Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 3) | rumahfiqih.com

Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 3)

by : Ahmad Zarkasih, Lc
Sun 30 March 2014 02:04 | 4160 views | bagikan via

Imam Abu Hanifah Dalam Istinbath Hukum

Sangat keras sekali apa yang dilakukan oleh Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabut (150 H) dalam menjaga kesucian dan kemurnian syariah ketika masa hidupnya ketika itu dari berbgai macam propaganda pemalsuan hadits.

Walaupun pergolakan politik ketika itu sudah lewat lebih dari setengah abad (40 H), yaitu perpindahan kekuasan dari Imam Hasan bin Ali karramallahu wajhahu kepada Mu’awiyah bin ABi Sufyan radhiyallahu ‘anhu yang dikatakan diambil secara paksa. Tetapi pengaruh gesekan politik itu masih punya peran dalam metodologi pengambilan hukum syariah (istinbath). Sehingga Imam Abu Hanifah sangat selektif sekali dalam mengambil hadits yang memang ketika itu banyak beredar di kalangan masyarakat.

Sampai-sampai pada masanya sang Imam, perbendaharaan hadits yang dikenal oleh masyarakat dan dijadikan sandaran hukum sangat minim sekali. Itu bukan karena sebab, karena memang itu dilakukan untuk menjaga keumurnian dan kesucian syariah itu sendiri dari propaganda pemalsuan hadits.

Memanasnya pergolakan politik di awal tahun 40 Hijrah, ketika pucuk kepimpinan khalifah berpindah dari sang cucu Nabi Muhammad saw, Imam Hasan bin Ali karromallahu wajhahu kepada Mua’wiyah bin Abi Sufyan, memberikan pengaruh cukup besar dalam sejarah terbentuknya madzhab.

Dalam kitabnya Tarikh Al-Tasyri’ Al-Islami, Imam Muhammad Al-Khudhori Bik menjelaskan, bahwa kondisi politik seperti itu membuat masing-masing kelompok, -baik dari kalangan Syiah yang mendukung Ali bin Abi Thalib serta keluarganya untuk kepemimpinan dan juga kelompok yang mendukung Muawiyah- sangat antusias sekali agara apa yang mereka ambil dalam pandangan politik mereka itu didukung oleh setempel agama, baik dengan ayat-ayat suci, hadits serta juga fatwa ulama ahli Al-Diin.

Karena itu, muncul banyak hadits-hadots palsu yang dinisbatkan kepada Nabi, padahal sejatinya bukan hadits, yang berselewiran diantara masyarakata tentang perihal dukungan kepada masing-masing kelompok. Ini adalah salah satu factor utama tersebarnya hadits-hadits palsu ketika itu.

Sheikh Musthafa Al-Siba’i, dalam kitabnya yang masyhur Al-Sunnah wa Makanatuha Fi Al-Tasyri’ Al-Islami mengatakan dengan tegas bahwa kelompok syiah lah yang paling banyak menyumbangkan hadits-hadits palsu di tengah masyarakat. Banyak hadits-hadits palsu yang beredar dengan kandungan makna tuntutan kepada seorang muslim untuk tetap mencintai dan setia kepada keluarga Ali bin Abi Thalib.

Dan hadits-hadits palsu itu menyebar terus dan terwarisi sampai masanya Imam Abu Hanifah AL-Nu’man yang lahir di tahun 80 Hijrah. Jadi cara pengambilan hukum dari hadits yang dilakukan oleh Imam Abu Hanifah memang agak berbeda dengan para Imam lain. Ini dilakukan karena banyaknya propanganda hadits serta untuk melindungi dan memurnikan syariah dari berbagai distorsi.

Salah satunya ialah metode Imam Abu Hanifah dalam pengambilan hadits Mursal.     

Imam Abu Hanifah dan Hadits Mursal

Lihat bagaimana kedekatan masa Imam Abu Hanifah dengan para masa sahabat ridhwanullah ‘alaihim yang hanya dibatasi oleh masa tabi’in yang mereka semua adalah gurunya. Itu indikasi bahwa menjadi tidak masalah dalam madzhab ini mengambil hadits mursal.

