Kelayakan Seorang Perawi Hadits Dalam Tahammul dan Ada | rumahfiqih.com

Kelayakan Seorang Perawi Hadits Dalam Tahammul dan Ada

by : Hanif Luthfi, Lc
Thu 23 April 2015 10:00 | 4194 views | bagikan via

Yang dimaksud dengan kelayakan seorang rawi adalah kepatutan seseorang untuk mendengar dan menerima hadits serta kelayakannya dalam menyampaikan kembali hadits itu.

Kelayakan seorang perawi terbagi kedalam dua bentuk, yaitu kelayakan tahammul dan kelayakan ada’.

Riwayat Tahammul Anak-Anak yang belum Baligh dan Orang Kafir

Dalam tahammul hadits, tidak disyaratkan seorang rawi itu harus baligh dan muslim, menurut pendapat yang shahih[1]. Sebagaimana dijelaskan as-Suyuthi (w.911 H) dalam Tadrib ar-Rawi[2].

Berbeda dalam ada’, maka disyaratkan sudah baligh dan muslim. Maksudnya riwayat seseorang itu diterima meskipun saat mendengar hadits itu, seorang tersebut masih dalam keadaan kafir maupun masih belum baligh. Belum baligh disini disyaratkan sudah tamyiz, sebagaimana jika ia sudah bisa membedakan kambing dan keledai[3].

Meskipun ada pula yang mengatakan bahwa riwayat hadits seseorang tidaklah diterima jika waktu memperoleh haditsnya saat belum baligh. Tetapi pendapat ini tidaklah benar. Karena para Ulama’ telah menerima riwayat shahabat padahal saat menerima hadits, mereka belum baligh[4]. Sebagaimana riwayat Hasan, Husain, Abdullah bin Zubair, Ibnu Abbas, Nu’man bin Basyir, Said bin Yazid dan lainnya.

Al-Kathib al-Baghdadi (w. 463 H) dalam kitabnya al-Kifayah telah menjelaskan secara luas, tentang diterima riwayat seseorang yang mendengar hadits saat belum baligh.

Hasan bin Ali bin Abi Thalib telah meriwayatkan hadits dari Nabi, padahal beliau lahir tahun 2 Hijiriyyah[5]. Maslamah bin Mukhallad meriwayatkan hadits dari Nabi. Saat Nabi wafat, maslamah baru berusia 14 tahun.

Salah satu contoh hadits yang diriwayatkan Hasan bin Ali bin Abi Thalib saat masih kecil adalah sebuah hadits yang diriwayatkan al-Khathib al-Baghdadi dengan sanadnya:

أخبرنا أبو سعيد محمد بن موسى بن الفضل بن شاذان الصيرفي ثنا أبو العباس محمد بن يعقوب الأصم ثنا الحسن بن مكرم ثنا عثمان بن عمر انا ثابت بن عمارة عن ربيعة بن شيبان قال قلت للحسن بن على ما تذكر من رسول الله صلى الله عليه و سلم قال: حملنى على عنقه فأدخلنى غرفة للصدقة فأخذت تمرة فجعلتها في في فقال ألقها أما علمت انا لا تحل لنا الصدقة

Adapun contoh hadits yang didapatkan rawi saat masih kafir adalah hadits Jabir bin Muth’im[6]:

حديث جبير بن مطعم المتفق عليه أنه سمع النبي صلى الله عليه و سلم يقرأ في المغرب بالطور. وكان جاء في فداء اسرى بدر قبل أن يسلم. وفي رواية للبخاري وذلك أول ما وقر الإيمان في قلبي.

الكتاب » السنن الكبرى للبيهقي » كِتَابُ النَّفَقَاتِ » جِمَاعُ أَبْوَابِ كَفَّارَةِ الْقَتْلِ » بَابُ السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ لِلإِمَامِ وَمَنْ يَنُوبُ:

          أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ، أَخْبَرَنِي أَبُو عَمْرٍو الْحِيرِيُّ، أَنْبَأَ أَبُو يَعْلَى، ثَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ، ثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ عَبْدِ الْوَارِثِ، ثَنَا الْمُسْتَمِرُّ بْنُ الرَّيَّانِ، ثَنَا أَبُو نَضْرَةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يُرْفَعُ لَهُ بِقَدْرِ غَدْرَتِهِ، أَلَا وَلَا غَادِرَ أَعْظَمَ غَدْرًا مِنْ أَمِيرِ عَامَّةٍ.

