Al-Muzani dan At-Thabary Membolehkan Wanita Mengimami Laki-laki, Benarkah? | rumahfiqih.com

Al-Muzani dan At-Thabary Membolehkan Wanita Mengimami Laki-laki, Benarkah?

by : Aini Aryani, Lc
Tue 8 April 2014 01:17 | 6901 views | bagikan via

Dalam beberapa kitab masyhur seperti al-Majmu’ Syarhul Muhadzab yang ditulis oleh Imam an-Nawawi dan al-Mufashshal yang ditulis Dr. Abdullah Karim Zaidan, nama-nama besar seperti al-Muzani, Abu Tsaur dan Ibnu Jarir at-Thabariy disebut sebagai ulama yang membolehkan wanita mengimami laki-laki. Akan tetapi benarkah demikian?

Tuduhan atas al-Muzani, Abu Tsaur dan at-Tabariy merupakan syubhat yang dapat diluruskan dengan beberapa hujjah, sebagaimana dinyatakan oleh dua ulama besar seperti Abu Ya’qub Yusuf al-Buthiy dan Zufar.


Mengenai pendapat al-Muzani (pengikut madzhab Syafi’i):

Muhammad Sidqi Bin Ahmad Al-Burnu mengatakan bahwa syubhat mengenai al-Muzani yang (katanya) membolehkan wanita menjadi imam bagi laki-laki adalah tidak benar. Dalam kitab al-Mukhtasar, al-Muzani menuliskan sebagai berikut: 

ÇáÞíÇÓ Ãä ßá ãÕáø ÎáÝ ÌäÈ æÇãÑÃÉ æãÌäæä æßÇÝÑ íÌÒÆå ÕáÇÊå ÅÐÇáã  íÚáã ÈÍÇáåã

 “Dapat diqiyas bahwa seseorang (laki-laki) yang shalat di belakang wanita, atau di belakang orang gila, atau orang kafir, akan tetap mendapat pahala apabila orang (laki-laki) itu tidak mengetahui tentang keadaan siapa mereka (yang diikutinya sebagai imam).”

Kutipan di atas di tulis oleh al-Muzani sebagai penjelasan dari kalimat Imam as-Syafi’i dalam kitabnya al-Umm yang berbunyi:

áÃä ßá ãÕáø áäÝÓå áÇ ÊÝÓÏ Úáíå ÕáÇÊå ÈÝÓÇÏåÇ Úáì ÛíÑå

“Karena sesungguhnya shalatnya seseorang yang shalat untuk dirinya sendiri tidak dapat dirusak oleh rusaknya shalat atas selain dirinya.”

Maka, tidak benar adanya apabila al-Muzani dikatakan membolehkan wanita mengimami laki-laki secara mutlak. Karena dalam penjelasannya di kitab al-Mukhtasar, al-Muzani mengatakan tetap berpahala (sah) bagi orang laki-laki yang shalat di belakang wanita atau di belakang orang gila sekalipun, dengan syarat orang laki-laki yang bermakmum itu tidak mengetahui kalau orang yang dijadikannya imam itu ternyata seorang wanita, atau ternyata orang gila. Kondisi ini mengandung unsur ketidak tahuan dan ketidak sengajaan yang dialami makmum laki-laki.   

Al-Muzani tetap menyatakan tidak sah pada orang laki-laki yang shalat dan bermakmum pada seorang wanita dalam keadaan ia (makmum laki-laki) itu sengaja dan tahu bahwa imam yang ada di depannya itu adalah seorang wanita. (Al-Mukhtasar Li-Muzani, berdasarkan catatan kaki kitab al-Umm lil-Imam as-Syafi’i, juz 1, hal. 145)

Mengenai Pendapat Abu Tsaur (240 H.):

Pernyataan dari Abu Tsaur yang mungkin ditafsirkan sebagai pembolehan wanita dalam mengimami laki-laki adalah pendapat beliau saat mengomentari penjelasan al-Muzani dalam kasus yang tertulis dalam al-Umm yang ditulis Imam as-Syafi’i sebagai berikut:

”apabila seorang wanita shalat, kemudian datang untuk shalat dibelakangnya: kaum wanita dan anak-anak laki-laki, maka shalatnya para makmum wanita diberi pahala (sah) sedangkan shalatnya para makmum dari anak-anak laki-laki tidak sah.”

Dalam hal ini Abu Tsaur mengomentari bahwa shalatnya para makmum yang terdiri dari anak-anak laki-laki tetap sah apabila mereka tidak tahu kalau imam yang ada didepannya adalah seorang wanita. (Thabaqat as-Syafi’iyyah al-Kubra, juz 1, hal. 227)

Maka, komentar Abu Tsaur ini tidak bisa dijeneralisir pada pembolehan wanita mengimami laki-laki secara mutlak. Karena kasus diatas ada dalam kondisi makmum anak laki-laki yang tanpa sengaja dan tidak tahu kalau ia bermakmum pada seorang imam wanita. Hal ini mirip dengan pendapat al-Muzani di poin sebelum ini.

Subki Abdul Wahhab Bin Taqiyuddin mengatakan: ”Dalam beberapa hal, Abu Tsaur memang berbeda pendapat dengan jumhur fuqaha’, beliau menyebutkan beberapa hal dimana beliau berbeda pendapat dengan mereka. Akan tetapi, Abu Tsaur tidak menyebutkan bahwa beliau membolehkan wanita menjadi imam bagi laki-laki.”

