Berzina Menjadikannya Mahram Dengan Ibunya? | rumahfiqih.com

Berzina Menjadikannya Mahram Dengan Ibunya?

by : Aini Aryani, Lc
Mon 8 June 2015 09:41 | 6562 views | bagikan via

Dalam syariah, seseorang dapat menjadi mahram bagi orang lain dengan tiga sebab, yakni sebab adanya hubungan kekerabatan (nasab), hubungan yang disebabkan oleh adanya pernikahan (mushaharah), dan hubungan yang terjadi akibat persusuan (radha'ah).

Mengenai hubungan kemahraman antara seorang lelaki dengan ibu dari istrinya (ibu mertua) itu masuk dalam kategori kemahraman dari jalur mushaharah.

Yang di maksud dengan 'mahram' disini adalah mahram mu'abbad, yakni (bagi laki-laki) ada beberapa wanita yang tidak boleh ia nikahi selama-lamanya. Kemahraman ini bisa terjadi dari beberapa sebab:

Hubungan Nasab : ibunya, anak perempuannya, bibinya, dan lainnya.

Hubungan Mushaharah : ibu mertuanya, anak perempuan dari istrinya, dan lainnya.

Hubungan Persusuan : ibu yang menyusuinya, anak perempuan dari ibu yang menyusuinya, dan lainnya.

Penjelasan mengenai mahram mushaharah, Al-Qur'an Surah An-Nisa: 22-23 menyebutkan ada empat pihak wanita yang menjadi mahram bagi seorang laki-laki, yaitu:

- Istri ayah (ibu tiri),

- Ibu mertua (ibu dari istri)

- anak perempuan dari istri (anak tiri),

- menantu wanita (istri dari anak)

Khusus mengenai kemahraman yang terjadi antara seorang laki-laki dengan ibu dari istrinya, ulama fiqih dari empat madzhab besar, yakni Al-Hanafiyyah, As-Syafi’iyyah, Al-Malikiyyah dan Al-Hanabilah bahwa kemahraman antara seorang laki-laki dengan ibu mertuanya bisa terjadi jika ia dan istrinya pernah berhubungan suami istri dengan sah. Artinya mereka pernah berjima’ setelah akad nikah yang sah terjadi. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah jilid 36, hal 213)

Akan tetapi, para ulama fiqih diatas berbeda pendapat mengenai laki-laki yang menikahi seorang wanita dengan akad nikah yang sah, lalu tak lama kemudian menceraikan istrinya, atau istrinya meninggal sebelum mereka pernah melakukan hubungan intim. Apakah dalam hal ini laki-laki itu tetap menjadi mahram mu’abbad bagi ibu mertuanya atau tidak?

Begitu juga mengenai seorang laki-laki yang pernah berjima' atau berhubungan intim dengan seorang wanita, namun diluar pernikahan yang sah (berzina). Apakah jima' yang pernah terjadi diantara mereka berdua itu menyebabkan di laki-laki menjadi mahram bagi ibu dari wanita yang ia zinai?

Pertama, Madzhab Al-Hanafiyyah

Ulama fiqih dari madzhab Hanafi mengatakan bahwa jika seorang laki-laki berzina dengan seorang wanita, atau pernah menyentuhnya, atau menciumnya dengan syahwat, atau melihat kemaluannya dengan syahwat, maka semua perbuatan itu akan menjadikannya mahram mu’abbad dengan ibu dan anak perempuan dari wanita yang dizinai itu.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Barang siapa yang melihat kemaluan seorang wanita maka tidak halal baginya (untuk menikahi) ibu wanita itu, juga tidak pula (boleh menikahi) anak perempuan dari wanita tersebut.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)

Dalam madzhab ini perbuatan zina maupun percumbuan yang mengarah pada zina sudah cukup untuk menjadi syarat terjadinya kemahraman dari jalur mushaharah. Akan tetapi jika dari hasil perzinaan itu lahir anak laki-laki, maka ibu dan anak perempuan dari wanita yang dia zinai tidak lantas menjadi mahram bagi anak laki-laki yang lahir dari hasil perzinaan itu. (Al-Fatawa Al-Hindiyah jilid 1 hal 274-275)

Misalnya A (laki-laki) berzina dengan B (janda punya seorang anak perempuan). Kemudian dari hasil zina itu lahir seorang anak laki-laki bernama C. Maka dalam madzhab Al-Hanafiyyah, sebab terjadinya zina itu si A otomatis menjadi haram untuk menikahi ibu dan anak perempuan dari si B, wanita yang dia zinai itu. Akan tetapi, C tidak berada di posisi sebagaimana ayahnya (A). Karena perbuatan zina yang dilakukan ayahnya tidak lantas menjadikannya mahram bagi ibu dan anak perempuan dari A.

Kedua, Madzhab Al-Hanabilah:

Perbuatan zina dapat menjadikan seorang laki-laki menjadi mahram dengan ibu dari wanita yang dizinainya. Akan tetapi percumbuan yang tidak sampai terjadi zina tidaklah menjadikannya mahram dengan ibu dan anak perempuan dari wanita yang dicumbui tersebut.

Ada satu persamaan antara madzhab Al-Hanafiyyah dan Al-Malikiyyah, yakni watha’ (jima’) itu dapat menjadi sebab terjadinya kemahraman. Baik jima’ itu terjadi di dalam pernikahan yang sah atau diluar pernikahan.

