Penjelasan Lebih Rinci Tahammul dan Ada | rumahfiqih.com

Penjelasan Lebih Rinci Tahammul dan Ada

by : Hanif Luthfi, Lc
Thu 30 April 2015 09:55 | 4332 views | bagikan via

Dalam menyampaikan ulang sebuah cerita, kita mungkin tidak begitu memperdulikan dengan cara apa cerita itu kita dapat. Kita tak pernah meributkan apakah sebuah cerita yang sampai kepada kita itu kita dapatkan dengan langung mendengar dari sumber pertamanya, ataukah kita hanya dapat cerita itu dari membaca sebuah tulisan.

Terlebih lagi, kita juga tak ambil pusing bagaimana dan dari mana sebuah cerita itu didapat oleh orang yang bercerita kepada kita, atau dari orang sebelumnya, dari orang sebelumnya dan seterusnya. Termasuk juga dalam menerima hadits Nabi.

Saat ini, ketika kita menerima suatu hadits kita cukup menyebutkan saja di kitab hadits apa sebuah hadits itu kita dapat. Kita memang tak terlalu membedakan antara ‘menceritakan, mengabarkan, mengatakan kepada kami, kami mendengar, saya mendengar, dll’. Tenyata para ulama dahulu membedakannya.

Hal itu berbeda dengan apa yang telah dilakukan para ulama dahulu dalam menerima sebuah informasi hadits. Ternyata ada shighat atau kata-kata khusus yang dipakai oleh para ulama, yang dari situ bisa digali informasi bagaimana seseorang itu mendapatkan kabar dari orang sebelumnya.

Dalam ilmu mushthalah hadits, ternyata para ulama telah mengidentifikasi shighat atau kata-kata khusus yang biasa digunakan dalam penyampaikan sebuah informasi hadits.

Pada tulisan sebelumnya, secara sekilas ada 8 cara dengan masing-masing shighat atau kata-kata khusus yang digunakan para ahli hadits dalam menyampaikan kembali sebuah hadits; seperti: as-sama’ min lafdz as-syaikh, al-qira’ah ‘ala as-syaikh, al-ijazah, al-munawalah, al-kitabah, al-i’lam, al-washiyyah, al-wijadah.

Awalnya dari kedelapan metode diatas, pada periode shahabat hanya yang pertama saja yang digunakan secara umum[1]. Para murid berada di sisi guru, melayaninya dan belajar darinya. Tak lama kemudian, metode yang paling umum digunakan adalah metode satu dan dua. Berikut penjelasan lebih detailnya:

1. Sama’ lafdzi as-Syaikh Atau Mendengarkan Suatu Lafadz Dari Guru Langsung

Bentuk: Seorang guru membacakan hadits, sedangkan murid mendengarkannya. Baik guru itu membaca dari kitab ataupun dari hafalannya, baik murid hanya mendengarkan atau mencatatnya juga[2].

Tingkatan: Metode tahammul ini merupakan tingakat pertama dalam urutan tahammul hadits. Inilah pendapat Jumhur Ulama’[3].

Shighat Ada’: Sedangkan shighat yang digunakan dalam menyampaikan sebuah hadits yang didapatkan dengan metode ini adalah:

  • Sebelum adanya pengkhususan shighat dari masing-masing metode tahammul, lafadz yang digunakan adalah[4]:

حدثني، أخبرني، أنبأني، سمعت فلانا يقول، قال لي فلان، ذكر لي فلان

  • Setelah terjadi pengkhususan istilah shighat tahammul, maka biasanya:
  1. Sama’: biasanya menggunakan (سمعت ) dan ( حدثني)
  2. 2. al-Qira’ah: biasanya menggunakan (أخبرني)
  3. 3. Ijazah: biasanya menggunakan (أنبأني)
  4. Sama’ al-Mudzakarah: Sama’ al-Mudzakarah berbeda dengan sama’ at-tahdits. Jika sama’ at-tahdits maka antara guru dan murid sudah mempersiapkan diri sebelumnya. Sedangkan dalam sama’ al-mudzakarah tidak ada persiapan sebelumnya. Biasanya menggunakan (قال لي ) atau ( ذكر لي) [5].

            Biasanya untuk meringkas tulisan, para Ulama’ hanya menuliskan (ثنا) untuk (حدثنا), dan (أنا) untuk (أخبرنا)[6].

2. al-Qira’ah ‘ala as-Syeikh/’ardhun Atau Membacakan Suatu Teks Di Depan Guru (العرض)

Bentuk: Seorang murid membaca hadits dan guru mendengarkannya. Baik seorang murid itu membacanya sendiri atau orang lain yang membaca dan dia mendengarkan, baik membacanya dari tulisan ataupun dari hafalan. Begitu juga guru itu mengikuti bacaan murid dari hafalannya atau dia memegang sebuah kitab atau orang lain yang tsiqah[7].

Hukum Riwayat: Meriwayatkan hadits dengan metode ini adalah shahih dan bisa diterima.

