Aini Aryani, Lc

Batasan Bolehnya Mencumbui Isteri Yang Sedang Haid

Thu, 3 December 2015 21:01

Seluruh ulama fiqih dari empat madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali) sepakat bahwa wanita yang sedang mengalami haid dilarang untuk berjima’ atau berhubungan intim[1].

Keharamannya ditetapkan oleh Al-Quran Al-Kariem berikut ini:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُواْ النِّسَاء فِي الْمَحِيضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىَ يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللّهُ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: "Haid itu adalah kotoran". Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.. (QS. Al-Baqarah:222)

Dalil keharamannya juga disebutkan dalam hadits ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang hukum mencumbui wanita yang sedang haid maka beliau menjawab:

وَعَنْ أَنَسٍ رضيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ اليَهُودَ كَانت إِذا حَاضَتِ المَرْأَةُ فِيْهِمْ لَمْ يُؤَاكِلُوهَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: اصْنَعُوا كُلَّ شَىءٍ إِلاَّ النِّكَاحَ، رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Anas RA bahwa orang yahudi bila para wanita mereka sedang mendapat haidh, mereka tidak memberikan makanan pada para wanita itu. Rasulullah SAW bersabda, "Lakukan segala yang kau mau kecuali nikah (hubungan badan)." (HR Muslim).

Batasan mengenai larangan hubungan badan yang disepakati para ulama diatas adalah apabila terjadi jima’ dalam arti yang sesungguhnya, yakni terjadinya dukhul atau penetrasi.

Mereka juga membolehkan percumbuan yang dilakukan dengan isterinya itu, di anggota tubuh SELAIN yang ada di antara pusar dan lutut isteri. Sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Aisyah RA :

وَعَنْ عَائِشَةَ رضيَ اللهُ عَنْهَا قَالَت: كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُنِي فَأَتَّزِرُ، فَيُبَاشِرُنِي وَأَنَا حَائِضٌ، مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

"Dari Aisyah RA beliau berkata : Rasululullah SAW menyuruhku untuk memakai sarung, kemudian beliau mencumbuiku dalam keadaan haid." (Muttafaq Alaih)

Dalam hadits yang lain dari Aisyah RA:

"Jika salah satu dari kami (isteri Nabi) ada yang haid, dan Rasulullah SAW ingin mencumbuinya, maka beliau Saw menyuruh isterinya yang haid itu untuk memakai kain sarung, kemudian beliau mencumbuinya." (HR. Bukhari)`.

Dalam hadits dari Ummul Mukminin Maimunah RA:

Rasulullah Saw mencumbui isterinya dalam keadaan haid, apabila isterinya itu memakai sarung” (HR. An-Nasa’i)

Batasan Mencumbui Bagian-Bagian Antara Pusar dan Lutut Isteri Saat Haid

Ketika para ulama membolehkan percumbuan dengan selain yang ada di antara pusar dan lutut, lalu bagaimana hukumnya mencumbui bagian itu jika tidak sampai terjadi jima'?

Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat sebagaimana berikut :

1. Madzhab Hanafi

Ulama dalam madzhab ini membolehkan seorang suami untuk mencumbui anggota tubuh isterinya yang ada di antara lutut dan pusarnya. Dengan syarat, percumbuan itu terjadi dengan adanya penghalang, seperti sarung, kain, atau sejenisnya. Namun suami tidak boleh melihat bagian-bagian tersebut.

Suami boleh memegang bagian-bagian itu, dengan atau tanpa syahwat, selama bagian-bagian itu ditutupi dengan penghalang. Intinya tidak terjadi sentuhan kulit secara langsung dan tidak boleh melihat.[2].

2. Madzhab Maliki

Ulama dalam madzhab ini berbeda dengan madzhab Hanafi. Fuqaha’ dalam madzhab Maliki mengatakan bahwa seorang suami dilarang memegang dan mencumbui anggota tubuh istri yang ada di antara lutut dan pusarnya pada saat isterinya itu sedang mengalami haid, walaupun itu dibatasi dengan kain penghalang. Namun mereka membolehkannya untuk melihat bagian-bagian tersebut, walaupun dengan syahwat.

Madzhab ini berpendapat bahwa suami hanya boleh melihat atau memandang bagian-bagian yang ada diantara pusar dan lutut isterinya itu, tanpa boleh mencumbuinya lebih jauh[3].

