Wanita Hamil & Menyusui : Qadha Atau Fidyah? | rumahfiqih.com

Wanita Hamil & Menyusui : Qadha Atau Fidyah?

by : Aini Aryani, Lc
Wed 9 April 2014 05:17 | 17775 views | bagikan via

Meski tidak secara tekstual tertulis dalam ayat Al-Quran dan hadits nabawi, para ulama membolehkan wanita hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa pada bulan Ramadhan. Tentu jika memang kondisinya tidak memungkinkan atau memberatkan, baik bagi dirinya atau bagi bayi yang dikandungnya atau disusuinya.

Dan yang menjadi pertanyaan, kewajiban apa yang harus dilaksanakan oleh wanita hamil dan/atau menyusui apabila mereka tidak berpuasa di bulan Ramadhan. Sebab tidak nash yang menyebutkan bagaimana cara penggantiannya.

Maka wajar bila dalam hal ini beberapa ulama berbeda pendapat. Sebagian mewajibkan qadha saja tanpa fidyah, sebagian ada yang mewajibkan qadha' plus fidyah juga. Bahkan ada juga yang mewajibkan fidyah saja tanpa qadha'.

Rincian pendapat itu dan siapa yang mengatakannya sebagai berikut: 

1. Pendapat Pertama : Qadha' Saja Tanpa Fidyah

Pendapat yang pertama ini menyerupakan wanita hamil dan menyusui seperti orang yang sakit. Apabila mereka (wanita hamil dan menyusui) tidak berpuasa di bulan Ramadhan, maka harus membayar Qadha’ (tidak perlu fidyah).

Sebagaimana yang diwajibkan atas orang sakit apabila meninggalkan puasa di bulan Ramadhan. Imam Abu Hanifah, Abu Ubaid dan juga Abu Tsaur mendukung pendapat ini.

Pendapat ini berdasarkan firman Allah sebagai berikut:

 

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Artinya: (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka jika di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (al-Baqarah: 184) 

 

2. Pendapat Kedua : Qadha' dan Fidyah

Imam Syafi’i mengatakan bahwa wanita hamil dan/atau menyusu serupa dengan orang sakit dan juga orang yang terbebani dalam melakukan puasa.

Apabila mereka tidak berpuasa di bulan Ramadhan, maka mereka harus membayar Qadha’ dan Fidyah juga. Pendapat ini menggabungkan dua dalil di poin 1 dan 2 di atas.

Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal menambahkan bahwa wanita hamil atau menyusui, apabila ia tidak berpuasa sebab mengkhawatirkan kondisi bayinya, yang wajib ia lakukan adalah qadha sekaligus fidyah. Akan tetapi bila ia mengkhawatirkan dirinya saja, atau mengkhawatirkan dirinya dan juga bayinya, maka yang harus ia lakukan adalah membayar qadha’ tanpa fidyah. (Fiqhus Sunnah I, hal. 508) 

3. Pendapat Ketiga : Hamil = Qadha' Saja , Menyusui = Qadha' + Fidyah

Ulama dari madzhab Imam Maliki membedakan antara wanita hamil dan wanita yang menyusui. Wanita hamil diserupakan dengan hukum orang sakit, yang apabila meninggalkan puasa di bulan Ramadhan, ia wajib mengganti dengan qadha’.

Sedangkan wanita menyusui diserupakan dengan orang sakit sekaligus orang yang terbebani melakukan puasa. Apabila ia tidak berpuasa di bulan Ramadhan, maka ia wajib membayar qadha’ dan juga fidyah.

Penutup

Demikianlah pendapat dari para ulama dari 4 madzhab, dimana pilihan bagi wanita yang hamil dan menyusui dan tidak berpuasa di bulan Ramadhan adalah qadha' atau qadha' plus fidyah.

Adapun mengenai pilihan fidyah tanpa qadha' bersumber dari 'atsar' yang konon berasal dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas. Beliau berdua menyerupakan wanita hamil dan/atau menyusui seperti orang yang tidak sanggup melaksanakan puasa, semisal orang lanjut usia. Jika mereka tidak berpuasa di bulan Ramadhan sebab mengkhawatirkan kondisi dirinya ataupun bayinya, maka harus membayar Fidyah tanpa perlu mengqadha’ (Bidayatul Mujtahid I, hal. 63).

 

Pendapat ini mengambil dasar dalil firman Allah sebagai berikut:

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

Artinya: Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fid-yah, (yaitu): Memberi makan seorang miskin. (al-Baqarah : 184)

Akan tetapi para ulama dari 4 madzhab tidak mengambil atsar ini sebagai landasan pengambilan hukum, sebab ada masalah dalam periwayatannya.