Mengenai Pendapat Abu Ja’far at-Thabariy (310 H.):

Muhammad Sidqi al-Burnu mengatakan tidak ada bukti valid yang mengatakan bahwa at-Thabariy menyatakan bolehnya wanita mengimami laki-laki, baik itu dari karya-karya tulisnya sendiri ataupun kesaksian dari ulama lain mengenai tuduhan ini.

Konklusi

Maka, tuduhan bahwa tiga ulama besar di atas, yakni Al-Muzani, Abu Tsaur dan Juga Abu Ja'far At-Thabari membolehkan wanita mengimami laki-laki adalah tidak benar adanya. Sebaliknya, mereka melarangnya. wallahu a'lam bishawab.[]

Bagikan via

Baca Lainnya : Aini Aryani, Lc

Feminis Kurang Piknik
23 April 2017, 01:00 | 4.003 views
Darah Keluar Saat Hamil, Haid Atau Bukan?
9 January 2017, 06:43 | 4.032 views
Darah Keluar Menjelang Persalinan; Nifas Atau Istihadhah?
2 January 2017, 23:44 | 4.151 views
Poligami (2) : Sakitpun Suami Masih Wajib Menggilir Isteri-Isterinya?
18 December 2016, 12:32 | 4.731 views
Al Muwalah : Bolehkah Mencicil Mandi Janabah ?
13 December 2016, 05:53 | 2.707 views
Poligami (1) : Adil Menggilir Para Isteri Ala Rasulullah
9 December 2016, 15:09 | 1.644 views
Khitan Bagi Wanita, Wajibkah?
21 August 2016, 09:20 | 1.761 views
Haid Sudah Selesai, Tapi Belum Mandi Janabah, Bolehkah Berhubungan Suami-Isteri ?
2 August 2016, 08:26 | 3.252 views
Suci Dari Haid di Waktu Ashar, Wajibkah Meng-qadha Shalat Dzuhurnya?
27 July 2016, 09:17 | 2.137 views
Mahram Bagi Wanita Dari Jalur Nasab, Siapa Sajakah?
24 June 2016, 06:05 | 2.311 views
Saat Mandi Janabah, Haruskah Wanita Mengurai Rambutnya Yang Digelung Atau Dikepang?
21 June 2016, 15:50 | 1.786 views
Bolehkah Wanita Mengusap Bagian Atas Kerudungnya Sebagai Ganti Mengusap Kepala Saat Wudhu
7 June 2016, 10:34 | 3.019 views
Bersentuhan Dengan Isteri, Batalkah Wudhu Suami?
28 May 2016, 17:21 | 5.004 views
Angin Keluar Lewat Vagina, Apakah Membatalkan Wudhu Seperti Buang Gas?
20 March 2016, 16:22 | 4.470 views
Belajar Fiqih Wanita Itu Penting. Mengapa?
23 February 2016, 11:27 | 2.579 views
Batasan Bolehnya Mencumbui Isteri Yang Sedang Haid
3 December 2015, 21:01 | 7.394 views
Masuk Waktu Shalat Tapi Belum Mengerjakan, Lalu Keluar Darah Haid. Wajibkah Mengqadha
10 November 2015, 22:11 | 5.397 views
Bolehkah Ayah Biologis Menikahi Puterinya dari Hasil Zina?
30 October 2015, 18:35 | 6.705 views
Sikap Suami-Isteri Yang Syari Tapi Tidak Patut
14 September 2015, 00:24 | 21.658 views
Siapa Keluarga Istri yang Jadi Mahram Bagi Suaminya?
13 July 2015, 07:22 | 9.834 views
Berzina Menjadikannya Mahram Dengan Ibunya?
8 June 2015, 09:41 | 7.048 views
Batasan Aurat Wanita Bagi Mahramnya
5 May 2015, 11:12 | 13.581 views
Hamil, Dicerai, Lalu Keguguran. Selesaikah Iddahnya?
30 April 2015, 17:18 | 4.171 views
Nifas Lebih Dari 60 Hari, Apakah Jadi Haid Atau Istihadlah?
21 April 2015, 17:54 | 18.167 views
Apakah Suara Wanita Termasuk Aurat?
1 May 2014, 05:59 | 25.062 views
Haramkah Potong Rambut dan Kuku Waktu Haidh?
11 April 2014, 05:19 | 48.220 views
Belum Qadha' Puasa Tapi Sudah Datang Ramadhan Berikutnya
10 April 2014, 05:18 | 17.552 views
Wanita Hamil & Menyusui : Qadha Atau Fidyah?
9 April 2014, 05:17 | 18.117 views
Al-Muzani dan At-Thabary Membolehkan Wanita Mengimami Laki-laki, Benarkah?
8 April 2014, 01:17 | 6.901 views
Darah Terputus-putus; Antara Haid & Istihadlah
7 April 2014, 06:32 | 13.356 views
Halal Haram Menyambung Rambut
6 April 2014, 07:10 | 6.680 views
Denda Berhubungan Seksual Saat Haid
5 April 2014, 18:13 | 6.383 views
Islam Cenderung Patriarkal, Benarkah?
3 April 2014, 18:12 | 5.167 views
Masa Iddah, Istri Masih Berhak Dinafkahi?
1 April 2014, 18:11 | 8.429 views

total 862610 views