3. Madzhab Syafi’i

Ketika seorang isteri dalam keadaan haid, suaminya boleh mencumbuinya itu di bagian mana saja yang diinginkan. Hanya saja, percumbuan itu harus dibatasi dengan kain penghalang, sehingga tidak ada sentuhan kulit secara langsung.[4]

Madzhab ini juga membolehkan suami untuk melihat dan memandang bagian-bagian itu, dengan atau tanpa syahwat.[5]

Dalam madzhab syafi’i, seorang suami boleh mencumbui isterinya yang sedang haid di bagian-bagian yang ada diantara pusar dan lutut dalam batasan : boleh melihatnya, dan boleh mencumbu dengan adanya penghalang, sehingga tidak terjadi sentuhan kulit secara langsung.

4. Madzhab Hambali

Agak berbeda dengan ketiga madzhab diatas, madzhab Hambali membolehkan suami mencumbui isterinya yang sedang haid di bagian manapun yang ia inginkan. Syaratnya tidak sampai terjadi jima’ yang sesungguhnya, yakni dukhul (penetrasi).

Seorang suami boleh mencumbui isterinya di bagian-bagian yang ada di antara pusar dan lutut, kecuali organ intim, baik itu dengan melihat ataupun menyentuh, dengan atau tanpa penghalang.[6]

Namun demikian, para ulama dalam madzhab ini menganjurkan isteri yang sedang haid untuk menutupi organ intimnya dengan penghalang selama percumbuan dilakukan.

Al-Mardawi (w. 885 H.), salah satu ulama dalam madzhab Hambali mengatakan dalam kitabnya “Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf” bahwa jika seorang suami tidak yakin bisa menahan syahwatnya, dan kuatir akan terjadi jima’ apabila mencumbui bagian tubuh isterinya yang ada diantara pusar dan lutut, maka haram baginya mencumbui isterinya di bagian itu. Sebab menghindari itu akan membuat dirinya lebih selamat dan tidak terjerumus dalam perbuatan dosa.[7]

Penutup

Demikian penjelasan dari para ulama dari empat madzhab besar. Di satu sisi mereka memiliki pandangan yang sama, yakni mengenai haramnya men-jima’ isteri yang sedang haid. Walaupun mereka tetap berbeda mengenai bolehnya seorang suami mencumbui bagian-bagian yang ada di antara pusar dan lutut.

Madzhab Hanafi membolehkan mencumbui isteri dengan adanya penghalang di bagian-bagian tersebut. Madzhab Maliki membolehkan percumbuan dalam batasan melihat saja. Madzhab Syafi’i, membolehkan mencumbu isterinya di bagian-bagian itu dengan menggunakan penghalang, serta boleh melihatnya pula.

Berbeda dengan madzhab-madzhab diatas, dalam madzhab Hambali seorang suami boleh mencumbu isterinya di bagian manapun, asalkan tidak terjadi jima’ atau penetrasi. Namun, jika suami itu khawatir tidak bisa menahan syahwatnya, hendaknya ia menghindari bagian-bagian itu, agar tidak sampai terjadi jima'.

Wallahu A’lam Bishshawab

Aini Aryani, Lc


[1] Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, jilid 18, hal. 323

[2] Ibnu Abdin, Hasyiyah Ibni Abdin, jilid 1 hal. 194

[3] Ad-Dasuqi, Hasyiyah ad-Dasuqi, jilid 1, hal. 183

[4] Al-Imam an-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, jilid 2, hal. 359

