Belum Qadha' Puasa Tapi Sudah Datang Ramadhan Berikutnya | rumahfiqih.com

Belum Qadha' Puasa Tapi Sudah Datang Ramadhan Berikutnya

by : Aini Aryani, Lc
Thu 10 April 2014 05:18 | 17390 views | bagikan via

Ada beberapa keadaan dimana seorang muslim/muslimah diperbolehkan untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan, antara lain karena sakit, bepergian, hamil, atau menyusui. Jika tidak berpuasa di bulan ramadhan, mereka diwajibkan untuk mengganti puasanya di luar ramadhan (qadha'). Akan tetapi, bagaimana jika 'hutang' puasanya itu belum juga ia laksanakan hingga bertemu bulan Ramadhan berikutnya?

Misalnya wanita yang dalam keadaan hamil di bulan Ramadhan, kemudian ia tidak berpuasa karena kondisi kesehatannya tidak memungkinkan untuk berpuasa. Menurut jumhur ulama ia berkewajiban untuk meng-qadha' puasanya di hari lain. Namun, begitu Ramadhan berlalu, ia mengalami rentetan peristiwa yang memberatkan untuk meng-qadha' puasa yang ia tinggalkan di bulan Ramadhan lalu. Misalnya sebab melahirkan, nifas, dan program menyusui yang berlangsung berbulan-bulan. Hingga 'hutang' puasanya belum sempat ia tunaikan hingga bertemu bulan Ramadhan berikutnya. Lalu, bagaimana ia harus menyikapi keadaan ini?

Kasus diatas juga dapat terjadi pada orang sakit yang meninggalkan kewajiban puasa di bulan Ramadhan. Menurut jumhur ulama ia berkewajiban untuk meng-qadha' puasa di hari lain. Akan tetapi setelah bulan Ramadhan berlalu, ia belum juga meng-qadha' puasanya sampai Ramadhan berikutnya tiba. Baik karena alasan lupa, lalai, atau sebab sakit yang tak kunjung sembuh. Bagaimana hukumnya?

Menunda Qadha’ Karena Udzur Syar’i

Seluruh fuqaha (ulama ahli Fiqih) sepakat bahwa orang yang punya hutang qadha’ puasa wajib (puasa Ramadhan), kemudian dia menunda qadha’ nya itu sampai bertemu Ramadhan berikutnya karena ada udzur syar’i, maka ia tidak berdosa dan boleh meng-qadha’ nya sampai tiba masanya ia mampu membayar qadha’ itu, meskipun sudah dua atau tiga Ramadhan dilaluinya. (lihat: al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah jilid 32, hal. 70)

Udzur Syar’i disini maksudnya adalah sebab yang dibenarkan dalam syariat untuk menunda qadha’ puasa Ramadhan. Misalnya, bila kondisi wanita hamil dan menyusui masih tidak juga memungkinkannya untuk berpuasa. Karena jika berpuasa, khawatir akan terjadi hal-hal buruk terhadap kesehatan diri dan bayi yang dikandung /disusuinya.

Misalnya, apabila ada wanita hamil di Ramadhan tahun 2012, kemudian kondisi memaksanya untuk meninggalkan puasa selama beberapa hari karena khawatir akan terjadi hal buruk pada kesehatan badannya, maka menurut para ulama madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali wanita ini wajib mengganti puasanya dengan qadha’ usai Ramadhan nanti.

Akan tetapi bila sehabis Ramadhan ternyata kondisi wanita ini masih sangat payah sebab masih hamil atau sedang menyusui, dan tidak memungkinkannya untuk meng-qadha’ hingga akhirnya bertemu Ramadhan berikutnya (2013), maka wanita ini tidak berdosa dan boleh melaksanakan qadha’ puasanya yang terdahulu itu pada waktu ia sanggup untuk melaksanakannya. Ia juga TIDAK berkewajiban untuk membayar fidyah.

Menunda Qadha’ Tanpa Ada Udzhur Syar’i

Akan tetapi, bagaimana jika ada orang yang punya tanggungan qadha’ puasa, baik itu karena hamil/ menyusui/ sakit/  musafir, kemudian ia tidak mengqadha’nya karena lalai hingga bertemu Ramadhan berikutnya?

Jumhur Fuqaha’ (mayoritas ulama) dari madzhab Maliki, Syafi’i, Hambali, serta Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan beberapa shahabat Nabi SAW berpendapat bahwa orang yang tidak punya udzur syar’i dan lalai dalam meng-qadha’ puasanya sampai bertemu Ramadhan berikutnya, ia wajib membayar fidyah atas hari-hari puasa yang belum di qadha’nya itu, tanpa menggugurkan kewajiban qadha’nya.

Misalnya, bila ada orang yang punya tanggungan qadha’ puasa, kemudian usai Ramadhan ia punya kesempatan meng-qadha’ hutang-hutang puasanya itu, tapi ia lalai dan menundanya sampai akhirnya bertemu Ramadhan selanjutnya. Maka menurut mayoritas ulama, ia wajib membayar fidyah atas hutang puasanya yang belum di qadha’, tanpa menggugurkan kewajiban qadha’ itu sendiri.

Artinya, kewajiban qadha’ tetap harus ia lakukan usai Ramadhan yang kedua tadi, plus ditambah bayar fidyah karena ia telah lalai melakukan qadha’ sampai bertemu Ramadhan yang kedua.