Maka, jika seorang laki-laki berzina dengan ibu mertuanya (ibu dari istrinya) atau dengan anak perempuan dari istrinya, maka pasca perzinaan itu laki-laki itu menjadi mahram mu’abbad bagi istrinya. Dan oleh sebab itu, wajib baginya untuk memutuskan tali pernikahan dengan istrinya. Jika tidak, maka seorang qadhi atau hakim mahkamah syariah untuk memisahkan keduanya. (Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 6 hal 576-577)

Ketiga, Madzhab Al-Malikiyyah dan As-Syafi’iyyah:

Ulama dari madzhab Al-Malikiyyah dan As-Syafi’iyyah mengatakan bahwa zina tidak menjadikan kemahraman dari sisi manapun. Maka, jikapun ada kasus dimana seorang laki-laki berzina dengan seorang wanita, maka itu tidak lantas menjadikannya mahram dengan ibu atau anak perempuan dari wanita yang dia zinai. Tidak juga terjadi kemahraman antara wanita yang dizinainya itu dengan ayah atau anak laki-laki dari seorang laki-laki yang menzinainya.

Seandainya juga ada seorang laki-laki berzina dengan ibu mertuanya atau dengan anak perempuan dari istrinya (anak tiri), maka perbuatan zina itu tidak menjadikannya mahram mu’abbad dengan istrinya.

Hal itu berdasar pada hadits dimana Rasulullah SAW ditanya mengenai seorang laki-laki yang berhubungan intim dengan seorang wanita di luar pernikahan (berzina), apakah boleh menikahi anak perempuan dari wanita yang pernah ia zinai itu. Juga bertanya mengenai laki-laki yang menzinai seorang anak perempuan, apakah boleh menikahi ibu dari anak perempuan yang ia zinai itu.

Saat itu Rasulullah menjawab:

“Perbuatan haram (zina) tidak mengharamkan perbuatan yang halal (pernikahan). Sesungguhnya yang bisa menjadikan kemahraman itu adakah perbuatan yang dilakukan dalam pernikahan yang halal”. (HR. At-Thabrani)

Dan sesungguhnya adanya hubungan kemahraman dari jalur mushaharah merupakan nikmat dari Allah, sebab itu dapat mempererat hubungan tali persaudaraan dan kekerabatan antar dua keluarga yang disatukan dalam pernikahan. Sedangkan zina adalah hal yang tidak dibenarkan, maka perbuatan itu tidaklah layak menjadi sebab kemahraman.

Oleh sebab itu, Imam As-Syaf’i pernah menulis dalam argumentasinya yang ditujukan pada Muhammad Bin Hasan:

Watha’ itu ada dua. Ada watha’ yang menyebabkan seorang wanita itu dimuliakan dan terjaga kehormatannya (jima’ dalam pernikahan yang sah), adapula watha’ yang menyebabkannya dirajam (zina). Salah satunya adalah nikmat dimana Allah menciptakan darinya hubungan nasab & hubungan mushaharah, juga mewajibkan masing-masing untuk menjaga hak pasangannya. Sedangkan watha’ yang satu lagi merupakan musibah. Maka, bagaimanakah keduanya dapat disamakan hukumnya?” (As-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj, jilid 3 hal 178)

Maka, dapat diketahui bahwa dalam madzhab Al-Malikiyyah dan As-Syafi'iyyah hanya jima' (hubungan intim) yang dilakukan dalam pernikahan yang sah saja lah yang dapat menyebabkan kemahraman antara seorang laki-laki dengan ibu dari istrinya itu. Sedangkan hubungan intim diluar pernikahan tidaklah menyebabkan kemahraman dari sisi manapun.

Wallahu a'lam Bishshawab.

Aini Aryani, Lc.

Bagikan via


Baca Lainnya :

Batasan Aurat Wanita Bagi Mahramnya
5 May 2015, 11:12 | 12.928 views
Hamil, Dicerai, Lalu Keguguran. Selesaikah Iddahnya?
30 April 2015, 17:18 | 3.777 views
Nifas Lebih Dari 60 Hari, Apakah Jadi Haid Atau Istihadlah?
21 April 2015, 17:54 | 17.709 views
Apakah Suara Wanita Termasuk Aurat?
1 May 2014, 05:59 | 24.303 views
Haramkah Potong Rambut dan Kuku Waktu Haidh?
11 April 2014, 05:19 | 47.369 views
Belum Qadha' Puasa Tapi Sudah Datang Ramadhan Berikutnya
10 April 2014, 05:18 | 16.788 views
Wanita Hamil & Menyusui : Qadha Atau Fidyah?
9 April 2014, 05:17 | 17.443 views
Al-Muzani dan At-Thabary Membolehkan Wanita Mengimami Laki-laki, Benarkah?
8 April 2014, 01:17 | 6.356 views
Darah Terputus-putus; Antara Haid & Istihadlah
7 April 2014, 06:32 | 12.725 views
Halal Haram Menyambung Rambut
6 April 2014, 07:10 | 6.153 views
Denda Berhubungan Seksual Saat Haid
5 April 2014, 18:13 | 5.755 views
Islam Cenderung Patriarkal, Benarkah?
3 April 2014, 18:12 | 4.578 views
Masa Iddah, Istri Masih Berhak Dinafkahi?
1 April 2014, 18:11 | 7.885 views

total 714406 views