Maka, jika kita merujuk pada pendapat ulama fiqih dari 4 madzhab, kita akan menemukan 2 pilihan konsekuensi bagi wanita yang hamil dan/atau menyusui yang tidak berpuasa di bulan Ramadhan :

1. Qadha' saja tanpa fidyah.

2. Qadha' dan Fidyah sekaligus.

Lepas dari perbedaan pendapat di atas, tentu membayar qadha’ sekaligus juga fidyah tentu akan menjadi sikap yang lebih berhati-hati (ihtiyath). Selain itu tentu akan menjadi kebaikan tersendiri bagi ibu dan anak, karena telah berbuat baik buat fakir miskin lewat fidyah.

 

 

 

Wallahu a’lam bishshawab.

Aini Aryani, Lc

Bagikan via

Baca Lainnya :

Feminis Kurang Piknik
23 April 2017, 01:00 | 895 views
Darah Keluar Saat Hamil, Haid Atau Bukan?
9 January 2017, 06:43 | 2.067 views
Darah Keluar Menjelang Persalinan; Nifas Atau Istihadhah?
2 January 2017, 23:44 | 2.475 views
Poligami (2) : Sakitpun Suami Masih Wajib Menggilir Isteri-Isterinya?
18 December 2016, 12:32 | 2.638 views
Al Muwalah : Bolehkah Mencicil Mandi Janabah ?
13 December 2016, 05:53 | 2.200 views
Poligami (1) : Adil Menggilir Para Isteri Ala Rasulullah
9 December 2016, 15:09 | 1.114 views
Khitan Bagi Wanita, Wajibkah?
21 August 2016, 09:20 | 1.166 views
Haid Sudah Selesai, Tapi Belum Mandi Janabah, Bolehkah Berhubungan Suami-Isteri ?
2 August 2016, 08:26 | 2.643 views
Suci Dari Haid di Waktu Ashar, Wajibkah Meng-qadha Shalat Dzuhurnya?
27 July 2016, 09:17 | 1.641 views
Mahram Bagi Wanita Dari Jalur Nasab, Siapa Sajakah?
24 June 2016, 06:05 | 1.852 views
Saat Mandi Janabah, Haruskah Wanita Mengurai Rambutnya Yang Digelung Atau Dikepang?
21 June 2016, 15:50 | 1.436 views
Bolehkah Wanita Mengusap Bagian Atas Kerudungnya Sebagai Ganti Mengusap Kepala Saat Wudhu
7 June 2016, 10:34 | 2.610 views
Bersentuhan Dengan Isteri, Batalkah Wudhu Suami?
28 May 2016, 17:21 | 4.171 views
Angin Keluar Lewat Vagina, Apakah Membatalkan Wudhu Seperti Buang Gas?
20 March 2016, 16:22 | 3.489 views
Belajar Fiqih Wanita Itu Penting. Mengapa?
23 February 2016, 11:27 | 2.201 views
Batasan Bolehnya Mencumbui Isteri Yang Sedang Haid
3 December 2015, 21:01 | 6.947 views
Masuk Waktu Shalat Tapi Belum Mengerjakan, Lalu Keluar Darah Haid. Wajibkah Mengqadha
10 November 2015, 22:11 | 5.183 views
Bolehkah Ayah Biologis Menikahi Puterinya dari Hasil Zina?
30 October 2015, 18:35 | 6.158 views
Sikap Suami-Isteri Yang Syari Tapi Tidak Patut
14 September 2015, 00:24 | 21.049 views
Siapa Keluarga Istri yang Jadi Mahram Bagi Suaminya?
13 July 2015, 07:22 | 9.511 views
Berzina Menjadikannya Mahram Dengan Ibunya?
8 June 2015, 09:41 | 6.745 views
Batasan Aurat Wanita Bagi Mahramnya
5 May 2015, 11:12 | 13.124 views
Hamil, Dicerai, Lalu Keguguran. Selesaikah Iddahnya?
30 April 2015, 17:18 | 3.910 views
Nifas Lebih Dari 60 Hari, Apakah Jadi Haid Atau Istihadlah?
21 April 2015, 17:54 | 17.850 views
Apakah Suara Wanita Termasuk Aurat?
1 May 2014, 05:59 | 24.574 views
Haramkah Potong Rambut dan Kuku Waktu Haidh?
11 April 2014, 05:19 | 47.649 views
Belum Qadha' Puasa Tapi Sudah Datang Ramadhan Berikutnya
10 April 2014, 05:18 | 17.245 views
Wanita Hamil & Menyusui : Qadha Atau Fidyah?
9 April 2014, 05:17 | 17.775 views
Al-Muzani dan At-Thabary Membolehkan Wanita Mengimami Laki-laki, Benarkah?
8 April 2014, 01:17 | 6.524 views
Darah Terputus-putus; Antara Haid & Istihadlah
7 April 2014, 06:32 | 12.941 views
Halal Haram Menyambung Rambut
6 April 2014, 07:10 | 6.331 views
Denda Berhubungan Seksual Saat Haid
5 April 2014, 18:13 | 5.984 views
Islam Cenderung Patriarkal, Benarkah?
3 April 2014, 18:12 | 4.789 views
Masa Iddah, Istri Masih Berhak Dinafkahi?
1 April 2014, 18:11 | 8.077 views

total 761936 views