Tahammul dan Ada | rumahfiqih.com

Tahammul dan Ada

by : Hanif Luthfi, Lc
Wed 22 April 2015 09:42 | 5219 views | bagikan via

‘Copas dari group sebelah’, sebuah kata-kata yang khas sering kita temui sekarang, jika ada temen yang menyebarkan sebuah info di group media sosial. Hal ini bisa baik, tetapi banyak buruknya. Baik jika memang informasi yang disebar itu memang valid, faktual dan bisa dipertanggungjawabkan.

Hanya sebagai seorang muslim, kita kehilangan satu karakter keilmuan yang dijaga oleh ulama Islam sejak zaman dahulu; validitas informasi.

Terlebih jika informasi itu hanya sekedar isu belaka. Maka, ikut menyebarkannya berarti ikut bertanggunjawab atas benar tidaknya isu tersebut.

Imam Muslim bin Hajjaj (w. 261 H) menuliskan sebuah hadits dari Nabi Muhammad shallaallahu alaihi wa sallam:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : (كفى بالمرء كذبا أن يحدث بكل ما سمع) رواه مسلم

Rasulullah bersabda, “Cukup seseorang dianggap tukang bohong, jika selalu menyebarkan apapun yang didengar”. HR. Muslim

Validitas Informasi Dalam Keilmuan Islam

Dalam literatur sejarah keilmuan Islam, kita bisa temukan beberapa bukti bahwa para ulama dahulu sangat menjaga validitas informasi yang akan disampaikan kepada orang lain. Salah satunya adalah ilmu sanad. Sebenarnya ilmu sanad tidak hanya berlaku pada hadits Nabi saja, melainkan dalam setiap cabang keilmuan Islam.

Syeikh Mala Ali al-Qari (w. 1014 H) menyebutkan dalam kitabnya Syarah Nukhtbat al-Fikr:

ثم اعلم أن أصل الإسناد خصيصة فاضلة من خصائص هذه الأمة

Ketahuilah bahwa sanad itu keistimewaan yang khusus dari umat ini. (Mala Ali al-Qari w. 1014 H, Syarh Nukhbat al-Fikr, h. 617)

Lebih dari itu, dalam keilmuan musthalah hadits seorang periwayat hadits dituntut untuk mengetahui bagaimana dan dengan cara apa sebuah hadits didapat , dari Nabi sampai kepada periwayat terakhir hadits itu. Satu cabang ilmu musthalah hadits ini sering disebut dengan tahammul dan ada’.

Pengertian Tahammul dan Ada’

Secara etimologi kata tahammul berasal dari kata ( mashdar): تَحَمَّلَ يَتَحَمَّلُ تَحَمُّلاً  yang berarti menanggung, membawa[1], atau biasa diterjemahkan dengan menerima. Secara terminologi tahammul adalah mengambil hadits dari seorang guru dengan cara-cara tertentu[2].

Sedangkan pengertian ada’, menurut etimologi adalah diambil dari kata اَدَى- يُؤْدِى- اَدَاءٌ  yang berarti menyampaikan sesuatu kepada orang yang dikirim kepadanya[3]. Adapun pengertiannya secara terminologi adalah sebuah proses meriwayatkan hadits dari seorang guru kepada muridnya[4], atau bisa diartikan dengan meriwayatkan dan menyampaikan hadits kepada murid.

Ulama’ Hadits sejak dahulu telah menjelaskan bagaimana hadits itu didapat seorang rawi dari gurunya, syarat-syarat apa saja yang harus dipenuhi oleh orang yang mendengar hadits dan menyampaikannya kembali, serta shighat/ lafadz yang digunakan dalam menyampaikan hadits.

Hal ini tidak lain untuk memastikan tersambungnya hadits sampai kepada Nabi Muhammad shallaallah alihi wa sallam, sehingga akan hilang keraguan dalam diri dan yakin bahwa suatu hadits benar-benar datang dari Nabi. Hal itu menunjukkan bahwa begitu telitinya ulama hadits dalam menyeleksi kebenaran datangnya suatu hadits.