Jika ia punya hutang puasa 5 hari, dan ia belum mengqadha’nya seharipun hingga bertemu Ramadhan selanjutnya, maka selain tetap harus membayar qadha’ ia juga wajib membayar fidyah selama 5 hari itu. Akan tetapi bila sebelum Ramadhan kedua ia sempat meng-qadha’ puasanya selama 3 hari, sedangkan sisanya yang 2 hari ia tunda sampai bertemu Ramadhan yang kedua, maka ia harus membayar fidyah selama 2 hari saja.

Fidyah yang harus dibayar adalah 1 mud/hari yang diberikan pada fakir miskin berupa makanan pokok yang lazim di konsumsi di negeri itu, kalau di Indonesia biasanya beras. Ukuran beras 1 mud kurang lebih ¼ dari ukuran zakat fitrah, yakni sekitar 0,875 liter atau 0,625 kg.

Wallahu a'lam.

Aini Aryani, Lc.

Bagikan via

Baca Lainnya : Aini Aryani, Lc

Feminis Kurang Piknik
23 April 2017, 01:00 | 1.730 views
Darah Keluar Saat Hamil, Haid Atau Bukan?
9 January 2017, 06:43 | 2.563 views
Darah Keluar Menjelang Persalinan; Nifas Atau Istihadhah?
2 January 2017, 23:44 | 2.952 views
Poligami (2) : Sakitpun Suami Masih Wajib Menggilir Isteri-Isterinya?
18 December 2016, 12:32 | 3.078 views
Al Muwalah : Bolehkah Mencicil Mandi Janabah ?
13 December 2016, 05:53 | 2.382 views
Poligami (1) : Adil Menggilir Para Isteri Ala Rasulullah
9 December 2016, 15:09 | 1.321 views
Khitan Bagi Wanita, Wajibkah?
21 August 2016, 09:20 | 1.366 views
Haid Sudah Selesai, Tapi Belum Mandi Janabah, Bolehkah Berhubungan Suami-Isteri ?
2 August 2016, 08:26 | 2.817 views
Suci Dari Haid di Waktu Ashar, Wajibkah Meng-qadha Shalat Dzuhurnya?
27 July 2016, 09:17 | 1.812 views
Mahram Bagi Wanita Dari Jalur Nasab, Siapa Sajakah?
24 June 2016, 06:05 | 2.002 views
Saat Mandi Janabah, Haruskah Wanita Mengurai Rambutnya Yang Digelung Atau Dikepang?
21 June 2016, 15:50 | 1.554 views
Bolehkah Wanita Mengusap Bagian Atas Kerudungnya Sebagai Ganti Mengusap Kepala Saat Wudhu
7 June 2016, 10:34 | 2.733 views
Bersentuhan Dengan Isteri, Batalkah Wudhu Suami?
28 May 2016, 17:21 | 4.413 views
Angin Keluar Lewat Vagina, Apakah Membatalkan Wudhu Seperti Buang Gas?
20 March 2016, 16:22 | 3.653 views
Belajar Fiqih Wanita Itu Penting. Mengapa?
23 February 2016, 11:27 | 2.328 views
Batasan Bolehnya Mencumbui Isteri Yang Sedang Haid
3 December 2015, 21:01 | 7.114 views
Masuk Waktu Shalat Tapi Belum Mengerjakan, Lalu Keluar Darah Haid. Wajibkah Mengqadha
10 November 2015, 22:11 | 5.294 views
Bolehkah Ayah Biologis Menikahi Puterinya dari Hasil Zina?
30 October 2015, 18:35 | 6.305 views
Sikap Suami-Isteri Yang Syari Tapi Tidak Patut
14 September 2015, 00:24 | 21.278 views
Siapa Keluarga Istri yang Jadi Mahram Bagi Suaminya?
13 July 2015, 07:22 | 9.625 views
Berzina Menjadikannya Mahram Dengan Ibunya?
8 June 2015, 09:41 | 6.846 views
Batasan Aurat Wanita Bagi Mahramnya
5 May 2015, 11:12 | 13.263 views
Hamil, Dicerai, Lalu Keguguran. Selesaikah Iddahnya?
30 April 2015, 17:18 | 3.993 views
Nifas Lebih Dari 60 Hari, Apakah Jadi Haid Atau Istihadlah?
21 April 2015, 17:54 | 17.957 views
Apakah Suara Wanita Termasuk Aurat?
1 May 2014, 05:59 | 24.704 views
Haramkah Potong Rambut dan Kuku Waktu Haidh?
11 April 2014, 05:19 | 47.800 views
Belum Qadha' Puasa Tapi Sudah Datang Ramadhan Berikutnya
10 April 2014, 05:18 | 17.390 views
Wanita Hamil & Menyusui : Qadha Atau Fidyah?
9 April 2014, 05:17 | 17.892 views
Al-Muzani dan At-Thabary Membolehkan Wanita Mengimami Laki-laki, Benarkah?
8 April 2014, 01:17 | 6.639 views
Darah Terputus-putus; Antara Haid & Istihadlah
7 April 2014, 06:32 | 13.081 views
Halal Haram Menyambung Rambut
6 April 2014, 07:10 | 6.450 views
Denda Berhubungan Seksual Saat Haid
5 April 2014, 18:13 | 6.099 views
Islam Cenderung Patriarkal, Benarkah?
3 April 2014, 18:12 | 4.919 views
Masa Iddah, Istri Masih Berhak Dinafkahi?
1 April 2014, 18:11 | 8.215 views

total 793216 views