Tingkatan: Ulama’ berbeda pendapat tentang tingkatan metode ini dalam tiga pendapat:

  1. Sama dengan as-Sama’ (metode pertama). Ini pendapat Malik, al-Bukhari, Yahya bin Said al-Qahthan, Ibnu Uyainah, az-Zuhri, kebanyakan Ulama’ Hijaz dan Kufah[8].
  2. Di bawah as-Sama’, Ini adalah pendapat Jumhur Khurasan, as-Syafi’i, Muslim bin Hajjaj, Yahya bin Yahya at-Tamimi. Ini adalah pendapat yang shahih[9].
  3. Lebih tinggi daripada as-Sama’. Ini adalah pendapat Abu Hanifah, dan salah satu pendapat Malik.

Imam Malik memberikan alasan bahwa, jika saja seorang guru salah atau lupa dalam menyampaikan suatu hadits, maka murid tidak bisa membetulkannya. Ada kalanya memang murid tersebut belum mengetahui haditsnya, atau karena keagungan gurunya, jadi murid enggan untuk mengoreksi.

                Berbeda jika murid membacakan hadits di depan gurunya, maka gurunya akan bisa tahu jika murid lupa atau salah dalam membaca hadits[10].

Shighat Ada’:

  1. Yang lebih hati-hati: (قرأت على فلان) atau (قرئ عليه وأنا أسمع فأقرَّ به)
  2. Boleh saja dengan shighat: (حدثنا قراءة عليه)
  3. Adapun yang banyak dipakai Muhadditsin adalah: (أخبرنا)

Ulama’ tidak membolehkan mengganti shighat (أخبرنا) dengan (حدثنا) atau sebaliknya dalam kitab-kitab yang sudah ditulis[11].

Nampaknya, metode ‘ardh ini merupakan praktik yang paling umum sejak awal abad kedua[12]. Dalam praktik ini, salinan-salinan diberikan oleh guru sendiri, karena banyak dari mereka memiliki juru tulis (katib atau warraq) sendiri, atau merupakan milik murid yang menyalinnya lebih dahulu dari kitab asli.

3. al-Ijazah Atau Pemberian Ijazah

Arti kata Ijazah dalam terminologi hadits adalah memberikan izin, baik dalam tulisan maupun hanya lafadz saja kepada seseorang untuk menyampaikan hadits atau kitab berdasarkan otoritas Ulama’ yang memberikan izin.

Ijazah ini bisa dengan musyafahah antara guru dan murid, atau pemberian izin dari guru dalam bentuk tulisan, baik murid ada atau tidak ada di depan guru[13].

Bentuk: Seorang guru berkata kepada muridnya, (أَجَزْتُ لك أن تروي عني صحيح البخاري), saya memberi ijin untukmu meriwayatkan dariku kitab Shahih Bukhari.

Macam-Macam Ijazah dan Hukumnya:

                Ada beberapa macam Ijazah, tapi Ijazah yang diterima riwayatnya dan dipakai oleh Kebanyakan Ulama’ adalah jika Ijazah itu dari seorang guru kepada murid yang tertentu atas sesuatu yang tertentu pula. Misalnya: Saya mengijazahkan kepadamu kitab Shahih Bukhari.

                Menurut imam Malik dan beberapa Ulama’, Ijazah seperti ini derajatnya sama dengan as-Sama’[14]. Disebutkan dalam kitab al-Ilma’[15] oleh al-Qadhi Iyadz (w. 544 H), sebuah riwayat sampai kepada Imam Malik bin Anas:

أخبرنا أبو طاهر الأصبهاني مكاتبة قال حدثنى أبو الحسين الطيورى أخبرنا أبو الحسن الفالى أخبرنا ابن خربان أخبرنا ابن خلاد أخبرنا أبو جعفر أحمد بن إسحاق بن بهلول أخبرنا إسماعيل بن إسحاق سمعت إسماعيل بن أبى أويس يقول سألت مالكا عن أصح السماع فقال قراءتك على العالم أو قال المحدث ثم قراءة المحدث عليك ثم أن يدفع إليك كتابه فيقول أرو عنى هذا.

Adapun Ijazah yang lain, misalnya Ijazah kepada orang yang tak tertentu, atau atas sesuatu yang tidak tertentu pula, misalnya: Seorang guru berkata, Aku mengijazahkan hafalanku, aku mengijazahkan kepada semua orang yang hidup di zamanku, maka para Ulama’ tidak mengambil riwayat dari hal tersebut. Meskipun ada pula yang membolehkan mengambil riwayat dari Ijazah seperti itu, tetapi pendapat ini adalah pendapat yang lemah.

Shighat Ada’:

  1. Yang lebih baik adalah menggunakan lafadz: (أجاز لي فلان)
  2. Boleh juga menggunakan lafadz: (حدثنا إجازة) dan (أخبرنا إجازة)
  3. Para Muhaddits banyak yang memakai lafadz: (أنبأنا)

4. al-Munawalah Atau Penyerahan Sesuatu

al-Munawalah disini maksudnya adalah menyerahkan kepada seseorang bahan tertulis untuk diriwayatkan.

Bentuk: al-Munawalah terbagi menjadi dua:

  1. al-Munawalah disertai dengan Ijazah.