Hadits mursal ialah hadits yang diriwayatkan oleh seorang tabi’in tanpa disebutkan sanad pada tingkat sahabt, tapi langsung kepada Nabi saw. Jadi ada satu tingkatan yang hilang, yaitu tingkatan sahabat. Padahal tidak mungkin tabi’in meriwayatkan langsung dari Nabi saw karena masanya berbeda, dan tabi’in tidak ada yang bertemu Nabi saw.  

Ingat bagaimana pergolakan hadits di masa Imam Abu Hanifah, yang ketika itu terjadi pergolakan politik dan perebutan politik yang akhirnya memicu banyaknya hadits palsu. Banyak hadits berseliweran di antara mereka tapi kesemuanya palsu, bukan hanya sanad, akan tetapi juga matan (teks) hadits itu sendiri.

Sehingga, menjadi sangat aman buat Imam Abu Hanifah untuk mengambil hadits mursal.

Mungkin menjadi pertanyaan yang cukup membingungkan, bagaimana bisa pada masa banyaknya pemalsuan hadits, Imam Abu Hanifah justru mengambil hadits mursal yang mana sanadnya itu terputus?

Harus diingat masa Imam Abu Hanifah itu sendiri, bahwa masanya sangat dekat sekali dengan tabi’in, yang mana mereka semua adalah gurunya Imam Abu Hanifah. Dan penerimaan Imam Abu Hanifah teradap hadits mursal tidaklah tanpa syarat. Mereka hanya mengambil hadits mursal yang itu adalah riwayat-riwayat para Imam Ahli Iraq, diantara: Al-Nakho’i, Al-Sya’bi (103 H), juga Hasan Al-Bashri (110H), dan juga guru beliau Hammad bin Abi Sulaiman.

Hadits Mursal Lebih Aman

Maka menerima hadits-hadits dari mereka itu jauh lebih aman karena mereka semua adalah orang yang tsiqh  dan tidak mungkin berdusta. Dibanding asal mengambil hadits dari orang yang tidak dikenal, walaupun sanadnya sampai ke Nabi saw. Karena bisa jadi itu adalah hadits yang dipalsukan.

Dengan menerima hadits mursal yang memang kesemuanya dari guru sang Imam, beliau bisa langsung menanyakan periwayatan hadits mursal ini, benarkah tidak ada sahabat yang meriwayatkan sehingga langsung kepada Nabi saw?

Dan perlu diketahui bahwa ketika zaman itu, para Tabi’in, yang juga termasuk gurunya Imam Abu Hanifah terbiasa dengan periwayatan langsung kepada Nabi saw jika memang itu sudah diriwayatkan oleh lebih dari 4 sahabat.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibrahim An-Nakho’i bahwa beliau tidak akan meriwayatkan sebuah hadits denagn irsal (tanpa menyebut sahabt) langsung ke Nabi kecuali memang itu diriwayatkan oleh lebih dari 70 sahabat.[1]

Jadi hadits mursal ketika zaman Imam Abu Hanifah memang berbeda dengan zaman setelahnya seperti masa Imam Al-Syafi’i (204 H) atau juga Imam Ahmad bin Hanbal (247 H) yang memasukkan hadits mursal kedalam golongan hadits lemah (dhoif).

Begitulah cara Imam Abu Hanifah, memurnikan syariah ini dengan begitu strick dalam memilih sebuah hadits karena khawatir akan masuknya hadits palsu kedalam syariah ini.

Bersambung

Di artikel yang akan datang kita akan bahasa –in sha Allah ta’ala- perihal banyaknya tuduhan kepada madzhab Imam Abu Hanifah ini yang dikatakan sering kali menggunakan qiyas dan meninggalkan hadits.

Benarkah tuduhan bahwa Imam Abu Hanifah banyak meninggalkan hadits dan beralih ke qiyas?


[1] Dijelaskan oleh Imam Muhammad Abu Zahroh di Ushul Al-Madzahib Al-Islamiyah, hal. 281

Bagikan via


Baca Lainnya :

Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 2)
29 March 2014, 02:04 | 4.295 views
Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 1)
28 March 2014, 02:03 | 5.704 views

total 742741 views