Sebuah informasi hadits yang diterima dari seorang rawi itu diteliti, apakah dengan mendengarkan langsung dari rawi sebelumnya, apakah mendengarkannya ketika sedang sendiri atau berjamaah dengan orang lain, atau sebenarnya tidak mendengarkan langsung tetapi menemukan di tulisannya.

Apa pentingnya mengetahui cara mendapatkan sebuah hadits? Seorang rawi yang terkenal sering melakukan tadlis dalam sanad, kita akan crosscek lebih lanjut lagi, apakah dia mendengarkan langsung dari orang sebelumnya atau sebenarnya dia tidak langsung mendengarkan tetapi dari orang lain. Tadlis sering diartikan dengan menampilkan sesuatu yang bagus dalam dzahirnya sanad, dan menyembunyikan aibnya.

Metode-metode Tahammul dan Shighat Ada’ Hadits

Secara ringkas, pada umumnya ulama membagi metode penerimaan riwayat hadits menjadi delapan macam, yaitu: 

  1. as-sama’ min lafdz as-syaikh: pembacaan oleh guru kepada murid
  2. al-qira’ah ‘ala as-syaikh: pembacaan oleh murid kepada guru
  3. al-ijazah: mengijinkan seseorang untuk menyampaikan sebuah hadits atau kitab
  4. al-munawalah: menyerahkan kepada seseorang bahan tertulis untuk diriwayatkan
  5. al-kitabah: menuliskan hadits kepada seseorang
  6. al-i’lam: seorang guru mengabarkan kepada muridnya bahwa ia mendengar suatu hadits
  7. al-washiyyah: mewasiatkan suatu kitab kepada orang lain tentang hadits yang telah diriwayatkannya
  8. al-wijadah: menemukan suatu tulisan dari seseorang yang di dalamnya terdapat hadits [5].

Dari kedelapan metode itu, dalam periode shahabat hanya yang pertama saja yang digunakan secara umum[6]. Para murid berada di sisi guru, melayaninya dan belajar darinya. Tak lama kemudian, metode yang paling umum digunakan adalah metode satu dan dua.

 

Footnote:

[1] Muhammad bin Mukram bin Mandzur, Lisanul Arab, (Baerut: Dar Shadir, t.t), juz 11, hal. 174

[2] Mahmud at-Thahhan, Taisir Musthalah al-Hadits, (Jeddah: Makthabah al-Haramain, 1985 M), hal. 157

[3] Ibrahim Musthafa, Ahmad az-Zayyat dkk, al-Mu’jam al-Wasith, (Kairo: Dar ad-Dakwah Majma’ al-Lughat al-Arabiyyah, t,t), Hal.10

[4] Mahmud at-Thahhan, Taisir Musthalah al-Hadits, hal. 157

[5] Abdurrahman bin Abu Bakar as-Suyuthi (w. 911 H), Tadribu ar-Rawi fi Syarhi Taqribi an-Nawawi, juz 2, hal. 8

[6] M. M. Azami, Ma, Ph.D, Memahami Ilmu Hadits, (Jakarta: Penerbit Lentera, 2003), hal. 45

Bagikan via


Baca Lainnya :

Takhrij Hadits
4 June 2014, 09:37 | 16.559 views
Who: Jika Dhaif Suatu Hadits
30 April 2014, 07:03 | 8.481 views
Sebab Perbedaan Muhadditsin Dalam Menilai Suatu Hadits
11 April 2014, 19:00 | 7.265 views
Model Penulisan Kitab Hadits
3 April 2014, 07:02 | 6.301 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan
3 April 2014, 07:00 | 7.143 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag.2)
2 April 2014, 06:59 | 4.795 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag.1)
1 April 2014, 06:56 | 4.424 views

total 744734 views