[5] Al-Khatib as-Syirbini, Mughni al-Muhtaj, jilid 1hal. 110

[6][6] Al-Buhuti, Kasysyaf al-Qinna’, jilid 1, hal. 198

[7] Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf, jilid 1, hal. 350

LAINNYA
Menata Hubungan LDR Suami Isteri
Aini Aryani, Lc | Sat, 3 November 2018 17:50
Feminis Kurang Piknik
Aini Aryani, Lc | Sun, 23 April 2017 01:00
Darah Keluar Saat Hamil, Haid Atau Bukan?
Aini Aryani, Lc | Mon, 9 January 2017 06:43
Darah Keluar Menjelang Persalinan; Nifas Atau Istihadhah?
Aini Aryani, Lc | Mon, 2 January 2017 23:44
Poligami (2) : Sakitpun Suami Masih Wajib Menggilir Isteri-Isterinya?
Aini Aryani, Lc | Sun, 18 December 2016 12:32
Al Muwalah : Bolehkah Mencicil Mandi Janabah ?
Aini Aryani, Lc | Tue, 13 December 2016 05:53
Poligami (1) : Adil Menggilir Para Isteri Ala Rasulullah
Aini Aryani, Lc | Fri, 9 December 2016 15:09
Khitan Bagi Wanita, Wajibkah?
Aini Aryani, Lc | Sun, 21 August 2016 09:20
Haid Sudah Selesai, Tapi Belum Mandi Janabah, Bolehkah Berhubungan Suami-Isteri ?
Aini Aryani, Lc | Tue, 2 August 2016 08:26
Suci Dari Haid di Waktu Ashar, Wajibkah Meng-qadha Shalat Dzuhurnya?
Aini Aryani, Lc | Wed, 27 July 2016 09:17
Mahram Bagi Wanita Dari Jalur Nasab, Siapa Sajakah?
Aini Aryani, Lc | Fri, 24 June 2016 06:05
Saat Mandi Janabah, Haruskah Wanita Mengurai Rambutnya Yang Digelung Atau Dikepang?
Aini Aryani, Lc | Tue, 21 June 2016 15:50
Bolehkah Wanita Mengusap Bagian Atas Kerudungnya Sebagai Ganti Mengusap Kepala Saat Wudhu
Aini Aryani, Lc | Tue, 7 June 2016 10:34
Bersentuhan Dengan Isteri, Batalkah Wudhu Suami?
Aini Aryani, Lc | Sat, 28 May 2016 17:21
Angin Keluar Lewat Vagina, Apakah Membatalkan Wudhu Seperti Buang Gas?
Aini Aryani, Lc | Sun, 20 March 2016 16:22
Belajar Fiqih Wanita Itu Penting. Mengapa?
Aini Aryani, Lc | Tue, 23 February 2016 11:27
Batasan Bolehnya Mencumbui Isteri Yang Sedang Haid
Aini Aryani, Lc | Thu, 3 December 2015 21:01
Masuk Waktu Shalat Tapi Belum Mengerjakan, Lalu Keluar Darah Haid. Wajibkah Mengqadha
Aini Aryani, Lc | Tue, 10 November 2015 22:11
Bolehkah Ayah Biologis Menikahi Puterinya dari Hasil Zina?
Aini Aryani, Lc | Fri, 30 October 2015 18:35
Sikap Suami-Isteri Yang Syari Tapi Tidak Patut
Aini Aryani, Lc | Mon, 14 September 2015 00:24
Siapa Keluarga Istri yang Jadi Mahram Bagi Suaminya?
Aini Aryani, Lc | Mon, 13 July 2015 07:22
Berzina Menjadikannya Mahram Dengan Ibunya?
Aini Aryani, Lc | Mon, 8 June 2015 09:41
Batasan Aurat Wanita Bagi Mahramnya
Aini Aryani, Lc | Tue, 5 May 2015 11:12
Hamil, Dicerai, Lalu Keguguran. Selesaikah Iddahnya?
Aini Aryani, Lc | Thu, 30 April 2015 17:18
Nifas Lebih Dari 60 Hari, Apakah Jadi Haid Atau Istihadlah?
Aini Aryani, Lc | Tue, 21 April 2015 17:54
Apakah Suara Wanita Termasuk Aurat?
Aini Aryani, Lc | Thu, 1 May 2014 05:59
Belum Qadha' Puasa Tapi Sudah Datang Ramadhan Berikutnya
Aini Aryani, Lc | Thu, 10 April 2014 05:18
Wanita Hamil & Menyusui : Qadha Atau Fidyah?
Aini Aryani, Lc | Wed, 9 April 2014 05:17
Al-Muzani dan At-Thabary Membolehkan Wanita Mengimami Laki-laki, Benarkah?
Aini Aryani, Lc | Tue, 8 April 2014 01:17
Darah Terputus-putus; Antara Haid & Istihadlah
Aini Aryani, Lc | Mon, 7 April 2014 06:32
Halal Haram Menyambung Rambut
Aini Aryani, Lc | Sun, 6 April 2014 07:10
Denda Berhubungan Seksual Saat Haid
Aini Aryani, Lc | Sat, 5 April 2014 18:13
Islam Cenderung Patriarkal, Benarkah?
Aini Aryani, Lc | Thu, 3 April 2014 18:12
Masa Iddah, Istri Masih Berhak Dinafkahi?
Aini Aryani, Lc | Tue, 1 April 2014 18:11

Jadwal Shalat DKI Jakarta

1-6-2020
Subuh 04:36 | Zhuhur 11:52 | Ashar 15:14 | Maghrib 17:48 | Isya 19:00 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img