Inilah bentuk Ijazah tertinggi, dimana seorang guru memberikan kitab kepada muridnya disertai izin untuk meriwayatkannya. Sebagaimana guru berkata kepada muridnya, Kitab ini saya meriwayatkannya dari guru saya, maka sekarang riawayatkanlah dari saya. Setelah itu, kitab menjadi milik murid atau guru hanya meminjamkan saja kitabnya untuk disalin[16].

  1. al-Munawalah tidak disertai dengan ijazah.

                Bentuknya adalah seorang guru memberikan kitab kepada muridnya. Hukum meriwayatkan hadits dengan al-Munawalah yang tidak disertai ijazah ini adalah tidak diterima, menurut pendapat yang shahih. Sedangkan al-munawalah yang disertai ijazah adalah diterima, dia berada dibawah as-Sama’ dan al-Qira’ah ala as-Syeikh.

Shighat ada’:

  1. Lebih baik menggunakan lafadz: (ناولني), jika munawalah disertai dengan ijazah, maka dengan lafadz (ناولني وأجاز لي).
  2. Boleh juga dengan lafadz: (حدثنا مناولة), (أخبرنا مناولة وإجازة).

Bersambung ke:

Footnote:

[1] M. M. Azami, Ma, Ph.D, Memahami Ilmu Hadits, (Jakarta: Penerbit Lentera, 2003), hal. 45

[2] Al-Qadhi Iyadh Abu al-Fadhl Iyadh bin Amrun bin Musa bin Iyadh as-Sibti al-yahshabi (w. 544 H), al-Ilma’ ila Ma’rifati Ushul ar-Riwayah wa Taqyidu as-Sama’, (Kairo: Dar at-Turats, 1970 M, tahqiq As-Sayyid Ahmad Shaqr, hal. 68

[3] Al-Qadhi Iyadh al-yahshabi (w. 544 H), al-Ilma’ ila Ma’rifati Ushul ar-Riwayah wa Taqyidu as-Sama’, hal. 69, Abdurrahman bin Abu Bakar as-Suyuthi (w. 911 H), Tadribu ar-Rawi fi Syarhi Taqribi an-Nawawi, juz 2, hal. 8

[4] Mahmud at-Thahhan, Taisir Musthalah al-Hadits, hal. 159

[5] Mahmud at-Thahhan, Taisir Musthalah al-Hadits, hal. 159

[6] M. M. Azami, Ma, Ph.D, Memahami Ilmu Hadits, (Jakarta: Penerbit Lentera, 2003), hal. 53

[7] Abdurrahman bin Abu Bakar as-Suyuthi (w. 911 H), Tadribu ar-Rawi fi Syarhi Taqribi an-Nawawi, juz 2, hal. 12

[8] Al-Qadhi Iyadh al-yahshabi (w. 544 H), al-Ilma’ ila Ma’rifati Ushul ar-Riwayah wa Taqyidu as-Sama’, hal. 71

[9] Mahmud at-Thahhan, Taisir Musthalah al-Hadits, hal. 180

[10] Al-Qadhi Iyadh al-yahshabi (w. 544 H), al-Ilma’ ila Ma’rifati Ushul ar-Riwayah wa Taqyidu as-Sama’, hal. 74

[11] Abdurrahman bin Abu Bakar as-Suyuthi (w. 911 H), Tadribu ar-Rawi fi Syarhi Taqribi an-Nawawi, juz 2, hal. 22

[12] M. M. Azami, Ma, Ph.D, Memahami Ilmu Hadits, (Jakarta: Penerbit Lentera, 2003), hal. 53

[13] Al-Qadhi Iyadh al-yahshabi (w. 544 H), al-Ilma’ ila Ma’rifati Ushul ar-Riwayah wa Taqyidu as-Sama’, hal. 88

[14] Al-Qadhi Iyadh al-yahshabi (w. 544 H), al-Ilma’ ila Ma’rifati Ushul ar-Riwayah wa Taqyidu as-Sama’, hal. 79

[15] Al-Qadhi Iyadh al-yahshabi (w. 544 H), al-Ilma’ ila Ma’rifati Ushul ar-Riwayah wa Taqyidu as-Sama’, hal. 88

[16] Mahmud at-Thahhan, Taisir Musthalah al-Hadits, hal. 162

Bagikan via


Baca Lainnya :

Kelayakan Seorang Perawi Hadits Dalam Tahammul dan Ada
23 April 2015, 10:00 | 3.653 views
Tahammul dan Ada
22 April 2015, 09:42 | 5.009 views
Takhrij Hadits
4 June 2014, 09:37 | 16.246 views
Who: Jika Dhaif Suatu Hadits
30 April 2014, 07:03 | 8.247 views
Sebab Perbedaan Muhadditsin Dalam Menilai Suatu Hadits
11 April 2014, 19:00 | 7.065 views
Model Penulisan Kitab Hadits
3 April 2014, 07:02 | 6.116 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan
3 April 2014, 07:00 | 6.830 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag.2)
2 April 2014, 06:59 | 4.591 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag.1)
1 April 2014, 06:56 | 4.159 views

total 691497 views