hadits. Diantara kitab itu adalah al-Kifayah fi Ilmi ar-Riwayah, al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi wa Adab as-Sami’, ar-Rihlah fi Thalab al-Hadits, Taqyid al-Ilmi, al-Mazid fi Muttashil al-Asanid.

Maka tak heran banyak ulama setelahnya mengambil banyak faedah dari kitab-kitab al-Khatib al-Baghdadi as-Syafi’i (w. 463 H) tersebut. Imam Abu Bakr Muhammad bin Nuqthah (w. 629 H) mengatakan [1]:

ولا شبهة عند كل لبيب أن المتأخرين من أصحاب الحديث عيال علي أبي بكر الخطيب

Tidak bisa dipungkiri, Ulama ahli hadits saat ini semuanya merujuk kepada Ali Abu Bakar al-Khatib

Ulama selanjutnya yang menulis mushtalah hadits adalah al-Qadhi Iyadh bin Musa al-Yahshabi al-Maliki (w. 544 H). beliau menulis kitabal-Ilma’ ila Ma’rifat Ushul ar-Riwayah wa Taqyid as-Sama’. Di kitab ini beliau berbicara banyak tentang kaedah-kaedah meriwayatkan hadits dan cara tahammul dan ada’ hadits.

Ibnu as-Shalah as-Syafi’i (w. 643 H) dan Kontribusinya terhadap Ilmu Musthalah Hadits

Al-Hafidz Abu Umar Utsman bin Shalah as-Syahrazuri (w. 643 H) dan kitabnya Ulum al-Hadits atau yang lebih terkenal dengan Muqaddimah Ibnu Shalah adalah nama yang sudah cukup terkenal dalam ilmu musthalah hadits.

Ada beberapa keistimewaan kitab yang dikarang Ibnu Shalah ini sehingga bisa begitu terkenal, diantaranya:

1. Ibnu Shalah menulis cukup komplit seluruh cabang ilmu musthalah hadits dalam satu kitab. Ada sekitar 65 masalah ilmu msuthalah hadits yang beliau tulis.

2. Ibnu Shalah membuang sanad yang biasanya memenuhi kitab-kitab ulama sebelumnya, sehingga para pembaca bisa dengan mudah menelaahnya.

3. Ibnu Shalah juga mempermudah istilah-istilah dan bahasa yang dipakai dalam kitabnya.

4. Ibnu Shalah telah mengkategorikan dengan baik perbedaan ulama dalam satu masalah, dengan meneliti perkataan-perkataan mereka, baik dari kitabnya langsung maupun dari hasil aplikasi sebuah pendapat ulama. Ibnu Shalah juga berusaha mendiskusikan perbedaan itu dan mengomentarinya.

5. Ibnu Shalah juga telah mendefiniskan istilah-istilah yang dipakai oleh para ulama terdahulu dengan bagus.

Dari beberapa point diatas, para ulama menganggap Ibnu Shalah (w. 643 H) sebagai pembuka pintu baru dalam ilmu musthalah hadits [2]. Sehingga karya Ibnu Shalah ini menginspirasi ulama-ulama setelahnya dalam menulis kitab ilmu musthalah hadits.

Meskipun dalam penataan babnya, Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) menganggap kitab Ibnu Shalah ini belum begitu baik [3]. Hal itu cukup beralasan, Ibnu Shalah (w. 643 H) mengarang kitabnya sebagai bahan ajar saat mengajar hadits di Madrasah Asyrafiyyah Damaskus.

Muqaddimah Ibnu Shalah

Banyak kitab yang dikarang atas inspirasi dari Ibnu Shalah ini, baik yang meringkas maupun mensyarahnya lagi. Diantara kitab itu adalah:

Diantara kitab-kitab itu adalah:

1. Irsyadu Thullabi al-Haqaiq ila Ma’rifat Sunani Khairi al-Khalaiq karya Imam an-Nawawi as-Syafi’i (w. 676 H). Kitab ini diringkas lagi menjadi kitab at-Taqrib. Kitab at-Taqrib ini akhirnya disyarah oleh al-Imam as-Suyuthi as-Syafi’i (w. 911 H) dalam kitab Tadrib ar-Rawi.

2. Al-Iqtirah fi Bayani al-Istilah, karya Ibnu Daqiq al-‘Id as-Syafi’i (w. 703 H).

3. Al-Manhal ar-Rawi fi al-Hadits an-Nabawi, karya al-Qadhi Badruddin bin Jama’ah as-Syafi’i (w. 733 H)

4. Khulashah fi Ma’rifat al-Hadits, karya Abu Muhammad bin Husain in Abdullah at-Thaibi (w. 743 H)

5. Al-Muqidzah, karya al-Hafidz ad-Dzhabi as-Syafi’i (w. 748 H)

6. Al-Iqna’, karya Izzudin bin Jama’ah (w. 767 H)

7. Mukhtahsar Ulum al-Hadits, karya al-Hafidz Ibnu Katsir as-Syafi’i (w. 774 H)

8. An-Nukat ala Kitab Ibn Shalah, karya al-Hafidz Badruddin az-Zarkasyi as-Syafi’i (w. 794 H)

9. Al-Muqni’, karya al-Hafidz Ibn al-Mulaqqin as-Syafi’i (w. 804 H), lalu beliau ringkas lagi dalam kitab at-Tadzkirah.

10. Mahasin al-Ishtilah fi Tadhmin Kitab Ibn Shalah, karya Sirajuddin al-Bulqini as-Syafi’I (w. 805 H)

11. At-Taqyid wa al-Idhah ala Kitab Ibn Shalah, karya Zainuddin al-Iraqi as-Syafi’i (w. 806 H), selanjutnya al-Hafidz al-Iraqi mengarang lagi dalam bentuk nadzam alfiyah. Nadzam alfiyah al-Iraqi ini disyarah oleh Syeikhu al-Islam Zakariyya al-Anshari as-Syafi’i (w. 925 H) dalam kitab Fathu al-Baqi.

12. An-Nukat ala Ibn Shalah, karya Ibnu Hajar al-Asqalani as-Syafi’i (w. 852 H). Selain itu Ibnu Hajar juga mengarang kitab berjudul Nukhtbat al-Fikar, disyarah sendiri dalam kitab Nuzhat an-Nadzar.

Tulisan ini sebagai pembuka tesis kita bahwa justru berkembangnya ulum al-hadits itu berada di tangan ulama, yang mana mereka juga mengikuti salah satu madzhab dalam fiqihnya.



[1] Muhammad bin Abdul Ghani bin Abu Bakar bin Nuqthah al-Hanbali al-Baghdadi (w. 629 H), at-Taqyid li Ma’rifat Ruwat as-Sunan wa al-Masanid, (Bairut: Daar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1408 H), hal. 154

[2] Ibrahim bin Musa bin Ayyub as-Syafi’I (w. 802 H), as-Syadz al-Fiyah min Ulum Ibn as-Shalah, (Maktabah ar-Rusyd, 1418), hal. 63

[3] Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H), Nuzhat an-Nadzar fi Taudhih Nukhbat al-Fikar, (Riyadh: Mathba’ah Safir, 1422 H), hal. 34

Bagikan via


Baca Lainnya :

Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag.1)
1 April 2014, 06:56 | 4.161 views

total 691934 views