Dari Sunan al-Baihaqi dalam Sunannya, Kitab an-Nafaqat:

Telah mengabarkan kepada kami Abu Abdillah al-Hafidz, mengabarkan kepadaku Abu Umar al-Hiri, memberitakan kepada kami Abu Ya’la, mengabarkan kepada kami Abu Khaitsamah, mengabarkan kepada kami Abdu as-Shamad bin Abdul Waris, Mengabarkan kepada kami a-Mustamir bin Rayyan, Mengabarkan kepada kami Abu Nadhrah, dari Abi Said al-Khudri berkata: Nabi Bersabda: Setiap orang yang berkhianat akan mempunyai bendera nanti di hari kiamat, ditinggikan sebatas penghianatannya. Penghianatan paling besar adalah dari seorang pemimpin kepada rakyatnya. (HR. al-Baihaqi).


حال الراوي

لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يُرْفَعُ لَهُ بِقَدْرِ غَدْرَتِهِ، أَلَا وَلَا غَادِرَ أَعْظَمَ غَدْرًا مِنْ أَمِيرِ عَامَّةٍ

لفظ الأداء

الحديث القولي

رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

قَالَ

الصحابي

أَبِي سَعِيدٍ

عَنْ

ثقة

أَبُو نَضْرَةَ

ثَنَا

ثقة

الْمُسْتَمِرُّ بْنُ الرَّيَّانِ

ثَنَا

ثقة

عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ عَبْدِ الْوَارِثِ

ثَنَا

ثقة ثبت

أَبُو خَيْثَمَةَ

ثَنَا

ثقة مأمون

أَبُو يَعْلَى

أَنْبَأَ

ثقة

أَبُو عَمْرٍو الْحِيرِيُّ

أَخْبَرَنِي

ثقة حافظ

أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ

أَخْبَرَنَا

المخرج

البيهقي

 

Tabel: Contoh shighat Ada’ hadits

Apakah ada batas umur tertentu dalam menerima hadits? Sebagian ulama mensyaratkan batas minimal usia 5 tahun. Ada pula yang tidak membatasinya. Batasnya adalah jika sudah tamyiz, sudah paham jika diajak bicara, bisa menjawab jika ditanya, dan bagus pendengarannya[7].

Selain kelayakan tahammul, sebagaimana disebutkan diatas  yaitu kelayakan ada’. Kelayakan ada’ seseorang agar diterima riwayatnya yaitu sebagaimana syarat hadits maqbul (shahih/hasan); yaitu muslim yang baligh, ‘adil dan dhabith[8]. Untuk keterangan lebih detail, bisa merujuk kepada tema syarat-syarat rawi.

 

Footnote:

[1] Mahmud at-Thahhan, Taisir Musthalah al-Hadits, hal. 157

[2] Abdurrahman bin Abu Bakar as-Suyuthi (w. 911 H), Tadribu ar-Rawi fi Syarhi Taqribi an-Nawawi, (Riyadh: Maktabah ar-Riyadh al-Haditsiah, t.t), tahqiq Abdul Wahab Abdullatif, juz 2, hal. 8

[3] Ahmad bin Ali bin Tsabit Abu Bakar al-Khathib al-Baghdadi, al-Kifayah fi Ilmi ar-Riwayah, (Madinah: al-Maktabah al-Ilmiyyah, t.t), Tahqiq Ibrahim Hamdi al-Madani, hal. 65

[4] Abdurrahman bin Abu Bakar as-Suyuthi (w. 911 H), Tadribu ar-Rawi fi Syarhi Taqribi an-Nawawi, juz 2, hal. 4

[5] Ahmad bin Ali bin Tsabit Abu Bakar al-Khathib al-Baghdadi, al-Kifayah fi Ilmi ar-Riwayah, hal. 55

[6] Abdurrahman bin Abu Bakar as-Suyuthi (w. 911 H), Tadribu ar-Rawi fi Syarhi Taqribi an-Nawawi, juz 2, hal. 4

[7] Mahmud at-Thahhan, Taisir Musthalah al-Hadits, hal. 158

[8] Mahmud at-Thahhan, Taisir Musthalah al-Hadits, hal. 145

Bagikan via


Baca Lainnya :

Tahammul dan Ada
22 April 2015, 09:42 | 5.219 views
Takhrij Hadits
4 June 2014, 09:37 | 16.559 views
Who: Jika Dhaif Suatu Hadits
30 April 2014, 07:03 | 8.481 views
Sebab Perbedaan Muhadditsin Dalam Menilai Suatu Hadits
11 April 2014, 19:00 | 7.265 views
Model Penulisan Kitab Hadits
3 April 2014, 07:02 | 6.301 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan
3 April 2014, 07:00 | 7.143 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag.2)
2 April 2014, 06:59 | 4.795 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag.1)
1 April 2014, 06:56 | 4.424 views

total 744733 views